Darah
Seperti kereta,
Aku berkendara di antara rumput-rumput merah
Keterasinganku yang hitam melumat
Nafasku. Iblis
Taufan begitu bergemuruh. Mengabarkan luka
dan sejarah yang terpahat di menara
Tapi di mana bisa kutemui segala pelayaran
Tanpa menunggu terminal
Dalam buaian waktu
Lalu tubuh putih yang pucat
Mengirimkan doa, seperti tuhan yang kesepian
Dan langit yang mengguyurkan sedih
Pada mata pisauku
Darah,
Kusebut darah
Dalam impian kesekian. Ketika gemuruh cahaya
Menampar lumpur sawabku
Kabut-kabut berdentum
Lalu kurubah arah perahu
Kurebut farji dari perut bumi
: aku laki-laki
Tapi siapa yang bisa memastikan
di setiap teminal, pemenang pertempuran
Seperti abad yang berlari
Dan gerimis mendaki
Memamerkan segala kesedihan dengan air mata
Padahal amarah menjelma kunci utama
Pembuka surga.
Mungkin daun-daun gugur
Tapi ia gugur bukan untukku
Ketika alam telah mendendangkan kematian,
Maka segala kepala menjelma belukar
Segala harapan menjelma ular
Dan kurebut cahaya dari segala puting jaman
Mungkin dalam puting beliung, semacam periuk
Raksasa
Kutasbihkan kesombonganku
Kuremas segala sisi manusia
dari darah, daging dan impian
Lalu kulaknati kelemahanku seperti serigala
Ketika kuberkendara, taring-taringku
Berjuntaian seperti akar beringin
Melilit ibu, tubuh telanjangnya
Dan memperkosanya di sebuah altar
Tempat yang segala nista tersebar
Di sana, ada raja,
di sana jaman telah menyerahkan dirinya
Lalu duniaku, dunia anak-anak yang bisu
Bermain kereta dari pasir
Mengendarainya dari bukit-bukit, mengulum waktu
Dalam waktu
Menyampaikan kabar terakhir dari batu
Bahwa dunia ada, karena darah tumpah
O sang jagat, berilah tubuhku kehendakmu
Berikan belati yang menancap di kutub-kutubmu
Aku akan berkendara dengan kereta
Bintang-bintang
Memerkosa setiap perempuan
Dan merobek setiap garba dengan gigi teringku
Aku akan mengembalikan segala yang nista
Seperti tubuhku, tubuh dunia
Tubuh segala yang bernafas dengan udara
Udara yang penuh api
Lalu setiap rumput yang mengering
Seperti kemarau
Ia gemeretak di setiap ubunku, di setiap sahwatku
Ia merindukan segala hujan
Dari mulut langit
Dan segala yang gugur dalam kekeringan
Menjalin darah
Dalam puisi
Lalua mencampakan risalah
Di kali
Sebab setiap yang bernama kesucian
Hanya tempat untuk menistakan dunia
Mungkin keretaku yang rapuh
Akan tersepuh dahan-dahan matahari
Kurebut segala ilham dari sengkarut waktu, tubuhku
Dan segala pengorbanan di alamku
Kucobai kemanusiaanku dengan gaib
Seperti tubuhku yang raib
Ketika segala impianku membentur dinding kosong.
Seperti wahyu, aku berlari, tanpa tali temali,
Tanpa sayap-sayap.
Kuundang jibril dengan ketelanjanganku
Lalu waktu
Seperti lingakaran-lingkaran penuh,
Matahari yang purnama
Gerhana seperti penantian
Dan gelap dalam bayang
Tapi adakah segala yang bermuara pada cahaya akan
Datang
Suatu hari
Ketika segala pasti
Dan yang berubah hanya sementara
Kupuja kekekalanku
Kekekalan jiwaku
Kekekalan kekalahanku
Jika kelak, kubertemu dengan seribu galaksi
Kusebut ia neraka,
Lalu kulabuh segala yang tersisa dalam api
Sebab segala yang berwarna merah
Hanya mencerminkan sebuah gairah
Gairah busuk!
Mungbkin harus kundang kembali adam
Dalam awal mula
Ketika ia masih buta pada arti sejarah
Lalu segala menjadi asing, aritmatika demikian sederhana
Sebab yang ada bukan hanya cakrawala
“Eva, lihatlah segala muara, delta
dan segala pelabuhan yang disandarkan di bahumu
Engkau tak butuh nabi. Nabimu adalah bumi,”
Seperti waktu, jejak-jejak itu semakin berat
Keretaku semakin sarat
Pasir hitam mengahablur dadaku
Cawan gelap mengubur lukaku
Lalu kugambarkan segalanya
Dalam segenggam ingatan
Dan kutuliskan dalam separoh khayalan
Bahwa aku ada,
Karena aku pernah berdosa.
