Sastra Hindia Belanda: Catatan Sebuah Surga yang Hilang

Seno Joko Suyono, Adi Prasetyo, Dina Jerphanion
http://majalah.tempointeraktif.com/

Bau harum daun teh tanah Priangan masih terasa menyegarkan di hidung Hella Hesse. Rasa dan bau itu seolah terpancar dari novel Heren Van de Thee karya Hella Hesse, yang diluncurkan tahun lalu. Novel yang memilih seting perkebunan teh di Bandung itu mengisahkan seorang juragan Belanda yang makamnya digunakan sebagai lokasi tirakatan oleh rakyat setempat. Dalam waktu setahun roman itu menjadi best-seller.

Di Indonesia, Hesse dikenal melalui novel dan sinetron Oeroeg, yang pernah ditayangkan di televisi Indonesia. Novel itu bercerita tentang persahabatan bocah bumiputra dan Belanda yang kemudian menjadi musuh saat perang. Sedangkan novel Heren van de thee, yang juga menggunakan seting kolonial ini, konon, telah dicetak ulang 20 kali dalam setahun.

Ini membuktikan bahwa Indies belles-lettres (sastra Hindia Belanda), meski posisinya gamang, memiliki sumbangan penting dalam sastra Belanda. Kenyataannya selama bertahun-tahun sastra kolonial secara terus-menerus mendapat perhatian dari berbagai universitas Belanda. Pembentukan Werkgroep Indisch-Nederlandse Letterkunde pada 1986, sebuah komunitas masyarakat ilmiah sastra di Belanda, yang menerbitkan jurnal triwulanan Indische Letteren, adalah bukti lain yang menunjukkan adanya perhatian itu.

Menurut Dr. Gerard Termorshuizen, peneliti senior di Koninklijk Instituut voor Taal-Land en Volkenkunde di Leiden, sastra Hindia Belanda sejak puluhan tahun mengambil tempat yang penting dalam studi sejarah sastra Belanda. Ada dosen khas di bidang ini di berbagai universitas. ”Sampai sekarang masih banyak mahasiswa menulis skripsi M.A. dan disertasi tentang sastra Hindia Belanda, ” tuturnya kepada Tempo di Belanda.

Apa gerangan sastra Hindia Belanda? Sastra yang berkisah dengan latar belakang masa kolonial? Atau sastra yang hanya ditulis oleh penulis Belanda yang pernah mengenyam masa kolonial di Indonesia? Pengamat sastra Faruk menyatakan bahwa sastra Hindia Belanda atau Indische letteren adalah sekumpulan tulisan orang Belanda yang ditulis dalam bahasa Belanda, mengenai Indonesia, baik mengenai situasi dan kondisi geografinya, lingkungan alamiah, maupun lingkungan manusia (baca Sastra Hindia Belanda: Mencari Sebuah Identitas)

Meski definisi ketat ini cenderung menganggap bahwa sastra Hindia Belanda seyogianya ditulis oleh penulis Belanda atau Indo yang pernah mengecap kehidupan tanah koloni, pada dasarnya ada juga beberapa buku karya “penulis bumiputra” yang menulis dengan seting Hindia Belanda tapi dari sisi perlawanan, di antaranya Hikayat Kadiroen karya Semaoen dan Student Hijo karya Marco Kartodikromo. Kedua novel yang disebut belakangan ini tentu saja termasuk tonggak sastra Indonesia atau katakanlah perintis sastra perlawanan. Namun, karena kedua novel ini secara berani membuat kontras kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda dari sisi para pejuang Indonesia, menarik membandingkan karya “sastra Hindia Belanda” yang ditulis oleh penulis Belanda, dengan “sastra Indonesia” yang menggunakan seting yang sama dan kritik yang cukup senada.

Sebetulnya dalam sastra Hindia Belanda pun, kebudayaan Eurasia (Eropa Asia) yang menjadi ciri khas ekspresi para penulis itu cukup beragam. Pada abad ke-18, kebudayaan mestizo telah mencapai bentuknya yang mapan dan plural. Kebudayaan Hindia Belanda pada masa itu tak hanya seperti stereotip gambar litograf seorang nyonya berjalan, memakai kipas sembari membawa buku masmur dipayungi para budaknya yang membawa perlengkapan kotak sirih dan tempolong di siang hari yang panas ke gereja. “Masyarakat Indo tidak dapat disamaratakan karena mereka juga berlapis-lapis, baik fisik, sosial, maupun budayanya,” ujar A. Teeuw di kantornya.

Menurut Dr. Gerard Termorshuizen, sebagian besar komunitas Eropa saat itu tinggal di kota. Pada umumnya mereka hidup dalam dunianya sendiri, yakni bergaya hidup Eropa dengan latar belakang tropis. Gaya hidup semacam ini juga merupakan satu karakter kemiripan yang bisa ditemui pada karya sastra masyarakat koloni di negara lain. Ahli multikulturalisme E.M. Beekman membuat perbandingan menarik antara sastra Hindia Belanda dan sastra Amerika bagian selatan. Karya sastra Hindia Belanda, menurut Beekman, mengingatkan kita kepada napas karya sastrawan terkemuka AS bagian selatan seperti William Faulkner, John Crowe Ransom, dan Robert Penn Warren.

Baik penulis sastra Hindia Belanda maupun AS selatan sama-sama memiliki ketidakpercayaan terhadap pusat. Mereka menganggap tanah koloni sebagai kesatuan yang berdiri sendiri dan sanggup mencukupi kebutuhan sendiri. Sementara sastrawan AS selatan melihat utara sebagai Yankee, sastrawan di tanah Hindia Belanda memiliki kebencian terhadap The Hague. Hague dianggap perwujudan gagasan modern yang sok progresif tapi tidak memiliki pengetahuan nyata tentang kondisi tanah jajahan.

Sastrawan Hindia Belanda cenderung mengeksplorasi sisi-sisi gelap tentang kehidupan masyarakat kolonialisme. Pada dasarnya kehidupan di koloni penuh paradoks. Di satu pihak terdapat fenomena umum yang menunjukkan hubungan seksual yang longgar, maraknya perjudian, gaya hedonisme dan hipokritisme status serta derajat. Di sisi kehidupan masa itu menampilkan kehidupan yang hangat, sikap ramah-tamah, dan keriangan yang menonjol.

Beekman menemukan persamaan dalam kelonggaran nilai-nilai keluarga. Misalnya, ia melihat bagaimana pernikahan ekstra-marital dan perceraian merupakan hal yang lebih biasa di Hindia Belanda daripada di Belanda sendiri. Keakraban antara wanita Afro-Amerika dengan pria kulit putih saling meresap sampai mempengaruhi emosi, gesturkulasi, vokabuler, dan sikap karya seninya. Ini menimbulkan impuls estetis tertentu pada karya-karya sastranya. Gagasan ini juga didapatkan di karya-karya sastra Hindia Belanda.

Adalah baboe (sebutan bagi pengasuh atau pembantu perempuan pada masa itu) dan njai, dua sosok wanita yang menjadi nostalgia penting dalam sastra Hindia Belanda. Baboe adalah pengasuh sinyo-sinyo Belanda dari kecil sampai remaja, yang meninabobokan sang anak dengan selendang dan cerita legenda Jawa atau cerita hantu-Jawa macam kuntilanak, wewe gombel, endhas glundung, sundel bolong, yang meresap ke alam pikiran anak. Hubungan anak yang lebih intim dengan pengasuhnya daripada dengan ibunya sendiri disebabkan sisi emosional keibuan didapat dari para pengasuhnya. Itulah sebabnya anak-anak Belanda itu menganggap pengasuhnya adalah ibu kedua di tanah koloni.

