Kamis, 18 Maret 2010

Menguak Mitologi Wanita Paus

Judul: Paus Wanita, Misteri Paus Joan
Judul Asli: The Female Pope, The Mystery of Pope
Penulis: Rosemary dan Darrol Pardoe
Penerbit: Alas Punlishing, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2007
Tebal: xii+212 halaman
Peresensi: Abd Rahman Mawazi
http://suaramerdeka.com/

PAUS Joan adalah wanita yang menjadi pemimpin tertinggi di Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan. Banyak orang telah mendengar namanya, tetapi sejarah dan legenda mengenai dirinya masih belum banyak diketahui. Gambaran Paus Joan menjadi akrab bagi kebanyakan orang lewat kartu paus wanita atau pendeta tertinggi wanita yang termasuk dalam Major Trumps dalam kartu Tarot. Sebagian orang mengenal Paus Joan lewat buku-buku yang diterbitkan kalangan feminisme yang menilai dia sebagai korban dari sebuah skandal yang ditutup-tutupi oleh gereja.

Namun, siapakan Paus Joan sesungguhnya? Untuk membuktikannya dibutuhkan penelitian sejarah atas bukti-bukti yang dianggap memiliki kaitan dan penjelasan ke arah tersebut. Tanpa itu, ia hanyalah dongeng, mitos, cerita fiktif yang tidak bisa dijadikan pijakan bahwa sesuatu dikatakan sebagai sejarah.

Rosemary dan Darroll Pardoe, lalu menyingkap misteri wanita paus ini. Dalam tradisi gereja memang tidak dikenal wanita paus kecuali Paus Joan. Ia satu-satunya nama yang dianggap pernah menjadi wanita paus pada sekitar abad ke-9 setelah masa kepausan Paus Leo IV dan sebelum Paus Benediktus III. Paus wanita itu berasal dari Jerman dengan nama John Anglicus. Tak seorang pun di Roma yang mengetahui bahwa ia seorang wanita. Ia dikenal cukup pandai sehingga penduduk kagum dan hormat padanya, hingga kemudian dinobatkan menjadi paus.

Tetapi, ketika menjabat sebagai paus, ia hamil karena hubungan gelap dengan kekasihnya. Dan sialnya lagi, bayi yang dikandungnya lahir ketika gereja sedang mengadakan arak-arakan dari Gereja St Petrus ke Istana Leteran, tepatnya di jalan sempit yang terletak antara koloseum dengan Gereja St. Clement. Setelah ia meninggal karena hukuman yang diterima, dikabarkan ia dikuburkan di tempat itu juga. Dan sejak kisahnya terbongkar, Paus Joan dihapus dari daftar para paus; karena dia adalah seorang wanita dan aib yang menimpa dirinya.

Kisah itu terrtuang dalam dokumen yang ditulis Martin Polonius, seorang pastur dalam ordo biara Dominikan, empat abad setelah kisah yang dituliskan, abad ke-13. Sumber ini pula yang dijadikan pijakan oleh penulis buku ini dalam memulai penelitian terhadap Paus Joan karena dianggap lebih komprehensif dibanding yang lain. Sebab, sumber-sumber lain kebanyakan dianggap mereduksi kisah Martin dan, sebagian yang lain, mencatat riwayat Paus Joan sebagai tambahan yang dijejalkan dan diinterpolasikan di tempat yang kebetulan kosong dari halaman menuskrip, di antara kisah Paus Leo IV dan Paus Benediktus III.

Sumber lain menyebutkan Joan tetap hidup dan membesarkan putranya hingga berhasil menjadi uskup. Dan untuk menebus dosa-dosanya, ia memilih menjadi biarawati. Bahkan, sosok wanita paus ini menjadi mirip seperti seorang suci, yang setelah meninggal dapat menimbulkan mukjizat (halaman 35).

Pada sumber-sumber lain, kisah dari sang paus pun mengalami banyak kontradiksi antara litelatur yang satu dari yang lain, sebagaimana diulas dalam buku ini. Kontroversi itu pula yang membuat paus legendaris ini semakin misterius. Perdebatan-perdebatan seperti ini yang mendorong Rosemary dan Darroll Pardoe melakukan investigasi lebih mendalam, mulai dari manuskrip klasik yang tersimpan di Vatikan hingga karya-karya masa kini.

Selain menelaah litelatur, penulis juga menyelediki tradisi yang dianggap berkaitan dengan Paus Joan. Banyak orang menilai terjadinya perubahan rute dari Gereja St Patrus ke Istana Leteran dalam ritual kepausan kini akibat menghindari jalan yang menjadi tempat tragedi tersebut, yakni Jalan Koloseum. Dan dikarenakan kecolongan itu pula dilaksanakan pemeriksaan kelamin bagi paus baru untuk menghindari kasus serupa, dan atau paus yang dikebiri, dengan kursi berlobang.

Menurut hasil kajian penulis, hal itu tidak berhubungan langsung dengan kasus Paus Joan karena dilaksanakan beberapa abad pascatragedi. Berubahnya rute akibat jalan tersebut sempit dilewati konvoi para petinggi gereja. Adapun tradisi pemeriksaan dengan kursi berlubang itu tidak terjadi karena tiga kursi memang digunakan untuk serah terima jabatan, dan bologan pada kursi hanya bagian dari desain.

Bukti lain yang menjadi kajian ialah perihal nisan dan patung. Batu nisan yang diduga bertuliskan "Pater Patrum" tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan Paus Joan, sebab nisan serupa pernah ada dan menjadi perdebatan sejak Yudas mengkhianati Yesus. Sementara patung yang diduga mempunyai keterkaitan adalah patung seorang wanita yang sedang menggendong bayi, yang sampai sekarang masih berada di Vatikan. Patung tersebut, menurut penulis, adalah patung yang melambangkan kesuburan dan telah lumrah di kalangan masyarakat pascakejadian, bukan ditujukan untuk Paus Joan.

Maka, simpulan yang diambil oleh penulis buku ini adalah bahwa legenda Paus Joan tidak lebih dari sekadar legenda, fiktif belaka. (halaman 87).

Akan tetapi, bagi sebagian kecil dari ahli sejarah, terutama dari gerakan feminis, mengakui kebenaran cerita Paus Joan dan menganggap bahwa bukti-bukti terkait telah dimusnakan oleh pihak gereja.

Hipotesa ini, menurut penulis, mengandung masalah lain sebab masih ada banyak sumber dari periode abad ke-9 sampai abad ke-12 yang masih tersimpan sampai sekarang, tapi tidak satu pun dari sumber tersebut yang menyatakan tentang keberadaan Paus Joan.

Lebih lanjut penulis menjelaskan kejadian seorang paus yang berada di tengah perjalanan menuju Istana Leteran melahirkan di tengah jalan pastilah akan membuat geger semua orang yang berada di sana ketika itu. Karena itu, pastilah hal itu akan dikomentari oleh semua orang yang menulis tentang kepausan. Dan dalam waktu singkat akan tersebar luas ke seluruh penjuru Eropa, baik melalui surat-menyurat masyarakat, maupaun sekadar kabar mulut.

Tetapi dalam kenyataannya, cerita itu bahkan tidak ada dalam manuskrip-manuskri holograf yang paling utuh kondisinya sekalipun. (halaman 145). Adapun sumber pertama yang menyebutkan kisah Paus Joan ini adalah Martin Palonius yang hidup empat abad dari kisah Paus Joan. Artinya, memori kolektif masyarakat tidak akan begitu saja dapat dihapus walaupun kebijakan dari yang berwenang ketika itu amat ketat.

Meski demikian, hingga masa kini motologi Paus Joan telah berambah ke seluruh penjuru dunia, baik melalui karya-karya fiksi maupun melalui kartu permainan Tarot. Dan kehadiran buku ini memberikan informasi yang cukup penting dalam upaya menyingkap misteri wanita paus tersebut.

Kritisisme yang dibarengi skeptisisme dalam penelitian setiap bukti-bukti sejarah yang terkait dengan Paus Joan membuat buku ini bisa diterima sebagai karya ilmiah, dan didukung pula dengan sumber-sumber dan pustaka yang cukup representatif. Pantas saja bila buku ini disebut sebagai dokumentasi pertama paling lengkap di balik fakta sang legenda.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati