Jumat, 16 Januari 2009

JILfest, Upaya Membuat Jejak Peta Sastra Dunia

Tjahjono Widarmanto
http://www.jawapos.co.id

Mempresentasikan citra Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar bisa melalui berbagai pintu, di antaranya melalui medan sosial budaya. Memperkenalkan dan mengangkat citra dan martabat Indonesia bisa dilakukan melalui upaya kerja sama di bidang`sosial budaya, termasuk di dalamnya seni sastra. Melalui sastra Indonesia, masyarakat dunia dapat mengenal lebih dekat dan lebih utuh citra Indonesia.

Indonesia adalah narasi besar. Narasi besar yang membutuhkan ikon-ikon tertentu. Salah satu ikon itu adalah ibu kota negara, yaitu Jakarta. Dan, Jakarta mampu mempresentasikan citra Indonesia itu. Jakarta memiliki arti yang penting karena merupakan miniatur Indonesia yang dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat internasional, masyarakat dunia, untuk lebih dekat mengenal ke-Indonesiaan dengan berbagai kekayaan etniknya.

Sastra dan sastrawan merupakan sebuah alat yang ampuh dan efektif untuk memperkenalkan dan mempublikasikan Jakarta (sekaligus Indonesia) ke masyarakat dunia. Hal inilah yang melandasi diadakannya sebuah festival bertajuk Jakarta International Literary Festival (JILFest) yang dilaksanakan 11-14 Desember 2008 di Hotel Batavia, Jakarta.

Selain itu, sebagai ibu kota negara, Jakarta sudah memiliki berbagai iven kesenian yang berskala internasional, di bidang musik, film, dan seni pertunjukan. Namun, sejauh ini belum memiliki festival sastra yang berskala internasional. Beberapa kota di negara lain, seperti Berlin, Kuala Lumpur, Sidney, dan Rotterdam, telah mempunyai festival sastra yang sangat bergengsi yang bisa berfungsi ganda. Yaitu mendorong kreativitas para sastrawan melalui pertukaran informasi sekaligus menjadi ajang pencitraan sebuah bangsa. Untuk mengisi ruang yang kosong itulah, JILFest digagas.

Bentuk kegiatan JILFest adalah lomba penulisan cerpen berlatar Jakarta, pertemuan sastrawan internasional, seminar sastra internasional, pertunjukkan sastra, bazar buku, workshop penulisan cerpen dan puisi, serta wisata budaya. Lomba menulis cerpen berlatar Jakarta diikuti 380 peserta dari pelosok tanah air. Kali ini dimenangi cerpen berjudul Selendang Cokek untuk Ayuni karya Floreance Sahertian (Sidoarja). Kemudian disusul Pieter Akan Mati Hari Ini karya Deny Prabowo (Depok, Jabar), Pelangi Nusantara karya Sigid W. (Palembang), Klinik Putih di Ujung Rel Kota Tua karya Thowaf Zuharon (Jakarta), V Lelaki Tua Di Bangku Taman karya Irene Rahmawati (Kebumen), dan Kereta Nyanyian karya Akidah Gauzillah (Jakarta).

Pertemuan sastrawan internasional dan seminar sastra internasional diproyeksikan untuk membuka wacana-wacana baru tentang perkembangan sastra dunia, sekaligus melihat gambaran wajah sastra Indonesia dalam konstelasi sastra dunia. Untuk meneropong dua hal tersebut, seminar mengambil tema Sastra Indonesia dalam Konstelasi Sastra Dunia; dengan tema kecil Sastra Indonesia di Mata Dunia, Prospek Penerbitan Sastra Indonesia di Mancanegara, dan Politik Nobel Sastra. Seminar tersebut menghadirkan pembicara Prof Dr Koh Yung Hun (Korea), Prof Dr Mikihiro Moriyama (Jepang), Prof Dr Budi Darma, Prof Dr Abdul Hadi W.M., Putu Wijaya (Indonesia), Prof Dr Henry Chambert-Louir (Prancis), Dr Steven Danarek (Swedia), Dr Katrin Bandel (Jerman), Dr Maria Emilia Irmler (Portugal), dan Jamal Tukimin MA (Singapura). Adapun 100 peserta aktif (undangan) dari dalam dan luar negeri mewakili berbagai kawasan yang representatif dalam melihat perkembangan wacana sastra dunia sekarang dan mengamati perkembangan sastra Indonesia.

Prof Dr Koh Yung Hun mempresentasikan beberapa karya sastra Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Korea serta upaya-upaya yang ditempuh di masa mendatang. Bagi Prof Koh, upaya penerjemahan sastra sebuah bangsa amat penting untuk melihat pemikiran dan latar belakang budayanya. Peranan sastrawan tidak dapat diabaikan karena merekalah yang merefleksikan kembali berbagai pergulatan, ide, fenomena sosial budayanya melalui karya sastra. Sastrawan memiliki peran penting karena merefleksikan kembali keseluruhan hidup yang dihayati, emosi, budi, baik individual maupun sosial.

Sementara Dr Maria Emillia Irmler mengatakan, posisi sastrawan penting bagi kelangsungan sebuah bangsa karena sastrawan pada hakikatnya hidup pada dua dunia, yaitu dunia realitas dan bukan realitas sehingga menciptakan sebuah realitas baru. Sastrawan memiliki kemampuan untuk meneropong masa depan lebih dari politikus, wartawan atau apa pun.

Sedangkan, menurut Prof Budi Darma, sastrawan harus mengikuti tuntutan zaman. Sastrawan harus membangun kekuatan diri sendiri agar dapat menghasilkan karya yang berkarakteristik. Dalam menuju percaturan sastra dunia, sastra Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari kondisi ekonomi, sosial, budaya, teknologi, kekuatan militer yang juga turut memberi peran mengangkat citra sastra Indonesia di mata dunia. Budi Darma mencontohkan, artis Bunga Citra Lestari andaikan dilahirkan di Amerika, dengan kondisi dan kemampuan seperti saat ini, tentu keadaannya akan berbeda.

Budi Darma menjelaskan, kondisi sastra dunia, termasuk yang memperoleh Nobel Sastra, saat ini sedang menurun mutunya. Karya para penerima Nobel sastra akhir-akhir juga banyak mendapat kritik karena karya mereka sebenarnya tidak layak mendapatkan hadiah sebesar itu. Kondisi seperti ini sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh para sastrawan dari dunia ketiga, termasuk Indonesia.

Untuk memosisikan sastra Indonesia dalam konstelasi sastra dunia, Katrin Bandel menunjukkan pentingnya politik sastra, namun tidak boleh mengorbankan komunitas lain dalam sastra Indoneisa, apalagi mengorbankan citra bangsa Indonesia. di mata dunia. Agaknya, Katrin melihat ada komunitas yang melaksanakan politik sastra yang tidak sehat.

Berkait soal politik sastra, Abdul Hadi W.M. menunjukkan pentingnya politik pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Pada konteks seperti yang diutarakan Abdul Hadi inilah JILfest juga mengadakanan workshop penulisan dan pertunjukan sastra bagi dosen, guru, mahasiswa, dan siswa dengan menghadirkan narasumber Suminto A. Sayuti, Agus R. Sarjono, M. Shoim Anwar, Helvy Tiana Rosa, Tan Liu Ie, dan Ane B. Neh.

Di bagian lain, Putu Wijaya mengatakan, untuk menuju kancah sastra dunia, sastra Indonesia harus memanfaatkan berbagai cara dan fasilitas dari sisi positif sehingga menimbulkan dampak positif bagi semua pihak. Penerjemahan sastra Indonesia ke berbagai bahasa tampaknya sesuatu yang mendesak untuk dilakukan.

Sedangkan Henry Chambert (Prancis) dan Stefan danarek (Swedia) membeberkan, diperlukan upaya yang sangat keras bagi masyarakat sastra Indonesia untuk menuju ke Nobel Sastra dan bukan semata-mata mengandalkan karya sastra saja namun diperlukan berbagai strategi lain seperti penerjemahan dan diplomasi budaya. Hal itu tampak pada kasus Pramoedya Ananta Tour yang meski sudah masuk nominator Nobel selama dua puluh enam kali, namun karena tidak disertai dengan upaya-upaya lain, Pramoedya akhirnya tetap terpental.

Sejak diberikan pada 1901, sudah 103 sastrawan yang memperoleh Nobel. Meski begitu, penerima Nobel masih didominasi sastrawan dari Eropa. Sastrawan yang berbahasa non-Eropa yang memperoleh baru enam orang, yakni dari Bengali, Jepang, Ibrahi, Arab, Tiongha, dan Turki. Kentara sekali bahwa bukan Indonesia saja yang tidak ada di peta itu, melainkan seluruh Asia Tenggara dan kebanyakan Asia. Sebuah kenyataan dapat pula ditunjukkan bahwa dari sekian banyak penerima hadiah Nobel Sastra, hanya ada dua orang muslim, yaitu Naguib Mahfouz (Mesir) dan Orham Pamuk (Turki).

Memang diperlukan usaha sangat keras bagi sastrawan Indonesia menuju pentas sastra dunia. Politik kebudayaan yang dicanangkan pemerintah hingga saat ini masih belum menunjukkan arah yang jelas. Pemerintah baru menyentuh pada seni tradisi untuk mengangkat citra negara. Itu pun baru sebatas promosi wisata. Seni budaya Indonesia secara menyeluruhlah yang mampu dijadikan ikon negara ini. Dan, itu bukan tugas yang ringan. Sastra, meski awalnya merupakan ekspresi pribadi, pada akhirnya juga bersentuhan dengan citra negara. (*)

*) Penulis adalah peserta JILFest 2008, tinggal di Ngawi.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati