Jejak Wallace di Jombang

Junaedi*
http://www.surya.co.id/

DALAM berbagai catatan sejarah, naturalis asal British, Alfred Russel Wallace, yang juga menciptakan sebuah garis imajiner sebagai batas pemisah fauna dan dikenal sebagai Garis Wallacea, pernah singgah sementara waktu di Jombang pada tahun 1861.

Setidaknya ada tiga kawasan yang tercatat dalam berbagai literatur yaitu Wonosalam, Japanan, dan Mojoagung. Letak geografis tiga kawasan ini berada di sisi timur Kabupaten Jombang memanjang ke selatan dengan jarak jika ditarik garis lurus kurang lebih 15 km. Tiga titik kawasan ini juga tak jauh dari Trowulan, yang diyakini menjadi salah satu pusat kejayaan kerajaan Majapahit.

Di dalam Java a Traveler’s Anthology disebutkan bahwa Wallace mengunjungi kebun kopi di Wonosalem di kaki Gunung Arjuna dan mengumpulkan spesimen burung merak di Wonosalem. Di dalam catatan ini Wallace menulis “Wonosalam” dengan ejaan “Wonosalem” dan terletak di kaki Gunung Arjuna. Padahal, Wonosalam yang ada di Jombang ini berada di kaki Gunung Anjasmoro. Ada kemungkinan gunung yang saat ini dinamakan Gunung Anjasmoro, pada saat itu belum mempunyai nama atau kalaupun sudah mempunyai nama, tetapi kurang dikenal dan masih menjadi bagian dari Gunung Arjuna yang memang letaknya berada dalam satu gugusan.

Jadi mungkinkah ada nama Wonosalam lain di kaki Gunung Arjuna? Sejauh ini dugaan saya sepertinya tidak ada Wonosalam selain yang di Jombang. Apalagi dalam perjalanannya ke Wonosalam, seperti disebutkan dalam The Malay Archipelago, —merupakan salah satu buku perjalanan ilmiah terbaik pada abad ke-19—, Wallace sempat singgah di Candi Arimbi yang letaknya di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, namun secara geografis lebih dekat dengan Wonosalam. Jadi ini bisa menjadi titik acuan Wonosalam manakah yang ditapaki Wallace pada tahun 1861 itu.

Dalam kisah perjalanannya, ketika menuju Wonosalam ia melihat hutan yang sangat indah dan melewati bangunan Candi Arimbi yang juga sangat menakjubkan yang dia anggap sebagai pusara seorang raja. Mungkin praduga Wallace tidak salah, karena menurut berbagai kisah, Candi Arimbi dibangun sebagai tempat perabuan Tribhuwanatunggadewi yang merupakan penjelmaan dari Dewi Parwati.

Selain itu, dalam kisahnya yang lain di Wonosalam, Wallace selain mengumpulkan berbagai jenis spisemen ayam hutan dan berbagai burung, utamanya burung merak, juga mengunjungi kebun-kebun kopi. Dan sampai sekarang, kopi tetap menjadi salah satu komoditas perkebunan utama petani di Wonosalam, selain cengkih dan kakao serta berbagai jenis durian utamanya durian bido.

Entah bagaimana keadaan kebun-kebun kopi di Wonosalam ketika itu. Kemungkinan kebun-kebun kopi dibangun bersamaan dengan kebijakan tanam paksa, yaitu pada masa Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch berkuasa pada pertengahan abad ke-18. Apalagi kawasan Mojowarno, kawasan barat daya dan berdekatan dengan Wonosalam, pada abad 18 merupakan pusat kebudayaan kolonial Belanda, yang tentu saja segala kebijakan kolonial akan “terpancar” ke sekitarnya. Jejak peradaban kolonial Belanda di Mojowarno hingga saat ini pun masih terlihat dengan peninggalan bangunan-bangunan rumah tua dan gereja-gereja, termasuk peninggalan Pabrik Gula Tjoekir di barat Mojowarno.

Hanya saja, sekitar 40 tahun semenjak kedatangan Wallace atau sekitar awal tahun 1900-an, perusahaan-perusahaan kolonial Belanda mulai menata dan membangun kembali perkebunan kopi di Wonosalam dengan sistem sewa lahan dengan “merayu” dan “memelihara” kalangan elite penguasa lokal. Perkebunan dicetak terutama di kawasan tinggi di lereng Gunung Anjasmoro, mulai dari Dusun Segunung (Desa Carangwulung) hingga berderet ke selatan sampai Dusun Sumberjahe dan Sumberarum (Desa Sambirejo).

Bahkan, di Segunung sejak awal 1920-an sudah dibangun pabrik pengolah kopi. Bangunan ini bertahan hingga awal tahun 2000-an sebelum diruntuhkan oleh pemilik tanah saat ini. Saya masih sempat menikmati dan menjadi saksi bangunan tua bersejarah itu karena jaraknya sekitar 1 km dari SD saya itu menjadi jujukan ketika pelajaran sejarah dan mengarang.

Japanan yang Bukan lnul

Demikian juga dengan Japanan. Japanan yang dimaksud adalah yang berada di Kecamatan Mojowarno, Jombang, bukan seperti dugaan Dewa Gde Satrya dalam tulisannya di harian ini (Surya, 19 Maret 2010), yang menyebut, Japanan sebagai sebuah desa kecil yang sempat melejit seketika saat Inul Daratista mencuat di pentas nasional, yaitu Japanan di Pasuruan.

Di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, saat ini menjadi perkantoran Perhutani dan masih tersisa sedikit hutan jati. Di sini juga terdapat situs Yoni Gambar, tepatnya di Dusun Sedah, di dekatnya juga ada pemandian wanawisata Sumberboto. Saya meyakini di Japanan inilah Wallace pernah berkelana menyusuri hutan-hutannya yang pada tahun itu kemungkinan besar masih lebat dan rimbun.

Di dua tempat inilah (Wonosalam dan Japanan), yang sampai saat ini hutannya masih tersambung bahkan sampai ke beberapa desa di Mojoagung dan Trowulan, Wallace mengumpulkan beragam ayam hutan dan burung merak. Sangat dimungkinkan jika pada tahun 1861 ayam hutan dan burung merak masih sangat banyak dan beragam jenisnya karena kondisi hutannya masih alami. Sampai tahun 1990-an, ayam hutan, dan burung merak di Wonosalam masih mudah dijumpai. Bahkan di area perkebunan cengkih pun seringkali ditemukan burung merak berkeliaran. Namun, saat ini sangat sulit dijumpai akibat kondisi hutannya yang rusak semenjak huru-hara reformasi dan adanya perburuan yang intensif.

Itulah kemungkinan jejak-jejak Wallace selama di Jombang seperti yang tertuang dalam berbagai catatan-catatan sejarah. Sangat mungkin jejak-jejak Wallace yang kita “napaktilasi” ini tidak tepat dan masih memerlukan pencarian yang lebih jauh. Namun begitu, sudah selayaknya jejak Wallace dijadikan spirit untuk tetap melestarikan alam, agar kelak tetap bisa menyaksikan ayam hutan dan burung-burung merak. Semoga!

*) Junaedi adalah dosen Universitas Darul Ulum Jombang.

Komentar