Judul: Paus Wanita, Misteri Paus Joan
Judul Asli: The Female Pope, The Mystery of Pope
Penulis: Rosemary dan Darrol Pardoe
Penerbit: Alas Punlishing, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2007
Tebal: xii+212 halaman
Peresensi: Abd Rahman Mawazi
http://suaramerdeka.com/
PAUS Joan adalah wanita yang menjadi pemimpin tertinggi di Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan. Banyak orang telah mendengar namanya, tetapi sejarah dan legenda mengenai dirinya masih belum banyak diketahui. Gambaran Paus Joan menjadi akrab bagi kebanyakan orang lewat kartu paus wanita atau pendeta tertinggi wanita yang termasuk dalam Major Trumps dalam kartu Tarot. Sebagian orang mengenal Paus Joan lewat buku-buku yang diterbitkan kalangan feminisme yang menilai dia sebagai korban dari sebuah skandal yang ditutup-tutupi oleh gereja.
Namun, siapakan Paus Joan sesungguhnya? Untuk membuktikannya dibutuhkan penelitian sejarah atas bukti-bukti yang dianggap memiliki kaitan dan penjelasan ke arah tersebut. Tanpa itu, ia hanyalah dongeng, mitos, cerita fiktif yang tidak bisa dijadikan pijakan bahwa sesuatu dikatakan sebagai sejarah.
Rosemary dan Darroll Pardoe, lalu menyingkap misteri wanita paus ini. Dalam tradisi gereja memang tidak dikenal wanita paus kecuali Paus Joan. Ia satu-satunya nama yang dianggap pernah menjadi wanita paus pada sekitar abad ke-9 setelah masa kepausan Paus Leo IV dan sebelum Paus Benediktus III. Paus wanita itu berasal dari Jerman dengan nama John Anglicus. Tak seorang pun di Roma yang mengetahui bahwa ia seorang wanita. Ia dikenal cukup pandai sehingga penduduk kagum dan hormat padanya, hingga kemudian dinobatkan menjadi paus.
Tetapi, ketika menjabat sebagai paus, ia hamil karena hubungan gelap dengan kekasihnya. Dan sialnya lagi, bayi yang dikandungnya lahir ketika gereja sedang mengadakan arak-arakan dari Gereja St Petrus ke Istana Leteran, tepatnya di jalan sempit yang terletak antara koloseum dengan Gereja St. Clement. Setelah ia meninggal karena hukuman yang diterima, dikabarkan ia dikuburkan di tempat itu juga. Dan sejak kisahnya terbongkar, Paus Joan dihapus dari daftar para paus; karena dia adalah seorang wanita dan aib yang menimpa dirinya.
Kisah itu terrtuang dalam dokumen yang ditulis Martin Polonius, seorang pastur dalam ordo biara Dominikan, empat abad setelah kisah yang dituliskan, abad ke-13. Sumber ini pula yang dijadikan pijakan oleh penulis buku ini dalam memulai penelitian terhadap Paus Joan karena dianggap lebih komprehensif dibanding yang lain. Sebab, sumber-sumber lain kebanyakan dianggap mereduksi kisah Martin dan, sebagian yang lain, mencatat riwayat Paus Joan sebagai tambahan yang dijejalkan dan diinterpolasikan di tempat yang kebetulan kosong dari halaman menuskrip, di antara kisah Paus Leo IV dan Paus Benediktus III.
Sumber lain menyebutkan Joan tetap hidup dan membesarkan putranya hingga berhasil menjadi uskup. Dan untuk menebus dosa-dosanya, ia memilih menjadi biarawati. Bahkan, sosok wanita paus ini menjadi mirip seperti seorang suci, yang setelah meninggal dapat menimbulkan mukjizat (halaman 35).
Pada sumber-sumber lain, kisah dari sang paus pun mengalami banyak kontradiksi antara litelatur yang satu dari yang lain, sebagaimana diulas dalam buku ini. Kontroversi itu pula yang membuat paus legendaris ini semakin misterius. Perdebatan-perdebatan seperti ini yang mendorong Rosemary dan Darroll Pardoe melakukan investigasi lebih mendalam, mulai dari manuskrip klasik yang tersimpan di Vatikan hingga karya-karya masa kini.
Selain menelaah litelatur, penulis juga menyelediki tradisi yang dianggap berkaitan dengan Paus Joan. Banyak orang menilai terjadinya perubahan rute dari Gereja St Patrus ke Istana Leteran dalam ritual kepausan kini akibat menghindari jalan yang menjadi tempat tragedi tersebut, yakni Jalan Koloseum. Dan dikarenakan kecolongan itu pula dilaksanakan pemeriksaan kelamin bagi paus baru untuk menghindari kasus serupa, dan atau paus yang dikebiri, dengan kursi berlobang.
Menurut hasil kajian penulis, hal itu tidak berhubungan langsung dengan kasus Paus Joan karena dilaksanakan beberapa abad pascatragedi. Berubahnya rute akibat jalan tersebut sempit dilewati konvoi para petinggi gereja. Adapun tradisi pemeriksaan dengan kursi berlubang itu tidak terjadi karena tiga kursi memang digunakan untuk serah terima jabatan, dan bologan pada kursi hanya bagian dari desain.
Bukti lain yang menjadi kajian ialah perihal nisan dan patung. Batu nisan yang diduga bertuliskan "Pater Patrum" tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan Paus Joan, sebab nisan serupa pernah ada dan menjadi perdebatan sejak Yudas mengkhianati Yesus. Sementara patung yang diduga mempunyai keterkaitan adalah patung seorang wanita yang sedang menggendong bayi, yang sampai sekarang masih berada di Vatikan. Patung tersebut, menurut penulis, adalah patung yang melambangkan kesuburan dan telah lumrah di kalangan masyarakat pascakejadian, bukan ditujukan untuk Paus Joan.
Maka, simpulan yang diambil oleh penulis buku ini adalah bahwa legenda Paus Joan tidak lebih dari sekadar legenda, fiktif belaka. (halaman 87).
Akan tetapi, bagi sebagian kecil dari ahli sejarah, terutama dari gerakan feminis, mengakui kebenaran cerita Paus Joan dan menganggap bahwa bukti-bukti terkait telah dimusnakan oleh pihak gereja.
Hipotesa ini, menurut penulis, mengandung masalah lain sebab masih ada banyak sumber dari periode abad ke-9 sampai abad ke-12 yang masih tersimpan sampai sekarang, tapi tidak satu pun dari sumber tersebut yang menyatakan tentang keberadaan Paus Joan.
Lebih lanjut penulis menjelaskan kejadian seorang paus yang berada di tengah perjalanan menuju Istana Leteran melahirkan di tengah jalan pastilah akan membuat geger semua orang yang berada di sana ketika itu. Karena itu, pastilah hal itu akan dikomentari oleh semua orang yang menulis tentang kepausan. Dan dalam waktu singkat akan tersebar luas ke seluruh penjuru Eropa, baik melalui surat-menyurat masyarakat, maupaun sekadar kabar mulut.
Tetapi dalam kenyataannya, cerita itu bahkan tidak ada dalam manuskrip-manuskri holograf yang paling utuh kondisinya sekalipun. (halaman 145). Adapun sumber pertama yang menyebutkan kisah Paus Joan ini adalah Martin Palonius yang hidup empat abad dari kisah Paus Joan. Artinya, memori kolektif masyarakat tidak akan begitu saja dapat dihapus walaupun kebijakan dari yang berwenang ketika itu amat ketat.
Meski demikian, hingga masa kini motologi Paus Joan telah berambah ke seluruh penjuru dunia, baik melalui karya-karya fiksi maupun melalui kartu permainan Tarot. Dan kehadiran buku ini memberikan informasi yang cukup penting dalam upaya menyingkap misteri wanita paus tersebut.
Kritisisme yang dibarengi skeptisisme dalam penelitian setiap bukti-bukti sejarah yang terkait dengan Paus Joan membuat buku ini bisa diterima sebagai karya ilmiah, dan didukung pula dengan sumber-sumber dan pustaka yang cukup representatif. Pantas saja bila buku ini disebut sebagai dokumentasi pertama paling lengkap di balik fakta sang legenda.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar