Langsung ke konten utama

Menulis Cerpen, Jadinya Novel

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

SALAH seorang anggota Sekolah Menulis Paragraf (SMP) yang saya (dan beberapa kawan penulis Riau) gerakkan, sering tak bisa menulis cerpen yang “standar.” Selalu saja, cerpen yang ia tulis, panjang-panjang. Memang, kata “standar” itu batasan-batasannya masih relatif. Setidaknya kita bolehlah bersepakat dengan sastrawan Amerika, Edgar Allan Poe, yang pernah bilang bahwa cerpen itu “dapat dibaca sekali duduk.”

Tapi, adik-adik, kecenderungan dan perkembangan proses kreatif si penulis tentu tak bisa begitu saja diatur-atur. Tak ada kata tidak boleh begitu, dan tidak boleh begini bagi si penulis ketika ia sedang masuk ke wilayah penciptaan. Menulislah dengan “merdeka.” Kemerdekaan ini sebetulnya yang lebih memberi peluang besar bagi si penulis untuk menghasilkan karya-karya yang “baru” dengan capaian-capaian estetika yang “luas”. Meski, memang, berbagai standar yang kerap kita temui selama ini, ya begitulah bentuknya puisi, ya begitulah pula bentuknya cerpen, atau novel, dan beberapa jenis lainnya.

Jadi, untuk memberi alternatif solusi bagi anggota SMP yang sering nulis cerpen panjang-panjang itu, saya sering menganjurkan untuk kenapa tidak sekalian menulis novel, atau yang lebih pendek dari itu, novelet. Caranya gampang, tinggal teruskan saja kisahnya, kalau perlu tambah tokohnya, settingnya, konfliknya, dan lain-lain. Tapi, jika tetap juga hendak menulis cerpen, ya tetaplah niatkan dalam hati bahwa yang akan ditulis ini adalah cerpen, meskipun kemudian hasilnya tetap panjang.

Nah, masalah yang kemudian muncul adalah, ketika cerpen itu akan dikirim ke media massa. Saya kira, semua media massa (baik koran maupun majalah) yang menyediakan ruang sastra tetap saja memiliki keterbatasan ruang. Meski belakangan, kita temukan juga media yang sengaja menampung kecenderungan cerpen seperti itu, semisal dulu ada Kalam, dan sekarang ada Jurnal Cerpen Indonesia, sesekali juga majalah sastra Horison. Jadi, tinggal pilih saja, media mana yang mau dituju.

Tapi, peluang yang cukup besar untuk pemuatan cerpen “standar” tentu ada pada koran atau majalah selain dua yang saya sebut di atas. Sebab, tak cuma satu-dua-tiga koran yang menyediakan rubrik sastra tiap minggunya. Juga cukup banyak tabloid, majalah, jurnal, yang serupa. Jadi, kalau memang ingin memanfaatkan peluang tersebut, ya berupayalah untuk menyesuaikan pendek-panjang cerpen kita dengan media yang hedak dituju. Apa upaya itu?

Ada banyak cara. Sebab bagi mereka yang punya “jam terbang” tinggi dalam menulis, tak ada masalah mau menulis cerpen dengan ukuran tertentu. Nah, untuk mencapai ke sana, berlatih yang keras dan displin, terus menulis dan menulis, membaca dan membaca. Apa kata orang, “ala bisa karena biasa” itu memang nampaknya perlu dibenarkan.

Baiklah, cerpen edisi karya Surya Ismail, berjudul “Sekolahku di Pedalaman”. Sebuah cerpen yang cukup mengharukan. Secara tematik, sebetulnya masih bisa dikembangkan dengan pendalaman-pendalaman. Bertuturnya terasa sangat sederhana, sehingga agak terkesan kaku. Tapi, jika mau terus berlatih menulis, saya kira, segera akan dapat teratasi.

Puisi, ada Melody, dengan “Sandiwara Hidup.” Dari judulnya kita dapat tahu bahwa puisi ini memang mengarah pada gambaran tentang realitas kehidupan yang umum. Jika lebih spesifik lagi temanya maka puisi ini akan lebih sublim. Berikut ada puisi “Kerinduan” karya Igustinna. Cukup baik memainkan impresi dalam puisinya. Diksi juga cukup mengarah pada suasana imaji itu. Lagi-lagi, sama dengan yang lain, masih lemah pada pendalaman tema.

“Tak Bisa Diam” puisi karya Zulkarnaen. Dari awal cukup baik menyusun diksi, tapi lemah pada bait-bait terakhir. Terlalu verbal jika diksi “bila hukum diperdagangkan” masuk da-lam puisi ini. Puisi lain, ada “Rebung” karya Lidya A Tina. Lebih kuat imajisnya. Simbol-simbol banyak dimainkan sebagai kekuatan puisi. Meski juga harus hati-hati bermain rima dan irama.

Puisi berikut karya Jumardi, berjudul “Air Mata.” Puisi naratif ini, cukup terang menyusun diksi. Kesedihan dan kelembutan, berpadu. Makna pun dapat kita ungkai dengan cukup mudah. Sementara “Rumah yang Dulu” karya Refila Yusra, lebih liris memainkan suasana. Tema percintaan memang menjadi sedikit berbeda karena beberapa diksi membuat lompatan. Meski harus terus berhati-hati menyeleksi kata-kata.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).