Senin, 05 Juli 2021

Angka Dari Dalam Gang

Muhammad Yasir
 
Di dalam gang, di jantung Kota Surabaya bagian Barat. Hanya ada dua suara yang terdengar sepanjang hari: suara tangis anak-anak dan suara terompet tukang sayur. Di dalam gang itu, bayang-bayang kemiskinan dan kematian menjadi rasa takut yang berlebih. Betapa tidak? Dalam empat hari sebelas orang naik ke Sorga tanpa pengadilan alias mati begitu saja. Jumlah ini bersifat sementara. Mungkin sore ini, nanti malam, nanti subuh, atau besok pagi akan ada rombongan yang naik ke Sorga berikutnya. Inilah yang menyebabkan orang-orang di dalam gang itu mengunci pagar, pintu, dan jendela rumah mereka serapat mungkin. Mereka menganggap, maut bisa saja terselip pada angin berhembus sepoi.
 
Sepuluh kaki dari portal penjagaan gang itu sebuah toko buku tampak sepi. Pintunya tergembok rantai besi lengkap dengan kunci monel terbaik. Hari-hari sebelumnya, empat sampai lima orang anak yang tinggal persis di depan toko buku itu, akan diundang si pemilik, seorang lelaki parubaya jelek dan berperangai kasar, untuk membaca dan belajar sama-sama. Namun, setelah rumah Tuhan diramaikan nama-nama orang yang dimangsa kegagalan, ditambah suara sirene ambulans yang tidak henti-hentinya berbunyi seperti tanda jarak antara manusia dan maut, dia pun enggan membuka toko bukunya. Dan, setiap pukul empat sore, dia menyetel Antonio Vivaldi, Amor Sacro untuk meredam kegetiran di dadanya.
 
Si pemilik toko buku itu bernama Manjelu. Dia lahir di sebuah desa di Pulau Kalimantan. Sejak kecil, dia akrab dengan penindasan dan kematian para buruh. Para buruh perkebunan kelapa sawit adalah orang-orang yang tidak suka bicara banyak. Ketika pemilik perusahaan, seorang Malaysia-India menghisap habis tenaga mereka hingga ke sum-sum tulangnya, para buruh itu seperti mengalami suatu penyakit aneh di abad 21, yaitu kepasrahan. Bahkan, ada di antara keluarga besarnya berbangga diri karena menganggap kematian sanak-familinya itu sebagai bentuk pengabdian. Sementara itu, di desanya sendiri, Manjelu dianggap sebagai pembawa kerusakan. Mimpinya terhadap sebuah dunia tanpa penghisapan dan penindasan dituduh ekstrem dan harus digilas habis.
 
Demi kehormatan dirinya sebagai seorang penulis dan keselamatan keluarga kecilnya, Manjelu dengan terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya. Jika memilih bertahan, ada satu jalan yang harus dia pilih dan jalan itu membawanya sampai ke dua pola hidup yang menjijikan, diam dan melacur. Istrinya, perempuan yang menolak tunduk pada keadaan, mengerti dan memahami apa yang dirasakan suaminya. Karenanya, dia menawarkan untuk pulang ke tanah kelahirannya dan tinggal di sebuah rumah milik keluarga besarnya. Tanpa perdebatan, Manjelu mengiyakan ajakan istrinya. Dan, berlayarlah mereka ke Surabaya menanggung kekalahan.
 
Pada suatu waktu, hari Senin yang was-was. Dua orang, suami-istri yang tinggal di gang sebelah, naik ke Sorga setelah sehari sebelumnya keduanya mengikuti program vaksinasi dari sebuah lembaga administrator negara. Dari jendela rumahnya, Manjelu menyaksikan empat lima orang berpakaian kesehatan lengkap, mengangkat peti mati suami-istri itu tanpa arak-arakan keluarga dan para tetangga. Tak lama kemudian, anak perempuan Manjelu menepuk pinggang ayahnya. Manjelu terkejut, kemudian menggendong anaknya.
 
“Siapa mereka, Pa?” Tanya anaknya.
 
“Petugas kesehatan,” jawab Manjelu, tenang.
 
“Apa yang mereka junjung?”
 
“Dua orang mati.”
 
“Apa itu mati, Pa?”
 
Manjelu terdiam. Matanya yang pijar menatap anak perempuannya.
 
“Apa, Pa?”
 
“Lihat bulan yang sepenggal itu!” Kata Manjelu sembari menunjuk bulan yang muncul sebelah persis di atas rumah Tuhan.
 
“Ya? Lalu?”
 
“Mereka akan menjadi bulan itu.”
 
“Apakah kita akan menjadi bulan itu juga, Pa?”
 
“Semua yang mati, Nak, akan menjadi bulan yang bersinar redup di langit yang begitu tinggi. Bintang-bintang hanyalah mercusuar bagi kehidupan berikutnya.”
 
“Bagaimana para petugas itu membawa orang mati itu ke langit, Pa?”
 
“Ketika kau hidup dengan akal sehat dan nuranimu dan tidak sekali pun kau menindas dan menghisap orang lain, Tuhan akan membuatmu terbang ke langit sendirinya. Apa itu akal sehat dan nurani? Lihatlah mamamu! Berbaktilah kepadanya. Sebab aku, aku akan menjadi musuh dan teman bertikaimu.”
 
Di sela percakapan antara Manjelu dan anak perempuannya itu, seorang penjual es krim lewat. Sontak, anak perempuannya meronta dari gendongan Manjelu dan minta dibelikan es krim.
 
“Aku ingin itu, Pa. Sekarang!” Katanya.
 
Manjelu segera membawa anak perempuannya itu ke toko buku. Dia ingat ada uang beberapa ribu rupiah di salah satu sisi rak buku. Benar saja. Ada selembar uang lima ribu rupiah terselip di sela-sela susunan buku.
 
Menjelang tengah malam, seperti biasa, Manjelu duduk di beranda rumah sembari menyetel Vivaldi dan menghadap di layar mesin ketik modern. Morilnya sebagai seorang penulis memanggilnya: hal-hal buruk bagi kehidupan harus dituliskan. Namun, hampir sejam waktu berlalu dan Vivaldi akan segera berakhir, tidak sekalimat pun tertulis. Manjelu menatap dirinya sendiri di kaca jendela. Dan, dia melihat para petugas kesehatan menjunjung peti mati dalam jumlah tak sedikit. Ada lagi yang mati tanpa pengadilan dan akan selalu ada lagi. Dari kaca jendela itu pula, Manjelu merasa maut sejengkal dari dirinya. Sontak, matanya yang pijar terpejam. Sepasang telinganya yang tajam, mendengar jelas langkah kaki seseorang. Bergegas dia membuka sepasang matanya. Betapa terkejutnya dia. Seseorang yang mendekatinya itu adalah dirinya sendiri dengan sebilah pisau di tangan kirinya. Manjelu bangkit dan mencoba melawan. Dia kalah. Dirinya sendiri berhasil menyayat lehernya sendiri. Darah bersimbah. Angka kematian bertambah satu. Tak terdengar suara apa pun. Hening. Begitu hening dan gelap. Dari kejauhan, lengking kereta terdengar liris dan mendakwa.
 
Surabaya, 2021
 
*ilustrasi The Deer - Frida Kahlo

http://sastra-indonesia.com/2021/07/angka-dari-dalam-gang/

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati