ISYARAT TARDJI TERGELETAK DAN CODOT

Nurel Javissyarqi
http://www.sastra-indonesia.com/

Isyarat (kumpulan esai), Sutardji Calzoum Bachri, Indonesia Tera, 2007.

Membaca Isyarat Tardji, serasa mendengar paduan suara jaman, yang didengungkan kumpulan serangga nan berkumandang. Selaguan hayati dinyanyikan lantang, mengelus-elus ketegangan bersimpan ketegaran.

Ketika istirah, teks-teks itu tergeledak tanpa secawuk ijuk, tiada menyadap daging hidup. Yang dimaksud ledakan tegang atas yakinnya piawai merawat ketegangan. Jika yang lain patah arang, dirinya menjulang dari debu-debu dihempas angin kencang.

Ia telah melampaui seorang diri, genap sudah usianya melegenda; seumur hidup dikawal kalimah-kalimahnya, praktis paripurna. Bahasa menterengnya, Tardji itu segugus peradaban perpuisian di Indonesia.

Menguak sudut tertentu mutiara, bebatuan mulia sastra di bumi nusantara, banyak kian menggeseknya. Menampilkan cerlang cahaya berbeda, hingga menerobos belahan lain dunia, tatkala tak hanya dari mulut seorang saja.

Karya-karya Tardji, gumpalan padat daging bernafas; cerpen, puisi, esai. Ia pelopor, bukan epigon yang mendengungkan paduan rekaan. Sedang diriku kembara, yang mengenal pelbagai warna bayu menyapa. Jikalau mengelak dikiranya muak.

Kala bangkit dari kubur kata, yang lain seyogyanya gentayangan? Naiklah presiden-presiden penyair daerah, ruhmu belum sirna. Aku perlu banyak menimba, biar tak mengintip timun tetangga. Ini kutampilkan sebab watak sebagian mereka, ada tak mau memberikan kecuali disombongi terlebih dulu. Istilahku menyadap, menggasak.

Sosoknya menyerupai nabi mengemban misi, detektif bahasa, menelanjangi sejarah. Aneh? Bukan, sebab tiada yang mengebiri ketegangannya. Atau telah kebal racun yang disuntikkan kritikus, karena diawal kepenyairannya sudah cetus. Otot-otot nalar, daging perasaan. Sedang pribadiku bukan pencuri Tuhan, tidak menculik kepercayaan, hanya berjalan-jalan.

Pada anak-anakan gunung Krakatao ada suara, di ketinggian Bromo adanya gema. Makin banyak kata, nama-nama diucapkan, menyundul langit menjelma hujan, Tuhan amat kasih pada insan perantauan. Dari sebrang akhirat tetapnya perjalanan hidup menunggu maut. Olehnya berbaik sangkalah meski pedas, di atas khasana bathin harap disebar luas, bukan disembunyikan meng-empu, salah-salah membatu empedu.

Gelak Tawa Puisi, Maha Duka Esai

Sayap-sayap pengetahuan kasih atas rasa syukur yang tak terperi, tidak terperdaya perubahan jasad usia. Mampet sudah awal-akhir terpenjara keranda kata-kata. Barisan pengusung ajal tiba-tiba. Siapkah ia, saat malaikat pencabut suka datang ke muka?

Bukti melegenda, tahan menggenggam ujian di setiap tampuk peperangan, dan kegagalan nyinyir hanya kamusnya para pecundang. Betapa riwayatnya terpecah-pecah, memampetkan lewat balutan esai berkilat-kilat. Bila ajal tiba, ingatlah awan kembara mendenyutkan sejarah.

Siapa menimpakan bebatuan di kepala ini, hingga darah mengucur deras, betapa mereka haus keagungan. Tapi telah kehabisan, dihisap jiwa muda berombak samudra. Maukah daging tanpa darah? Masih ada denyut di leher segala tanya. Akulah bocah tanpa ayunan selendang Bentara.

Watak kepenyairannya berupa tawa kerendahan, bukan kesombongan, jika keangkuhan tak sampai ke sana. Orang-orang tak suka mendengar tangis bocah, sebab istri-istrinya mandul. Apakah beralasan selingkuh? Inikah rampungnya tanya sepantulan hayat? Lantang terjawab tanpa curiga, kaki-kaki melangkah penuh sumringah.

Digiring angin berdenyut-denyut, disapa ruh menyetubuh, melayari alam tidak teraba. Mental baja bukan lamunan, menyedot reribuan perihal jadi tangan gaib persajakan, pada anak-anak beranjak sedari jasadiah. Gegaris tangan berbeda; ada penguasa bahasa, ada dianugrahi ruh kata-kata. Tiada tinggi rendah, semua bermuara bagi sudi bersetia. Hanya keangkuhan yang menyumpal rahmat-Nya.

Oh ruh kata-kata, siraplah yang tak percaya demi suntuk tak sekadar mencela. Bentangkan sejarah, bukan katak di balik surga sebelum kenyam realita. Mabukkah dalam pusaran, atau pusaran itu bukan siapa-siapa dibilang kosong awalnya. Banyak bertanya, membeludak tanda. Nyata mewedarkan tapi diragukan percikan ricik di kaki mereka, kala banjir menelan Ibu Kota.

Tak banyak penyair serius bisa ngakak, Tardji memiliki kepiawaian itu, menggoda perubahan masa perjelas senantiasa. Jiwanya membara dalam baca, ketegangan asyik-masyuk bukanlah menyakitkan urat. Atau jangan-jangan terputusnya salah satu syaraf, menjadi purnanya watak mengembangkan muskil, semisal perihal salah cetak.

Keakraban tawa dalam jiwa meledak, kekakuan bermetamorfosis menjelma pencerah. Setiap orang berbeda membalut kekeroposannya. Kondisi ini unsur keawetan dekat, lantas pembaca mendengarkan gaung bagawan mewujud paduan nada.

Keluwesan menyetubuhi hati, empedu, rambut masa lalu, kuku terpotong waktu. Sungguhkah merambahi dataran daging kenyal? Dada montok nan sontak, sampai kata-katanya bernafas. Yang berdenyut irama cakrawala, atas sepyuran tangis pelangi ngakak. Kefulgaran nalarnya menghantarkan uraian kalimah ke urat nadi, pula batok kepala sesama.

Tardji menjelmakan dirinya pemberontak, ini salah satu syarat kenabian. Merombak tatanan yang dianggapnya lapuk, pukimak, ditumpasnya dengan jejari tangan kuasa kata. Ia sangat arif kalau tak disebut licin. Tiadanya rumput terinjak, tiada batang pohon ditebangnya. Telah faham menebar, menjaga, mengembangkan. Pengucapan ikhlas menimbulkan nilai tertawa.

Sutardji, Tanda Pentung (!)
(ia mengistilahkan tanda seru begitu)

Karena dikaruniai jiwa melegenda, bersyukurlah yang pernah dipagut penanya. Setidaknya mengabadi, jikalau tak terseret arusnya. Tardji sesungai menghanyutkan pemahaman diri manusia. Ketika kumpulan esainya terbit, sudah melewati jarak kenabian. Tidak terbantah.

Aku tak tersentuh dekapnya, dan juga tak hilang gairah. Terus perturutkan kaki-kaki sebagai orang telat, datang terlambat menjadi tepat di waktunya. Syukur terbentur langkah tercepat, sadari letak kekurangaajaran, menggali kebodohan kerja meruh berdaging kental mensukma.

Melalui bukunya tersebut, aku setubuhi puisi-puisi jamanku. Di mana wewaktuku disibukkan menyimak kidungan abad lalu. Seperti keadaanku kini, duduk di antara mondar-mandirnya mahasiswi Pakuan yang segar ranum menantang. Merasai kenyalnya daging Isyarat, sambil mendendangkan atmosfir jaman.

Menunggu Codot (Kelelawar) Bernasib Baik?

Dulu ketika rajin mengirimkan tulisan ke perbagai media, aku bayangkan redaksinya berlarut-larut jarang tidur. Siang-malam memikirkan membludaknya naskah di hadapannya. Berharap-harap cemas hadirnya keajaiban, aih sajak-sajakku terpental.

Syukur tak kecewa menimbulkan kemalasan menggerus ketumpulan. Kadang aku terka para redaksi memiliki sayang tinggi tak menampilkannya, hawatir cepat puas. Aku terus berkarya, sebab terlanjur percaya gaungnya terdengar suatu masa.

Saat kawan seangkatan melihatku bermata sebelah itulah cambuk terkeras. Setengah meter kertas ditumpuk berisikan coretan; berupa ketik manual, guratan tangan pun sobekan kertas di perjalanan, semuanya ku angkut dari Jogja ke Lamongan. Ini ringan dibanding kesuntukan saat-saat berpameran semasa dibangku Tsanawiyah, menganggkut lelukisan ke mana-mana.

Yang bertumpuk sebagian telah terbukukan, yang diwaktunya kuanggap baik. Kali melihat karya seangkatan, terbakarlah jiwa. Namun apa dikata, codot belum menemukan purnama, atau traumatik terlampau tak sembuh-sembuh. Belum yakin diterima apalagi jasadku masih bernafas, kecuali sudah terpendam tanah.

Setidaknya goresan itu menandaskan usia bergelayut; mendekap sepi tanpa rupa, tampan tanpa kemeja, keindahan tanpa perlu telanjang dada. Maka saat membacakan puisi dalam rangkaian acara pengukuhan guru besar bapak Abdul Hadi W.M. tempo itu. Aku pilih yang bertitel Mimpi, sebab seolah menjadi penyair sungguhan bertemu Sutardji Calzoum Bachri.

Tulisan ini bukan mengemis belas kasih, diri cukup tegar dalam sunyi. Berjalan sambil tak lupa mengecup syukur. Kala kenal internet, sungguh girang dapat menyimpan perbagai karya di sana. Masihkah bobrok? Pun tak tahu, walau aku sangat peduli dari apa-apa yang pernah menemani jiwa. Setidaknya menanggulangi tumbuhnya jerawat, meski tak yakin terbaca.

Komentar