Langsung ke konten utama

Bekas Pengarang

Kurniawan Junaedhie
http://www.suarakarya-online.com/

Hamid Hamaluddin, biasa dipanggil HH, meradang, ketika tahu naskahnya dikembalikan redaksi suratkabar. Kalau sekadar cinta ditolak, mah, biasa. Tapi soal ini? Lihat saja. Mukanya merah padam. Giginya gemeletuk. Darahnya mendidih. Terdengar suaranya menggeram-geram seperti singa yang mencabik-cabik mangsanya. Naskah yang dikembalikan redaksi itu disobek-sobeknya, lalu dicampakkan ke lantai dan diinjak-injak. Itulah kenanganku terhadap HH berbelas tahun lalu.

Sebetulnya tak jelek-jelek amat reputasi HH. Pertemuan kami terakhir adalah saat kami berdua membaca puisi di Teater Arena TIM, atas undangan Dewan Kesenian Jakarta beberapa belas tahun lalu. Beberapa bulan setelah itu, kudengar dia menikah dengan seorang wanita bule. Dan sejak itu, kudengar dia ikut istrinya pindah ke Belanda.

Sesekali kubaca sajak-sajaknya dimuat di majalah terkemuka, dan di beberapa suratkabar di Jakarta. Tapi selebihnya, kawanku HH ini seperti hilang digulung ombak. Namanya tak lagi terdengar. Tak banyak pengarang masa kini yang kenal namanya, kecuali teman-teman seangkatannya seperti aku.

Tidak kusangka, ketika aku jalan-jalan di sebuah mal di Jakarta, aku bertemu dia. Tadinya aku pangling. Kukira Syafrial Arifin, penyair asal Minang yang biasa nongkrong di TIM. Tapi dari caranya tertawa, seri wajahnya tak mungkin kulupakan. Bedanya, dia makin bersih, gemuk, dan rambutnya semakin putih. Dan waktu kutanya apa pekerjaannya kini, alamak, rupanya dia sekarang menjadi anggota parlemen.

Setelah bertukar nomor handphone, kami berpisah. Beberapa hari kemudian, ketika dia membaca karanganku di sebuah media, dia menelponku. Kami janjian bertemu. Awalnya aku minta ketemu di TIM saja. Tapi di luar dugaan, dia tidak mau. “Jangan bawa aku bernostalgia,” katanya sengit.

“Kita cari suasana lain sajalah,” katanya.
HH memilih singgah di Plaza Semanggi, dan masuk ke sebuah kafe. Dia pesan Blueberry Juice dan aku dengan sigap pesan kopi hitam panas. Karena kami sama-sama belum makan siang, dia pesan Tomodachi Beef Steak dan aku (setelah melihat-lihat daftar menu dengan susah payah) memilih: sop buntut saja. Sambil makan, kami bercerita tentang macam-macam hal termasuk, nasib kepengarangannya. Aku bertanya, kenapa karya-karyanya sekarang tak pernah kubaca lagi di media massa, dan apakah dia masih berkarya mengingat puisi-puisinya seingatku sangat bagus dan dipuji banyak kalangan.

“Aku sudah menanggalkan mimpi menjadi pengarang, Bung.” HH tertawa. “Bukankah namamu sudah dikenal oleh mereka?” tanyaku sambil menuang gula ke kopi tubruk yang di kafe itu dibilang sebagai hot black coffee.
“Terkenal buat siapa?” sembur HH, sambil meludahkan ampas kopi di pisin.

“Jangan suudzon, kawan. Cobalah kau kirim lagi.” “Pokoknya aku sudah tak mau menulis, Bung,” katanya. “Aku sudah berhenti dari dunia kepengarangan, tepatnya sejak dunia kepengarangan kita dipenuhi kolusi dan nepotisme,” katanya dengan nada masgul. “Kau tahu kenapa Buku Kumpulan Cerpen Si Polan diterbitkan oleh Departemen Kehutanan? Kenapa puisi-puisi Si Pailul bisa tampil di Suara Hariana? Kenapa cerpen-cerpen Si Polan bisa dimuat di koran Rompas? Dan kenapa Goenawan Suwigno mau menulis kata pengantar di buku kumpulan cerpen Badu Hasan?”
Aku menggeleng.

“Ah naif amat kau ini. Ya, tentu saja, karena mereka sudah saling berkenalan. Ada yang berkenalan karena satu gang dalam sebuah organisasi, ada yang karena sering bertemu dalam acara-acara sastra, ada yang sering bersurat-suratan dan macam-macam. Sedang aku dan para penulis pemula itu siapa yang kenal? Para pembuat keputusan di media itu tak tahu namaku. Kami tak pernah ngobrol dengan mereka. Aku tak suka menjawab email, tak ikut Facebook atau Twitter-an.”

“Bukankan mereka punya nama-nama besar karena karangan mereka memang hebat?” “Bung,” kata dia lagi seperti menyesali kenapa aku harus menjawab. “Sebetulnya aku ingin mengungkapkan rahasia besar yang selama ini kupendam kepadamu.”

“Oya?” tanyaku ingin tahu.
“Sedikit-dikitnya ada lima jenis pengarang di Indonesia,” katanya sembari membuka telapak tangan kanannya dan mengeluarkan ibu jarinya seperti mengabsen.

“Yang pertama adalah jenis pengarang populer. Cirinya, karya mereka hampir tiap minggu dimuat di media massa, dan secara periodik menerbitkan buku baru. Kenapa mereka bisa begitu? Mereka adalah jenis yang menurut Seno Gumira Adjidarma disebut ‘manusia pergaulan’. Mereka kenal dengan hampir semua redaktur sastra, dengan cara apa saja, hanya agar karyanya mudah dimuat. Dalam kasus lebih ekstrem, pengarang oportunistik seperti ini pintar menjilat, menyogok redaktur, atau kalau perlu mengupah juri-juri lomba agar karyanya dimenangkan dan dinobatkan sebagai sastrawan besar. Sayangnya, karya-karya itu ditulis dengan semangat kejar tayang, sehingga mereka menulis secara ngawur, tergesa-gesa, terkantuk-kantuk, tanpa permenungan sehingga karyanya tidak memiliki kedalaman sehingga dunia tidak bergeming. Semboyan mereka, asal eksis dan narsis.”

Aku ternganga. Tak percaya aku melihat HH berkata seperti itu. Padahal rasanya, belum lama dia menjadi seniman militant di TIM. Ya beberapa puluh tahun lalu, kami memang seperti berumah di TIM. Bahkan rasanya segala sudut di pekarangan TIM itu tahu betul seluk beluk kami, siapa kami. HH, misalnya, setiap hari berdeklamasi di halaman belakang gedung IKJ (waktu itu LKPJ) untuk, katanya, mengasah perasaan dan menghaluskan budi bahasanya. Setiap hari kami juga nongkrong di warung-warung di pinggir Jalan Kalipasir. Kagum melihat Sutardji Calzoum Bahri. Dan saat itu HH pengen benar mengalahkan dia. Karena menurut pendapatnya pada waktu itu, semakin eksentrik kita maka semakin orang kagum pada kita. HH sepengetahuanku waktu itu juga kagum pada orang-orang yang suka mendebat dalam acara diskusi seperti Kamsudi Merdeka. Karena menurut hemat dia, orang yang pandai mendebat, akan dihargai orang.

“Dan sekarang pengarang jenis kedua. Mereka adalah kelompok pengarang yang tidak pernah melakukan apa-apa. Tak punya karya, tapi berpikir pun tidak. Tak ada buah pikirannya yang mewarnai khasanah sastra kita. Tapi menariknya, pengarang jenis ini tampil di mana-mana, hadir dalam acara apa pun dan muncul dalam event mana pun. Hahaha. Nah ini yang ketiga. Mereka adalah pengarang yang senangnya berpikir sampai jidatnya berkilap. Kerja mereka cuma berdebat melulu. Di mana-mana dia senang mengajak kita berdiskusi. Mengkritik, mencerca, dan melecehkan. Seperti pengarang jenis kedua, mereka pun tak pernah menghasilkan karya.”

“Yang keempat adalah jenis pengarang yang bisanya hanya menulis. Dia tak senang berdiskusi. Selalu menghindar untuk berdiskusi. Pengarang jenis ini tentu saja tak pernah muncul dalam acara diskusi. Banyak hal menjadi penyebabnya. Bisa jadi dia memang tidak cerdas, pikirannya dangkal karena mereka tak suka membaca buku. Tapi bisa jadi, karena mereka ditakdirkan memiliki bakat alam.”

“Dan ini yang kelima. Yaitu jenis pengarang yang masuk dalam golongan bekas pengarang, tapi sekarang tidak mengarang. Mereka hidup dalam mimpi-mimpi masa lalunya. Pengarang jenis ini karena merasa senior, kerjanya menggurui.

Mereka selalu menekankan, betapa pentingnya kita belajar sejarah kesusastraan, dan sejenisnya. Bah, bukankah itu akal-akalan dia, agar kita mau membaca karangan-karangannya? Hahaha”
Aku termenung.

Aku merasa ciut. Aku mencoba menyeruput kopiku. Terasa hambar. HH menyalakan rokok untuk ke sekian kalinya. Aku memanggil penjaga kafe untuk mengganti asbak yang sudah penuh dengan asbak baru yang licin.

“Nah itulah rahasia yang ingin kusampaikan padamu,” katanya terbahak.

Sekarang kepalaku pening. Leherku kelu. Aku sudah merasa mau semaput karena caffein dari kopi tubruk itu mulai bekerja ditambah aroma nikotin yang mengharubiru. Cewek petugas cafe mendekatiku, berbisik, apakah aku mau menambah kopi lagi? Aku menggeleng.

Aku berdiri minta pulang. Tawaran HH untuk mengantar ke halte atau terminal kutolak, dengan alasan aku masih ada acara lain.

Sejak itu, aku tak lagi bertemu dengan HH. Aku hanya melihat penampilannya di layar televisi. Rasanya aku juga mulai tidak ingin bertemu dia lagi. Bagiku dia sudah bukan lagi seorang sahabat yang enak diajak bicara tentang daun, angin atau gemericik suara air. Sebaliknya mungkin saja aku juga bukan sahabat yang layak dia ingat, sehingga hilang pulalah namaku dalam ingatannya. Kami masing-masing dipisah dua benua. Tapi mimik HH yang marah waktu naskahnya ditolak redaksi tetap kuingat. Itulah kenanganku terhadap HH. Tidak mungkin kulupa. (Nama dalam cerita ini umumnya fiktif. Hanya sebagian yang benar)

* Cibinong, Bogor, 2010

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com