Langsung ke konten utama

Menikmati Perjalanan “Sang Kretek”

Hendriyo Widi
http://m.kompas.com/

Sastrawan asal Blora, Pramoedya Ananta Toer, mempunyai cara tersendiri menikmati kretek semasa kecilnya. Bukan dinyalakan apalagi diisap, tetapi menjadi mainan yang mengesan di dalam hati Pramoedya sehingga melahirkan tulisan tentang “Kretek”.

Tulisan tersebut menjadi kata pengantar buku Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes (2000), karya Mark Hanusz. Dalam tulisan itu, Pramoedya mengisahkan pertama kali dia berkenalan dengan kretek. Waktu itu, dia masih berumur 14 tahun dan baru lulus Sekolah Rakyat Budi Utomo, Blora.

Dia mengumpulkan bungkus dan label kretek dan menggunakan bungkus serta label kretek tersebut sebagai media permainan bersama teman-teman sebayanya pada waktu itu. Bungkus kretek yang tipis itu dilipatnya dan dilempar ke udara. Jika bungkus kretek tersebut saat jatuh ke tanah tampak bagian atasnya, dia berhak mengambil label kretek dari teman-temannya.

Itulah sejarah kretek, setidaknya bagi Pramoedya. Kisahnya bisa diceritakan lewat berbagai media. Seperti halnya yang dilakukan Museum Kretek Kudus yang memilih media audio visual untuk mengisahkan kembali perjalanan kretek Kudus.

Kisah “Sang Kretek” itu terangkum dalam film dokudrama berjudul “Kudus Kota Kretek”. Film berdurasi sekitar 20 menit itu disutradarai Joko Anwar dan diproduksi Elang Mas Vision. Dengan mengambil suasana dan bangunan klasik kota Kudus, seperti Menara Kudus, rumah adat Kudus atau gebyok, dan tempat pembuatan rokok kretek tradisional, film tersebut bergulir.

Intinya adalah bertutur tentang sejarah kretek, perkembangan kretek, dan pengaruh kretek terhadap perkembangan perekonomian di Kudus. Penutur alur cerita film itu adalah Puteri Indonesia 2004 Artika Sari Devi.

Film tersebut dapat dinikmati di Bioskop Mini Museum Kretek yang memiliki kapasitas 20 kursi. Biaya sekali putar film tersebut adalah Rp 20.000 untuk semua pengunjung yang menyaksikan, bukan per orang.

Kurang promosi

Staf Museum Kretek Sari Juliastuti, Selasa (28/9), di Kudus, mengatakan, sejak dibuka sebulan lalu, Bioskop Museum Kretek masih minim pengunjung. Pada hari-hari biasa paling-paling hanya satu kali putar atau bahkan sama sekali tidak memutar film, sedangkan pada hari-hari libur bisa lima kali putar.

“Penyebabnya adalah kurangnya promosi ke masyarakat, terutama sekolah-sekolah. Padahal, film tersebut sangat bagus untuk mengembangkan pendidikan sejarah di luar sekolah,” kata dia.

Salah seorang pengunjung, Dwi Astiningsih (28), menilai Bioskop Mini Museum Kretek kurang dikembangkan secara optimal. Filmnya cuma satu. Padahal, pengelola dapat memutar film-film lain yang bernapaskan sejarah, budaya, dan pendidikan sesuai dengan konteks Kudus.

“Meski begitu, melalui film ‘Kudus Kota Kretek’, penonton dapat mencerna sekelumit sejarah kretek di Kudus,” kata dia.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo