Langsung ke konten utama

Jerami, Hasrat, dan Waktu

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 23 Jan 2010

JERAMI itu tak hanya berupa batang-batang padi yang telah mengering setelah dituai. Akan tetapi, ia juga menyimpan jejak panjang ihwal manusia dan ruang yang dihuninya, para petani, masyarakat agraris, dan ruang pesawahan. Dan ketika jerami itu menjadi tubuh manusia maka niscaya di situ ada yang hendak diungkapkan. Dari mulai realitasnya sebagai sebuah sosok hingga berbagai lanskap peristiwa yang dihuninya. Dan ketika lanskap itu adalah perubahan ruang yang dihuni manusia, jerami menjadi sebuah narasi yang getir. Narasi yang hidup dalam tubuh manusia. Tubuh masyarakat agraris yang tertatih-tatih dalam berbagai hasratnya. Hasrat yang terus tumbuh dan bergerak dalam dirinya. Juga hasrat waktu yang menghendaki berbagai perubahan.
Waktu, tubuh, jerami mungkin adalah kesatuan demi mengungkapkan berbagai gejala tentang hasrat. Waktu sebagai sebuah misteri, dalam kesadarannya yang dikonkretkan menating berbagai pengalaman dan sejarah ihwal tubuh manusia. Sebagai sejarah, waktu adalah jerami itu sendiri. Masa lalu tubuh orang-orang agraris yang terus tumbuh sebagai sebuah mental, cara pandang, dan segala sesuatu diyakini di tengah berbagai hasrat. Tak hanya hasrat dalam budaya urban, tetapi juga kekuasaan.

Inilah yang banyak mengemuka di atas kanvas Noer Dhami. Pelukis yang konsisten mengeksplorasi batang-batang padi kering itu sebagai metafora tubuh manusia. Setelah dua pameran tunggalnya di John Erdo`s Gallery Singapura dua tahun lalu, ia kembali mengusung manusia-manusia jerami itu dalam pameran tunggalnya bertajuk “Aku Berhasrat, Karena itu Aku Ada” di Galeri Zola Zulu Bandung, 21-26 Januari 2011.

Pameran ini menampilkan sejumlah lukisan dan karya instalasi Noer Dhami. Seperti tajuknya, karya-karya Noer Dhami berangkat dari berbagai gejala kesadaran ihwal hasrat manusia yang diperhadapkan dengan eksistensi waktu. Eksistensi yang niscaya dan terus menghadapkan manusia pada berbagai hasrat demi mengartikulasikan dirinya. Tubuh tampaknya menjadi fokus ari narasi manusia yang pada situasi tertentu juga merepresentasikan tubuh masa lalu. Tubuh jerami, tubuh orang-orang agraris dalam berbagai figur dan peristiwa.

Kesadaran ihwal waktu sebagai strategi tematik untuk menyasar pemaknaan hasrat manusia, tampak hendak dijadikan fokus. Di situ hasrat manusia dihadirkan sebagai subjek. Sebutlah, pada “Merangkai Waktu” yang menampilkan manusia-manusia jerami yang tengah berkerja membuat sebuah jam raksasa. Angka-angka dan jarum jam bertebaran. Sosok-sosok bertubuh jerami itu melingkari jam dan tampak bersusah payah memanggul dan berusaha keras memasang jarum jam. Bulatan jam itu berusaha di angkat.

Pemandangan yang sama juga tampak pada “Menyongsong Waktu”, berupa sejumlah manusia jerami berwarna ungu yang menarik lingkaran jam hingga berbentuk pipih. Tak jauh dari situ, seorang lelaki jerami bertubuh merah sedang berdiri dan sekuat tenaga membetot sebuah jam. Ia menginjak bantal yang menindih jam (“Membongkar Pagi”).

Karya-karya ini menyimpan kesan yang kuat ihwal hasrat masyarakat agraris yang telah berubah. Perubahan yang membawa mental dan perilaku mereka yang tidak lagi tunduk pada waktu. Dalam tradisi masyarakat sawah, waktu adalah sebentuk kekuatan dan misteri alam yang mesti dipatuhi. Alih-alih menjadi subjek, mereka senantiasa meyakini waktu dan musimnya dalam pola kerja sebagai petani.

Tubuh masyarakat agraris kini adalah tubuh dengan hasrat yang ingin merebut dirinya untuk menjadi subjek di hadapan waktu. Tubuh yang tertatih-tatih. Tubuh inilah juga yang bisa ditemukan ketika mereka berada di tengah hasrat budaya urban dan narasi kekuasaan. Pada konteks kedua hasrat ini, mereka dihadirkan sebagai sosok-sosok massif yang menjadi objek, memanggul berbagai beban, sebutlah dalam “Di Atas Awan”. Karya ini menghidangkan pemandangan yang paradoks dalam budaya kuasa, jarak antara hasrat kekuasaan dan manusia-manusia yang tertatih-tatik memanggul beban.

Begitu pula pada “Afta 2010″ yang mengusung isu besar ihwal kapitalisme global. Sosok manusia jerami berwarna merah berkerumun di sebuah kawasan dengan latar sebuah kota besar. “Pada jerami, saya melihat gulungan, ikatan, simbol tubuh manusia, baik sebagai individu maupun sebagai sebuah kesatuan di antara mereka. Di situlah saya juga menemukan hasrat mereka,” kata Noer Dhami.
**

DENGAN jerami, Noer Dhami mengusung tubuh manusia ke berbagai narasi tentang hasrat mereka. Hasrat yang tampil dalam berbagai peristiwa, adegan, dan juga figur. Akan tetapi umumnya, peristiwa dan adegan ini selalu menekan pada situasi yang tampak mengenaskan, getir, dan menyedihkan. Jika pun di situ tampak lelucon, lewat figur-figur badut bertubuh jerami, kelucuan itu sebenarnya menyimpan berbagai ironisme dan snobisme hasrat orang agraris di hadapan budaya urban dan modernitas.

Akan tetapi, alih-alih menampilkan suasana yang kelam dengan warna-warna yang murung, strategi estetis yang dihadirkan oleh Noer Dhami menghidangkan panorama visual yang menarik. Segenap peristiwa di atas kanvasnya dihidangkan dengan pengolahan warna-warna cerah. Pula demikian dengan detail jerami pada tubuh. Goresan yang terasa tegas membentuk garis yang seolah saling merangkai menjadi motif jerami. Pada beberapa figur dengan ukuran kecil, garis-garis jerami itu terkesan sebagai suatu arsir tanpa kehilangan bentuknya sebagai jerami.

Dalam pandangan Suwarno Wisetromo, kurator dan pengajar Fakultas Seni Rupa Insititut Seni Rupa Indonesia (ISI) Yogyakarta, hasrat yang digubah dan diolah oleh Noer Dhami menghidangkan panorama betapa hasrat telah begitu menghegemoni perilaku manusia. Karena itulah ia terus menjelajah ke berbagai persoalan manusia yang dianggapnya menarik.

Noer Dhami dan manusia jeraminya tak hanya menyuguhkan panorama perilaku manusia agraris di tengah perubahan hasratnya. Melainkan juga merepresentasikan berbagai sikap kritis terhadap fenomena manusia dan modernitas, termasuk dalam budaya konsumsi. Hasratlah yang membuat manusia ada. Akan tetapi, hasrat, dalam karya-karya Noer Dhami telah membuat manusia ke dalam berbagai perubahan yang membuatnya gagap dan tertatih-tatih.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/01/jerami-hasrat-dan-waktu.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).