Menuju ‘Deklarasi Sastra’ Indonesia-Malaysia

Viddy AD Daery
http://www.infoanda.com/Republika

Semakin mencuatnya hubungan budaya yang kurang harmonis antara saudara serumpun Indonesia-Malaysia, yang akhir-akhir ini disebabkan oleh isu pemakaian lagu Rasa Sayange dan tarian Reog Ponorogo serta gosip Askar Wataniyah, menandakan bahwa hubungan yang kurang mesra itu bukannya semakin mereda namun grafiknya semakin meningkat.

Semua itu disebabkan karena antara dua bangsa yang berasal dari akar yang sama itu sudah puluhan tahun tidak pernah mendapatkan keterangan dan pemahaman yang jelas bahwa mereka masih bersaudara. Bukan hanya mereka berasal dari rumpun Nusantara atau Austronesia, melainkan mereka juga pernah bersatu dalam satu kerajaan besar, mulai dari Sriwijaya pada abad ke-7-11 sampai Majapahit Raya pada abad ke-13-15 Masehi.

Pada abad ke-15-16, dua bangsa itu tercerai berai, setelah keturunan Hayam Wuruk saling berperang dan melemahkan Majapahit Raya. Muncullah kerajaan-kerajaan baru yang sama-sama kuat, yakni Aceh di Sumatera dan Demak di Jawa, Malaka di Semenanjung dan Brunei di Kalimantan serta Pattani di Thailand selatan dan Sulu di Filipina.

Meskipun nantinya antara Demak dan Malaka saling berperang, juga antara Aceh dan Malaka, dan demikian juga antara Brunei dengan Sulu, namun terbukti rakyat Nusantara, terutama kaum pedagang dan agamawan, tidak peduli pada semua gejolak politik tersebut.

Maka para pedagang Gresik dan Demak tak segan-segan berdagang dan bermukim di Malaka, Aceh dan Pattani, bahkan juga ke Brunei dan Sulu. Demikian juga para agamawan yang sering merangkap sebagai pedagang dari Aceh dan Malaka, tak segan-segan datang dan bermukim di Gresik, Tuban, Demak dan Banten, juga pergi ke Pattani, Brunei dan Sulu.

Maka, jangan heran kalau di semua kota-kota pantai Nusantara terdapat Kampung Jawa, bahkan di Pattani juga ada kota Gresik, yang dulunya merupakan kediaman para pelaut Gresik.

Pelayaran dan persebaran arus perjalanan kaum intelektual dan agamawan secara ulang alik maupun menetap — sementara ataupun selamanya — terus menerus berlangsung di seluruh dan antar kepulauan Nusantara.

Maka, jangan heran kalau naskah-naskah sastra kuno karya Hamzah Fansuri, Sunan Bonang, Syeh Fattani dan sebagainya tersebar tidak hanya di negerinya sendiri, tetapi juga dapat ditemukan di seluruh penjuru Nusantara. Demikian halnya naskah-naskah sastra yang lebih kuno dari zaman sebelumnya, misalnya Hikayat Panji Semirang dari Kediri zaman Hindu-Budha, dapat ditemukan pula di Malaka dan Kelantan (Malaysia) di Pattani (Thailand selatan), bahkan menembus ke Thailand-Siam yang Budha, serta di Kamboja dan Vietnam (yang dulu menjadi wilayah kerajaan Champa Melayu Islam).

Kolonialisme

Setelah bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara, mulailah mereka menjajah dan memecah-belah bangsa-bangsa serumpun Melayu. Portugis dan Inggris menguasai Malaysia dan Brunei serta Timor, dan nantinya mereka menanam nasionalisme primordial, sehingga kelak lahir negara Malaysia, Brunei dan Timor.

Demikian juga Belanda menjajah wilayah terbesar Nusantara dan menanam bibit nasionalisme bernama Indonesia. Sedangkan Spanyol dan nantinya Amerika menguasai Filipina dan hasilnya adalah katolikisasi dan kristenisasi Filipina, sehingga mendesak kaum Muslim hingga ke Mindanao, Filipina Selatan.

Inggris tidak menjajah Pattani, karena justru dibantu oleh Pattani melawan musuh-musuh Inggris. Tetapi Inggris mengkhianati Pattani dengan menyerahkan secara rahasia kepada Thailand-Siam lewat traktat 1909, dan hasilnya Pattani ‘dikuasai’ oleh Thailand-Siam sampai kini, dan disebut Thai-Selatan. Sebenarnya, Thailand-Siam dulunya milik Nusantara juga, karena masuk wilayah Sriwijaya ketika ibukota kerajaan Siam masih di Sukhottai dan Ayuttaya (kini Thailand paling utara).

Kaum China dan India yang didatangkan Inggris dalam jumlah besar ke Malaysia untuk mendesak jumlah populasi kaum Melayu Nusantara setempat, juga disuntik virus primordialisme oleh Inggris, sehingga bersatu padu mendesak Melayu.

Hasilnya, lahirlah negara Singapura yang memisahkan diri, dan kini di zaman modern mereka terus mengganggu keutuhan Malaysia dengan demo-demo separatisme berkedok hak asasi manusia dan rasialisme. Mereka menjalin hubungan rahasia dengan para aktifis Indonesia yang memang disokong para pemilik modal dan sejumlah media massa besar Indonesia. Maka, koran-koran, majalah dan televisi Indonesiapun menyebarkan virus kebencian terhadap Malaysia, sedangkan kepada Singapura yang jelas-jelas rasialis terhadap kaum pribumi Melayu, semua media massa Indonesia menutup mata.

Migrasi budaya

Faktor-faktor itulah yang sampai sekarang menodai hubungan persaudaraan Indonesia-Malaysia. Padahal, jelas-jelas dua bangsa tersebut berakar dari keturunan rumpun yang sama. Bahkan, pada zaman kejayaan UMNO di bawah pemerintahan Mahathir Mohammad, ada kebijakan mempersilahkan orang-orang Nusantara Islam untuk datang ke Malaysia sebagai penduduk tetap.

Kebanyakan yang bermigrasi adalah orang-orang Jawa dan Sumatra ke Semenanjung, serta orang-orang Bugis dan Dayak ke Serawak dan Sabah. Mereka inilah yang kemudian sebagian masuk menjadi Askar Wataniyah, dan mereka resmi menjadi warga Malaysia sejak tahun 1970-an.

Dan hal itu melanjutkan sejarah pemukiman orang Jawa di Malaysia sejak mereka dikontrak oleh Inggris untuk menjadi kuli kontrak pembukaan hutan di Selangor dan Malaka serta Johor untuk dijadikan kebun kopi dan karet, serta pengelolaan tambang di Perak dan Kedah.

Mereka itulah yang hijrah sambil membawa serta kesenian Reog, Ludruk, Kuda Lumping, Wayang dan orkes keroncong yang antara lain lagunya adalah Rasa Sayange. Tentu sulit melarang mereka menyanyikan Rasa Sayange dan menari Reog. Mereka seperti orang-orang China yang hijrah ke Indonesia dan menarikan barongsay, menyanyikan lagu Wo Ai Ni dan Sampek Ingtay.

Kerja sama

Membiarkan perseteruan budaya di atas berlarut-larut tentu merugikan persaudaraan antar bangsa Serumpun. Bercermin ke masa lalu, jika politik memperkeruh perseteruan, sebaliknya seni dan budaya akan membuat eratnya hubungan dan menetralkan persoalan.

Berdasar pemikiran itulah, maka Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berniat untuk menjalin kerja sama sastra dan seni-budaya dengan Gabungan Penulis Nasional (Gapena) Malaysia guna memesrakan kembali persaudaraan serumpun lewat serangkaian kerja sama serta pertukaran sastra dan seni-budaya.

KSI dan Gapena — didukung oleh lembaga-lembaga kompeten di negeri masing-masing — akan membuat banyak program sastra dua hala (saling silang), misalnya penerbitan bersama karya-karya sastra, pertukaran sastrawan lewat program residensi alias mukim sementara untuk menghasilkan karya kreatif, serta apresiasi bersama sastra dan seni-budaya dua negara.

Penandatanganan kesepakatan bersama dan ‘deklarasi sastra’ akan dilakukan dalam acar pertemuan informal Temu Sastrawan Indonesia-Malaysia di Kafe Penus, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada 4 Maret 2008. Pertemuan ini, menurut Ketua Umum KSI Ahmadun YH, hanyalah langkah awal untuk menjalin kerja sama yang lebih erat, harmonis, produktif dan kreatif, antar-sastrawan kedua negara.

*) Viddy AD Daery, Staf khusus Menkominfo

Komentar