Kamis, 18 Maret 2010

Sang Mesias Palsu Pembunuh Rasul

Judul: Messiah
Penulis: Boris Starling
Penerbit: Ufuk Press, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: 640 halaman
Peresensi: N Mursidi
http://suaramerdeka.com/

SALAH satu dari sejuta teknik penulisan novel thriller yang dapat menarik daya pikat pembaca adalah kelincahan mencipta tokoh yang seolah tak berdosa tetapi memiliki karakter yang aneh. Karakter tokoh itu digambarkan secara eksplisit, dilingkupi seribu misteri sehingga susah ditebak.

Apalagi, novel thriller itu bercerita tentang pembunuh berantai yang membahayakan siapa pun. Pengarang harus punya "rahasia yang disembunyikan rapat-rapat" di awal cerita, jejak pembunuh yang tidak dapat ditebak juga meninggalkan simbol-simbol misterius.

Tetapi rahasia itu tidak disimpan rapat-rapat untuk selamanya, melainkan dibuka selapis demi selapis hingga suspense yang mencengangkan, tak terduga dan mengejutkan. Tidak salah, pembaca pun merasa berdosa kalau berhenti pada separuh bagian dan mau tidak mau harus membaca hingga selesai.

"Rangkaian teknik" itulah yang disuguhkan Boris Starling dalam novel ini. Dengan daya pikat bahasa yang bernas, kekuatan plot, dan suspense yang mencengangkan, novel ini nyaris sempurna disebut novel thriller brilian. Pengarang tak saja brilian menuangkan ide pembunuhan yang mengundang dada berdebar, justru mengaitkan persoalan teologis yang tidak pernah diduga kalau seorang pembunuh bisa membunuh orang berdasarkan nama yang sama dengan rasul. Karena itu, motif tersebut mengecoh polisi.

Pagi itu (Jumat 1 Mei 1998), Redfern Metcalfe menemukan Philip Rhodes, pengusaha katering dan James Cunningham (uskup) mati tragis. Philip mati digantung sedangkan James dipukuli. Tragisnya dua korban ditemukan dalam keadaan lidah dipotong, sendok perak di mulut dan hanya memakai celana dalam. Sebagai detektif, Red lalu membentuk "tim investigasi" melibatkan 3 polisi; Jez Clifton, Duncan Warren dan Kate Beuchamp untuk membantu menangani kasus pembunuhan tidak normal itu.

Tapi hasil outopsi korban ternyata tak memberi petunjuk. Si pembunuh juga tak meninggalkan jejak sidik jari. Red linglung. Bahkan 3 bulan berlalu, Red masih belum menemukan si pembunuh, justru jatuh korban ketiga, James Buxton (tentara) yang mati terpenggal, lalu Bart Miller (dikuliti) dan sebulan berikutnya Matthew Fox (dicincang) yang mati dengan lidah dipotong, sendok perak serta celana dalam. Padahal selama bertahun-tahun jadi detektif, Red tak pernah gagal menangkap pelaku, karena ia dapat membaca jalan pikiran sang pembunuh.

Tapi dalam kasus ini, Red menemui jalan buntu. Apalagi ketika Red hampir menemukan "motif di balik aksi" Lidah Perak (disebut begitu karena meninggalkan simbol lidah terpotong dan sendok perak) ternyata Duncan membocorkan rahasia penyelidikan ke media massa. Red jadi kian bingung dan sering mabuk. Dan di luar dugaan, saat ia bersama istrinya, Susan mampir ke galeri Nick Buckeet dan melihat gambar Santo Bartholomew, tanpa sengaja ia menemukan motif di balik aksi Lidah Perak bukan karena homoseksual atau iri terhadap orang kaya sebagaimana yang dia duga, tetapi dilatarbelakangi keinginan membunuh 12 rasul yang diutus oleh Yesus setelah ia membaca nama korbannya; Philip, James, James, Bartholomew, dan Mattew.

Dari temuan itu, Red tahu ada tujuh korban lagi yang diincar. Penemuan ini diperkuat fakta korban selanjutnya, Jude Hard Castle dan Simon Baker yang memiliki sama dengan nama rasul. Akibatnya, Red tahu kapan Lidah Perak bertindak dan sasaran yang akan dibunuh dari nama nabi yang tersisa; bernama Peter (ternyata ditemukan meninggal 29 Juni), Thomas (21 Desember), Andrew (30 November) dan John (27 Desmber). Meski ia tahu kapan pembunuh rasul itu beraksi, tetapi kecolongan. Lidah Perak berhasil membunuh 11 nabi dan akhirnya tinggal 1 nabi tersisa yang belum dibunuh.

Siapa rasul yang tersisa itu? Red tak tahu karena dari buku-buku yang dipelajari, ditemukan bahwa Judas telah mengkhiati Yesus. Pada saat Red tidak tahu siapa yang akan jadi korban berikutnya justru tak sengaja ia menemukan beberapa bukti yang mengarah pada Duncan; surat dari kepala gereja Milenium Baru, pembelian sendok perak dari kartu kredit Duncan dan alat pembunuh yang ada di rumah Duncan. Red akhirnya menangkap Duncan.

Setelah merasa aman, Red ingin merajut pernikahannya dengan Susan yang sudah retak. Tapi ketika Susan belum kembali dan Red di rumah sendirian pada hari Paskah, datang Jez berkunjung. Ia tidak sadar bahwa Jez itulah Pembunuh Rasul dan mengincar dirinya karena di mata Jez, Red itu adalah Judas yang berkhianat (karena dahulu melaporkan Eric, adiknya ke polisi, setelah membunuh Charlotte Logan dan Red menerima uang 30 ribu dolar seperti yang dilakukan Judas kepada Yesus). Sayang, Red tak mau menjadi Judas. Karena itu, Jez yang mengaku sebagai Mesias Baru (dengan tiga alasan; ia bernama Jez Clifton yang identik Jesus Christ, lahir 25 Desember 1966 dan pernah ditabrak lari oleh Red ketika masih remaja, tetapi mengalami mukjizat dapat bangkit kembali setelah 3 hari koma), justru mati disalib oleh Red.

Novel bersampul merah ini, sungguh luar biasa bahkan nyaris sempurna. Dari jalinan cerita tak ada satu indikasi yang mengarah pada Jez sebagai pembunuh rasul. Suspense itu baru dikuak pengarang kelahiran London, 38 tahun yang lalu ini di ending cerita (40 halaman akhir). Ketegangan diracik Starling dengan greget kuat. Sang pembunuh dibuat Starling tidak meninggalkan jejak dan korban yang dibunuh hanya meninggalkan simbol belaka. Karena itulah, harus diakui, novel ini berpotensi mengecoh pembaca sejak awal cerita.

Selain itu, pengarang bisa merangkai ketegangan tetap terpelihara dengan menjadikan Duncan dan Israel (Kepala Gereja Milenium Baru) sebagai

tertuduh. Padahal pembunuh rasul itu tidak lain adalah Jez, polisi yang berada di dekat Red. Juga, motif dibalik pembunuhan Jez yang mengaku sebagai mesias nyaris mengundang tanda tanya besar. Dengan sudut pandang pencerita "aku" tokoh Jez yang mengakui bahwa ia adalah si mesias dengan dikuak sedikit demi sedikit, jelas membius pembaca. Apalagi dengan teknik penceritaan yang berbelit dengan peralihan "tokoh utama" Red kemudian "aku" si Lidah Perak dan beralih lagi pada cerita masa lalu Red yang kelabu dan sejumlah aksi yang penuh teka-teki. Tidak salah, kalau novel ini bisa terjual mencapai 8 juta kopi, diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan menjadi bestseller.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati