Langsung ke konten utama

PEREMPUAN, Kucing, dan Kesepian Kita

Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Seorang perempuan menengadakan wajahnya pada cahaya rembulan yang berselimut mendung. Malam ini terlihat duka pada raut mukanya. Ia pandangi cahaya bulan yang menua. Satu per satu air matanya menetes dan jatuh pada seekor kucing yang meringkuk manja di pangkuannya. Dadanya sesak dengan ingatan masa silam bersama suami dan anak yang masih berusia lima bulan dalam kandungan.

Kucing betina berbulu belang merah dan hitam dengan warna putih dominan itu turun melompat dari pangkuan. Ia berjalan menuju tiang teras rumah kemudian meringkuk dan melanjutkan tangisan sedih perempuan di bawah bayangan daun pisang. Ia memandang mendung yang mulai datang melumat awan.

Perempuan itu masih cantik, meskipun rambutnya yang lusuh mencoba menyembunyikannya. Ia menghampiri kucing yang hampir satu tahun diasuhnya. Langkah perempuan itu tidak mengusik kekhusukannya dalam duka. Ia tahu kucing itu pun larut dalam dukanya.

”Belang, kenapa malam ini kau terlihat murung?” tanya perempuan itu sambil duduk dan mengusap kepala kucingnya. Belang melemparkan isyarat dengan kedipan mata lalu melempar tatapan matanya pada air mata tuannya dan berkehendak mengusapnya.

“Meong!” Belang berbalik menghindar dan melompat dengan cepat sambil berteriak. Ia berlari, membawa lara tuannya, berlompatan dari dahan ke dahan, dari ranting ke ranting, kemudian menyusup pada mendung.

“Belang, marahkah kau padaku? Sungguh aku tak bermaksud membuatmu tersinggung, Belang, maafkan aku apabila ada perbuatan tak sengaja yang menyakitimu!”

Si Belang tak menghiraukan tuannya yang sedang merayu. Ia terus berlari mengejar bulan yang sedang menyusup pada mendung. ”Meooong!” Suara itu semakin menjauh dan menghilang bersamaan dengan tubuhnya. Perempuan itu terus memanggilnya. “Belang, Belang. Kau tak biasa berbuat seperti ini! Belang, ayolah pulang temani ibu. Maafkan ibu, Belang. Ibu berjanji tak akan bersedih lagi. Ayo Belang, pulanglah. Kita bermain dan bersenandung senang.” Perempuan itu merasa menyesal, putus asa, dan merelakan kucingnya menghilang. Ia berjalan pulang seraya menyisir dedauan kering pada tanah. Ia pulang tanpa Si Belang.

Suara-suara menjelang adzan bersahutan dari langgar dan masjid. Perempuan itu memutuskan bangun dan membuka jendela berharap Si Belang datang. Ia melihat ke bawah, jangan-jangan Si Belang tertidur di bawah jendela; barangkali semalam ia telah mengaum untuk membangunkannya namun ia tak mendengarkannya. Sungguh, Belang masih belum datang sampai menjelang subuh. Dengan memandang bulan yang bertengger pada ranting-ranting, perempuan itu menarik nafas dalam-dalam lalu memalingkan wajah dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

“Meong, meong, meoooooong, ngaoooooo……ng.”
Tiba-tiba kucing-kucing berlompatan di atas atap kamar mandi, saling berkejaran, menerkam, memaki, dan menantang. Auman kucing-kucing itu terus menyerbu fajar, memekakkan telinga orang-orang yang sedang asik bergulat dengan bantal guling. Perempuan yang masih belum sempat merapikan rambutnya itu berlari keluar.

“Belang, Belang! Apa yang terjadi pada dirimu? Belang, dengan siapa kau bertengkar? Belang, sudahlah jangan sakiti dirimu dengan melakukan perbuatan itu. Ayo Belang, turunlah! Belang, kenapa beberapa hari ini kau menjadi pemurung dan pemarah? Ayo Belang, kemarilah! Jangan lampiaskan kemarahanmu pada teman-temanmu!”

Bug! “Meong…” Tiba-tiba dua ekor kucing yang sedang bergulat itu terlempar dari atap rumah, jatuh tepat di hadapan perempuan yang sejak tadi berteriak-teriak ingin melerai. Kedua kucing itu langsung melepaskan cengkeramannya dan bergerak saling menjauh. Keduanya mengamati perempuan itu dengan pandangan ketakutan. Perempuan itu mendekatinya. Kucing-kucing itu terus menatap mata perempuan sambil berjalan mundur.

“Aku pikir salah satu di antara kalian adalah Si Belang. Aku khawatir, karena Si Belang sejak tadi malam hatinya sedang goncang. Aku pikir dia bertemu kalian dan langsung marah-marah. Kenapa kalian bertengkar? Bukankah kalian adalah makhluk sejenis yang memiliki bentuk tubuh dan cara bersuara yang sama? Kalian juga memiliki kesukaan yang sama bukan? Kenapa kalian bertengkar? Apa yang kalian perebutkan? makanan, tempat tinggal atau apa? Oh, rupanya kalian adalah kucing-kucing pejantan. Aku tahu. Kalian bertarung memperebutkan kucing betina, memperebutkan Si Belang? Lalu di mana betina itu? Di mana Si Belang? Ayo kalian sembunyikan di mana?” kata perempuan itu bertubi-tubi. Ia terus mendekat sambil merayu, tetapi kucing-kucing itu makin ketakutan lalu berlari dan sembunyi.

“Hai, kucing-kucing. Di mana kalian sembunyikan Belangku ? Jangan berlari. Ayo kemarilah kucing-kucing, aku butuh bantuanmu. Aku yakin kalian tahu di mana Si Belang kini berada.” Kucing-kucing itu menghilang dari sekitar perempuan itu.

Matahari tiba dan burung-burung bercicit-cuit. Rumah yang menghadap matahari terbit itu setiap pagi menyaksikan matahari mulai menampakkan wajahnya. Akan tetapi, pagi ini tidak seperti biasanya. Sinar matahari tidak bertandang pada halaman rumah. Perempuan itu masih bertahan sejak malam hari menunggu kucingnya yang tak kunjung datang. Sinar matahari pagi seperti sengaja tak mau mengantarkan Si Belang pulang.

Perempuan itu duduk di teras depan rumah. Ia melamun. Rambutnya kusut. Wajahnya belum sempurna terbasuh air. Pakaiannya lusuh karena beberapa hari belum diganti. Semua itu membuatnya tampak semakin sedih. Ia terus mengamati jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan jalanan umum yang biasa digunakan penduduk kampung untuk lalu lalang. Perempuan itu berharap Si Belang melewati jalan setapak itu lalu berjalan menghampirinya dan mengendus manja.

Hampir satu tahun ia hidup sebatang kara. Hari-harinya hanya berteman kucing. Ia ditinggal oleh suaminya dan sampai sekarang tidak diketahui kabarnya. Suaminya adalah seorang laki-laki yang sangat baik, tidak hanya pada keluarga, tapi juga pada tetangga. Orang-orang yang mengenalnya menaruh hormat atas sopan santun sikap dan cara berbicara suaminya. Walaupun ia dan suaminya adalah pendatang di kampung tersebut, tapi suaminya mudah bergaul dengan tetangganya dan orang-orang kampung. Di samping itu, suaminya memiliki kemampuan berceramah dan berdoa yang membuat jama’ahnya menyesali dosa yang dilakukannya. Juga sering bersilahturahmi dengan tetangga dan membantu orang-orang yang membutuhkankan.

Pada suatu malam menjelang jam dua dini hari, datanglah orang-orang tak dikenal masuk rumahnya dan menyeret suaminya keluar dengan paksa. Tidak hanya itu, dua orang dari lima orang itu menganiaya dirinya yang sedang hamil lima bulan. Ia dipaksa menggugurkan kandungannya dengan diperkosa. Satu kalimat yang masih terngiang sampai sekarang adalah, ”Suamimu tidak boleh memiliki keturunan. Tidak ada yang boleh menghalangi misi kami sampai kapan pun”.

Pagi harinya warga kampung seakan buta dan bisu dengan peristiwa itu. Mereka sebenarnya tahu, tetapi tidak ada yang berani sekadar menanyakan apalagi bertandang ke rumahnya untuk memberikan pertolongan. Sempat beberapa orang memberanikan diri meminta kepala kampung agar memberikan kebijakan yang harus mereka laksanakan untuk memberikan pertolongan, namun orang nomor satu di kampung tersebut hanya meminta maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa atas peristiwa yang terjadi pada malam tersebut.

Di kampung tersebut memang seringkali terdengar desas-desus akan ditangkapnya seseorang yang dianggap teroris. Tapi, di antara warga sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya orang-orang yang dianggap teroris itu. Karena mereka saling mengenal antar warga kampung dan tidak ada tanda-tanda di antara mereka sebagai teroris yang suka mengganggu ketenangan hidup orang lain. Apalagi kelompok jamaah masjid yang hidup saling bahu-membahu dan tolong-menolong.

Mereka sebenarnya kaget dan bertanya-tanya tentang peristiwa malam itu, tetapi mereka tidak mau menanyakan langsung ke perempuan itu lantaran beberapa bulan lalu aparat pemerintah kampung sudah memperingatkan warganya bahwa barang siapa yang menghalangi penangkapan orang-orang yang dianggap teroris maka secara tidak langsung ia terlibat di dalamnya. Juga disusul larangan bagi setiap warga untuk tidak bertegur sapa apalagi menanyakan pada keluarganya.

Sejak peristiwa itulah perempuan itu merasa kehilangan segalanya. Tidak sekadar suami dan anaknya yang masih berada di kandungan, tetapi para tetanggga dan teman-teman yang sebelumnya dianggap saudara. Mereka sama sekali tak pernah bertandang ke rumahnya. Pernah ia ingin menenangkan diri dari peristiwa itu dengan ikut sholat berjamaah ke masjid dan bermaksud bisa bercerita tentang keadaannya sekarang, namun tak seorang pun yang menyapanya.

Ia pun menjadi sering menyendiri di rumah. Ia berubah menjadi perempuan pendiam yang hampir sama sekali tak pernah keluar dari rumah. Hanya sesekali saja ia duduk-duduk di teras, itu pun pada malam hari ketika para tetangganya sudah terlelap tidur. Hari-harinya ia habiskan dengan berteman seekor kucing yang ia anggap sebagai teman satu-satunya yang sedikit mengerti keberadannya.

Sudah lima malam lebih Si Belang tak kunjung pulang. Perempuan itu bertekad keluar rumah untuk mencari Si Belang. Seluruh gang perkampungan ia lalui tapi tak menemukannya, hanya kucing-kucing jantan yang berlarian mengejar tikus yang ia temui.

“Belang, Belang! Di mana kamu berada. Pulanglah, Belang! Tak usah kau mencari bapak. Ia sudah pulang ke surga. Jangan kau menyusulnya sendirian. Ayo pulang, Belang! Kita akan menyusul bapak ke surga bersama-sama. Tetapi jangan sekarang, Belang. Karena ibu masih belum siap.”

Esoknya mulai terdengar desas-desus pembicaraan tentang perempuan itu. Awalnya warga mengaggap kampungnya sedang diteror hantu perempuan yang mereka sebut Sundel Bolong, tapi selang beberapa malam kemudian mereka tahu bahwa perempuan yang suka berjalan di malam hari sambil berteriak-teriak itu adalah perempuan yang telah dianggapnya gila lantaran ditinggal suaminya yang diculik secara misterius.

Pada suatu malam perempuan itu berjalan sambil membawa karung. Ia berjalan mengelilingi gang-gang kampung. Ia tangkapi kucing-kucing yang ia temui lalu ia masukkan ke dalam karung dan dibawanya pulang. Hampir sebulan penuh kebiasan perempuan itu ia lakukan tiap malam. Tidak hanya di kampungnya, ia mulai memberanikan diri untuk memasuki kampung-kampung tetangga. Kucing-kucing itu ia kurung dalam kamar tidurnya, ia rawat layaknya ia merewat anak-anaknya. Ia mandikan satu persatu tiap hari lalu diberi makan. Ketika tidur pun ia selimuti. Tiap harinya seorang perempuan tersebut disibukkan dengan merawat kucing-kucing hasil tangkapannya. Semuanya ia panggil dengan nama yang sama yaitu Si Belang. Kini tak ada lagi kesedihan di raut wajahnya. Ia tak mengingat lagi peristiwa naas beberapa tahun yang lalu, ia tak ingat lagi satu satunya kucing kesayangannya itu menghilang. Hari-harinya seakan dibahagiakan dengan tingkah laku kucing yang aneh-aneh yang sekarang ia memiliki.

Kebahagiaan itu tak lama berlangsung. Pada suatu malam datang orang-orang dengan obor di tangan masing-masing, mereka berteriak
“Bakar! Bakar!”
“ Ia perempuan hantu!”
“ Ia menakut-nakuti anak-anak kita!”
” Anak-anak kita seringkali menagis ketakutan di malam hari!“
“Anak-anak kita tidak bisa tidur karena selalu dihantui dengan teriakan-teriakannya di malam hari!”
“Ia terus- menerus meneror kampung kita di tiap malam!”
“ Ayo kita bakar ia bersama rumahnya!”

Orang-orang itu terus berapi-api mendekati rumah seorang perempuan itu, tidak hanya dari kampung dimana seorang perempuan itu tinggal, akan tetapi penduduk kampung tetangga pun berdatangan. Seperti benar-benar terkordinir dengan rapi bahwa malam ini direncanakan untuk melakukakan pembakaran rumah dan seorang perempuan yang berteman kucing. Mereka terus berdatangan dan berteriak-teriak. Satu persatu mereka lemparkan api ke atas rumah. Api yang bersembul itu melayang-layang di udara dan menghujani rumah perempuan. Sesaat kemudian api itu melumat habis rumah dan isinya.
Orang-orang kampung yang sedang beringas itu pun satu persatu meninggalkan tempat kejadian peristiwa pembakaran. Mereka yakin bahwa seorang perempuan itu sudah hangus bersama rumah dan isinya. Mereka berfikir bahwa anak-anak mereka akan bisa tidur dengan pulas, tidak lagi ketakutan mendengar teriakan-teriakan seorang perempuan yang dianggap gila itu. Mereka berkeyakinan tidak lagi terganggu dengan rengekan-rengekan anak-anakanya.

Tiga hari peristiwa pembakaran itu berlalu. Mulai bermunculan kabar yang bermacam-macam tentang seorang perempuan yang dibakar bersama rumah dan kucing-kucingnya. Ada yang mengatakan bahwa pada suatu malam ia mendengarkan kucing-kucing berteriak-teriak pada puing-puing rumah bekas bakaran. ada yang bercerita pernah menjumpai seorang perempuan berjalan dengan diiringi ratusan kucing. Kabar it terus menguap dengan berbagai macam cerita. Kampung-kampung mereka menjadi lebih terteror dengan suasana yang lebih mencekam di tiap malam. Tidak hanya anak-anak yang merasa ketakutan. Hampir semua warga tidak berani keluar tatkala matahari mulai tenggelam. Pintu-pintu rumah tertutup rapat bila malam tiba. Dan orang-orang menjadi gusar ketika mendengar suara kucing mengaum.

“aumm… meong………” Warga kampung membayangkan suara kucing-kucing yang mengaum itu sedang berjalan mengantarkan seorang perempuan mengetuk pintu rumah-rumah mereka.
“aumm……..meong………”

Lamongan, 3 Februari 2006

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com