Saksikanlah,
Tubuhku penuh luka
Tapi luka itu bukan milikku semata
Dunia demikian bebal
Dan kubebankan segala kebebalan pada sang kala
--nujum dewa-dewa—
Tapi siapa bisa memilih
Seperti kereta,
Aku berkendara
Rumput-rumput kering
Kemarau
Dan dingin mengulang segala penciptaan
Kelahiranku, kematianku dan mimpiku kuabadikan
Dalam duka
Duka yang memanjang, memanjang
Dan mengubur segala ketelanjangan
Telah kucari sebuah terminal,
Dan aku tak ingin mnemukannya
Aku hanya ingin menyaksikan darah
Menetes
Dari luka yang tak akan pernah sembuh
Sepanjang sejarah
Sebut aku kafilah!
Surabaya, 18 Juli 2002
*Terdapat dalam kumpulan puisi berempat: Manifesto Surrealisme (FS3LP dan Galah Yogyakarta, 2002)
Nyanyian Hujan
--requiem anak bajang
dalam bayang-bayang sang kala--
Aku memaknai setiap lembar hujan
dengan ingatan
dengan tafsir batu-batu yang tumbuh di keningku
Sebab kabar yang berkejaran pada papirus tua
adalah langkah yang tak pernah sampai
Jika dari jendela, dingin menjelma asap
Uap gigil. Bayang ketakutan
Aku berpendar dalam cahaya anak-anakku
Karena ia tahu, kapan kereta berangkat
dan menyisakan goresan di beranda
Lalu rumah-rumah lungkrah.
Ketiadaan menjadi taring babi hutan
Dan riwayatku, serpihan kardus pandora,
hantu, dan seribu malaikat dari neraka
"Kenapa kau mengandaikan keabadian
di puncak stupa, dalam arca telanjang"
Akulah kafilah, pengasah pedang dari jagat maya
Tapi selaksa pesona tubuhku
adalah sisa reruntuhan, ornamen orgasme,
dan kutuk lingga yoni, di jalan bercecabang ini.
Jika suaraku terdengar di dasar malam
Ia tidak lolong srigala
Ia rajutan ombak, suara kelelawar,
dan kegilaan pada kata
Mungkin aku berkejaran, tapi pelarianku
begitu nisbi, ketika maut merenggut
dan labirin ingatanku demikian gelap
Haruskah aku membangkitkan belulang
Menjadi serdadu dengan senapan kayu,
tombak, dan seragam lurik.
Pada nisan, seonggok tanda tersisa
Seperti puing,
ia tak rela kehancuran memuncak
Namun hujan telah mengantar raib, pada gaib
Menyelusup awan. Menjaring gemintang
Dan ingatanku pada ranah yang pernah ada
dengan tahta pelangi,
telah luntur dalam birahi.
Karena sepasang arca di pinggir gapura
Mengabadikan senggama
Ia berkata tentang maut
Maut yang bermuara pada renggut
Saling menyepi, memberi, dan berlelehan.
Di taman, mawar mekar susu
Dan seluruh penghadapan bisu
Seperti kebisuan pada tubuh-tubuh telanjang
Dengan gerak yang miskin
Dengan kediaman yang lazim
Roh berjajar roh. Jasad blingsatan
Sebab senyap, bukan untuk dicipta
Setelah gerimis, maut meracuni bibirku
Kukecup ketiadaan.
Seperti rumah-rumah, raja, dan sebaris tentara
dengan perisai kertas.
Tapi suaraku sirna dalam hujan
Mengalir di kali-kali, ngendon di muara
dan menjadi ikan-ikan di lautan
Ketika seorang perempuan membasahi tubuhnya
Aku berbisik tentang cinta dan kerinduan
O, rumahku telah bangkit
dalam raga ranum, bibir merekah, dada membuncah
Tapi di mana kau simpan gairah binal
Sebab tak ada puting, tak ada ceruk
Sebab ia boneka
--silam yang terpuruk-
Di pasar, boneka menjelma dermaga,
tempat bersandar dunia. Dunia baru
yang melupakan ritmis gerimis, tetes embun
dan nyala damar.
Di sawahku, rerumput tumbuh
Liar, berpinak, mencipta gugusan koloni
Hujan turun satu-satu. Merakit huruf abu-abu
Aku membacanya dalam pedati,
dalam bajak yang rapuh, dan pematang ringkih
dalam sebuah cakrawala senja
Tapi maut, maut merenggutku pada masa lalu
Tak ada tawar tentang kehadiran
Sebab jejak hanya timur yang nestapa
Karena kehilangan
Dan waktu yang tak berpihak
Ketika batu-batu tetap batu
Dengan pahatan aksara asing
Aku membuka lontar;
Membaca dunia. Dunia yang tak kukenal
Dalam kapal-kapal yang berlayaran, dalam kanal
Pantai-pantaiku adalah penghabisan
Lalu kusebut sayonara
Sebab kematian benar-benar datang
Kukirim boneka rumput ke angkasa
Kukaji titik-titik air dengan rayuan
Aku beterbangan dari dahan ke dahan, dari benua,
Dengan nafsu membara, birahi membakar
Dan dosa penafsiran yang kekal
Ketika hujan turun ke bumi kembali
Aku menangkap maut di kerlingnya
Batu-batu pecah
melengkapi reruntuhan rumah
Aku mencipta aksara
dari kebengisan, hantu-hantu, tinta hitam
Mautmu adalah rohku.
Aku telah merebut waktu
Di kaki langit,
Bangau terbang rendah. Padi-padi menguning
Dan rumpun bambu di belakang rumah
Memberiku kabar dan makna, tentang jaman nista
Kota-kota menjadi raksasa
Seperti jam yang terus berputar
Dan ingatanku begitu dingin, seperti lelehan es
Yang berjuntaian di ufuk. Menjelma cakar-cakar
Menakutkan
Tapi aku punya rayuan untuk sebuah perselingkuhan
Untuk sebuah birahi
Untuk dewaku birahi
Seperti jawab yang bertebaran di kaki langit
Seperti cahaya yang membias di gelas-gelas kaca
Mencipta horison, keping harap
Pada pertalian sukma
Sebab senja tak akan mengajar malam
Menjadi sia-sia dengan nalar bertuba
Tapi sekali maut tetap maut
Rumahku kosong. Aku menyingkir ke benua lain
Menjelma orang-orang lupa
Di mana tanah kelahiran, di mana biduk
sajak dan kapan hujan.
Dan aku akan memaknai setiap lembar hujan
Dengan ingatan yang tersisa
Seperti kekosongan, saling silang, perang,
serang, dan pemerkosaan
Tik!
Seperti suara waktu
Berlepasan, rubuh, patah dan jatuh
Seperti aku,
Berzinah di antara puing reruntuh
Dan dalam persenggamaan liar
Dengusku membakar dunia. Dunia lain, duniaku
Duniamu; wilayah lahat, di kolong jagat,
Dan rupa nyawa yang beterbangan
"Antarkan aku dengan suaramu,
dengan nyanyianmu. Aku tak butuh doa"
Tetapi kenapa kematian pun butuh nada
Apakah dalam kematian menyimpan suara,
Gending-gending dari negeri antah berantah
Yang membahana di gigir tebing, di tubuhmu
Di langit-langit, dan lukisan yang tak pernah selesai
Seperti juga aku, telah memberi arti
Pada nafasmu
Aku akan berdiam dalam lanskap sederhana, pagupon
Seperti seekor burung dara
Yang menjemputmu dalam udara
Karena nyanyian ini hanya menumbuhkan iri,
Keberangkatan yang memusat,
dan perjalanan di kota-kota tua yang tak pernah tamat
Seperti perjalananku pada notasi lekuk tengkukmu
Dengan bulu-bulu halus, kerling yang terencana,
Dan sebuah sapaan yang liar
Kenapa semua bersatu dalam tubuh
Laksana sepotong bukit yang menyimpan cemara,
Gugusan lumut, dan ular berbisa
Kapan aku selesai menyapu dengusmu,
Atau pada penghabisan di pucuk-pucuk buluh
Dengan derit angin dan daun-daun gugur
Jika jubahku basah, isa telah mati di mataku
Lalu katakan padaku tentang tembang itu
Karena aku ingin mencumbu senyap
Di sebuah keranda
Yang tak tertulis apa-apa
Tapi kesangsianku pada bayonet yang menghunjam
Dadamu, seperti pintu
Ia terbuka ketika usia tertutup
Salju
Seperti gunung-gunungku, dengan deru angin
Yang dingin
Dan keagungan yang menyakitkan
Sebab dongeng yang terngiang dari bibir ibu
Menjelma rentetan peluru. Merebus ingatanku
Dan rumahku yang menancap di tubuhmu
dengan tiang payudara, dengan ranjang liang senggama
adalah butiran-butiran gandum,
dan seekor gagak bertengger di wuwungan
untuk bersuara kematian
Mungkin sejarah yang tergurat di dinding goa
mengasingkanku pada seonggok bangkai,
pada kapal yang karam, dan sebuah tanda tanya
tentang rerumputan liar
Tapi seruling gembala, dalam desahku
adalah halilintar
Izroil akan pamit padaku
Untuk menyanyikan dendang sabda
Sebab waktuku, dengan riwayat yang menggumpal
Di kakimu; menyisakan jejak-jejak kabur,
partitur usang, dan sebuah lagu sumbang.
Jika jejak itu terhapus
Aku berubah naga. Nafasku membakar
Mendedah sawah, mengemas jazirah
Menjadi bongkah pasir
Menjadi pantai-pantai
Dengan sebuah legenda berapi-api
Dan kusebut namamu, waktu, gadis sepiku
Sebagai kota-kota tua, seutas rahasia,
dan sebuah peta lungkrah.
Tapi aku mengingat tubuh putihmu,
Hawa sahwat dan sebuah rayuan kematian
Seperti sihir
Mungkin nyanyian itu sebagai tanda
Tak ada yang menyatu, tak ada yang berpisah
Sebab maut bukan soal waktu
Ia adalah karpet tua, gelas berukir,
dan seorang petani desa
Kelak, ketika ranjang pengantin kita sempurna
Aku akan bermimpi tentang sebuah pernikahan
--kau pengantinku, aku pengantinmu-
Tapi impian bukan tamsil kematian
Ia akan menjadi ruhku,
Seperti opera dengan cerita yang sirna
Atau pengkhianatan kata-kata, peleburan mantra.
Jika kau dengar requiem ini,
Aku telah berlari dari keterasinganku
Pulau-pulau muksa, seperti asap pembakaran dupa
Gerimis dan pongahmu akan jatuh ke bumi
Rayap-rayap membuat rumah
Lalu saling berkisah tentang kafan yang kusut
dan sepasang biji mata yang tak terpejam
Aku menjadi bayang-bayang, dalam kelir yang mengalir
dalam dosa warisan, dan pertaruhan kura-kura
di telaga
Aku berkata tentang penghabisan
Lalu kau kusebut bunga, gadis sepiku
Dengan ingatan tabu, dengan serpihan silsilah
Yang berpatahan di kitab-kitab lama
Kutulis namamu di pelepah korma, sebagai nisan.
Mengenang hujan.
Dan pelayaranku akan abadi di kapal-kapal tua
Seperti ziarah burung-burung
Tubuhku bersayap
Dan setiap jengkal tanah adalah ibarat
Seperti lambang dada, dalam kepastian yang tiada
Setelah pembakaran itu, gerimis menipis.
Kesucian, kesunyian menjelma rongsokan,
arang dan abu jenazah yang menghitam
Seperti larung yang mustahil.
Dan gaib, hanya igauan anak-anak bebal
Sebab pohon-pohon kelapa berjajar,
Buih saling kejar
Dan peta membenam dalam pasir
"Tak ada kekekalan. Sebab yang kekal
hanya pantai dan pantat yang landai"
Dan kematian adalah sia-sia,
kerja yang tanggung, dan serapah
yang lunas dalam cuaca
Tapi kenapa kematianmu begitu berarti,
Hingga butuh nada tinggi
Adakah kau yang menyimpan palu pembongkar
Dalam irama hujan
Lalu kenapa kau kirim tanah seharum ini kepadaku
Ingatanku telah lapuk. Berpagar nisan
Seperti pulau-pulau tak bertuan,
Nisan tanpa nama, tanpa alamat dan tanggal.
Sepi. Gadis sepiku
Dan hujan memercik diamku dengan nyanyian
Nyanyian anak-anak desa dengan luka-luka
Di dada
Aku telah tersayat kilau pisau
Kulitku tergores ilalang di padang
Dan suara atap yang meratap
Menyingkir ke lembah segala lembah. Rahimmu
Rintik yang mengundak mistik
Melepas gerak
Pada riak-riak, pada notas gaib sang waktu
Dan tanah ini biarlah kusematkan pada mata
Bonangku, seperti liukan selendang ibu
Di rumpun bambu, batas waktu
Tik!
Seperti suara waktu
Berlepasan, rubuh, patah, dan jatuh
Seperti aku,
Berzinah di antara puing reruntuh
Anak-anak yang terlahir dari rahimmu:
Anak-anak jadah,
penguasa neraka. Pengutuk segala amsal
Setelah nyanyian hujan,
Aku berlarian di luar waktu
Mengumbar liarku pada senggama
Senggama di bawah pohon sakura
Dalam musim semi, dengan bunga-bunga
Dan kulihat matahari seperti telor mata sapi,
Seperti liang peranakan
Dengan rumbai-rumbai putih, dalam karnaval
bocah-bocah yang tak mengerti arti cuaca
Lalu waktu adalah kekosongan
Kekosongan yang begitu dingin
Menggigil
Bugil
Aku telah memaknai setiap lembar hujan
Dengan ingatan
Dengan tafsir asmaragama yang tumbuh di keningku
Sebab dalam gurat kitab-kitab lama
Aksara seperti pahatan lingga, pahatan vagina
Dan mengekalkan persetubuhan kala
Di tubuh dunia, tubuhku
Dan setiap rintik hujan, mengekalkan kematian
Kematian waktu
Surabaya, Januari 2002
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar