Rabu, 10 Maret 2010

Membaca Misteri Gus Mus

Judul buku : Gus Mus; Satu Rumah, Seribu Pintu
Penulis : Taufiq Ismail dkk
Penerbit : LKiS dan Fak. Adab UIN Yogyakarta
Cetakan : 1, Mei 2009
Tebal : 290 halaman
Peresendi: Muhammadun A.S*
http://lkis.co.id/

Baru saja KH Musthofa Bisri, yang akrab dipanggil Gus Mus, mendapatkan gelar kehormatan berupa Doktor Honoris Causa bidang Peradaban Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 30 Mei 2009. Suasana begitu riuh begitu Gus Mus naik podium menyampaikan pidatonya di hadapan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga. Tidak hanya kaum akademikus yang datang, tetapi juga para seniman, budayawan, politisi, dan tentunya para santrinya dan kaum santri yang kagum karya dan pemikiran kiai-penyair ini.

Suasana riuh semakin menggema tatkala malam harinya Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Amin Abdullah, yang dikenal serius dan teoritikus, menjadi sosok periang, penuh canda tawa, dan humoris, terlebih ketika ikut serta membaca puisi bersama Gus Mus dan Emha Cak Nun. Pastilah ini suasana yang misterius bagi kaum akademikus. Karena setiap kali acara wisuda pastilah menghadirkan wajah yang resmi. Kehadiran Gus Mus menjadikan kaum akademikus menjadi santai dan membaur satu dengan yang lain.

Dunia Gus Mus memang dunia misterius. Inilah yang terekam dari berbagai kisah dan tanggapan para tokoh dalam buku bertajuk “Gus Mus; Satu Rumah, Seribu Pintu”. Buku yang memang dipersiapkan acara penganugrahan Dr. HC memang banyak mengupas sisi misterius dalam diri Gus Rembang ini. Setiap kesan yang meluncur dari pena para kawan karibnya selalu menghadirkan misteri baru yang belum terungkap. Satu persatu dari penulis membawa misteri dari Gus Mus.

Mengawali sisi misterius Gus Mus adalah M Imam Aziz yang menjadi pengantar buku ini. Mas Imam, pangggilan akrabnya, secara blak-blakan menjuluki Gus Mus sebagai sosok misterius. Sejak awal pembuka tulisan sampai merampungkan tulisannya, bagi Mas Imam, Gus Mus adalah misteri yang yang bergelayut dalam dirinya sampai sekarang. Khususnya melihat kepribadiannya yang kompleks dan sepak terjangnya dalam pergolakan di tubuh Nahdlatul Ulama’ (NU), Gus Mus dinilai sebagai sosok misterius. Gerak-geriknya kadang blak-blakan, frantal, tanpa tedeng, tetapi kadang juga “diam”, membisu, sukar ditafsirkan.

Dalam dunia tulis, Slamet Efendy Yusuf melihat sosok Gus Mus sebagaia misteri juga. Waktu itu, Slamet masih aktif di Majalah Arena IAIN Sunan Kalijaga. Ada yang mengirim cerpen, pengirimnya adalah M. Ustov Abisri. Dengan nama samaran (yang plesetan) ini, Gus Mus ingin membangun misteri dalam diri karyanya.

Misteriusitas Gus Mus juga terbaca dari tulisan-tulisan Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Ahmad Thohari, Syu’bah Asa, Jamal D Rahman, dan sebagainya. Dunia Gus Mus di pesantren yang dikenal khusyu’ dan tawadu’ sangatlah berbeda dengan dunia Gus Mus di luar pesantren, dimana beliau bisa bergerak dengan eklektik dan fleksibel dalam berbagai jala kehidupan.

Cak Nun menjuluki Gus Mus bisa menjadi air zamzam di tengah comberan. Yang dimaksud Cak Nun adalah Gus Mus mampu menjadi mata air yang sejuk dan menenangkan ketika dia harus aktif dalam gelanggang hidup yang pongah dan jengah. Air zamzam Gus Mus selalu hadir dalam setiap sepak terjang hidupnya. Walaupun kadang misterius yang dilakukan, tetap saja publik menerimanya sebagai mata air yang menentramkan, karena Gus Mus mampu menjadi ruh penyejuk yang ditunggu-tunggu pengagumnya.

Menurut Syu’bah Asa, Gus Mus bisa menerapkan pergaulan keislaman yang stel kendo. Islam yang ditampilkan selalu santai, sejuk, nyaman, dan menetramkan. Bervisi inklusif, toleran, dan harmonis. Gus Mus tidak menghendaki Islam yang stel kenceng. Islam yang dipraktekkan dengan amarah, otoriter, dan penuh intimidasi. Karena menekuni gaya ber-Islam yang stel kendo, Gus Mus selalu bisa diterima semua pihak. Termasuk dalam berbagai konflik di lingkungan NU dan lingkungan kiai, Gus Mus selalu ditempatkan sebagai penengah yang bijak.

Sementara di mata kaum akademikus, Gus Mus dinilai sukses mencipta karya tulisan dan karya kiprah di masyarakat yang sejuk, harmonis, dan toleran. Karya karya Gus Mus begitu dekat dengan spiritualitas, khususnya dekat dengan spiritualitas pesantren. Bukan sekedar spiritualis, tetapi Gus Mus juga menghadirkan kritik sosial yang berani dan menggugat. Inilah analisis yang disajikan Abdul Wachid BS, Aning Ayu Kusumawati, dan Maman S Mahayana.

Terlepas dari itu semua, bagi keluarga dan santrinya, Gus Mus adalah sosok kepala rumah tangga dan kiai yang sejuk dan demokratis. Putra-putrinya diberikan kebebasan menentukan pilihan hidup yang akan dijalani. Sekolah tidak harus di pesantren, boleh di sekolah umum. Terbukti anak pertamanya, Ienes Tsuroyya memilih sekolah SMA di Semarang, dan Gus Mus mengizinkan. Dalam memilih jodoh pun, Gus Mus mengembalikan kepada putra-putrinya.

Sementara sebagai kiai, Gus Mus sangat demokratis, tetapi sangat teguh memegang prinsip dan nilai kepesantrenan. Yahya C Tsaquf mengkisahkan bahwa ketika mau meminta bantuan kepada pejabat negara dan meminta tanda tangan sang paman, Gus Mus marah-marah. Gus Mus tidak ingin membangun pesantren dari dana-dana siluman yang tak jelas jalurnya. Sang ayah (KH Bisri Musthofa) dan sang kakak (KH Kholil Bisri) tidak mengajarkan demikian.

Segala pernak-pernik hidup yang melekat dalam diri Gus Mus, memang terus menjelma misteri. Karena ibarat rumah, tulis Hamdy Salad, Gus Mus memiliki seribu pintu. Setiap orang bisa masuk dan keluar dari mana saja yang disuka.

* Peresensi adalah pengagum Gus Mus, alumnus PP Sunan Ampel Jombang
Sumber : www.nu.or.id

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati