Langsung ke konten utama

Inikah ”Zaman Edan”-nya Ranggawarsita?

Winarta Adisubrata
http://www.sinarharapan.co.id/

Menukil kembali karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802 - 1873 Masehi) pada awal abad 21 sekarang ini mungkin menimbulkan anggapan pada sementara kalangan sebagai ”tidak relevan”. Apalagi jika diingat bahasa yang digunakan pujangga penutup Keraton Surakarta itu bahasa Jawa, yang mungkin sekarang sudah punah.

Walaupun pada zaman Ranggawarsita penggunaannya sudah disebut sebagai bahasa ”Jawa modern” yang hingga kini masih difahami para pengguna bahasa — mungkin sebagai bahasa tulis —, nyaris tidak digunakan lagi oleh para pendukung bahasa dan budaya ini.

Namun, sebuah bait dari karyanya yang dianggap satu di antara yang paling tersimpan di dalam kalbu orang-orang Jawa adalah ”Serat Jaka Lodang”. Ungkapan ”zaman edan” yang digunakan Ranggawarsita dalam karya tersebut hingga sekarang masih terngiang di telinga mereka yang mengenal Ranggawarita. (Karya-karya Ranggawarsita ditulis dalam berbagai tembang ”Macapat” sehingga para pembacanya ada yang menyenandungkannya sebagai senandung-senandung merdu dalam untaian tembang-tembang Kinanti, Dandanggula, Megatruh dsb.

Melalui karyanya ”Serat Jaka Lodang” dimaksud seakan-akan si penyairnya memiliki kemampuan meramalkan masa depan, seperti apa keadaam kita kelak (profetis). Bahkan lebih dari satu abad ke depan, setelah sang pujangga menggoreskan penanya.

Bakal Kebingungan

”Bahwa (akan) tiba masanya, ketika kita akan kebingungan dan tidak tahu, harus berbuat apa, manakala tiba ”zaman edan” yang menjadikan hati nurani dan kalbu kita kebingungan. Untuk turut menggila, rasa-rasanya kita tidak mampu melakukannya. Namun, jika kita tidak melakukannya, kita tidak akan kebagian apa-apa, dan akhirnya kelaparan,” demikian Ranggawarsita dalam sebuah baitnya.

Perkenankan saya mengutip dari luar kepala bait tenang ”Zaman Edan” itu seperti dituliskan dalam bahasa aslinya: ”Amenangi zaman edan/Ewuh aya ing pambudi/Arep ngedan nora tahan/ Baya datan ngalakoni/Yekti tan kaduman melik/ Kaliren wekasanipun/Dilalah kersaning Allah/Beja bejane kang lali/luwih beja kang eling lawan waspada”.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut: ”Ketika tiba zaman gila/Kita akan kebingunan di hati nurani/Untuk turut menggila/ rasanya tak tertahankan/Tapi jika tidak turut menjalani/Akhirnya kita akan kelaparan/ Namun, atas kehendak Illahi/Seberuntung seperti apapub mereka yang lupa/Masih lebih beruntung yang ingat dan selalu waspada”.

Pupuh atau bait-bait tentang ”zaman edan” tersebut pernah dikutip oleh mantan Presiden Soeharto sebagai bagian dari amanat pembuka Kongres Kebudayaan Jawa di Semarang, Jawa Tengah, akhir 1980-an atau awal 1990-an. Seorang yang tahu membaca kutipan di atas sempat mengatakan justru karya profetis Ranggawarsita itu ibarat ”salah alamat” jika harus dibaca oleh seorang Presiden Soeharto. Atau pengutipan itu ”ibarat sepucuk surat yang ditujukan kepada sang pengirim”.

Sekarangkah ”Zaman Edan” Itu?

Sebuah majalah berita mingguan Jakarta baru-baru ini menampilkan laporan utama berjudul ”Menangkap Penyamun di Sarang Polisi”. Suatu berita dengan ironi khas Indonesia, yang membersitkan pengamatan tandes bahwa kepolisian pun bisa menjadi tempat bersembunyi para penyamun.
Gaya jurnalistik majalah ini, yang katanya berkiblat pada new journalism Amerika tahun 1970-an ini mengingatkan kita bahwa judul laporan utama tersebut diilhami oleh salah satu karya alm. Takdir Alisyahbana berjudul ”Anak Perawan di Sarang Penyamun.”

Betapa membingungkannya berita-berita dan gaya pemberitaan di Indonesia sekarang-sekarang ini. Untuk mempopulerkan singkatan pilkada, tidak kurang dari Menteri Dalam Negeri nyaris tiap hari mempromosikannya di layar kaca. Atau sebut saja kasus-kasus korupsi yang sudah merembes ke mana-mana, nyaris tak satu kasus pun, apalagi kasus-kasus besar, yang benar-benar tuntas terbongkar oleh perangkat hukum, apalagi media massa.

Di dalam karya-karya lainnya Ranggawarsita menuding kemerosotan moral bukan saja terjadi pada para penguasa tetapi juga para cendekiawan. ”Kabeh-kabeh mung marono tingalira.” Semua mata mereka hanya terpancang ke situ saja, uang !) Bahkan Ranggawarsita sempat membut definisi tentang korupsi.
Menurut Rangawarsita korupsi adalah segala (perbuatan) ”korup sinurung goroh” atau perbuatan yang terdorong atau tersulut oleh kebohongan.

Tulisan ini sekadar untuk turut mengenang kembali sekaligus memperingati genap 118 tahun wafatnya Ranggawarsita. Ia menutup mata pada 5 Dulkaidah 1802 atau 24 Desember 1873 pada usia 71 tahun lebih 284 hari. Berdasar kalender Masehi, ia lahir pada 15 Maret 1802.

Banyak peneliti sastra dunia dan sastra Jawa asal Eropa menilai karya sastra Raggawarsita sejajar untuk dibandingkan dengan sastrawan-sastrawan Barat seperti Shakespeare, Goethe dan Schiller.

Di antara mereka adalah Frederik Winter, redaktur majalah Bramartani yang terbit di Solo pada abad XIX yang sekaligus juga seorang pemuja karya-karya Ranggawarsita yang fanatik. Makam Winter sejak 1981 dipindah dari Solo ke makam Palar, Trucuk, Surakarta, di mana Ranggawarsita dimakamkan).Yang tragis bahkan misterius adalah tidak pernah tuntas dan jelasnya diketahui, apakah Ranggawarsita meninggal wajar atau diracun atau diperintahkan Paku Buwana IV untuk bunuh diri.

Penulis adalah wartawan senior, tinggal di Jakarta

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo