Langsung ke konten utama

Teror yang Menyastra

Cunong N. Suraja
http://nasional.kompas.com/

Sastra teror dikenalkan oleh Putu Wijaya terutama dalam bentuk drama dan dalam kisah cerita pendek dan novelnya. Kisah kisah Putu Wijaya memang memberi tikungan dan logika yang kebalik atau istilahnya logika gila.

Seperti dalam novel “Lho” logika Putu yang selalu awas mencurigai sekelilingnya seakan-akan mengancam membunuh tokoh novel. Demikian juga dalam Novel pendek “Sobat” tokoh Aji dibunuh karena kecemburuan dan ujung kisahnya si Pembunuh tergantung di tiang listrik seakan dendeng kering. Belum lagi cerita panjang “Stasiun” tokoh orang tua yang berangkat dengan bemo menuju ke stasiun mau meninggalkan kota atau pindah ke kota lain yang juga menggantung diri atau diperkosa homo di paturasan kereta yang sedang berjalan dengan keadaan penuh sesak.

Putu memang jagonya dalam meneror penonton drama lewat drama “Lho” yang mengenalkan monolog kentut dan “Zat’ dengan beragam boneka dan kecepatan percakapan bahkan tanpa kata yang merupakan perkembangan Bip Bop artau mini kata Rendra dan mengorek kesakitan seperti Arifin C. Noor dalam “Mega-Mega” maupun seluruh episode drama Teater Kecil.

Teror ternyata justru mengasyikkan. Tidak seperti cerita wayang yang datar segepeng wayang Jawa.

Penulis lain yang suka dengan gaya teror adalah Seno Gumira Ajidarma. Pencerita ini menyukai komik dengan latar pendidikan yang pelangi mulai dari sinomatografi, filsafat dan berujung dengan Doktor Sastra dengan disertasi komik. Cerita pendek berjudul “Clara” dalam kumpulan “Iblis yang tak Pernah Mati” bercerita suasana seusai lengsernya Soeharto yang menciptakan chaos pada penduduk nonpri yang diperkosa dan dibunuh. Novel “Negeri Senja” yang dapat hadiah Katulistiwa dengan mencekam menawarkan kehidupan politik di negara tanpa malam tanpa siang, hanya senja! Matahari mengantung tak tenggelam.

Penduduknya bersorban dan bercadar karena takut badai gurun. Intrik perebutan kekuasaan dikuasai oleh rayu buta mata buta hati karena sakit hati. Penduduk serba ketakutan dan menunggu penunggang kuda dari selatan yang kan bikin perubahan. Hingga akhir cerita penunggang kuda dari selatan tak datang-datang dan telah terjadi huru hara dengan gantungan wasiat yang menggeleng di leher keledai penggebara antar bangsa.

Cerita yang lain adalah semi wayang gagrak Ramayana seusai kekalahan Rahwana dengan tokoh Maneka dan Satya yang memburu “Kitab Omong Kosong” yang bermula dari pesta kuda dari kerajaan Rama yang masih tidak yakin atas kesetiaan Sinta. Teror kuda putih yang dilepas itu tertempel pada tato di punggung pelacur yang meloncat keluar jendela dan memnggucangkan prahara bagi kota yang tersinggahi karena dihancurkan oleh tentara Ayodya jika melawan. Kuda putih itu terus berlari sepanjang cerita menerorangan pembaca yang setia merunut bab demi bab yang mengasyikan.

Ketika fakta dibungkam maka sastra mengedepan kata Seno Gumira Ajidarma. Hingga lahirlah sebuah muzaik cerita atas fakta Parfum, cerita fakta atas Jazz dan berita yang dengan label merah karena sifat politisnya Insiden demikian juga pengalihan kata dan penghapusan jejak nama sosok jadilah berita jadi bagian perlawanan teror atas fakta yang dibungkam.

Sukab tokoh pilihan Seno juga mencoba membuat teror dalam bentuk komik yang nantinya akan bergulir jadi sebuah disertasi sastra. Tapi jangan coba cari teror di balik disertasi Seno karena itu karya ilmiah yang betul menuntut kaidah ilmiah.
Sastra Seno yang membentangkan teror anak autis atas imajinasi skenario film “Biola tak Berdawai” dengan pandangan si autis atas orang sehat tersimpan dalam novel sepanjang 250 halaman.

Adakah karya Seno melibatkan teror walau berpijak dalam hikayat wayang purwo? Juga yang benar-benar berpijak pada berita politis yang diblok hitam, merupakan karya Seno yang berupa kolase semisal pada “Kalathida”. Seno adalah peneror lanjutan setelah Putu mulai kendor. Jejak teror yang lain yang mukin agak halus terornya kalau mau dibilang sopan adalah Hudan Hidayat. Cerita pendeknya benar-benar unsur teror yang selalu awas. Hudan yang membuat kelompok antagonis sastra Indonesia yang mencoba membongkar tradisi sastrawan periode Horison berserta penyair dan dramawan Afrizal Malna. Hudan yang merajai facebook dengan linknya yang berlenggak-lenggok tapi maskulin mennyentuh sudut kepribadian penulis pendatang aset bangsa Indonesia masa depan.

*) Pengajar Intercultural Communication Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo