Teh Buatan Siti

Faradina Izdhihary
http://www.suarakarya-online.com/

Pardjo mendengus kesal melihat tekonya masih penuh. Matanya memerah menahan amarah dan tangis. Tak ada satu pun anak-anak dan para jamaah masjid itu yang menyentuh teh manis buatan istrinya.

“Allah tidak adil. Allah hanya menyediakan surga bagi orang-orang kaya,” gerutunya sambil mengambil kembali tekonya. Dengan wajah muram ia bergegas pulang ke rumah.

“Bagaimana, Kang? Habis?” tanya Siti, istrinya, begitu melihat lelakinya meletakan teko di meja satu-satunya yang ada rumah itu.

“Habis apaan? Jangankan habis, utuh!”, kata Pardjo sambil membaringkan tubuhnya di balai-balai tanpa kasur itu. “Yang sabar ya Kang. Semoga minggu ketiga dan ke empat anak-anak dan orang-orang itu bosan sama kolak dan es buah, Kang. Kata Pak Kiai kan pahala sedekah di minggu-minggu terakhir ramadhan lebih besar,” kata Siti sambil menuang segelas teh dan meminumnya seteguk.

Ada kepedihan di hati Siti saat meneguk teh buatannya tadi sore itu. Ia telah menyisihkan sebagian dari uang belanjanya agar bisa membuat seteko penuh teh manis. Uang belanjanya yang tak lebih dari sepuluh ribu setiap hari itu ia sisihkan dua ribu lima ratus untuk membeli gula putih dan teh.

Suaminya hanya buruh panggul di pasar. Penghasilannya tak menentu. Sebagai istri ia harus pandai-pandai membelanjakan setiap rupiah yang diberikan suaminya.

Yang utama adalah susu bubuk buat bayi mereka yang masih berumur tiga bulan. Bagi mereka, Reihan, bayinya, adalah segala-galanya. Karena payudara Siti tak mampu memproduksi ASI, mereka terpaksa harus menyediakan anggaran khusus untuk bayinya. Meski begitu, mereka juga ingin bersedekah dan masuk surga seperti nasihat Ustad Hakim seminggu sebelum ramadhan tiba.

Ceritanya begini.
Malam itu, di hadapan para jamaah shalat isya, seperti biasanya Ustadz Hakim memberikan taushiah pendeknya. Ustadz Hakim memberikan nasihat tentang amalan-amalan terbaik yang akan menjamin seorang muslim masuk surga.

“Rasulullah bersabda yang artinya begini, Maka perbanyaklah empat hal, yang dua hal adalah keridhoan Tuhanmu dan yang dua lainnya adalah tiada kemampuan kalian mendapatkannya (Allah yang memiliki). Dua hal yang pertama adalah syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan yang kedua adalah kalian beristighfar pada Nya, Dan dua hal yang bukan milik kalian adalah mintalah sorga dan berlindunglah padanya dari neraka, Barangsiapa yang memberi minum untuk berbuka orang yang berpuasa di bulan itu maka Allah akan memberinya minum dari telagaku hingga tak akan ia haus hingga ia sampai ke sorga.

“Pardjo mendengarkan penjelasan Ustadz Hakim dengan sungguh-sungguh. Hatinya gemetaran. Ah, ternyata hanya memberi minuman pada orang puasa saja bisa masuk sorga. Hatinya mantap untuk melakukan amalan itu.

“Nah,jadi Bapak-bapak, mari memperbanyak sedekah di bulan ramadhan. Meskipun hanya dengan memberikan air minum sebagai takjil,” nasihat Ustadz Hakim mengakhiri taushiahnya.

Pardjo bergegas pulang dan menceritakan nasihat Ustadz Hakim pada Siti.

“Iya Kang. Aku pun ingin masuk sorga. Biarlah kusisihkan sedikit-sedikit uang belanja kita agar bisa membeli barang seperempat kilo gula tiap hari,” begitu jawab istrinya sore itu. Namun, hingga hari kelima puasa Ramadhan berlangsung, teh buatan Siti selalu utuh. Tak tersentuh. Anak-anak kecil dan orang-orang yang menunggu buka puasa maupun yang melakukan taddarus malam lebih memilih buah-buahan, kue, atau es buah buatan orang-orang kaya.

* * *

Siti mengelus teko plastiknya dan menarik nafas panjang saat dilihatnya wajah Pardjo begitu muram. Warnanya pudar seperti semakin memudarkan harapan mereka untuk membeli surga.

Apa aku harus membuat kolak pisang dan kolang-kaling yang legit ya agar orang-orang mau menikmati takjil buatanku? pikir Siti. Ia merogoh saku roknya. Ada dua lembar uang dua puluh ribuan di sana. Tadi siang suaminya mendapat upah empat puluh ribu dari seorang nyonya kaya yang mau mengadakan buka bersama di rumahnya. Pardjo mengantar perempuan itu sampai ke rumahnya. Bahkan, perempuan itu memberi sebungkus roti untuknya.
“Buat takjil keluargamu nanti sore, Kang,” kata nyonya itu sambil mengulurkan dua lembar uang dua puluhan.
Betapa mudahnya orang kaya membeli surga, keluh Pardjo sambil mencoba memejamkan matanya.

“Besok kita buat es poding saja, ya Kang. Aku bisa kok. Dulu waktu kerja di rumah Bu Hadi aku pernah diajari membuat es poding yang enak. Mumpung kita lagi ada rejeki,” kata Siti mengagetkan Pardjo.
Pardjo segera bangun dan duduk menatap Siti tajam.

“Tidak perlu! Mulai besok, kau tak perlu membuat teh atau apa pun untuk orang-orang itu. Lebih baik belikan saja susu si Reihan, dua kotak” kata Pardjo keras.

Siti tak berani membantah kata-kata suaminya. Ia tahu, suaminya sedang marah. Hampir saja ia tak sanggup menahan air matanya yang sejak tadi hampir menetes dari matanya yang pucat itu.
Mungkin Kang Pardjo benar, Allah tidak adil, kata Siti dalam hati menghibur dirinya sendiri.

Esoknya, bukan hanya teh dalam teko Siti yang tak muncul di beranda masjid. Pardjo juga tak muncul ke masjid, menyiapkan sound system, dan menyuarakan adzan maghrib dengan suaranya yang jernih.

Mungkin Pardjo dapat kerjaan tambahan, mungkin dia terlalu lelah hari ini, atau mungkin dia sedang sakit, begitu dugaan orang-orang saat Mbah Tsani yang sudah udzur menggantikan Pardjo mengumandangkan adzan. Suara Mbah Tsani yang dulu jernih dan lembut sekarang sudah terdengar seperti orang yang hampir putus nafas. Tapi bagaimana lagi, tak banyak orang yang mau dan berani mengumandangkan adzan.

* * *

Ini hari ke empat Pardjo tak datang ke masjid. Ustadz Hakim berencana akan mendatangi Pardjo ke rumahnya bersama beberapa anggota jamaah setelah shalat tarawih nanti malam bila Pardjo tak kunjung muncul ke masjid.
“Jangan-jangan dia sakit. Kamu tadi ke rumahnya belum, Har?” tanya Ustadz Hakim usai menghabiskan segelas es buah.
“Sudah, tadi sore. Tapi belum sempat ketemu,” jawab Hari menunduk.
“Lha gimana tho ini? Tetangga dekat kok?,” tegur Pak Asnan keras.

Semua terdiam. Semua tahu Pak Asnan biasa bersikap tegas dan tanpa basa-basi dalam memberikan nasihat. Itu sebabnya meskipun ia seorang dosen Fiqih di sebuah perguruan tinggi Islam tak banyak orang yang datang dan bertanya tentang Islam padanya. Nylekit, begitu penilaian orang padanya.

“Anu, Pak Ustad. Maaf. Tadi sore waktu saya hendak mengetuk pintu rumah Kang Pardjo saya dengar Reihan nangis-nangis terus. Ibunya seperti sedang kebingungan menenangkannya. Jadi ya… saya nggak enak kalau harus bertamu,” cerita Hari sambil menundukkan wajahnya.
“Jangan-jangan Reihan, sakit Pak Ustad,” timpal Pak Bambang.

“Ya sudah, nanti kita perwakilan saja datang ke rumahnya. Pak Sulton tolong diambilkan dana dari kas sosial ya,” kata Ustad Hakim sambil meminta Pak Sulton menyiapkan dana bantuan sosial untuk jamaah pengajian yang sedang kesusahan.

Di ruang tamunya yang hanya berisi dua buah kursi dan sebuah meja panjang tempat semua barang-barang diletakkan, Pardjo menerima rombongan Ustadz Hakim.
“Jadi Kamu itu nggak sakit tho?” tanya Ustadz Hakim begitu mengetahui Pardjo tampak segar bugar.
Pardjo mengangguk.
“Apa istrimu yang sakit?” tanya Pak Hadi. Pardjo menggeleng.
“Reihan?” tanya Hari teringat sore tadi Reihan nangis cukup keras.
“Alhamdulillah, semuanya sehat,” kata Pardjo seperti enggan menjawab.

“Lha terus Kamu kenapa nggak ke masjid? Sayang kan, ini bulan puasa, pahala ibadahnya berlipat-lipat,” kata Pak Asnan seperti biasa dengan suara tegas. Kali ini malah terkesan seperti memarahi Pardjo.

Siti membawa seteko teh dan dua gelas. Hanya itu yang ia punya. Maghrib tadi ia dan suaminya hanya berbuka dengan tempe goreng, sayur kangkung, dan sambal tomat. Sekarang gula dan teh di dapur tak bersisa lagi.
“Saya malas, saja Ustad,” jawab Pardjo akhirnya.
“Lha malas gimana? Itu setan namanya. Setan. Aduuuuh Kamu itu, Djo,” kata Pak Asnan semakin meninggi suaranya.

“Saya mau protes sama Allah. Allah hanya memberi kesempatang masuk surga untuk orang-orang kaya, bukan untuk orang-orang miskin seperti saya,” kata Pardjo sambil mengusap matanya yang mendadak panas.
Ustadz Hakim dan orang-orang yang ada di ruang tamu sederhana itu ternganga. Tak mengerti.
“Jaga omonganmu,” ketus suara Pak Asnan.

Tanpa diminta, Siti menceritakan semua kekecewaan Pardjo. Tentang tulusnya niat mereka berdua untuk bersedekah, memberi minum pada orang-orang yang berpuasa. Bahkan, Siti tak lupa menceritakan bagaimana demi sedekah itu, ia merelakan sebagian dari uang belanjanya untuk membeli gula dan teh.

Ustadz Hakim dan semua tamu terdiam. Pak Asnan malah tampak mengusap matanya yang berkaca-kaca. Ia iri melihat keikhlasan dan usaha maksimal pasangan suami istri miskin itu untuk bersedekah.

“Tapi nyatanya, tak ada satu orang pun yang mau minum teh buatan saya. Lalu bagaimana kami bisa mendapatkan surga itu, Ustadz?” protes Siti mengakhiri ceritanya. Ustadz Hakim menghela nafas panjang.

“Kang Pardjo, Yu Siti, Allah itu Maha Adil. Sangat adil! Kamu sudah pernah mendengar kisah seorang sahabat yang menggauli istrinya di siang hari bulan ramadhan?” tanya Ustadz Hakim.
Pardjo dan Siti menggeleng. Hari mencoba mengingat-ingat kisah itu.

Pak Asnan menyahut dengan cepat. “Menyetubuhi istri di siang hari bulan puasa itu harus membayar kifarat, denda yaitu memberi sedekah pada orang miskin,” jelas Pak Asnan.

“Ya benar. Tapi sahabat yang dalam cerita itu adalah seorang yang sangat miskin,” potong Ustad Hakim sebelum Pak Asnan semakin keras suaranya.
Pak Asnan tersenyum seperti meminta maaf.

“Saat sahabat itu bertanya, hukuman apa yang harus ia jalani atas kelalaian itu, Rasulullah menjawabnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dari Abu Hurairah ra, ia berkata Seorang lelaki datang menemui Nabi saw. dan berkata Celaka saya, wahai Rasulullah. Beliau bertanya Apa yang membuat engkau celaka? Lelaki itu menjawab Saya telah bersetubuh dengan istri saya di siang hari bulan Ramadan. Beliau bertanya Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak?

Ia menjawab Tidak punya. Beliau bertanya Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Ia menjawab Tidak mampu. Beliau bertanya lagi Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Ia menjawab Tidak punya. Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah saw. memberikan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda Sedekahkanlah ini. Lelaki tadi bertanya:

Tentunya aku harus menyedekahkannya kepada orang yang paling miskin di antara kita, sedangkan di daerah ini, tidak ada keluarga yang paling memerlukannya selain dari kami. Maka Rasulullah saw. pun tertawa sampai kelihatan salah satu bagian giginya.

Kemudian beliau bersabda Pulanglah dan berikan makan keluargamu.” Pak Asnan mengakhiri penjelasannya sambil menatap wajah Ustadz Hakim, seperti takut dinilai salah bersikap lagi.
Ustadz Hakim tersenyum.

“Nah, Kalian dengar sendiri, bukan? Allah sangat adil. Bila memang kita tidak mampu bersedekah, bersedekahlah pada keluargamu sendiri. Lagi pula Allah telah mencatat semua niat baik kita sebagai ibadah, sebaliknya tak mencatat niat buruk kita sebagai dosa,” nasihat Ustadz Hakim sambil menepuk bahu Pardjo.

“Saya mengerti, Pak Ustadz,”jawab Pardjo takzim.
“Jadi gimana? Subuh nanti Kamu bisa adzan lagi, kan? Kasihan Eyang Tsani, asmanya kumat gara-gara harus mengumandangkan adzan,” goda Hari.
Pardjo tersenyum.

Entah siapa yang memulai, Pak Asnan, Pak Hadi, Hari, bahkan Ustadz Hakim berebut gelas dan bergantian meminum teh buatan Siti. Diam-diam mereka mengakui teh buatan Siti yang tak terlalu manis itu sangat nikmat.***

Komentar