Langsung ke konten utama

Membicarakan Plus Minus Pramoedya

(Pramoedya Ananta Toer, Perahu yang Setia dalam Badai)
Arwan Tuti Artha
http://www.kr.co.id/

BUKU ini rasanya tidak terlalu istimewa, jika hanya membicarakan soal Pramoedya Ananta Toer. Apalagi, isinya berbagai kumpulan tulisan yang sebelumnya sudah dimuat media massa dan nyaris tak ada yang baru. Judulnya pun tidak simpel. Panjang dan penuh penjelasan. Pram misalnya diibaratkan sebagai perahu yang setia dalam badai. Toh, masih harus dijelaskan lagi sebagai serba-serbi tentang Pram. Tetapi, sebagai buku referensi yang membicarakan plus dan minusnya Pram, tak bisa dianggap enteng upaya yang dilakukan Penerbit Bukulaela ini.

Dalam catatannya disebutkan, lahirnya buku ini memang dengan kerja keras. Diawali pertengahan 2000. Situs-situs yang terbaca mengenai Pram, dikumpulkan hingga buku ini menjadi semacam tumpengan. Tidak salah kiranya jika Pram yang dipilih. Sebab, namanya sedang menanjak serenta tak lagi ada belenggu yang melarangnya. Nyaris tak ada perbantahan kecuali, ada yang menganggap Pram adalah sastrawan besar Indonesia. Ada pula yang menganggap Pram berdosa dalam memberangus sastrawan lain pada masa Lekra.

Di tengah perbantahan itu, buku ini kiranya akan menempatkan sebagai bahan bacaan yang menarik. Kita bisa menyelisik ide-idenya, gagasan-gagasannya, juga analisis-analisis yang dilakukan terhadap Pram. Buku ini terdiri mozaik-mozaik. Pertama mengungkap mozaik biografi. Kemudian mozaik visinya. Lalu mozaik apresiasi dan dialog.

Dalam biografinya dijelaskan siapa Pram. Siapa ayahnya. Pram, pada tahun 1984 pernah mengemukakan bahwa dirinya bosan jadi pengarang. Mestinya jadi petani saja seperti cita-citanya dahulu. Tapi, sudah telanjur basah dan dalam buku ini dipajang karya-karya Pram lengkap. Pada bagian visi, ditunjukkan bagaimana visi Pram yang dimuat di berbagai media. Apa yang harus dibabat dan apa yang harus dibangun. Pikiran-pikiran Pram ini memang tajam, yang oleh sementara kalangan dinilai sangat kiri. Pada masa Orde Baru barangkali kita tak sempat membacanya, melalui buku ini pikiran-pikiran itu bisa kita cermati.

Dari sekian banyak karya Pram, banyak pula orang yang memberi apresiasi, catatan, kritik, analisis. Dalam bagian ini dimuatkan berbagai tulisan mengenai Pram dari Goenawan Mohammad, Fadli Zon, Sumit K Mandal, atau Soetjipto Wirosardjono. Tentu, tulisan itu muncul karena Pram memang menarik ditulis. Apalagi pada masa Pram masih jadi tahanan di Pulau Buru.

Ya, itulah Pram, yang rasanya tak akan habis bila terus ditulis. Dialah yang mengatakan bahwa karyanya adalah anak-anak jiwanya. “Saya tetap mengakuinya setelah saya lepaskan di padang sosial budaya kehidupan. Itulah kebanggaan saya,” kata Pram dalam sebuah wawancaranya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo