Langsung ke konten utama

Kini Kartu Lebaran Berganti SMS dan “Email”

Silaturahmi Idul Fitri
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Penulis sastra sekaligus sineas Djenar Mahesa Ayu, mengatakan kalau dirinya justru lebih memilih mengirimkan ucapan pada hari raya, ulang tahun lewat kiriman SMS, ketimbang mengirimkan lewat kartu atau surat.

“SMS bisa lebih efektif, efisien dan ekonomis ketimbang ke kantor pos. Bahkan lewat email pun, kita tetap ke tempat di mana ada komputer dan itu masih agak menyulitkan. Saya lebih senang SMS, karena saya ingin yang supel dan praktis,” paparnya.

Dia mencontohkan, sampai sekarang orang sering mengontaknya lebih cepat bila lewat telepon. “Orang bilang ke gue, mbak minta alamatnya dong, kita mau kirim undangan. Gue bilang, gak usah kirim lewat undangan tapi SMS aja. Mobilitas makin gila, kalau lewat surat sudah sering tak bisa dilihat lagi karena saking banyaknya. Sedangkan SMS kan bisa langsung masuk ke skedul gue, bisa diingatkan,” katanya kepada SH, Senin (29/9).

Ungkapan menjelang perayaan Idul Fitri yang biasanya dilakukan lewat kartu lebaran dengan mengirimkan surat khusus ke alamat rekan, kerabat ataupun keluarga kini berganti dengan kiriman short message service (SMS) melalui Hp ataupun kiriman email. Namun, tindakan dan kreativitas memilih gambar dan lukisan di kartu lebaran, sekali pun bisa teralih ke objek visual di email, tak bisa dikejar hanya lewat baris tulisan di handphone.

Namun, penyair yang juga Buruh Migran Indonesia di Hong Kong, Mega Vristian, saat dihubungi SH lewat email, justru mengaku lebih suka mengirim ucapan lebaran lewat surat ataupun kartu. “Karena kalau lewat kartu, kiriman saya itu bisa menjadi kenangan bagi mereka. Apalagi saya mengucapkan lebaran biasanya dengan kalimat puitis,” papar Mega yang hingga kini masih aktif menjadi anggota di Komunitas Perantau Nusantara yang bergelut di dunia sastra.

Namun, belakangan, dia mengaku ikut terhanyut oleh kemalasan mengirim kartu. Khusus untuk ke orang tua dan kerabat dekat, dia tetap mengirim kartu ataupun langsung menelepon mereka.

Para Buruh Migran Indonesia di Hong Kong pun, menurut Mega, sudah tidak mengirim kartu lebaran lewat pos. Bila mereka tak tahu internet, biasanya mereka akan mengirim melalui SMS dengan telepon genggam. “Rekan-rekan jarang mengirim dan menerima kartu lebaran beberapa tahun belakangan ini,” ujar Mega.

Budaya Literatur

Ini sekadar pendapat pengamat seni rupa Merwan Yusuf. Menurut Merwan, saat ini yang berkembang pesat adalah kepekaan literatur. Literatur, artinya pesan lebih sering disampaikan lewat tulisan. Sedangkan penyampaian lewat lukisan, image atau visual kini sudah berkurang. “Kecuali di internet barangkali image tetap bisa dimainkan. Tetapi bila lewat handphone, itu lebih mendorong munculnya literatur,” ujarnya.

Sekali pun ada pergeseran objek di masyarakat, namun Merwan menolak bila kecintaan pada seni di tengah publik telah berkurang. “Memang ada pergeseran, tetapi kecintaan pada seni tak bisa dipandang berkurang. Bila dulu silaturahmi dilakukan dengan cara bersalaman, oral, lewat lisan saja, kini lewat dialog tulisan di handphone,” ujar Merwan Yusuf, saat dilontarkan SH, Senin (29/9) tentang fenomena itu.

Kebiasaan ber-SMS di negeri ini, menurut Merwan, tak lepas dari budaya masyarakat Indonesia suka mengobrol. Dari perilaku oral ini, membuat perilaku SMS kemudian lebih dekat dan lebih bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang memang karakternya sangat ekspresif.

“SMS menampung semua hasrat itu, karenanya kegiatan ini jadi kondusif di masyarakat kita. Sekarang lihat saja, pembantu rumah tangga pun saling ber-SMS, kalau dulu kan menulis surat. Itu tak bermasalah. Kalau bicara soal lukisan, kebiasaan itu tetap ada. Hanya saja sudah teralihkan, ya di internet tadi. Sekarang malah untuk membuat kartu nama pun orang membuat foto atau lukisan, itu harganya malah lebih mahal dari kartu lebaran. Jadi, tak ada kaitannya dengan pendalaman,” ujar Merwan.

Merwan juga mengingatkan esensi itu harus ditanggapi jeli karena kadang dalam konteks pembicaraan ini, semua bisa mengarah pada seni pendalaman, tetapi bisa juga pendangkalan. “Inilah masyarkat industri, kita tak bisa menghindarinya. Seni rupa telah berdialektika dengan hal-hal semacam itu,” ujar Merwan.

Biar kartu atau email,yang penting silaturahmi terjaga. Mohon maaf lahir bathin!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).