Langsung ke konten utama

Kembang Gula

Pranita Dewi
http://www.balipost.com/

SEMANIS-MANISNYA cerita, tidak semanis kembang gula. Rasanya begitu legit. Terasa dingin di bibir dan kemudian rasa itu menghilang ketika sampai di pangkal lidah. Manisnya memang sungguh berbeda, perpaduan antara manisnya madu dengan sari gula tebu. Seperti sarang laba-laba, jaringnya begitu halus, setipis awan. Hanya karena berwarna merah, aku menyebutnya gulali Jawa.

Pacarku menyebutnya arum manis. Dibawakannya dari kampung sebagai oleh-oleh, bikinan ibunya. Jajanan khas dari kotanya. Aku disuruh ke tempat kostnya, mengambil jajanan yang tidak pernah dia jumpai selama tinggal di Denpasar. Dengan nada sombong dia katakan sebagai tanda sayang. Tanpa seikat kembang, hanya di dalam bungkus plastik, agar wangi dan sawang-nya tidak cepat menyusut.

‘Makasih sayang, ini jajanan kesukaanku.’

‘Oh, kau sudah mengenalnya?’ dia keheranan.

‘Tentu.’

Aku mengenal jajanan itu sejak dua puluh tahun yang lalu, sewaktu kecil ketika duduk di bangku SD. Sepulang sekolah, bersama teman-teman kami beradu lari menghampiri penjual jajanan itu. Kakek tua penjual kembang gula selalu menunggu kedatangan kami, tepat jam dua belas, ketika terik siang menghujam kepala. Anak-anak yang masih lugu. Salah satu di antara mereka adalah aku.

‘Hahaha, kukira kau lahir tanpa masa kecil.’

‘Enak saja.’

Aku termasuk pelanggan setia. Setiap pulang sekolah, membeli kembang gula adalah kebiasaan. Semacam kewajiban, mungkin karena belum ada es krim atau es lilin, kami mengulum kembang gula sepanjang perjalanan pulang. Hal-hal yang paling menyenangkan, hingga kini hal itu terngiang di ingatan. Kembang gula adalah batas kebebasan, antara bermain dan pelajaran yang begitu membosankan.

‘Memang di kotamu ada perkebunan tebu?’

‘Apa pentingnya, semut tidak lahir dari gula,’ jawabku.

Tak kuteruskan bicara. Ingatanku masih tertuju kepada kakek penjual jajanan itu. Kakek pincang penjual kembang gula. Entah mengapa kembang gula berwarna. Padahal gula tebu itu berwarna putih. Aku dan pacarku tentu tidak mengerti sebabnya, karena jelas jajanan itu telah ada sebelum kami lahir. Mungkin ibunya tahu, atau kakek penjual jajanan itu. Namun kenapa tidak terpikir sebelumnya, pertanyaan ini muncul secara tiba-tiba.

‘Sudah kau tanyakan pada ibumu?’

‘Sudah. Jajanan khas Malang,’ jawabnya lugu. ‘Coba kau tanyakan kakekmu,’ dia meniru suara ibunya dengan mimik acuh. Tapi entah kenapa, tak aku pedulikan. ‘Enakan bikinan ibu!’ tambah pacarku.

Pacarku tidak lagi menceritakan jajan buatan ibunya, dia ingin berbagi tentang kampungnya. Kota kecil yang penuh dengan perkebunan tebu. Tentang pabrik tebu yang berada di tengah-tengah kota, diapit pondok pesantren. Pabrik itu didirikan sejak zaman dulu, yang dia dengar ketika pendudukan Belanda di Indonesia.

‘Kau tidak sedang menceritakan sejarah kemerdekaan kan?’

‘Ini tentang pabrik tebu di kotaku,’ jawabnya sambil meneruskan cerita.

Menurut mereka, tebu di sini berbeda. Gula yang dihasilkan lebih manis dan tahan lama. Hampir menyerupai manisnya madu lebah. Aku bangga, pacarku begitu mengenali kota kelahirannya.

‘Itu karena kasih sayang petaniku,’ candaku memotong ceritanya.

Dia hanya tersenyum, lalu melanjutkan cerita. Dulu kakeknya bekas mandor perkebunan tebu milik kompeni Belanda. Meskipun mandor, kakeknya hanyalah buruh. Tidak ada gaji yang cukup besar bagi seorang buruh. Yang kaya tetaplah tuan tanah. Tuan yang tanahnya disewakan ke Belanda untuk dijadikan lahan perkebunan.

Untuk menjadi kaki tangan kompeni, tentu bukan perkara yang mudah. Setiap hari, dia memeriksa perkebunan tebu itu dengan seksama. Dari daun, batang hingga ke akarnya. Ketika batang sudah mulai matang dan pelapah daun mulai merimbun, diadakan kepras untuk persiapan panen.

‘Seperti tumpek uduh?’

‘Mirip!’ sahut pacarku, tapi di Jawa kepras bukan ritual agama, melainkan pekerjaan beberapa buruh perkebunan memotong dan membersihkan bunga, daun atau batang-batang tebu yang dianggap mengganggu. Membersihkannya dengan sebilah sabit yang mereka bawa dari rumah. Kepras hanyalah kerja borongan yang kadang-kadang tidak terbayar. Sebab, tuan tanah tidak pernah tahu, mereka jarang turun ke perkebunan untuk melihat kerja para buruh.

‘Termasuk tuan tanah yang di tempatmu?’

‘Terkecuali dia.’

Dia orang baik. Laki-laki diplomatis. Membenci penjajahan Belanda, tapi tidak menolak kemajuannya. Kakek pacarku menjadi mandor di perkebunan atas rekomendasi dari tuan tanah itu. Jadi mandor sekaligus mata-mata para pejuang, memperebutkan kemerdekaan. Selain seorang pejuang kemerdekaan, tuan tanah itu orang yang pintar, lulusan pendidikan Belanda. Hal itu pula yang membuat pihak Belanda tidak pernah curiga bermitra dengannya.

Revolusi pecah, tercapai kemerdekaan, keduanya dianggap pahlawan. Pasca itu, pengolahan pabrik tebu itu diserahkan kepada tuan tanah. Lalu dia ditugaskan oleh pemerintah untuk belajar pertanian ke negeri Cina, sedang kakek pacarku diangkat menjadi Komandan Resimen Brawijaya. Mereka menjadi kawan karib dan saling bertukar berita.

‘Sungguh beruntung nasib mereka’.

‘Tidak seberuntung dugaanmu!’

‘Maksudmu?’

Kemerdekaan tidak membuat suasana Indonesia menjadi tenang. Masih ada gejolak, malah lebih parah, konflik antar-pribumi. Sebuah peristiwa tragis. Pertentangan beda paham. Tragedi berdarah 65. Tragedi yang merusak persahabatan mereka. Kakek pacarku makin dikenal, sedangkan tuan tanah itu entah ke mana. Setahun sejak peristiwa itu terjadi, nasib tuan tanah itu tak pernah diketahui.

Kemudian pacarku melanjutkan cerita kakeknya. Suatu malam di sebuah perkebunan tebu, di selatan kota Malang, hujan belum juga reda. Bulir-bulir hujan seperti jarum-jarum yang jatuh. Menghujam lurus menembus pori-pori bumi. Dinginnya begitu gigil hingga tebal jaket tentara tak mampu menahannya. Malam itu suasana begitu riuh, namun terasa ganjil. Seperti malam tumpek uduh. Malam ketika para dewa memberkahi pepohonan tebu hingga memberikan sari gula yang paling manis, langsung dari surga. Sari gula yang diambil dari sari pati yang paling mumi. Legit namun anyir.

Kakek pacarku mendapat tugas menangkapi para buruh termasuk tuan tanah itu. Tanpa perlawanan, mereka dikirim ke perkebunan tebu. Entah mengapa, kakek pacarku tak pernah menolak tugas itu. Dia sendiri tak pernah paham kesalahan yang dilakukan oleh buruh-buruh perkebunan. Hanya cerita tentang pembangkangan terhadap negara yang dia terima dari sebuah telegram. Malam itu kakek pacarku tampak galau. Ada dilema di hatinya, sebab dia yakin teman karibnya tidak mungkin melakukan pembangkangan itu.

Tapi toh tetap saja takdir tak dapat dilawan. Tugas adalah kewajiban. Berkali-kali suara tembakan. Malam tak dapat ditolak. Kebun tebu ladang api, menjadi malam kepras yang paling pahit.
***

Malam ini langit penuh bintang. Aku berpamit pulang, pacarku mengantar sampai di teras depan. Temaram cahaya lampu kota mengiringi langkah-langkah datar, tiba-tiba gerimis jatuh, tapi tidak kuhentikan gerakku. Aku mulai teringat pada percakapan kembang gula. Sebuah cerita percakapan gulali Jawa. Percakapan yang belum tuntas.

Dalam rasa penasaran, aku melintasi jalanan basah sendirian di sepanjang trotoar sekolahku dulu. Di sudut gang kecil, tempat di mana aku pertama kali mengenalnya, seorang kakek tua penjual kembang gula.

Sudut jalanan telah sepi. Tanpa kekasih atau kakek tua penjual kembang gula itu. Hanya igauan sendiri, aku dan rasa penasaranku. Dalam kegamangan, pandanganku tertuju pada sebuah ujung gang jalanan, aku melintasi pelan. Di ujung jalanan yang basah karena hujan itu, seperti terlihat sosok tua yang masih menawarkan sesuatu.

Kakek tua yang tak asing bagiku. Tak banyak perubahan di dalam dirinya, kecuali uban yang banyak tumbuh di kepalanya, terurai acak, tidak beraturan seperti kembang gula. Namun tentu tidak serupa, sebab kembang gula itu berwarna merah, sedangkan uban yang tumbuh di rambut kakek itu berwarna putih logam.

Dalam gelap malam, begitu menyilaukan. Aku menghampirinya. Menawar sesuatu, tapi bukan tentang jajanan itu. Sebab kini, dia kakek tua penjual cerita. Pendongeng mimpi-mimpi. Aku mulai bertanya tentang tebu. Dia terdiam sebentar, menghela napas, lalu mengucapkan kata. Cerita kembang gula, tentang seekor anjing kecil. Cerita yang menarik, awalnya terdengar lucu. Meskipun begitu, tidak sepenuhnya dapat kumengerti. Hanya tokoh anjing yang membuat cerita ini tampak seperti fabel masa lalu. Cerita yang mencoba memutar sejarah yang belum sempat tertulis pada buku-buku.

‘Anjing yang mati dan lahir dari kembang gula.’ Aku cari maksudnya. Mendengarkan cerita dengan seksama. Membaca kata dalam gerak bibir. Cerita malam itu, malam para pemburu sedang berpesta kembang gula. Di tengah ladang tebu yang membara. Malam bagi anjing pincang sebab satu peluru menembur kaki kirinya. Malam ketika popor senapan menyobek wajahnya. Dari senapan pemburu yang dikenalnya. Dari pemburu yang kemudian memberikan jaketnya. Pemburu yang galau. Satu buruan dilepas. Getah tebu tak lagi pekat. Ada yang renggang, ada yang hilang di tengah malam. Dalam cerita kembang gula.

Aku tersentak. Mungkinkah dia orangnya? Terlintas wajah pacarku. Samar-samar membentuk wajah kakeknya. Lalu mengabur di mataku, dalam rinai gerimis yang semakin menipis. Menarik otot retina, menusuk akar gigi, meninggalkan ngilu di gisi. Manisnya hanya sesaat. Menipu seperti kembang gula.

‘Ah! Sepahit-pahitnya cerita, tidak ada yang melebihi pahitnya cerita kembang gula.’

Catatan:
Sawang = jaring laba-laba.
Kepras = pemotongan bagian-bagian tebu yang dianggap mengganggu.
Tumpek uduh = ritual agama Hindu di Bali sebagai upacara berbagai macam tanaman agar dapat tumbuh subur.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo