Laut Dalam Puisi Isbedy Stiawan ZS

Peresensi Buku: M. Arman AZ
Judul buku: Perahu di Atas Sajadah (kumpulan puisi islami)
Pengarang: Isbedy Stiawan ZS
Penerbit: Bukupop, Jakarta
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: xii + 84 hlm.
http://www.suarakarya-online.com/

Di awal tahun 1980-an, pemikiran sufisme menjadi tren dalam dunia perpuisian Indonesia. Puisi-puisi sufistik di masa itu ditandai dengan banyaknya “penyair-penyair sufi” seperti Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D. Rahman, Soni Farid Maulana, Isbedy Stiawan ZS, Mathori A. Elwa dan lainnya.

Zaman berubah dan dua dekade telah berlalu dari era sastra sufistik tersebut. Dari sejumlah nama penyair yang berada dalam gerbong sastra sufistik itu, salah satu yang masih setia bertahan dan tetap produktif hingga kini adalah Isbedy Stiawan ZS. Nyaris setiap minggu puisi atau cerpennya muncul di rubrik sastra media massa nasional dan daerah.

Pada perkembangannya, puisi-puisi Isbedy sepanjang tahun 90-an melepaskan diri dari label atau tren sufistik tahun 80-an. Puisi-puisinya sepanjang tahun 90-an jauh lebih padat, liat, dan sesekali terselip nuansa erotik. Kemudian, tahun 2000-an, puisi-puisi Isbedy cenderung bertipografi pendek-pendek, lebih “cair”, dan “mudah ditafsir”. Namun apalah arti bentuk atau ruangan; bukankah yang bermakna adalah isinya? Yang tak berubah dalam isi puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS adalah dominasi gaya ungkap naratifnya. Dari sinilah kemudian tercipta narasi liris, terjalin dialog tak langsung dari aku-lirik, oleh aku-lirik, dan untuk aku-lirik.

Oktober 2006, Isbedy Stiawan ZS kembali meluncurkan buku kumpulan puisinya berjudul “Perahu di Atas Sajadah”. Yang membuat buku ini sedikit berbeda, selain langkanya penerbit yang berani menerbitkan kumpulan puisi, seluruh puisi yang terangkum dalam buku ini adalah puisi islami (saya lebih suka menyebutnya puisi religius).

Apakah Perahu di Atas Sajadah ini merupakan buah dari klangenan Isbedy pada era puisi sifistik tahun 80-an? Dalam pengantar buku ini, Isbedy memaparkan secara singkat bahwa meskipun puisi-puisinya mengikuti fenomena yang terus berubah, namun dia mengakui masih rindu mengekspresikan “kerinduan Illahi” ke dalam puisi-puisinya.

Buku kumpulan puisi religius ini dipilah menjadi dua bagian, yaitu “Perahu” dan “Di Atas Sajadah”. Cermatilah semua puisi yang ada di bagian “Perahu”. Jika jeli, kita akan memergoki kata “laut” dalam setiap puisi, bahkan di setiap halamannya. Rasanya kurang tepat jika ini disebut suatu kebetulan atau kesengajaan. Sebab jika menengok kembali beberapa kumpulan puisi Isbedy sebelumnya (Aku Tandai Tahi Lalatmu, Menampar Angin, Kota Cahaya, Salamku Pada Malam), kita juga akan menemukan banyak kata serupa.

Tanda (berupa benda, tempat, setting ruang, dan waktu) menjadi ciri khas puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS, sastrawan yang lahir dan besar di Lampung ini. Namun semua tanda itu bukan menjadi sekedar latar atau sesuai dengan arti referensialnya saja. Tanda-tanda itu, dalam puisi Isbedy, telah mengandung gagasan, makna, atau citraan baru, yang tentu saja memerlukan tafsir baru untuk menangkap pesan yang tersembunyi didalamnya.

Lantas, mengapa laut yang mendominasi puisi-puisi Isbedy? Mungkin kita dapat secuil petunjuk dari beberapa puisi dalam buku ini: Laut telah lahir dalam tubuhku/ini waktu aku mesti memasuki gemuruh ombakmu/malam yang lengang parasmu yang selalu kukenang/dimana kulabuhkan rinduku ini? (Laut Lahir Dalam Tubuhku). Atau bisa juga ditemukan petunjuk lain, seperti: Hanya pada keluasan laut/aku bisa tahu batas pantai/maka kularungi perahu dalam diri/menyerpihi badai demi badai (Perahu Meninggalkan Pantai). Laut dan segala yang berkaitan dengannya (pantai, ombak, perahu, dermaga, mercu suar) menjadi semacam clue (penanda/petunjuk) dalam mayoritas puisi-puisi Isbedy. Barangkali kerinduan Illahi yang coba di jelaskan Isbedy itu pun bisa kita temukan dalam puisinya: Engkau maha-laut/bagiku berlayar/malam malam (Perahu Meninggalkan Pantai).

Kumpulan puisi Perahu di Atas Sajadah ini memuat 35 puisi Isbedy yang dibuatnya selama dua dekade terakhir (1980-2000an). Ada dua puisi yang lumayan panjang, yaitu Khalwat (I-XXX) dan Perahu Meninggalkan Pantai (1-10). Usai ber-”Perahu di Atas Sajadah”, awal tahun 2007 Isbedy akan meluncurkan dua buku puisi lagi, yaitu “Lelaki yang Membawa Matahari” dan “Laut Akhir”. Ah, lagi-lagi laut.

Isbedy seakan tak kehabisan energi untuk menafsirkan laut ke dalam puisi-puisinya. Entah itu laut dalam makna fisik ataupun dalam makna batin. Seperti perahu yang merindukan dermaga, seperti ombak yang tak letih mencari pantai, mungkin begitulah Isbedy dan ihwal “laut”-nya. Sebagaimana tertulis dalam bait berikut: Bahkan sudah/berkali kuinjak pantai/belum juga kukenal/warna pasir/rasa pantai (Belum Kukenal Warna Pantai).

Sampai kapan Isbedy akan menjadikan laut sebagai rajah dalam puisi-puisinya? Hanya dia sendiri yang tahu, sebagaimana yang dia tuliskan: Pelaut sejati/tahu kapan mati/seperti puisi/sembunyikan arti (Seperti Pelaut). ***

—–
M Arman AZ lahir di Telukbetung, 30 Mei 1977. Menulis Cerpen, cerita anak, esai dan resensi di Lampung Post, Trans Sumatera, Republika, Kompas, Hai, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Nova, Suara Karya, Sinar Harapan, Annida, Kartini, Riau Post, Majalah Sastra Tepak (Riau), dan majalah Sastra Horison. Kini berdomisili di Jalan Hasanudin No 42/74, Telukbetung, Bandarlampung - 35211.

Komentar