Langsung ke konten utama

Danarto Terinspirasi Dunia Pewayangan dan Sufisme

Joanito De Saojoao
http://www.suarapembaruan.com/

Tiada hari tanpa menulis dan menggambar. Itulah sosok sastrawan sekaligus perupa Danarto (69) yang begitu mencintai karya seni. Kreativitasnya selalu saja mengalir tanpa henti meski sudah memasuki usia senja. Tak heran jika ia dikenal sebagai pelukis dan sastrawan yang produktif di Indonesia.

Sosoknya yang ramah dan rendah hati memberikan kontribusi tersendiri dalam perkembangan dunia sastra dan seni rupa di Tanah Air. Pasalnya, perintis seni kreatif ini selalu menciptakan karya-karya yang luar biasa.

Dalam karya sastra dan lukisnya, Danarto cenderung mengangkat kehidupan sehari-hari yang semuanya berasal dari cerita pewayangan dan kisah kesufian. Buah karya pemikirannya pun tidak lepas dari kisah Mahabarata, Ramayana, dan kitab suci.

Danarto menjelaskan, jika karyanya disebut berkisah tentang sufisme, ia menyerahkan penilaian itu kepada masyarakat. Ia tak bisa menjawabnya karena takut dikira menyanjung diri sendiri. Itulah salah satu sifatnya yang rendah hati.

“Dalam sastra, dasar penulisan saya adalah menggabungkan yang tampak ataupun tak tampak. Dengan begitu, tema bisa semakin luas. Sebuah penggabungan antara fisik dan sejarah,” ujarnya kepada SP baru-baru ini.

Pada usia 17 tahun, Danarto merasa bidangnya adalah sastra. Namun, ketika duduk di bangku SMA jurusan sastra, ada mata pelajaran aljabar yang ditakutinya. Ia pun kemudian memutuskan untuk hijrah dari dunia sastra ke dunia seni rupa.

Keputusannya itu diwujudkan dengan mendaftar ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, kini Institut Seni Indonesia, Red) di Yogyakarta. Selama tiga tahun, Danarto menuntut ilmu seni lukis dan menamatkan pendidikannya pada 1961. Menurutnya, seperti ada hikmah tersembunyi kala seorang sastrawan seperti dirinya mengetahui seluk-beluk dunia seni rupa. Ia pun kemudian berinisiatif mendirikan Sanggar Bambu pada 1 April 1959.

Dari sanalah lelaki separuh baya itu mulai melukis dengan identitasnya sendiri. Dengan mengombinasikan corak dekoratif dan seni kontemporer, makna yang terkandung di dalamnya semakin luas sehingga menghasilkan sesuatu yang baru.

“Seperti figur manusia dan wayang, Mahabarata dan Ramayana, ada di dalam sastra dan seni lukis yang saya ciptakan. Hal ini yang mengilhami karena temanya luas, luar biasa, dan sungguh dramatis,” ungkap pria yang menyukai seni rupa selaras ini.

Baginya, seni rupa sekarang amatlah luas. Semua media bisa masuk ke dalam seni rupa dengan segala penampilan dan terjemahan. Danarto bisa melukis dengan media apa saja yang ada, misalnya cat aklirik, cat minyak, pulpen, pensil, dan sebagainya. Ia tidak mau dibatasi oleh sesuatu hal, apa pun itu, termasuk tampilkan kanvas yang kosong dalam sebuah pameran.

Aliran Surealis

Seperti biasa, karyanya tak lepas dari aliran surealis. Dengan aliran tersebut, ia menghadirkan sebuah cerita yang tidak muncul di dalam gambarnya, seperti sosok supranatural malaikat yang akan dimasukkan ke dalam rahim. Danarto mencoba menghadirkan sebuah cerita dalam bahasa lukisan.

“Artinya, tafsir dari lahirnya sang bayi. Seorang seniman mempunyai daya tafsir. Salah satu tafsir yang bisa menjadi lukisan, misalnya seseorang yang didampingi oleh dua orang malaikat yang mencatat kejahatan dan kebaikan. Lalu, neraka yang bisa berkata-kata,” ujar sang pelukis yang tidak pernah memberikan pesan pada pelukis baru, karena akan menganggap dirinya tinggi.

Di dunia sastra sendiri, Danarto mengawali kariernya pada awal 1960-an. Saat itu, ia sudah menulis cerita anak-anak di majalah Si Kuntjung. Namanya mulai dikenal luas lewat cerita-cerita pendek yang dimuat di majalah sastra Horison sejak 1967. Selain itu, karya Danarto juga dipublikasikan dalam buku-buku yang berisi cerita pendek, yakni Godlob (1974), Adam Ma’rifat (1982), Berhala (1987), Gergasi (1993), Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001), dan Kacapiring (2008) serta novel Asmaraloka (1999).

Salah satu karyanya yang cukup dikenal masyarakat luas adalah buku Orang Jawa Naik Haji, yang merupakan catatan hariannya saat menunaikan ibadah haji. Selain dunia sastra, Danarto juga menerbitkan buku kumpulan esai sosial dan politiknya yang berjudul Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu (1996) dan Cahaya Rasul (1999).

Saat ini, kondisi Danarto masih lemah pascaoperasi pemasangan alat pacu jantung permanen awal Maret lalu. Namun, semangatnya untuk berkarya pun masih berkobar. Di saat tubuhnya sakit dan harus beristirahat, pria kelahiran di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940 itu tetap menulis dan melukis di sela-sela perawatannya. Ia mengaku harus menyelesaikan novel terbarunya yang tidak lama lagi akan segera diterbitkan. [H-15]

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo