Langsung ke konten utama

Rendez-Vous

Dina Oktaviani
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

DIA sudah tidak tahan lagi. Beratnya sudah turun sebanyak dua belas kilo selama sepuluh bulan ini. Tapi dia masih harus menahan diri sampai pertemuan itu tiba. Baru pukul empat. Terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Dia berdebar-debar. Tapi lalu terdengar suara pintu pagar digeser; pintu pagar milik tetangga rumahnya tidak berpagar, dan dia harus kembali bekerja.

Siang tadi dia pergi ke toko daging dan membeli kikil sapi. Uangnya masih banyak, upah terjemahan yang turun kemarin karena dia memaksa pihak penerbit menurunkannya meski pekerjaannya belum selesai diedit, tapi dia hanya membeli kikil. Dan sepanjang perjalanannya, semua orang menoleh dan menyapanya hanya karena rambutnya yang dicat merah, dan bukan karena rok pendek yang memperlihatkan kakinya yang cokelat.

Di meja dapur, cabe hijau, bawang putih dan bawang merah telah selesai dipetik dan dikupas. Dia mengiris bawang merah terlebih dahulu dan menggesernya sehingga berada di deretan paling depan di atas talenan. Air matanya deras, dia dapat melihatnya di cermin yang menempel di dinding dapur ke arah mana dia menghadap. Dan dia mengeluh karena, meski orang Sumatera, dia tidak bisa memasak rendang. Padahal dia hanya mau makan daging sapi yang direndang, terutama bila dibuat oleh ibunya sendiri yang kini entah di mana.

Bawang merah telah selesai diiris. Dia menatap cermin sekali lagi, hening dan kaku, seolah mencoba memahami arti dari wajahnya yang sembab, seolah air mata itu muncul dari perasaan tertentu dan tak ada hubungannya dengan bawang merah. Kemudian dia mengelap air mata dengan lengan kaus katunnya, mengiris bawang putih dan cabe hijau lalu beranjak menyalakan kompor.

Ketika mulai menumis, tiba-tiba dia merasa jengkel karena suara yang muncul dari penggorengan tidak dapat menimbulkan kesan akan apa pun, dan aromanya tidak bisa menggoda kekasihnya untuk datang tiba-tiba. Kekasihnya yang sibuk dengan keluarga besar dan tradisi-tradisinya. Kekasihnya yang pemikir, yang tergila-gila akan semangat klasik dalam belajar, yang menurutnya terobsesi pada gaya hidup kuno. Dia selalu berdebar-debar dan lunglai menatap layar ponselnya, tetapi laki-laki itu lebih senang menulis surat yang selama sepuluh bulan mereka berpacaran baru dua kali dikirimkan tukang pos kepadanya.

Selama sepuluh bulan itu, sudah sembilan kali mereka terpisah. Dan pada bulan-bulan terakhir, setiap perpisahan memakan waktu sampai satu bulan. Dan dalam satu bulan itu, hanya beberapa hari saja dia menerima pesan atau telepon dari laki-laki itu. Begitulah, dia mengharapkan komunikasi yang rutin dan tanpa hambatan, tapi kekasihnya lebih gemar memberi kejutan yang alamiah.

Di tengah perasaan jengkel itu dia teringat pada jahe dan menambahkannya pada tumisan setelah menumbuknya buru-buru. Setelah tumisan bumbu, kikil dan kecap asin menyatu, dia baru sadar masakan itu tidak akan habis dimakan selama tiga hari, mengingat dirinya cuma sendirian dan tak ada kawan yang bakal datang.

Nasi telah tanak secara elektrik. Tak ada orang lain di meja makan. Hari masih terang pula. Dia masih malas makan, dan duduk termenung menatap cermin. Kosong. Hanya terdengar suara motor behenti di depan rumahnya. Dia memasang telinga hati-hati dengan hati berdebar-debar. Hening. Tapi lalu terdengar suara pintu pagar digeser. Dia memaki dirinya sendiri. Konyol! Sudah berulang-ulang laki-laki itu memutuskan hubungan dengan alasan yang hebat-hebat: pengkhianatan, perbedaan dunia dan tradisi, sakit hati yang mendalam. Semuanya melewati pertengkaran-pertengkaran yang juga hebat. Tapi mereka selalu kembali bersama.

Dia merasa sudah tidak tahan lagi. Waktu bertindak begitu cepat dan kasar terhadap hubungan mereka, tapi begitu lambat dan dungu terhadap penantiannya. Oh, kerinduan! Dia sudah tak punya apa-apa lagi selain kerinduan. Tapi dia merasa harus melepaskan juga yang satu itu.

Bulan ini, sudah empat kali laki-laki itu berjanji untuk datang. Dan setiap kali batal, tak ada kabar yang datang dengan segera. Dan dia sudah mengutarakan kekecewaanya setiap kali karena bila tak ada kabar, dia akan selalu mengira akan mendapat kejutan. Tapi? Suara pintu pagar digeser itu membuatnya gila!

Namun kali ini mereka pasti bertemu. Laki-laki itu telah meneleponnya dari kereta tadi malam. Dan masing-masing telah berjanji akan mengatakan sesuatu. Tidak di rumah, tapi di kafe mahal tempat kali pertama mereka kencan dulu. Malam itu dia baru saja mendapat pinjaman uang untuk membayar sewa rumah, dan menghabiskan sebagian untuk membayar pesanan. Kali ini dia akan menggunakan upah terjemahannya untuk kembali ke kafe itu. Tapi entah kenapa dia membeli kikil dan memasaknya hari ini, dan entah kenapa dia masih saja terganggu dengan suara motor dan suara pintu pagar digeser itu.

Tiba-tiba sudah pukul lima. Jantungnya berdegup cepat, semangatnya naik drastis. Dia mandi dengan lulur dan mengenakan gaun yang dijahitnya sendiri dengan tangan. Gaun itu... Dia telah menyelesaikannya tiga minggu lalu, menyempurnakannnya setiap hari selama seminggu, dan telah menggantungnya selama dua minggu. Dia berencana mengenakannya untuk pergi menonton Festival Film Asia bersama kekasihnya sehingga menyimpan kegembiraan itu sampai kekasihnya datang. Tapi gaun itu tetap tergantung di balik pintu kamar, sampai festival habis, sampai kegembiraan itu terasa pahit. Dibikin pahit oleh kerinduan yang tak sabar. Tak pernah sabar.

Dia mencoba memaafkan ketidaksabarannya sendiri dan memusatkan kerinduan pada puncaknya. Terdengar suara motor, lalu jeda, lalu terdengar suara pintu pagar digeser. Segera ingatan-ingatan berkumpul dan menyerbunya.

Dia teringat jalan-jalan basah pada dini-dini hari, saat dia dan kekasihnya mengenakan jaket tebal dan syal dan berjalan kaki mencari warung makan. Laki-laki itu memegang payung dan berjalan di sisi kanannya sambil merangkul bahunya dengan tangan kirinya. Dini-dini hari itu, sesekali mereka menghentikan langkah karena perut dan pinggangnya terasa sakit dan laki-laki itu bertanya kepadanya dengan lembut namun galau: sakit? Kemudian mereka kembali berjalan di bawah gerimis, mencari sesuatu yang belum pasti mereka temukan.

Dia teringat suatu senja di swalayan saat kekasihnya menatapnya dari dekat pintu keluar ketika dia membayar sayuran dan pakaian dalam pria di kassa. Tatapan yang lurus dan tajam; tak ada jalan untuk berbelok, tak ada senjata apa pun untuk melawan ketajaman itu. Tatapan itu membakarnya bagai tatapan pertama yang membuatnya jatuh cinta pada laki-laki itu.

Dia ingat sebuah stasiun tempat mereka berkali-kali saling melambai tanpa menggerakkan sedikit pun tangan mereka. Dia teringat tempat tidur yang dingin di kamarnya, yang enggan sekali dia naiki sendirian pada malam-malam penantiannya. Dia teringat semuanya, tapi dia telah memutuskan untuk tidak berlarut-larut dengan semua itu lagi. Dia sudah memutuskan: untuk berdandan sempurna dan menemui kekasihnya di kafe, dan mengatakan sesuatu yang telah dijanjikannya. Tapi...ah, suara motor dan pintu pagar digeser itu lagi!

Laki-laki itu sampai di kafe terlebih dahulu, mengenakan kemeja yang dibelikan ibunya dan memandang kekasihnya penuh kekaguman ketika dia datang. Akhirnya: pertemuan! Seperti biasa, mereka hanya berjabat tangan pada pertemuan yang pertama: belum kuat melepaskan ledakan rasa kangen.

Laki-laki itu memulai percakapan dengan mengutarakan kekagumannya. Sedang kekasihnya memulai dengan mengeluh ketika mendengar suara motor lewat di sekitar kafe, mengingatkan kepada laki-laki itu pada kisah suara motor dan pintu pagar digeser yang lusinan kali dia dengar. Ya, jika kamu tidak pernah tidur dan pergi dari rumah, kamu akan tahu berapa lusin kali suara motor dan pintu pagar digeser terdengar selama sehari semalam. Dan seperti biasa, dengan nuansa bangga karena amat dirindu-rindukan, laki-laki itu meminta maaf atas penundaan-penundaan yang telah dilakukannya.

"Seperti biasa, cintaku memaafkan semua yang kamu lakukan padaku."

Laki-laki itu tersenyum. Kekasihnya menatapnya.

"Tapi kukatakan: aku sudah tidak tahan lagi."

Laki-laki itu menatap kekasihnya yang baru saja berbicara dengan sikap paling dingin yang pernah dilakukannya; mencari-cari cinta di matanya tapi tidak ketemu; tiba-tiba merasa seakan kekasihnya atau dirinya sendiri telah menggunakan mata yang salah selama ini.

"Bukankah kamu sudah memaafkan semua kejahatanku? Kamu tidak pernah mengungkitnya lagi, atau membicarakannya? Dan Darlin....kamu sudah berjanji tidak akan kembali kepadanya kan?"

"Bukan karena semua itu. Sungguh. Kamu tahu, sekarang, jika ada alasan yang membuat kita harus berpisah, itu hanyalah..."?

"Apa, Sayang? Bilang."

"Suara motor dan pintu pagar digeser itu..."

Oh! Laki-laki itu mengharapkan dia berteriak-teriak memakinya sambil menangis, membeberkan semua kejahatannya dalam hubungan ini. Ia mengharapkan perempuan itu melemparkan gelas ke mukanya dan membanting meja sampai semua orang memperhatikan mereka. Ia mengharapkan kekasihnya merengek dengan kasar: aku mencintaimu... coba mengerti aku sedikit, bajingan! Tapi hanya penampilan yang anggun dan kata-kata ini yang keluar dari mulut perempuannya:

"Sekarang giliranmu."

"Tidak mungkinkah kita memulainya dari awal lagi?"

Dia menggeleng sedikit saja sambil mengedipkan kedua matanya pelahan.

"Sekarang giliranmu."

Laki-laki itu menyedot napas lewat hidungnya kuat-kuat, menimbulkan suara seakan ada cairan di dalamnya. Tetapi wajahnya tidak apa-apa, juga matanya: tetap kaku, bahkan ketika mulai berbicara kembali.

"Aku datang untuk mengatakan: aku sudah siap mengambil risiko, dan mengajakmu menikah."

Mereka bertatapan, masing-masing dengan ketegaran yang pucat. Lalu perempuan itu menundukkan wajahnya. Dia menangis, akhirnya, terisak-isak. Dia menangis, karena tak tahu laki-laki itu baru saja berbohong.

Begitulah, mereka berpisah. Malam jatuh. Kesedihan yang hebat naik ke wajah laki-laki itu sepanjang malam, sublim oleh cahaya bulan, menjadi kaca-kaca di matanya. Namun kesedihan itu terlalu berat, dan akhirnya jatuh mengikuti perilaku malam, membasahi jalan-jalan: gu gu gu... Tak tahu kenapa. Pada saat itulah aku bertemu dengannya. Aku ingin ia menatapku, tapi aku takut ia akan mengatakan yang sebenarnya: sebuah keputusan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).