Pengkhianatan Kreatif dalam Alihwahana Sastra

Brillianto
http://umum.kompasiana.com/

Sejatinya sebuah novel best seller akan sama persis struktur cerita ketika diangkat ke film. Tak ada satu bagian pun yang ada pada novel “hilang” kisahnya. Dengan begitu, Pembaca novel merasa tidak “dikhianati” oleh sang Sutradara film tersebut.

Dalam bahasa Indonesia mengalihkan dari karya sastra ke media lain disebut alihwahana. Alihwahana bisa terjadi dari sastra ke media elektronik kayak radio maupun televisi, bisa pula ke layar lebar alias film.

Alihwahana sebenarnya sudah terjadi dari zaman bahuela. Pada tahun 1950-an, Radio Republik Indonesia (RRI) cabang Yogyakarta pernah mengalihkan sastra berbahasa Jawa ke format cerita radio. Ada pula cerita dari majalah-majalah berbahasa Jawa seperti “Penyebar Semangat” dan “Jaya Baya” juga dialihwahanakan ke radio. Tahun itu, acara yang berjudul “Crita Cekak” atau “Cerita Sambung-sinambung” begitu populer.

Paling spektakuler adalah dua novel Indonesia yang dialihwahanakan ke film, yakni “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi”. Kenapa spektakuler? Dua-duanya novel sastra (baca: bukan novel populer) dan kedua filmnya sukses secara komersial, karena berhasil mendapatkan jumlah penonton lebih dari 2 juta orang. Bahkan film “Laskar Pelangi” ditonton lebih dari 4,5 juta orang.

“Ayat-Ayat Cinta” adalah novel karya Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali tahun 2004. Novel 418 halaman ini dicetak ulang beberapa kali dan berhasil terjual 160 ribu eksemplar dalam jangka waktu tiga tahun. Tahun 2007, Sutradara Hanung Bramantyo mengalihwahanakan novel ini ke film. Semula dirilis tanggal 19 Desember 2007, film “Ayat-Ayat Cinta” baru beredar awal tahun 2008.

Sementara novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata ini terbit pertama kali bulan September 2005. Saking larisnya, sebelum dialihwahanakan, novel ini mengalami cetak sampai kelimabelas kali pada bulan November 2007. Pada 25 September 2008, Riri merilis film “Laskar Pelangi” dan mendulang kesuksesan yang luar biasa.

Jika kita lihat secara prestasi komersial, dua film tersebut memang dahsyat. Di saat bioskop tanah air jumlahnya sedikit, “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi” berjaya. Bayangkan jika jumlah bioskop kita banyak, kira-kira 100 ribu layar misalnya, yakin angka 2 juta Penonton atau 4,5 juta Penonton udah bukan perkara sulit. Intinya, antara jumlah layar bioskop dengan jumlah Penonton sangat berhubungan.

Namun jika kita lihat dari segi mengalihwahanakan, sejumlah orang menilai, dua film tersebut gagal. Menurut Pembaca dua novel tersebut, banyak cerita yang ada di novel dihilangkan. Sebagai contoh di novel “Laskar Pelangi”, ketika Mahar yang memberikan ide gila pada Ketua RT di daerah Balitong. Ide gilanya ini muncul lantaran Ketua RT itu punya masalah dengan televisi hitam putih satu-satunya. Ia tak bisa mengeluarkan televisi dari kamarnya yang sempit dan kabel antenanya sangat pendek. Padahal saat itu akan ada final badminton All England antara Svend Pri melawan Iie Sumirat. Padahal akan banyak penonton yang akan menonton final badminton ini.

“Gambar TV itu bisa dipantul-pantulkan melalui kaca, Ayahanda Guru,” kata Mahar berbinar-binar dengan ekspresi lugunya (novel “Laskar Pelangi” hal 153).

Dalam film garapan Riri Riza, kisah tersebut tak muncul. Kelakuan unik Mahar di film cuma bisa muncul di scene atau kisah bagaimana Mahar dan Flo berkelana ke gua buat mencari “orang sakti”. Lalu bagaimana Mahar mempersiapkan diri menjadi Ketua tim acara karnaval 17 Agustus-an, dimana ia menyumbangkan ide performace sebuah tarian asal Afrika. Buat sebagian Pembaca novel “Laskar Pelangi”, dengan menghilangkan kisah-kisah di novel, sepertinya ada sesuatu yang hilang. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai suatu upaya “pengkhianatan kreatif”. Maksudnya, sastra yang seharusnya bisa disinergikan ketika dialihwahanakan, seperti “dikhianati”?

Buat saya, istilah “pengkhianatan kreatif” terlalu berlebihan. Kenapa? Baik Habiburrahman El Shirazy maupun Andrea Hirata tak merasa “dikhianati”. Ini tercermin dari perjalanan kesuksesan dua film tersebut, dimana tidak ada cerita-cerita miring soal gontok-gontokan antara Penulis dan Sutradara. Begitu pula Riri Riza dan Hanung Bramantyo juga tidak melakonkan diri sebagai “Pengkhiat”. Jika mereka kreatif, saya setuju. Tapi jika mereka dikategorikan sebagai “Pengkhiat Kreatif”, wah nanti dulu!

Buat saya, mereka yang menyebut Sutradara yang tidak mampu mengalihwahanakan novel ke film sebagai “pengkhianatan kreatif”, sesungguhnya tidak mengerti. Mereka tidak faham, bahwa mengambil wahana dari A ke wahana B tidaklah mungkin bisa sama persis. Bahkan ada orang yang berani dengan tegas mengatakan: “Haram menilai film harus sama dengan novel aslinya!”

Ada perbedaan besar dari masing-masing wahana. Ini kudu dimengerti oleh kita semua. Bahwa wahana novel itu beda dengan wahana yang namanya radio, televisi, apalagi film yang dianggap sebagai kesenian modern yang paling rakus. Dengan mengerti wahana, maka kita akan mengerti posisi dan persepsi kita. Begitu membaca novel, kita harus menyadari bahwa kita saat itu diposisikan sebagai Pembaca. Namun ketika kita berada di bangku bioskop di depan layar lebar, tidak ada lagi pikiran mengenai kisah-kisah yang detail dari novel yang kita baca. Sebab, posisi kita sudah beralih, dari Pembaca jadi Penonton.

Mulai sekarang, jika Anda menonton film dari novel atau dari wahana satu ke wahana lain, cukup menjadi Penonton yang baik. Jangan mencampuradukkan antarwahana, apalagi mencap Sutradara udah melakukan “pengkhiatan kreatif”.

*) University of Indonesia - Faculty of Letters, Graduated Jakarta Institute of Art - Faculty of Television and Film, Graduated

Komentar