Dari Sebuah Titik ke Titik yang Lain
Mashuri
Selama saya berproses, saya merasa antara karya saya yang satu dengan karya lainnya itu ditempa dan dilalui dengan proses yang berbeda. Antara prosa dan puisi, juga dirangkai dan ditemukan dalam proses yang berbeda pula. Tentu bukan hanya bertaruh perihal bentuk semata, tapi juga nalar estetik, kegelisahan, juga gagasan yang melingkupinya.
Terus terang, saya merasa memaparkan proses kreatif itu bukanlah hal yang mudah. Meski begitu, saya berusaha memaparkannya.
Sebenarnya, dalam proses kreatif puisi, saya pernah mengungkapkannya dalam sebuah even beberapa waktu lalu. Tentu paparan saya itu berbumbu kegenitan, juga keangkuhan, sebagaimana yang kerap muncul dan melekat pada diri penyair, apalagi penyair yang bertradisi puisi gelap, seperti saya. Tradisi yang saya maksudkan adalah beberapa tradisi perpuisian, baik itu dunia, Indonesia maupun Jawa, yang saya suntuki selama ini, yang ada di antaranya mungkin tidak tercatat dalam sejarah sastra.
Meski demikian, saya tak bisa menepuk dada sebagai seseorang yang sudah selesai dan menemukan bentuk atau gaya pengucapan yang final dan sempurna. Saya jauh dari itu. Saya selalu merasa, apa yang telah saya tulis itu barulah mula. Apalagi tak jarang, puisi-puisi saya menjadi sesuatu yang lain, yang kadang menyerang dan menolak untuk saya taklukkan. Pun dari sinilah saya bisa menimba satu kearifan, bahwa sebenarnya sang penyair itu bukanlah manusia super. Ia juga manusia.
Berikut ini saya sertakan pengakuan proses kreatif saya, terkait dengan puisi, yang saya tulis dalam rangka Temu Sastrawan Jawa Timur 2003, di Blitar, 19-21 Juli 2003. Pengakuan ini tanpa saya tambahi atau saya kurangi. Kala itu, saya mendaku diri sebagai orang ‘dikenal sebagai penyair dan penggurit’. Saya menyertakannya dalam kesempatan ini, dengan pertimbangan, untuk melihat sejauh mana saya berkembang. Sejauh mana saya telah bergeser dari satu titik ke titik lainnya. Saya khawatir, jangan-jangan saya masih berkubang di tempat mula dan hanya berjalan di tempat dalam memahami diri saya sendiri dalam ‘mencipta’.
“Ketika saya diminta menulis proses kreatif saya, terus terang saya mengalami kesulitan. Tetapi, saya berusaha merumuskannya, meskipun rumusan saya ini hanya sekilas saja. Siapa tahu, dari yang sekilas itu bisa diperoleh gambaran yang lebih tuntas.
Bagi saya, menulis puisi adalah berusaha menyadari masa lalu, serpih-serpih ingatan yang berserak dan keterputusan ruang yang mengambang. Dalam berpuisi, saya seperti diseret untuk lebih mengenal lebih dekat artefak-artefak yang ada di luar kesadaran saya itu, untuk bersentuh, berakrab ria dan merumuskan sebuah ungkapan-ungkapan puitis. Di sana, saya berhadapan dengan sejuta peristiwa yang bergemuruh, yang menantih untuk saya sentuh. Peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam kepala saya.
Memang tidak selamanya, saya mampu merumuskan perjumpaan dan persinggungan itu. Ada celah-celah yang saya sadari sukar untuk dimasuki, karena saya sendiri merasa dalam celah yang tak terbatas terra incognita. Di sana, suara-suara memang kerap ramai terdengar dan kadang sepi, dan di sanalah saya kerap merasakan adanya persinggungan itu.
Jika kemudian sering mengangkat konsepsi waktu, unsur-unsur mitologi, dengan renik puitiknya, hal itu karena saya tak kuasa menghadapi tekanan dari dalam diri untuk merangkum suara-suara itu. Suara itu memang tak sepenuhnya dapat saya rangkum, terkadang patah-patah, karena ketika kata-kata yang ada meloncat keluar, ia berada di ruang kontrol kesadaran saya. Saya bisa memilihnya dan bisa membuangnya, sesuai dengan kebutuhan saya dalam menyusun puisi.
Terkadang saya terjatuh pada posisi yang ektrem, sarkas dan penuh umpatan. Bahkan saya kadang sering mendedahkan ungkapan-ungkapan yang tak layak dikonsumsi. Tetapi, saya menganggapnya sebagai sebuah bentuk kemurnian dari ucapan. Kesadaran saya berusaha menyaringnya dan ternyata hasilnya memang mengarah pada ungkapan semacam itu. Karena itu, saya anggap sebagai bentuk kesadaran saya.
Jika kemudian itu menjadi pilihan puitik saya, itu juga bukan tanpa latar belakang yang panjang. Latar kultural saya memang tidak bisa dikesampingkan dalam hal ini. Saya seperti memiliki semacam persepsi dan visi terhadap ruang lingkup penciptaan yang tidak bisa dilepaskan dari ruh kultur yang melahirkan saya. Saya memiliki keinginan untuk ‘membaca’ kembali, sekaligus mendobraknya, dan itu sudah terasa mengakar dalam pola kreasi yang saya hasilkan.
Untuk menunjang pengembaraan saya, seputar kearifan hidup, wacana dan segala hal yang berada di luar diri saya, saya menggunakan bacaan-bacaan sebagai pembanding. Hanya saja, semuanya tadi, hanya sebagai semacam masukan untuk memperkaya apa yang sudah ada di kepala dan ingatan saya, meski retak, luka dan berpatahan.
Di atas luka dan dendam sejarah itulah saya berpuisi”.
Sebagai seorang yang masih berproses, jemari saya kerap gatal untuk menambahi atau merevisi pengakuan proses kreatif saya tersebut. Sebab pada perkembangannya saya menemukan hal-hal baru dalam proses saya berpuisi; hal-hal itu tidak demikian ‘muluk’ untuk memberi notasi besar pada sebuah perubahan dalam berbahasa, alih-alih dalam kehidupan yang demikian luas dan maha-kompleks. Tak jarang, saya hanya ingin bertaruh dalam wilayah kemanusiaan saya: bertaruh diri menjadi saksi atas hidup dan kehidupan, berdedikasi pada ‘wilayah’ saya dengan segenap kemampuan, juga menyulut orang lain untuk berkarya.
Saya hanyalah seorang manusia biasa.
Dalam prosa saya memiliki pertaruhan yang berbeda dengan puisi. Saya demikian sadar, bahwa ada ide, gagasan atau hal-hal yang lebih bagus dan tepat ditulis dalam bentuk puisi, tetapi ada juga yang sangat tepat untuk ditulis dalam bentuk prosa, baik itu cerpen maupun novel. Meski demikian, bukan berarti saya abai pada adanya kemungkinan menyuguhkan sebuah karya dalam bentuk puisi-prosa atau prosa-puisi, senyampang saya menikmatinya, serta ada alasan ‘tertentu’ yang melatarinya, baik dalam pertaruhan estetik maupun tuntutan kreatif.
Dan, ketika saya memutuskan menuangkan kegelisahan dan gagasan saya dalam novel, seperti Hubbu dan yang sekarang sedang saya garap, saya pun punya pertimbangan tersendiri. Saya merasa, kegelisahan saya itu cukup tepat ditulis dalam prosa. Bukan berarti hal itu mematikan insting puitif saya, karena bagaimana pun saya bermula dari puisi; Bila dalam prosa saya bertabur puisi dan puitis, saya itu hal yang lumrah saja.
Namun begitu, saya masih tetap memiliki acuan yang selalu menjadi dasar saya berproses. Acuan saya tetaplah saya seorang yang bolak-balik pulang antara tradisi dan kekinian, antara yang lalu dan sekarang, antara mitos dan logika. Tetapi segalanya saya ikhtirkan beralur pada tradisi, tetapi dengan cara baca yang lain. Saya tak bisa mencecap kemurnian pembangkangan seperti seorang Malin Kundang terhadap Bunda, pun saya tak bisa terus terpesona oleh sihir Bunda sebagaimana Sangkuriang dan selalu ingin memilikinya.
Perihal personifikasi ‘strategi’ menghadapi tradisi dan kekinian ini, saya kerap berlaku sebagai Arok, yang begitu berhasrat pada dunia dan ingin merengkuhnya. Saya kerap bertindak: merebut sesuatu yang bukan milik saya untuk menjadi milik saya, dengan menambal sulam apa yang sudah ada atau memenggal yang usang. Saya kerap bertindak sebagai seorang Jawa yang lain, Jawa yang tak menunggu, tapi tetap berpijak pada jejak-jejak yang masih ada untuk melangkah lebih jauh.
Di daerah saya, di Lamongan yang kampung itu, begitu banyak situs, mitos, keyakinan, dan ‘peninggalan lama’ yang sebenarnya ‘merampok’ dari khasanah lain atau khasanah yang sudah mapan di belahan Jawa yang lain. Semisal Semar, Joko Tingkir, Damarwulan-Ratu Kenconowungu, lokasi perang Bubat dengan terbunuhnya puteri Sunda Diah Pitaloka, muasal Gajah Mada, Dewi Sekardadu dan lainnya. Tokoh-tokoh atau peristiwa yang pada zamannya memang menjadi ikon dan penanda dari sebuah zaman.
Namun saya bukanlah ‘Arok’ yang utuh. Saya bukanlah seseorang yang berambisi merebut sesuatu dengan membabi buta, lalu menjadi perubah sebuah kondisi. Saya hanya melakukan apa yang saya mampu dan mungkin saya bisa lakukan dengan kemampuan saya. Saya pun berperan sebagai seorang yang dengan kebetulan dikaruniai obsesi, lalu ingin mewujudkan obsesi itu. Obsesi yang tentu berpulang pada potensi diri.
Dengan sikap batin itulah, Hubbu saya tulis. Saya pun sangat bererendahhati mendaku bahwa novel ini bukanlah novel yang sempurna. Saya hanya ingin bercerita perihal dunia yang pernah saya cecap: dunia pesantren, dusun-kampung-desa, pewayangan, mitologi; sederet dunia yang ketika berhadapan dengan dunia kota, yang juga pernah saya cecap, kadang mengalami berbagai reduksi, transformasi, juga ihwal yang bernama keterpenggalan dan keterpecahan.
Mungkin pandangan saya itu terlalu moralis, juga terkesan klise dan kuno, apalagi ketika saya membenturkan antara desa yang bercitra damai dan alami dengan kota yang riuh. Realitas sekarang yang terjadi seakan membalik itu. Namun, saya mencoba menggali lebih jauh. Saya menemukan sesuatu: sebenarnya ada yang keliru dengan pertumbuhan kota-kota kita, desa-desa kita, juga tumbuhnya kedasaran kita perihal ruang. Saya merasa ada yang kurang pas dan dipaksakan ketika citra antar tempat itu ‘disamaratakan’, disatubahasakan. Saya melihat bahwa antara kota dan desa itu harus tetap ada dan berbatas.
Mungkin juga terkesan klise jika saya terus menerus mendesakkan hal lainnya: bahwa ada yang salah dalam pemahaman masa lalu kita. Memang, di balik kekinian kita itu ada masa lalu, tapi sebuah masa yang masih bisu. Kekinian kita begitu terasa tanpa akar, meski sebenarnya akar itu ada. Namun akar itu tak pernah bisa dilihat dengan jelas. Saya selalu dihantui dengan satu ‘kenyataan’: ada yang salah dengan masa lalu yang sampai ke saya. Saya selalu gelisah bila memikirkan itu. Sungguh.
Ketika saya harus memenggal masa lalu, terlalu banyak risiko. Saya termasuk orang yang tak begitu tegar untuk bersayonara dengan silam saya, lalu melenggang dengan tanpa melihat ke belakang. Spionpun rasanya tak mencukupi jiwa saya untuk menyantuni gugatan dari masa lalu saya.
Saya merasa trauma sejarah yang ada selalu saja berkutat pada tempat yang sama, ditutupi dan tidak dibongkar agar ada kejelasan dan kejernihan. Saya yang merasa belum tuntas dengan masa lalu, lalu dihajar dengan ‘proyek’ masa depan yang demikian menantang dan terbentang di depan mata. Juga begitu menggoda.
Saya sangat menggelisahkannya. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana rupa masa depan saya, jika masa lalu tak berpunya, sedangkan masa kini tak berdaya. Apalagi yang saya hadapi kini adalah dunia, dengan dinamika yang deras, dan percepatan yang luar biasa. Saya sering membayangkan diri saya limbung, dan pada akhirnya terpecah.
Saya sangat tak nyaman melihat kondisi itu. Saya melihat masa depan saya begitu bermasalah, penuh ranjau. Meski saya tahu perkembangan teknologi canggih, tapi sebenarnya saya tak turut di dalamnya. Diam-diam saya menolak percepatan yang demikian luar biasa dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Saya merasa disapih. Pun jika saya turut, itu pun karena tuntutan sosial saya. Adakalanya saya merasa, saya tidak bisa hadir di sana, saya sengaja dihadirkan dan dipaksa hadir. Saya merasa diperbudak!
Itulah beberapa kegelisahan saya. Kegelisahan yang mendasari saya berproses.
Awalnya, gagasan yang merasuk ke Hubbu adalah gagasan awal dari tesis saya. Perihal masa lalu dan masa kini, juga masa depan. Namun saya berpangkal pada titik tolak yang agak spesifik: belum tuntasnya bangunan Islam dan Jawa yang sering disebut dengan jargon gagah sinkretisme Islam-Jawa. Saya melihat, sinkretisme yang diandaikan damai dan berhasil itu sebenarnya belum selesai. Masih menyisakan celah dan masalah.
Saya menelusurinya ke berbagai bukti tertulis, juga bukti keseharian, yang menunjukkan bahwa Islam-Jawa yang dianggap sudah menyatu itu ternyata masih juga harus dibenahi. Dalam satu sisi, saya seperti Nietzsche yang menemukan bahwa ‘patung’ filsafat barat yang diandaikan mulus di luar itu ternyata berlubang di dalamnya. Dan, saya begitu berahi untuk melihat lubang itu. Di sisi yang lain, saya kurang bisa mengukur seberapa banyak pengetahuan masa lalu yang terpenggal dan tak sampai ke saya.
Oleh karena itu, saya merunutnya lewat tradisi. Apalagi kebetulan, saya adalah anak dari tradisi. Di sinilah, saya pun berusaha masuk dalam wilayah simbol yang menjadi latar kultur saya. Kebetulan saya termasuk dalam ‘Jawa yang lain’ dalam istilah Denys Lombard. Jika Jawa diandaikan itu sebagai dunia yang subur dan hijau, saya adalah Jawa yang berdebu, berada di sekitar pegunungan kapur utara, dekat pesisir, dengan pemukiman yang berderet sepanjang jalan yang gersang.
