Langsung ke konten utama

Obama Sang Penyair

Iwan Nurdaya Djafar
http://www.lampungpost.com/

Di zaman lalu
Para raksasa
berjalan di bumi Hitam
Delaney, Douglass, Garvey, King, dan X

[Puisi Obama, Hikayat Orang Kulit Hitam, bait 1]

Obama adalah manusia komplet. Dia adalah Presiden AS, doktor hukum tata negara, dosen, legislator, orator ulung, dan penulis. Bukan itu saja, menggubah puisi pun satu di antara kecakapannya. Tak pelak, dia juga seorang penyair dengan kualitas puisi yang tak memalukan. Saat duduk di bangku SMA, di Akademi Punahou, Honolulu, Hawaii, dia sudah mulai mencipta puisi.

Kecenderungan Obama terhadap puisi boleh jadi disebabkan pergaulannya dengan seorang penyair berkulit hitam yang lebih tua darinya, yang merupakan satu di antara tiga sosok pria di dalam kehidupannya untuk menjadi seorang lelaki dewasa, yang berperan sebagai ayah wali baginya. Pria lainnya adalah kakeknya dari pihak ibu, Stanley “Gramps” Armour Dunham (1918-1992), dan ayah tirinya, Lolo Soetoro Mangunhardjo.

Ayah biologisnya sendiri, Barack Hussein Obama Sr., absen di dalam kehidupannya karena bercerai dengan ibunya saat Obama berusia dua tahun, seorang anak yang baru belajar berjalan. Maka, ketiga sosok pria itu menjadi ayah-pengganti bagi dirinya, yang menyimpan psikologi anak yatim sampai menjelang dewasanya.

Penyair berkulit hitam itu adalah salah seorang sahabat kakeknya yang bernama Frank Marshall Davis, seorang pria baik, yang memasuki usia delapan puluhannya pernah hidup melalui banyak pergulatan internal Afro-Amerika dan membentuk opini-opini tentang keadaan orang-orang kulit hitam di dalam masyarakat berdasarkan pengalaman-pengalamannya sendiri.

Dia menulis puisi dan membuat persahabatan dengan orang-orang yang tidak percaya pada demokrasi karena menurutnya orang-orang kulit hitam memiliki suatu peluang yang lebih baik untuk meraih kesetaraan di bawah suatu tipe pemerintahan yang berbeda. Karena pemerintah mematikan, tak ada sistem pemerintahan yang berbuat sesuai dengan janji kesetaraan bagi semua orang.

Obama melihat Frank untuk beberapa petunjuk dari siapa dia bisa menjadi seorang dewasa. Tapi dia juga menonton televisi, musik, dan film untuk contoh-contoh. Budaya pop juga menjadi model perannya. Kecenderungan Obama terhadap puisi boleh jadi juga disebabkan oleh kegemarannya membaca, suatu kegemaran yang ditularkan oleh ibunya, Ann Dunham, yang memang seorang kutu buku.

Dia membaca buku tentang Martin Luther King Jr, seorang Afro-Amerika yang menjadi pejuang kulit hitam. Salah satu buku favoritnya yakni Otobiografi Malcolm X, pejuang kulit hitam AS yang lain yang beragama Islam. Karya-karya sastra Herman Melville, Toni Morisson, dan Friedrich Nietzsche juga disantapnya.

Saat di SMA, dia membaca karya-karya orang-orang berkulit hitam yang terkenal untuk membantunya mempelajari masyarakat, seperti Invisible Man karya Ralph Ellison dan Native Son karya Richard Wright. Dia membaca WEB DuBois dan Langston Hughes, seorang yang sezaman dengan sahabatnya yang lebih tua Frank Davis. “Aku memiliki berton-ton buku. Aku membaca segalanya,” ujar Obama.

Sebagai anak Hawaii yang doyan keluyuran di pantai, dia selalu menyelipkan buku di sakunya. Tak pelak, dia kutu buku juga!

Obama merupakan seorang anak yang suka menyendiri dan pandai menulis. Dalam buku pertamanya Dreams from My Father, Barack

Obama menuturkan tentang mariyuana yang dia isap saat mengenal seorang pemuda sebagai “sesuatu yang bisa meratakan lanskap hatiku, mengaburkan tepi-tepi ingatanku.”

Pengakuan masa muda yang tidak bijaksana ini lebih apa adanya dan lebih liris ketimbang yang diajukan oleh Presiden ke-42 AS (Aku tak mengisap mariyuana) dan ke-43 (Saat aku muda dan tak bertanggung jawab, aku masih muda dan tak bertanggung jawab). Itu muncul sebagai kejutan kecil untuk menemukan yang lain itu, kurang memublikasikan kemabukan—yang untuknya Obama muda mengaku secara terus terang—gubahan dari puisi lirik.

Obsesinya semasa muda yakni mencari jawaban atas pertanyaan: apa artinya menjadi pria kulit hitam di tengah kecamuk rasialisme Amerika Serikat? Ibunya yang berkulit putih (juga nenek dan kakeknya) tidak memiliki banyak pengalaman mengenai kehidupan komunitas kulit hitam dan karenanya tidak banyak membantu Obama di dalam mencari jawaban atas obsesinya itu. Sungguh pun begitu, Obama tidak tinggal diam. Dia justru memburu demi mencari jawaban itu.

Salah satu jawaban itu dituangkannya dalam sebuah puisi yang digubahnya saat di SMA, di bawah tajuk Hikayat Orang Kulit Hitam, yang menggambarkan kerisauan mendalam tentang rasialisme. Di zaman lalu, Obama menulis, Para raksasa/ berjalan di bumi Hitam/ Delaney, Douglass, King, dan X. Pada bait pertama dari puisi lima bait ini, Obama menorehkan sejarah perjuangan para pejuang besar kulit hitam AS yang disebutnya sebagai para raksasa. Para pejuang itu adalah Delaney, Frederick Douglass, Dr. Martin Luther King Jr., dan Malcolm X.

Saat di Kolese Occidental, pada 1981 Obama menulis dua puisi untuk Feast (Pesta), majalah sastra mahasiswa. Puisi itu masing-masing berjudul Lelaki Tua dan Ayah. Pada puisi Lelaki Tua, Obama mengisahkan seorang lelaki tua yang dilupakan, yang kehilangan harga diri, yang begitu lugu di dalam menyiasati kehidupan dan penghidupan dunia yang terlampau pelik. Dia bersikap lurus-lurus belaka di dalam menyusuri dunia yang berliku-liku. Maka, dia adalah seorang lelaki tua yang dilupakan dan diabaikan dunia.

Puisi Ayah agaknya mengabadikan momentum kunjungan ayahnya dari Kenya ke Hawaii saat menyambangi Obama pada usia sepuluh tahun pada 1971. Air matanya mengalir ketika pesawat ayahnya lenyap di angkasa Samudra Pasifik. Hal yang tergambar mengenai fisik ayahnya hanya hitam. Pesan yang selalu teringat adalah petuah sang ayah, yaitu, “Jangan menangis dan tatap masa depan.”

Itulah kunjungan pertama sekaligus terakhir. Pertama, sejak Obama ditinggalkan ayahnya pada usia dua tahun; dan terakhir, karena semenjak itu Obama tak lagi pernah bersua dengannya sampai tiba sebuah kabar melalui telepon internasional bahwa ayahnya meninggal dunia di Kenya pada 1982, dalam suatu kecelakaan mobil. Saat itu Obama sudah berusia 21 tahun.

Puisi Obama yang lain bertajuk Di Bawah Tanah adalah sebuah puisi tentang kawanan monyet yang bermain di bawah air sebuah gua. Sebuah puisi suasana. Puisi itu melukiskan keriangan kawanan monyet yang memakan buah ara, melolong, menari, terguling ke dalam air sehingga bulunya basah dan berbau apak. Kulit-bulu yang basah itu berkilauan dalam warna biru.

Puisi Di Bawah Tanah memberikan sesuatu yang gamblang tentang gambaran simbolis yang tidak jelas dari sekawanan primata bawah air. Menurut Harold Bloom, puisi ini lebih baik daripada puisi Ayah. “Ini memberiku perasaan sangat aneh karena dia bisa membaca puisi-puisi DH Lawrence—ini mengingatkanku akan puisi Snake (Ular),” Bloom menambahkan.

“Aku kira ini adalah tentang suatu arti dari kekuatan, sebagaimana sering dipergunakan Lawrence—suatu arti, sama sekali tidak diartikulasikan, dari sesuatu yang di bawah, berusaha untuk menerobos.”

Puisi lain Obama berjudul Hari-hari Sekolah. Puisi alit ini berbicara tentang kesempatan mengenyam pendidikan bagi orang Afro-Amerika di Amerika Serikat, yang tentu saja mesti disyukuri. Betapa pun, pendidikan merupakan hak asasi manusia yang mesti dijamin. Namun, sejarah perbudakan AS selama ratusan tahun telah mengingkari hak dasar itu. Pendeta Jesse Jackson, misalnya, diseret ke penjara hanya karena membaca buku di perpustakaan, apatah lagi bisa mengenyam pendidikan secara sistematis di sekolah.

Kita tidak tahu berapa jumlah puisi yang pernah digubah oleh Obama. Dalam sebuah wawancara, Obama mengaku masih mempunyai sedikit waktu untuk menulis puisi. Namun dari kelima puisinya di atas, kiranya kita memang bisa menabalkan Obama sebagai penyair.

Sungguh pun begitu, Harold Bloom, pengajar sastra Universitas Yale, mengatakan bahwa Obama telah memilih karier yang tepat, sedikitnya jika muncul suatu pilihan di antara politik dan penyair.

Terhadap kepenyairan Obama sendiri, Bloom berujar, “Secara keseluruhan, sayangku, tidak mungkin. Masa depanmu bukan sebagai seorang sastrawan. Tetapi dalam perhatianku, puisi-puisinya sama sekali tidak akan memperlihatkan yang memalukan padaku.”

Iwan Nurdaya-Djafar, budayawan

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo