Jumat, 16 Januari 2009

Sastra Indonesia di Mata Dunia

Ahda Imran
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM pergaulan sastra dunia, sastra Indonesia adalah sebuah terra in cognita, ruang gelap yang tak diketahui dan tidak dikenal. Jika pun ada karya sastra Indonesia yang dikenal dan sempat disebut-sebut dalam pergaulan sastra dunia, semuanya selalu serbaparsial, tidak utuh dan menyeluruh. Karya sastrawan Indonesia di mata dunia selalu pada akhirnya hanya berhenti pada nama itu-itu saja, Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, W.S. Rendra, atau Y.B. Mangunwijaya. Karya mereka pun sebenarnya lebih dikenal hanya di kalangan dunia akademis atau universitas yang (kebetulan) memiliki program kajian bahasa dan sastra Indonesia, ketimbang di publik yang jauh lebih luas.

Dalam sejumlah hal, musababnya bukanlah karena karya sastra Indonesia tidak menarik di mata dunia. Akan tetapi, dalam pergaulan sastra masyarakat internasional, pembacaan atas sebuah karya sastra dari negeri yang asing dan jauh selalu menjadi menarik serta menimbulkan kepenasaranan ketika terdapat sejumlah referensi ihwal perkembangan karya sastra di negeri itu secara lebih menyeluruh sebagai suatu tradisi. Sialnya, inilah yang tidak dimiliki sastra Indonesia sehingga ia hanya dibaca kalangan terbatas di dunia akademik.

Tak adanya kemauan pemerintah untuk memperkenalkan kebudayaan dan karya sastra Indonesia ke mata dunia, mungkin bisa dijadikan salah satu musababnya. Tak hanya itu, sejumlah dosen dan peneliti sastra Indonesia di negara-negara Eropa, misalnya, sering tak bisa lagi membaca perkembangan sastra Indonesia mutakhir karena Perpustakaan Kedutaan Besar Indonesia sangat langka mengoleksinya. Paling tidak, bahan-bahan yang mereka perlukan sering tidak mencukupi. Musabab lainnya adalah tak ada lembaga yang berkonsentrasi pada penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa asing. Baik yang dikerjakan lembaga swasta apalagi pemerintah.

Di lain sisi, terdapat juga kenyataan berikutnya mengapa sastra Indonesia di mata dunia sering terbaca sebagai perkembangan yang parsial. Karena Indonesia adalah sebuah terra in cognita, maka sedikit saja ada cahaya penerang langsung mendapat tempat dalam pergaulan sastra dunia seraya mengandaikan bahwa lewat cahaya penerang itulah sastra Indonesia bisa tampak. Tentu saja ini tak salah, paling tidak, ada sedikit celah untuk membaca perkembangan sastra Indonesia. Hanya soalnya kemudian, cahaya penerang itu menganggap dirinya sebagai representasi dari keseluruhan perkembangan sastra Indonesia.

Dengan kata lain, pihak atau komunitas yang memiliki akses untuk masuk ke pergaulan sastra dunia, lewat lobi-lobi mereka yang canggih ke berbagai jaringan lembaga asing dengan isu-isu yang bisa "dijual" (dari mulai hak asasi manusia, pluralisme, hingga demokratisasi), terutama ke lembaga-lembaga jaringan dana internasional, sering memainkan politik citraan bahwa merekalah cahaya penerang bagi mata dunia untuk menatap sastra Indonesia sehingga terjadinya dominasi akses.

Mungkin tak apa, seandainya saja dominasi akses ini tidak dibarengi tendensi yang melulu berpusat pada kepentingan kelompok mereka. Yang kini terjadi adalah ketika akses ini hanya dipakai untuk membawa karya sastra Indonesia ke mata dunia menurut ukuran politik citraan yang mereka mainkan sehingga dalam pergaulan sastra dunia karya para sastrawan yang dikenal selalu hanya terbatas pada mereka yang berada di lingkaran kelompok tersebut. Sedangkan di luar itu sastra Indonesia tetap sebagai terra in cognita. Maka, yang terjadi kemudian adalah pemahaman mata dunia terhadap sastra Indonesia yang tak pernah lengkap sebab hanya berasal dari satu sumber yang mendominasi akses.
**

DEMIKIAN sejumlah pemikiran yang mengapung dalam seminar Jakarta Internasional Literature Festival (Jilfest) yang berlangsung di Jakarta, 12 Desember 2008. Seminar dalam festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) ini merupakan rangkaian acara dari Jilfest yang berlangsung 11-14 Desember 2008. Festival ini diikuti sastrawan dan pengamat sastra dari Indonesia, Belanda, Swedia, Singapura,Portugal, RRC, dan Korea.

Meskipun tak ada tema tertentu yang dijadikan rujukan, namun festival dan seminar ini berangkat dari semangat melakukan pembacaan kritis ihwal apa dan bagaimana sastra Indonesia di mata dunia, peluang, dan tantangannya. Untuk keperluan itulah pembicara dihadirkan dari berbagai konteks yang berkorelasi ke arah itu; pandangan sejumlah pengamat sastra asing terhadap nasib karya sastra Indonesia di negara mereka, pengalaman sastrawan Indonesia yang karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dan politik sastra di Indonesia yang dalam hubungannya dengan politik jaringan untuk "menguasai" akses ke tengah pergaulan sastra dunia lengkap dengan citraan untuk meraih kepercayaan lembaga dana internasional.

Baik sastrawan dan pengamat sastra Djamal Tukimin, M.A. (Singapura) maupun Prof. Dr. Koh Young Hun (Korea) menilai karya sastra Indonesia memiliki peluang besar diterima publik sastra di negara mereka. Termasuk prospek penerbitan karya sastrawan muda Indonesia, seperti yang terjadi di Singapura dengan sambutan yang hangat pada novel Ayat-ayat Cinta (Habbiburahman Shirazi) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata).

"Padahal, dalam waktu yang bersamaan, karya para pengarang Singapura baru diterima setelah tampak ada peningkatan mutu yang sama dengan karya para pengarang Indonesia, meski karya itu sudah lama diterbitkan. Hal ini menunjukkan memang tren dan pengaruh Indonesia jauh lebih dominan dalam mengutarakan persoalan karena ada revolusi budaya yang agresif," tutur Djamal Tukimin.

Seraya menuturkan bagaimana kuatnya pengaruh sastra Indonesia di Singapura yang telah terjadi sejak 1930-an, Djamal Tukimin mengemukakan sejumlah alasan mengapa karya sastra Indonesia mudah diterima di Singapura. Salah satunya adalah bagaimana sastrawan Indonesia memiliki sikap terbuka pada berbagai pemikiran seni. Ini berbeda dengan sastrawan Melayu yang agak feodal. Jika pun ada di antara mereka yang mulai bergeser, sastrawan Indonesialah yang memberi dan menjadi inspirasi mereka. "Pada awal abad ini masih ada dan masih muncul para sastrawan muda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar di Singapura, walaupun tengah bersaing dengan karya sastra remaja yang ada," ujarnya.

Jika Djamal Tukimin lebih melihat nasib sastra Indonesia di Singapura dalam konteks peluang penerbitan, Koh Young Hun melihat sejumlah celah yang bisa dijadikan peluang bagi sastra Indonesia untuk diterima publik yang lebih luas di Korea sekaligus juga tantangan yang kerap dijumpai selama ini. Seiring dengan mulai diperkenalkannya bahasa Indonesia di perguruan-perguruan tinggi di Korea tahun 1964, kajian terhadap budaya dan sastra Indonesia terus dilakukan. Termasuk ketika Koh Young Hun menerjemahkan sejumlah karya Pramoedya Ananta Toer ke dalam bahasa Korea. Demikian juga dengan Kim Jang Gyen dan Lee Yeon yang melakukan penelitian karya-karya Mochtar Lubis dan N.H. Dini. Selain itu, berbagai lembaga dan universitas pun kerap mengundang sastrawan Indonesia ke Korea.

Sastra dan bahasa sebagai pintu gerbang untuk mengenal tradisi dan budaya di Indonesia, paling tidak bagi Korea menjadi semacam kebutuhan yang niscaya dalam konteks investasi seperti penanaman modal. "Orang-orang Korea yang ingin menanam modal di Indonesia perlu memahami latar belakang budaya di Indonesia. Tidak sedikit penanaman modal dari Korea yang kurang berhasil gara-gara tidak dipahaminya budaya di negeri ini. Mereka yang cuma membawa modal dan teknologi punya kemungkinan besar gagal," ujar Guru Besar Hankuk University of Foreign Studies Seoul, Korea ini.

Sejumlah kesempatan yang berkaitan dengan perkenalan sastra Indonesia di Korea dapat dikatakan berhasil. Akan tetapi, masyarakat Korea umumnya belum begitu tahu unggulnya khazanah sastra Indonesia. Dengan perkataan lain, khazanah sastra Indonesia memiliki taraf yang tinggi dan berpeluang digemari kalangan pembaca dunia. Oleh karena itu, ia berharap hendaknya pemerintah Indonesia memberi perhatian yang istimewa untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke luar negeri, misalnya, dengan mendirikan lembaga yang menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa-bahasa asing atau menunjang lembaga swasta yang berhubungan dengan itu.
**

NASIB sastra Indonesia di mata dunia seolah hadir tanpa referensi yang utuh, baik pengenalan (promosi) ihwal tradisi perkembangannya, terlebih lagi tentang kebudayaan Indonesia itu sendiri. Berbeda dengan pengenalan seni pertunjukan tradisi Indonesia yang selalu diboyong pemerintah ke berbagai event di dunia internasional, pemerintah terkesan tidak memandang karya sastra sebagai aset yang perlu dipromosikan. Mata dunia bisa dengan jelas mengenal berbagai seni tradisi pertunjukan Indonesia, bahkan hingga makanannya, tetapi tidak tentang karya sastranya.

Ketidaktahuan masyarakat internasional pada sastra Indonesia inilah yang dengan sedih diceritakan cerpenis dan novelis Putu Wijaya, ketika di Berlin seorang penyair kulit hitam Amerika Serikat bertanya kepadanya, "Apakah di Indonesia ada penyair?"

Putu juga menuturkan pengalamannya yang lain ketika seorang penerbit di Berlin tertarik menerbitkan cerpen-cerpennya. Akan tetapi, penerbit itu mengatakan agar Putu jangan berharap terlalu banyak bahwa karya akan disambut masyarakat di Jerman. "Beberapa karya Pramoedya dan Mangunwijaya sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman, tetapi di pasar tidak bunyi. Itu tidak disebabkan karya-karya mereka tidak menarik, tetapi karena masyarakat Jerman tidak memiliki referensi bahwa di Indonesia ada kehidupan sastra," ujar Putu.

Nasib sastra Indonesia di mata dunia pada bagian lain juga menyimpan fenomena yang lain, ketika akses menuju pergaulan sastra dunia internasional itu dilakukan oleh pihak atau komunitas yang melakukan semacam strategi citraan. Citraan yang diembuskan dikaitkan dengan isu-isu aktual, seperti feminisme, pluralisme, hak asasi manusia, dan demokrasi kebudayaan. Dengan strategi citraan inilah, komunitas tersebut bisa merebut simpatik. Inilah politik sastra yang terjadi di Indonesia demi keperluan membangun akses menuju ke pergaulan sastra dunia. Bagian dari strategi citraan ini tampak ketika sebuah karya dinobatkan sebagai representasi dari pembenaran isu yang tengah dimainkan. Yang terjadi kemudian, di tengah minimnya pengenalan terhadap sastra Indonesia, ia dipahami dalam berbagai kejanggalan.

Lewat kajian kritis dan investigasinya yang mendalam terhadap berbagai sumber di Jerman, kritikus sastra Katrin Bandel memaparkan sejumlah permasalahan di balik popularitas Ayu Utami dengan karyanya Saman di Jerman dalam apa yang disebutnya dengan "Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa". Salah satu bagian dari politik itu adalah politik pencitraan Ayu Utami di berbagai media massa Jerman sebagai penulis (perempuan) muda Indonesia berbakat yang berani menulis hal-hal tabu yang sulit diterima masyarakat negaranya yang "kolot" dan "patriakis".

Menurut Katrin, betapa Ayu Utami dan Komunitas Utan Kayu direpresentasikan dengan cara yang begitu tendensius dan menyesatkan di beberapa media Jerman dan negara di Eropa. Maka, lalu muncul semacam pertanyaan, apakah pembaca Eropa begitu mudah tertipu? Pembaca Jerman bebas membentuk pendapatnya sendiri, tetapi kebebasan itu ada batasnya ketika pembaca Jerman tidak mengenal dunia sastra Indonesia.

"Contoh menarik adalah resensi Birgit Kob di radio Jerman Deutschlandradio, 17 Desember 2007. Ia membandingkan novel Saman dengan puzzle yang tidak berhasil diselesaikan dan tidak berbentuk. Namun, kebingungan itu tidak membuatnya berkesimpulan bahwa novel itu kurang berhasil. Akan tetapi, justru dipahaminya sebagai bagian dari pengalaman baca sebagai pembaca Barat yang berhadapan dengan karya asing. Maka, kalau Saman dipilih di antara sekian banyak karya sastra Indonesia untuk disuguhkan pada pembaca Jerman, wajar kalau cara bercerita ala Saman-lah yang akan dianggap pembaca Jerman sebagai cara bercerita ’khas Indonesia’," ucap Katrin Bandel.***

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati