Langsung ke konten utama

Bermain dan Belajar Kearifan Lokal

Ratu Selvi Agnesia
Jurnal Nasional, 6 Jan 2013

Komunitas Hong mengajak anak-anak untuk mencoba berbagai permainan khas tradisional Nusantara yang sarat nilai filosofis.

Kata “Hong” diambil dari permainan hong-hongan atau petak-umpat, sedangkan dalam pengertian harafiah bahasa Sunda (Jawa Barat) artinya “bertemu”. Maka dalam Komunitas Hong yang berdiri sejak tahun 2003 itu, yang utama adalah mempertemukan anak-anak bersama dalam dunia bermain, dengan alam, dan bersama nilai lokal. Hingga ada pengamat yang menyebut Komunitas Hong adalah “pusat kajian mainan rakyat”.
Komunitas Hong digagas oleh Mohammad Zaini Alif atau sering disapa Kang Zaini. Pada awalnya Zaini yang mendapat penghargaan sebagai Social Entrepreneur dari British Council tahun 2010 itu meneliti seni dan budaya sejak 1996, atas dasar ingin melestarikan mainan rakyat. Lalu pada 2003 komunitas ini pun berdiri dan diresmikan pada 2008.

Menurut Zaini, niatnya mendirikan dan melestarikan Komunitas Hong adalah untuk menghidupkan kembali berbagai khazanah permainan tradisional Jawa Barat dan Nusantara. Sampai saat ini Kmunitas Hong sudah memiliki 150 anggota yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat dengan tingkatan usia dari mulai 6 tahun sampai 90 tahun. Kelompok anak adalah pelaku dalam permainan. Sedangkan untuk anggota dewasa adalah narasumber dan pembuat mainan.

Komunitas ini bertempat di Jl. Bukit Pakar Utara 35 Dago, Bandung. Selain memiliki beberapa tempat untuk beraktivitas, di antaranya: Pakarangan Ulin di Jl. Bukit Pakar Utara No.26 Belakang, Bandung. Lokasi di Dago Atas ini dapat dijangkau dengan angkot jurusan Dago-Ciburial hingga pertigaan Dago Pakar kemudian dilanjutkan naik ojek. Dengan kendaraan pribadi atau sewaan maka Anda dapat lebih mudah mencapainya. Selain itu terdapat tempat Workshop: di Kampung Kolecer, Kmp. Bolang desa Cibuluh, Kec. Tanjungsiang Kab. Subang.

Komunitas Hong baru-baru berusaha menggali dan merekonstruksi mainan rakyat, baik itu dari tradisi lisan atau tulisan. Komunitas mainan rakyat ini juga berusaha memperkenalkan mainan rakyat dengan tujuan menanamkan pola pendidikan masyarakat buhun agar seorang anak mengenal dirinya, lingkungannya, dan Tuhannya.

Komunitas Hong sebagai Pusat Kajian mainan Rakyat aktif mensosialisasikan mainan salah satunya di acara WWF (World Wildlife Fund) di Taman Ismail Marzuki, (18/12/2012). Mereka mempunyai berbagai program yang telah terlaksana dengan baik di antaranya: melakukan binaan budaya bermain anak melalui pelatihan untuk anak-anak agar budaya bermain yang berbasis budaya lokal tetap bertahan. Lalu mengembangkan produk mainan rakyat sebagai dasar pengembangan mainan anak yang ada untuk kebutuhan dalam dunia pendidikan.

Mengacu pada tujuan-tujuan tersebut, komunitas Hong menerapkan kegiatan-kegiatan, antara lain: pembuatan Kampung Kolecer, tempat melatih mainan dan permainan rakyat yang ada di Kampung Bolang, Desa Cibuluh Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang. Juga mendirikan Museum Mainan Rakyat di Bandung untuk mengangkat dan memperkenalkan mainan rakyat, serta menyelenggarakan Festival Kolecer, yaitu festival mainan rakyat.

Saat ini telah ada 168 alat permainan yang dikontruksi ulang oleh Komunitas Hong. Di antaranya: kolecer (baling-baling yang biasa ditiup angin di sawah, terbuat dari bambu atau daun kelapa), rorodaan (sepeda-sepedaan terbuat dari bambu dan kayu), wayang dari batang singkong, gasing jajangkung (egrang ala Sunda), celempung alat musik perkusi berbentuk trapesium, kotak suara dan dawai-dawai, dan aneka alat musik lainnya.

Komunitas Hong berusaha memberi ruang untuk menumbuhkan lagi mainan rakyat yang hampir tergilas oleh permainan yang sarat dengan sentuhan teknologi modern, seperti game on line, play station hingga permainan gadget. Komunitas ini membuka diri bagi siapa pun yang ingin melestarikan mainan rakyat untuk bergabung.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/01/hobi-komunitas-bermain-dan-belajar.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).