Sejarawan G.J. Resink pernah menulis sebuah puisi tentang pengasuhnya sebagai cinta pertamanya. E. Breton De Nijs (nama samaran Rob Nieuwenhuys) pengarang novel Vergeelde Portretten (Bayangan Memudar) yang lahir pada 1908 di Semarang dari ayah totok dan ibu Solo, mengaku tak bisa melupakan bau daun sirih, bakau, gambir, pinang saat menginang. Memoarnya yang dipublikasikan pada 1977 itu menyiratkan bagaimana sang penulis tak bisa melupakan bau tubuh dan pakaian Mbok Tijah, terutama sarungnya. Ia menyebutnya bau itu yang memulai suatu fase pra-erotisme pada masa kecilnya.

Sementara baboe atau pengasuh memenuhi kebutuhan psikologis anak-anak tanpa menjadi ibunya, menurut Beekman, njai memenuhi kebutuhan psikologis bagi para lelaki dewasa tanpa menjadi istrinya. Adalah kebiasaan para bujangan Belanda yang baru datang dari Belanda untuk “menyewa” seorang nyai, dengan alasan menyesuaikan diri dengan kehidupan Indies. Konon, sang nyai inilah yang mengurus dirinya, mengatur rumah tangga dan pembantu-pembantunya, serta mengajarinya seluk-beluk bahasa dan adat-istiadat masyarakat pribumi. Tapi, untuk menangkal kesepian, nyai inilah juga yang menjadi gundik pemenuhan kebutuhan seksualnya. Pada 1880, misalnya, para pegawai negeri muda disarankan agar hidup dengan seorang nyai sebelum dia menikahi seorang wanita Eropa. Di tanah jajahan inilah libido mereka tidak terkekang.

Posisi nyai ini dalam sastra selatan hampir sebanding dengan para wanita Afro-Amerika di Amerika selatan. Sementara di AS rangsangan seksualitas dan erotisme lebih banyak ditumpahkan kepada perempuan Afro-Amerika yang dianggap lebih eksotik dan sensual daripada wanita kulit putih, stereotip sang nyai di tanah Indies adalah gundik penggoda yang penuh birahi (dan stereotip inilah yang kemudian dijungkirbalikkan Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Nyai Ontosoroh yang digambarkan sebagai seorang wanita yang kukuh, asertif, dan progresif).

Adalah P.A. Daum (1850-1898) yang banyak menggarap kisah tentang nyai. Sastrawan yang disebut seorang connoisseur ini dianggap mampu menampilkan mirror of the indies—kehidupan nafsu, ekstravagansa, eksotik masyarakat Indies secara detail. Novel Ups and Down yang diinspirasikan seting Pamanukan dan Ciasem adalah salah satu karyanya yang menampilkan bau eksotisme itu. Lahir di Hague pada 1850, Daum mendarat di Pulau Jawa pada 1878 dan menjadi editor harian De Locomotief, Semarang. Tulisannya sering membuat gerah pemerintah kolonial hingga ia dimasukkan ke penjara. Sekeluar dari bui ia membeli koran Het Indische Natherland di Semarang dan menjadi pemimpinnya. Koran ini tak laku sehingga Daum menulis novel dengan menggunakan nama samaran Maurits, yang ternyata sukses luar biasa. Romannya berjudul Goena-Goena (Ilmu Hitam) terbit pada 1889, dicetak hingga delapan kali, terutama karena ia berhasil meramu eksotisme dengan kebudayaan Jawa.

Gaya hidup memiliki nyai bahkan masih berlangsung hingga 1905. Setelah tahun 1905 investasi dalam bisnis Belanda semakin pesat, angka ekspor bertambah dua kali lipat pada dekade pertama abad ini, dan lebih dari delapan kali lipat pada 1920. Pada 1919, misalnya, ada sekitar 175 perusahaan dagang yang didirikan. Ketika itu, banyak pegawai swasta yang datang dengan istri dan keluarga masing-masing. Bersamaan dengan itu, sejumlah wanita Belanda mengalir ke Batavia. Menurut penelitian Rob Nieuwenhuys, data statistik tahun 1905-1915, peningkatan kedatangan ini melesat dari 18,7 persen sampai 40,6 persen.

Kedatangan wanita Belanda dengan jumlah yang besar ini menimbulkan perubahan gaya hidup masyarakat kolonial terutama di kota besar seperti Batavia. Tuntutan dan hasrat baru yang lebih berbau tradisi Eropa mulai muncul. Mereka menginginkan kehidupan harus dibuat sejahtera dan senyaman mungkin seperti di Netherland. Negara menyediakan fasilitas publik, rumah gadai, pelayanan pos, telepon, telegraf, peningkatan kesehatan, sekolah pemerintah, pelayanan kehutanan, dan berbagai infrastruktur Eropa lainnya. Fenomena ini kemudian melahirkan golongan priayi baru. Maka, sejarawan Prancis Denys Lombard menyimpulkan bahwa di mata pemerintah kolonial era penaklukan atas Hindia Belanda yang sudah betul-betul selesai (salah satu kesimpulan itu disebabkan Perang Diponegoro yang menghantui sudah dilampaui).

Singkatnya, Pax Nederlandica pada hakikatnya berlaku di mana-mana, setidaknya dalam prinsip. Dalam kurun waktu 1905-1915, orkestra dan fotografi meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik hindia Belanda.

Lalu bagaimana dengan tema yang disajikan novel-novel sastra Hindia Belanda? Sejarawan UGM Djoko Sukiman, yang baru saja menerbitkan buku tentang kebudayaan Indis, menyimpulkan bahwa gosip atau kisah-kisah takhayul saat itu amat digemari perempuan masyarakat Indis: indo atau pribumi yang punya sekelumit pendidikan Belanda. “Istri pejabat pribumi yang bertugas di kota kecil terpencil dan yang tinggal di perkebunan amat suka membacanya,” katanya kepada R. Fadjri dari Tempo.

Menurut Sukiman, tema sosial politik bukanlah tema yang sering diangkat dalam sastra Hindia Belanda. Ini disebabkan pemerintah kolonial sangat ketat dalam masalah ini. Meski masalah politik mencuat dalam kehidupan sehari-hari, tapi tidak pernah menjadi bacaan populer sehari-hari yang dibaca masyarakat banyak tak akan menyajikan persoalan itu. Tulisan-tulisan yang bernada keras abad ke-20 lazimnya menimbulkan perhatian. Contohnya William van Hogendorp, bekas residen Rembang yang kemudian bertugas sebagai administrator gudang di Kepulauan Onrust, pada 1780 telah menulis Kraspoekol of de Slavernij (Kraspoekol or the Dismal Consequences of Excessesive Severity toward Slaves), yang secara terang-terangan menentang perbudakan di Hindia Belanda. Gerard Termorshuizen menganggap penulis-penulis Eropa yang tinggal di luar kota memiliki kekritisan terhadap pemerintah kolonial. Itu disebabkan mereka hidup secara nyata di tengah masyarakat pribumi dan timbul kesadaran betapa pemerintah kolonial amat mengeksploitasi pribumi. Hal seperti ini yang melatarbelakangi penulis seperti Douwes Dekker, yang tinggal di Lebak, menulis dengan kritik yang menyala-nyala.

Douwes Deekker datang di Batavia pada 1839. Setelah menjalani tugas di Betawi, Sumatra, dan Manado, pada Januari 1856 ia ditunjuk menjadi amtenar—asisten residen Lebak. Ia menuduh mitranya—sang Bupati Raden Adipati Karta Natanegara—telah menyalahgunakan kekuasaan, memeras rakyat. Tetapi Gubernur Jenderal Duymaer van Twist menganggap tuduhan itu berlebihan. Ini membuat Dekker merasa terhina dan memutuskan kembali ke Belanda. Dengan menggunakan nama samaran Multatuli, pengalaman pahitnya itu melahirkan Max Havelaar, yang di kemudian hari menjadi karya yang termasyhur. Menurut Subagio Sastrowardoyo, banyak kritikus yang mengecam bahwa isi buku ini penuh sensasi. Buku itu tidak dapat disamakan dengan Uncle Tom’s Cabin karya Harriet B. Stowe (1852), yang mendorong dibubarkannya perbudakan di Amerika Serikat.

Sampai pada 1975 terjadi polemik di berbagai koran Belanda. Dalam Hague Post periode Maret-April 1975, menurut kliping koran yang pernah diterjemahkan oleh H.B. Jassin, Rob Nieuwenhuys menulis artikel berjudul Multatuli en de mythe van Lebak. Artikel yang sebenarnya merupakan tanggapan atas buku De Raadselachtige Multatuli karya W.F.H. Hermans (telah diterjemahkan H.B. Jassin) itu intinya mengingkari bahwa Dekker adalah pejuang yang melawan kolonialisme. Berdasarkan dokumen-dokumen itu, Nieuwenhuys menganggap keputusan Gubernur Jenderal Belanda memecat Dekker adalah keputusan yang tepat. Menurut Nieuwenhuys, Dekker memang tidak cakap memangku jabatan pangreh praja. W.F.H. Hermans menanggapi balik serangan Nieuwenhuys. Baginya kritik itu salah alamat. Berdasar riset, Herman menemukan bukti sesungguhnya Gubernur Jenderal memecat Dekker. Dekker hanya dibebastugaskan dan ditawari jabatan asisten residen di Ngawi dengan gaji yang sama—suatu daerah yang kondisinya lebih baik karena di sana ada perkebunan. Douwes Dekker toh tetap menolak. Itu membuktikan bahwa sikap Dekker sangat kritis terhadap penjajahan.

Roman pamflet politik Douwes Dekker di kemudian hari ternyata mempengaruhi penulis seperti S.E.W. Roorda van Eysinga, H.N. van der Tuuk dan A.M. Courier dit Dubekart. Merekalah tokoh yang menggumpalkan dilansirnya Ethical Movement pada awal abad ke-20.

S.E.W. ROORDA LAHIR di Batavia pada 1825. Pada 1860 ia menjadi pengawas irigasi di Grobogan, Jawa Tengah, yang saat itu dilanda kelaparan. Roorda menulis puisi tentang kelaparan berjudul Vlekzang:De Laatste dag der Hollanderen in Java by Sentot (Lagu Sumpah Serapah Hari Terakhir Orang Belanda di Jawa oleh Sentot). Roorda menggunakan nama samaran Sentot dan menggunakan nama ini pula sebagai narator puisi sebagai tanda kekagumannya atas Perang Diponegoro (1825-1830). Roorda menyatakan puisi itu bukan ancaman huru-hara tapi peringatan pada pemerintah kolonial bahwa kemiskinan dan kelaparan—seperti kasus di India—bisa membangkitkan pribumi untuk melakukan massacre terhadap orang Inggris. Tak heran jika Batavian Commercial Daily menolak menerbitkan puisi semacam itu dan penulisnya dideportasi ke Belanda tanpa uang pensiun.

Sementara itu, pada 1872, penerbit Van Dorp di Semarang menerbitkan buku berjudul Feiten Van Brata-Yoeda of Nederlandsch-Indischetoestanden (Fakta-fakta Brata Yudha atawa Kondisi di Hindia Belanda karya A.M. Courier dit Dubekart. Ia bekerja sebagai pegawai perkebunan gula di Kediri dan Blitar dan beristri orang Nias. Dubekart mengumpulkan dan mengkliping surat-surat yang dilayangkan ke harian Surabaja Courant. Surat-surat itu berisi informasi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pembunuhan yang dilakukan pemerintah kolonial. Hasilnya adalah buku setebal 700 halaman yang kemudian membuat pembacanya menganggap Dubekart sebagai Multatuli muda.

Karya mereka inilah yang, antara lain, memberikan inspirasi bagi kaum pergerakan, anak-anak muda radikal Indonesia pada awal abad lalu seperti Mas Marco Kartodikromo dan Semaoen. Mas Marco, tokoh militan Sarekat Islam, pada April 1920, misalnya, dihukum penjara selama enam bulan atas karyanya berjudul Syairnya Sentot. Karya ini mengingatkan pemerintah kolonial atas syair Roorda van Eysinga yang juga menggunakan nama Sentot. Lahir di Cepu, Jawa Tengah, pada 1890, Mas Marco lulus sekolah swasta bumiputra di Purworejo dan pernah bergabung dengan koran Medan Prijaji di Bandung. Belakangan ia menerbitkan surat kabar Doenia Bergerak.

Melalui koran ini, Mas Marco melancarkan kritik dan serangan sengit kepada pemerintah Hindia Belanda dan Tjokroaminoto, yang dianggapnya menjadi lembek. Puisi Sjair Rempah-Rempah, Sama Rata Sama Rasa ditulisnya di penjara Welevreden pada 1917. Melalui novelnya berjudul Student Hijo, Mas Marco membuat pemerintah kolonial sebagai Boeto Hidjo (raksasa hijau) dan para student—seperti Tjokroaminoto, yang kemudian hidup di bawah perlindungan pemerintah, tak lebih dari satria hidjo alias satria palsu yang mencari hidup enak. Akan halnya Semaoen anak buruh kereta api, kelahiran Mojokerto 1899, bisa disebut propagandis buruh pertama di Indonesia. Anak muda revolusioner ini murid Sneevliet, bekas ketua serikat buruh trem dan kereta api SDAP (Sociaal Democratische Arbreiders Partij) Belanda yang datang ke Semarang mendirikan ISDV (Indischee Sociaal-Demokratische Partij). Semaoen adalah aktivis pertama yang paham anatomi massa karena ia berani terjun mengorganisasi, membimbing serikat buruh, dan melakukan pemogokan masal. Menurut peneliti Takashi Shirasi, di bawah kepemimpinan Semaoen, SI Semarang meluas cepat, dari 1.700 orang pada 1916 menjadi 20.000 orang pada 1920. Pengalaman radikalnya itu menghasilkan Novel Hikajat Kadiroen, yang ditulisnya di penjara pada 1919.

SETELAH tahun 1920-an, suasana Hindia Belanda mulai berubah. Zaman pemogokan dan fajar nasionalisme mulai menggoyah kenyamanan rust en ordre Belanda. Revolusi Rusia pada 1917 dan Bolshevik November 1917 membuka cakrawala para aktivis radikal di seluruh dunia akan penindasan. Akibat Perang Dunia I, kondisi pasar dunia juga tak menentu. Perang Dunia I memaksa koloni Hindia Belanda menjalankan negara dan ekonomi secara mandiri, dan tidak bergantung pada Belanda. Harga membubung, upah digencet. Keutuhan Pax Nederlanica, dengan sudut pandang kemenangan penakluk, mulai goyah. Gubernur Jenderal De Graeff pada 1927 membangun Digul untuk tempat pengasingan tokoh-tokoh nasionalis.Pertentangan antara Belanda dan pribumi makin nyata. Timbulnya kesadaran kebangsaan pada pribumi membuat eksotisme tanah koloni surut. Ia bukan lagi surga kenyamanan tapi tanah yang berbahaya. Pada titik ini timbul atmosfer kecurigaan para orang Belanda atau indo terhadap pribumi.

Puncak kehancuran ketika Jepang datang tahun 1942. Para sastrawan memasuki masa transisi. Mereka berada di persimpangan jalan untuk memilih tetap tinggal di Indonesia atau ikut ekspatriasi ke Belanda. Seorang yang paling mewakili kebimbangan ini adalah E. Du Perron.

Lahir di Jatinegara tahun 1899, Du Perron adalah generasi ketiga yang telah tinggal di Jawa sejak awal abad ke-19. Secara turun-temurun, keluarga Perron bertempat tinggal di sebuah rumah besar bernama Gedong Menu. Ibu Du Perron biasa mengenakan kebaya dan sarung, sementara sang ayah mengenakan kain linen. Kuburan keluarga besar Perron berlokasi di Cilacap. Bahkan, penampilan Du Perron tak menunjukkan dirinya seperti orang Eropa. Kulitnya langsep. Pada 1921, keluarganya pindah dan menetap di Desa Chaumaont Gistoux, sebuah desa kecil di selatan Brussels.

Di sebuah puri kuno di Desa Chaumaont Gistoux itu, keluarganya masih menghidupkan kebiasaan Indies, misalnya membuat dodol. Bahkan, sang pembantu pribumi pun diboyong ke sana. Di Belgia inilah roman Het land van herkomst (Tanah Asal) lahir, yang di kemudian hari dinilai sebagai tonggak sastra Hindia Belanda. Karyanya yang menunjukkan kerinduan Du Perron atas tanah kelahirannya. Suasana Hindia Belanda yang tenteram, dan belum terganggu oleh ramainya orang Belanda, perusahan swasta dan modal besar datang—yang pernah dialaminya di masa kecil—dianggap sebagai sebuah paradise lost atau surga yang hilang. Ia merasa jiwanya tertinggal di Pulau Jawa, meski raganya berada di Eropa.

Pada 1936, ia kembali ke Hindia Belanda bersama istrinya untuk berziarah ke candi-candi Jawa. Ia mengagumi peninggalan-peninggalan Hindu tetapi tetap merasa paradise lost’—yang dirindukan itu hilang. Penyebabnya adalah suasana politik yang bergolak. Ini adalah zaman pemogokan. Zaman kebangkitan nasionalisme yang menunjukkan kemarahan terhadap Belanda.

Toh ia bersimpati pada nasionalisme. Ia terlibat diskusi-diskusi dengan cendekiawan Porbatjaraka, Pringgodigdo, E.F.E. Douwes Dekker alias Setiabudhi, kakak beradik Soewarni Pringgodigdo dan Soewarsih Djojopoepito beserta Ahmad Soebarjo. Pengalamannya bergaul dengan Andre Malraux (novel terkenal Malraux, Le Condition Humaine, dipersembahkan untuk Du Perron) menumbuhkan rasa antifasisme dalam dirinya. Perron juga terlibat surat-menyurat yang intens dengan Sjahrir. Ia menyerang kebijakan redaksional H.C Zentgraff, redaktur Java Bode yang dianggapnya fasis. Ia menulis di jurnal Kritiek en pbouw (Kritik dan Pembangunan). Ia menyerang visi-visi Sutan Takdir Alihsjahbana dan menganggap karyanya sebagai sastra serdadu. Itulah sebabnya tidak pernah akrab dengan visi sastrawan Pujangga Baru seperti Idrus atau Armijn Pane.

Menurut Kees Snoek, pengajar sastra Belanda di Universitas Auckland yang menulis disertasi tentang Du Perron, penulis ini secara psikologis merasa bagai manusia terjepit—suatu manusia perbatasan yang memiliki kesetiaan mendua antara Indonesia dan Belanda. Pada 1939, bersama Sujitno Mangunkusumo, J. Van Leur, P.J. Koets, Perron berencana membuat majalah bernama Nusantara, yang memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia. Tapi tahun itu, Du Perron memutuskan kembali ke Eropa dan setahun kemudian wafat. Mengapa ia kembali? Bila ia memang cinta terhadap tanah kelahirannya? ”Saya lambat laun merasa menjadi seorang pengkhianat terhadap Eropa, seorang yang meninggalkan pasukannya. Saya telah selesai dengan Indie sejak Het Land van Herkomst. Andaikata saya seorang Indonesia, barangkali saya tetap seorang individualis, kritis, tukang recok, dan keras kepala tapi… nasionalis sampai ujung jari.”

Kutipan—pengakuan Du Perron—yang diungkapkan oleh Kees Snoek di jurnal kebudayaan Kalam ini mungkin juga bisa untuk memahami mengapa para sastrawan lain lebih memilih diekspatriasi ke Belanda daripada menetap di Indonesia. Du Perron termasuk seorang penulis yang tak mengalami kepahitan dianiaya dan disekap Jepang. Banyak sastrawan yang ditangkap Jepang seperti E. Breton Nijs, misalnya, pada 1942-1945 menjalani hidup di kamp konsentasi. Sastrawan Willem Walraven penulis De Clan (Lingkungan Suku), misalnya, mati mengenaskan di kamp konsentrasi Jepang di Jawa Timur pada 1943. Pada titik ini penulis seperti Rob Nieuwenhuys memilih pulang ke Belanda.

SETELAH Indonesia merdeka, karya tentang Hindia Belanda malah semakin tumbuh subur, misalnya novel De Einlanden (Kepulauan) karya A. Alberts, yang terbit pada 1952. Alberts lahir pada 1911 di Belanda dari keluarga pelaut. Lulus Universitas Utrechtjurusan Indologi, ia bekerja di French Ministry of Colloial Affairs. Pada 1939, Alberts diberi tugas di Sumenep, Madura. Ia terkesima. Darah pelautnya menggelegak. Ia melihat laut dan pantai Madura yang begitu cantik, arketipe, magis, penuh fabel, dan dongeng. Tapi pada 1942 negeri dongeng itu berubah menjadi neraka. Alberts ditangkap Jepang, dibui di penjara Bubutan, Surabaya, selama 10 bulan. Kemudian ia dipenjara di Ngawi dan di Sukamiskin Bandung. Setelah hidup di kam konsentrasi di Cimahi, ia meninggalkan Indonesia. Meskipun penuh penderitaan, ingatannya tetap pada laut Madura. Ia mengakui novelnya pada 1952 itu amat berbau nostalgia.

Karya yang menggunakan laut sebagai romantisme adalah De Prinses van het einland karya Dermout yang diterjemahkan Asrul Sani. Novel ini berkisah tentang peri laut berwarna hijau di sebuah pulau di timur Sumatra yang dikelilingi ombak dan gelombang Samudra Hindia. Asrul kagum atas ingatan Dermout. Kendati mulai mengarang pada usia tua, sang penulis tetap mampu merinci suasana romantis itu dengan detail. ”Bahkan sampai pada bentuk-bentuk bayangan tanamannya di sekitar rumahnya, semua tergambar dalam tulisannya,” kata Asrul Sani kepada Andari Karina Anom dari TEMPO.

Yang juga terkesima dengan alam, mitologi, roh kepulauan di Hindia Belanda terutama Maluku adalah Beb Veuyk. Lahir di Rotterdam pada 1905, Veuyk hidup di Pulau Buru. Menikah dengan pria setempat—pengusaha penyulingan minyak kayu putih, Veuyk yang hidup terpencil itu menulis tentang kesepian dan kesukaran hidupnya di novel Heet Latste Huis van de Wereld (Sebuah Rumah Nun Jauh di Sana). Veuyk dan suaminya ditangkap dan diinternir Jepang pada 1942.

Sukses novel Hellaa Hesse dan penulis sastra Hindia Belanda lainnya menegaskan bahwa campur aduk nostalgia bau sarung, pubertas, bau peluh, dan aroma ketakutan ternyata merupakan sumber estetika yang potensial. Dan ternyata karya-karya itu, meski dengan seting stereotip yang kita kenal, hawa tropika, nyai yang “melayani” tuan Belanda, dan bau kulit sawo matang yang eksotis, beberapa karya sebetulnya menampilkan sebuah kritik dan perlawanan—betapapun tersamar—terhadap sebuah situasi kekerasan yang begitu lama. Kekerasan yang bernama Kolonialisme.

Seno Joko Suyono, Adi Prasetyo (Jakarta), Dina Jerphanion (Amsterdam)

Komentar