Langsung ke konten utama

Bahasa Ruhani

Kuswaidi Syafi'ie
kabarbangsa.com

Bahasa merupakan sarana bagi berlangsungnya transformasi pemahaman dari “orang pertama tunggal” kepada komunikannya atau sebaliknya. Dilukiskan bahwa ketika kerja bahasa berlangsung, di situ sesungguhnya terbentang jarak yang sedang diatasi di antara dua kutub atau lebih. Bahasa tampil sebagai aktualisasi dan perayaan terhadap “kebersamaan di antara aku-engkau” dalam pemahamannya yang luas dan majmuk.

Karena menyangkut pihak-pihak lain dengan kapasitas yang beraneka ragam, maka bahasa tentu saja dengan sendirinya memiliki lapis-lapis dengan nilai dan urgensi yang berbeda-beda pula. Mulai dari yang paling wadag dan permukaan hingga yang paling subtil dan mendalam. Mulai dari yang paling minus nilai sampai yang paling tidak terhingga pemahamannya. Mulai dari yang gaduh dengan huruf dan suara hingga yang senyap dari kehadiran huruf dan suara.

Bagi siapa saja yang telah dianugrahi kesanggupan untuk mengunyah manik-manik pemahaman dari komunikannya tanpa keterlibatan jejal-jejal huruf dan suara, maka sebenarnya apakah peran dan arti bahasa lewat media keduanya? Secara pragmatik, fungsi dari kedua entitas itu kemudian menjadi gugur. Bahasa lalu merayap secepat mungkin ke sebuah halimun yang tidak tersentuh oleh hingar-bingar huruf dan suara. Hal yang demikian seringkali terjadi di antara para aulia, para kekasih Allah SWT.

Pernah suatu saat Syaikh Muhyiddin ibn ‘Arabi yang dikenal dengan sebutan asy-Syaikhul Akbar bertemu dengan Syaikh Suhrawardi al-Maqtul. Selama sekitar satu jam keduanya sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lalu keduanya berpisah tanpa juga saling bertukar huruf lewat tulisan sebagai sarana komunikasi. Setelah pertemuan itu, ditanyakan kepada ibn ‘Arabi tentang Suhrawardi, beliau menjawab: “Dari ujung rambut hingga ujung kakinya, yang kutemukan tidak lain adalah keteladanan Rasulullah saw”. Juga ditanyakan kepada Suhrawardi tentang ibn ‘Arabi, beliau bertutur: “Yang kutemukan adalah samudra ilmu Allah SWT yang karena saking begitu dalam dan luasnya sampai tidak tampak dasar dan tepinya”.

Adanya dua jawaban dari masing-masing sufi itu tidak saja mengandaikan tentang telah berlangsungnya komunikasi yang sangat padat di luar gorong-gorong babasa yang verbal sebagaimana umumnya bahasa orang kebanyakan, akan tetapi juka merupakan indikasi bahwa penglihatan batin (bashirah) mereka sedemikian cepat dan cermat dalam memotret pihak-pihak lain, termasuk pula menelisik pada dimensi-dimensi terdalam dan paling rahasia dari kehidupan seseorang.

Dalam komunikasi yang begitu akslaratif dan berlangsung secara laten seperti di atas, hampir saja logika yang terpakai di situ adalah “kau adalah aku dan aku adalah kau”. Tentu saja tidak sepenuhnya lebur atau bersenyawa secara mutlak sehingga hilang segala batas dan lenyap segala warna. Akan tetapi ketika demarkasi yang sangat dekat itu ditekuk satu jengkal lagi oleh transendensi dan kekuatan cinta, maka adanya “kekaburan” di antara dua entitas akan menjadi semakin nyata. Itulah yang pernah dialami oleh sufi agung, Syaikh Husen bin Manshur al-Hallaj (wafat 922 M), ketika menghablurkan seluruh kegempalan dan keutuhan cintanya terhadap Allah SWT sebagai Mahakekasih satu-satunya: “Adnaytani minka hatta zhanantu annaka anni, Kau dekatkan diriku kepadaMu sehingga aku menyangka bahwa sesungguhnya Kau tak lain adalah aku”.

Pengalaman spiritual yang tercermin lewat ungkapan puitik di atas menunjukkan dengan gamblang kepada kita bahwa maju dan mundurnya nilai bahasa tidaklah terutama ditentukan oleh pengaruh akal pikiran sebagaimana yang ditengarai oleh kebanyakan tokoh dari kalangan para ahli bahasa, akan tetapi murni sepenuhnya ditentukan dan dikendalikan oleh aktivitas ruh yang merupakan sumber utama bagi segala keluhuran dan kemuliaan manusia.

Tugas akal pikiran manusia adalah melakukan kalkulasi dan pemotretan terhadap hal-ihwal yang salah dan benar, terhadap segala perkara yang serasi dan rancu, terhadap segala yang baik dan buruk. Sementara ruh selain sanggup menjangkau kawasan pasangan-pasangan nilai yang merupakan medan “garapan” akal pikiran di atas, ia juga mampu meletupkan energi paling dahsyat dan suci yang oleh orang-orang sufi biasanya disebut dengan istilah kerinduan dan cinta: sebentuk kobaran energi teramat kudus yang memiliki watak untuk selalu melesat secepat mungkin menuju “tempat kekasih” tinggal.

Ketika si pecinta secara hakiki berhadap-hadapan dengan kekasihnya, maka keduanya saling menjadi cermin antara yang satu dengan yang lain: si pecinta menemukan potret dirinya yang hidup pada kekasihnya, sedangkan si kekasih memandang dirinya terbelah menjadi dua. Benar-benar duakah secara realitas atau hakikatnya satu? Ternyata kemenduaan itu tak lebih seperti sebuah pohon rindang dengan bayang-bayangnya sendiri ketika matahari yang mulai condong ke arah barat menyemprongkan sinarnya yang tegas sekaligus bersahaja terhadap pohon tersebut.

Dalam konteks kemajuan ruhani yang seperti itu, segala dialog yang berlangsung di antara keduanya sungguh tidak lebih dari “kepura-puraan” semata. Ciri-ciri dialog yang dicitrakan sebagai persilangan kayu-kayu bakar di dalam tungku yang menyala sama sekali senyap di situ. Sungguh, sejatinya yang sedang berlangsung di sana adalah “monolog” yang gemuruh, renyah dan penuh kehangatan. Wallahu a’lamu bish shawab. (*)

*) Kuswaidi Syafi’ie, Penyair, juga Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Bantul Jogjakarta.
http://www.kabarbangsa.com/2015/11/bahasa-ruhani.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).