Dalam Hubbu saya menghadirkan sebuah desa Jawa yang hijau, yang dikepung persawahan, dengan kali-kali gemericik, dengan ikan-ikan kecilnya. Meski desa yang saya sebut adalah Alas Abang, sebagai sebuah semesta Jawa yang ndesit, alias udik, tetapi sebenarnya saya ingin membalik anggapan yang sudah ada. Kaum Abang atau Abangan, dalam jagat ‘agama’ Jawa, dianggap tidak Islami. Di sini, saya mencoba memberi nuansa Abang atau Abangan yang Islami. Siapapun tahu, dalam trikotomi Geertz, Abangan selalu saja dianggap tidak Islami.
Di sisi lain, saya menulis Hubbu tidak dalam konsentrasi yang melulu dan tercurah begitu penuh. Jadi waktu persisnya berapa lama saya tulis pun saya tak bisa memastikannya. Saya menulisnya di sela-sela kesibukan saya yang waktu itu memang sedang banyak. Kebetulan saya bekerja sebagai jurnalis sebuah harian di Surabaya. Pun saat itu saya dipercaya kawan-kawan mengelola Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar. Pun saya kebetulan juga sedang berikhtiar untuk memasu ilmu di pascasarjana di sebuah institut agama negeri di Surabaya.
Titik picunya memang ketika saya sedang gelisah terkait dengan tesis. Meski begitu, gelisah saya sebenarnya berakar cukup panjang seperti yang sudah saya ungkapkan tadi. Yang dari kegelisahan itu saya mengumpulkan data-data. Saya pun kesulitan untuk menelusuri dengan pasti bagaimana tesis yang ilmiah, melompat ke ranah imajinasi. Saya merasa ada sebuah titik singgung yang menjembatani tema yang sedang saya geluti dengan nalar fiksi saya. Dalam pergulatan itu, ternyata bukan tesis yang selesai, tapi novel yang ‘jadi’. Saya memberi tanda kutip pada jadi, karena bagi saya, jadi itu bukanlah sebuah akhir. Hingga kini tesis saya tak kunjung rampung.
Saya menyadari bahwa penyampaian tesis dan novel berbeda, jika tesis saya bila menguak sesuatu menjadi demikian runut dan gamblang dan merujuk pada buku-buku dan hasil penelitian yang sudah ada, tapi dalam sastra saya mencoba dan bertaruh dengan sesuatu yang lain. Ada yang sebenarnya bisa digamblangkan tapi saya rasa kurang ‘fair’ jika ditulis apa adanya. Pun saya bermain dalam wilayah fiksi yang tentu saja memiliki kaidah-kaidah fiksi, yang kadang lebih asyik jika main umpet-umpetan, atau kadang asyik hanya menyediakan ruang bagi pembaca, sehingga pembaca bisa mengisinya sendiri, dengan imajinasi dan pengetahuannya.
Dan, yang terpenting bagi saya adalah Hubbu bisa menggelitik orang untuk menulis atau membaca yang lain, atau merunut pengetahuan lainnya, sehingga menghasilkan karya baru dan memperoleh pengetahuan yang baru pula. Jika di Surabaya, maka kata itu bisa berarti: “Aja golek matengan ae, Cuk!” alias, jangan hanya cari yang sudah jadi, Kawan! Dengan kata lain, saya hanya ingin menunjukkan jalan dan silahkan lewati sendiri. Apakah saya menyusahkan dan membebani pembaca? Saya kira, tidak juga. Saya menganggap pembaca itu cerdas. Ada kalanya, seorang penulis memang membuat karya khas dan hanya pembaca yang tekun yang bisa melihat kedalamannya.
Demikianlah, sekelumit proses kreatif saya. Semoga bisa menjadi kisi-kisi yang mampu membuka ruang diskusi yang khusyu’ dan menyenangkan. Semoga saya adalah seseorang yang bisa lebih baik dari kemarin, sudah melangkah dari satu titik ke titik lainnya. Juga tetap tawadlu’ dan istiqomah dalam berprores. Wallahu muwafiq ila aqwamit-thariq! (*)
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Senin, 11 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar