Langsung ke konten utama

Membaca Prosa Tanpa Setitik Fiksi

Furqon Abdi
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Membaca 17 laporan jurnalistik Linda Christanty dalam bukunya, Dari Jawa Menuju Atjeh, kita tidak akan merasa lelah, seperti layaknya membaca berita-berita dalam headline koran. Oleh Linda, peristiwa besar macam pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dibikin ‘ringan’. Ringan, dalam artian lebih enak dibaca, bukan kacangan.

Menganut aliran Jurnalisme Sastrawi, tidak berarti naskah harus dibumbui diksi yang dramatis dan melankolis. Linda paham benar itu. Ini sangat terlihat dalam kalimat yang dipakai Linda yang begitu lugas. Tak terekam sedikitpun kekemayuan yang kadang membiaskan batas antara fakta dan fiksi–hal yang diharamkan dalam laporan jurnalistik. Linda juga tak menampilkan metafor yang mendayu-dayu.

Lugas, tak berarti kaku. Justru, keringkasan itu membuat pembaca lebih mudah mengikuti cerita. Lebih mudah dicerna. Bahkan, tak perlu terlalu sering mengerutkan kening.

Dalam situs resmi Pantau–pengusung aliran Jurnalisme Sastrawi di Indonesia, disebutkan bahwa, Jurnalisme sastrawi adalah sebutan untuk genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat, dengan ciri khusus; reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis, mulai memperkenalkan genre ini pada 1960-an.

Wartawan-cum-sastrawan
Kemampuan Linda berolah kata tak terlepas dari profesinya, yang selain menjadi wartawan dan pemimpin sebuah kantor berita di Aceh, ia juga adalah seorang sastrawan. Dia memenangi Khatulistiwa Literary Award pada 2004 atas karyanya, kumpulan cerita pendek berjudul Kuda Terbang Mario Pinto.

Keluwesan seorang sastrawan, dipadukan dengan ketelitian wartawan yang harus selalu disiplin melakukan verifikasi, menghasilkan tulisan yang akurat sekaligus cair. Bila tak terlebih dahulu membaca pengantar buku itu, pembaca bisa mengira tulisan-tulisan di dalamnya fiksi, karena laporan berita ditulis dengan gaya prosa, yang bercerita, dengan detil suasana disajikan lengkap. Sarat data, namun tanpa catatan kaki.

Linda selalu punya cara menarik untuk memaparkan data. Dia, misalnya, menunjukkan kegagalan program Keluarga Berencana di Nias dengan banyaknya jemuran di depan rumah-rumah warga.

“Saya kira, program KB yang dicanangkan Orde Baru ke seantero Nusantara gagal total di Nias. Setidaknya bila dilihat dari jemuran pakaian di rumah-rumah penduduk. Coba Anda bangun pagi dan jalan-jalan ke desa-desa sekitar Gunung Sitoli. Jemuran pakaian berderet-deret di muka rumah. Jumlah baju yang dijemur lebih dari 30 potong, belum termasuk pakaian dalam” (halaman 146)

Kali lain, dia mengajak pembaca menebak-nebak. Tentu saja, bukan menebak tanpa dasar seperti memprediksikan kemana bajaj akan berbelok. Linda, menyajikan beberapa referensi dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri.

Dalam tulisannya yang berjudul Orang-orang Tiro, dia menyebutkan, “tahun lahir Hasan Tiro jadi perdebatan sejarawan dan peneliti karena banyak versi. Dalam buku karangannya, The Price of Freedom, Tiro mencantumkan tahun 1930 sebagai tahun lahirnya. Di paspor Swedia tertera tahun 1925 sebagai tahun lahirnya. Sementara dalam buku pertama yang ditulisnya, Demokrasi untuk Indonesia, Tiro menyebut tahun 1923. Ada pula yang mengatakan Tiro lahir tahun 1928.”

Dari Jawa Menuju Atjeh, adalah sekumpulan catatan penulisnya mengenai orang-orang di dua daerah yang berbeda, tak hanya dari segi geografis, tapi juga budaya, dan tentu saja, tingkat kesejahteraan warganya. Jawa, disini bukan menyebut suku, tapi lebih kepada rezim yang diciptakan Soeharto yang berusaha men-Jawa-kan Indonesia.

Linda, penulis asal Bangka yang kini berdiam di Banda Aceh, tak hanya menulis ‘orang-orang besar’ dari kedua tempat itu. Ia mengulas kisah Hasan Tiro, juga Pramoedya Ananta Toer dan Wiji Thukul, namun tak mengabaikan kisah tragis Kebo, seorang pemulung yang mati dibakar di kawasan kumuh di belakang mal Taman Anggrek, Jakarta.

Ya, Linda adalah seorang pencerita. Tapi dia bukan pendongeng, yang menyusun cerita dari negeri antah berantah!

Judul: Dari Jawa Menuju Atjeh (Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam dan Gay)
Penulis: Linda Christanty
Terbit: Februari 2009
Tebal: 200 halaman + xiv
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo