Gerakan “Kama Sutra” Buku

Misbahus Surur*
http://www.jawapos.com/

Kapan kegiatan membaca dianggap sebagai suatu pekerjaan yang bergengsi, yang bukan sekadar untuk mengisi waktu luang saja. Dan orang yang tidak doyan membaca dianggap sebagai orang yang tidak gaul. Mungkin hal tersebut tidak akan jauh dari angan bila kebiasaan membaca, minimal menjadi ikon bangsa yang punya kehendak untuk maju ini. Realitanya, belum banyak orang yang sadar diri untuk segera mengintimi buku. Gairah membaca belum membudaya apalagi menjadi menu sehari-hari kita. Ah, betapa menyenangkannya andai prototipe sebagai bangsa literal melekat pada jati diri bangsa ini.

Kita boleh berbangga, para penulis kita tidak sedikit yang mendapat pengakuan dunia. Nama-nama seperti Ir. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Gus Dur, Cak Nun, Pramudya merupakan sedikit diantara sosok penulis yang tidak hanya tenar di dalam negeri, tetapi pemikiran mereka telah menjadi produk Indonesia yang jauh lebih banyak dikonsumsi masyarakat luar negeri tinimbang oleh bangsa sendiri. Ir. Soekarno misalnya, adalah seorang tokoh yang pernah menjadi idola di kepala presiden Lybia, Khadafi. Buku-buku Pram misalnya lagi, sejak beberapa tahun lalu telah menjadi konsumsi bahkan bacaan wajib masyarakat luar negeri seperi Malaysia, Jerman, Perancis dan sebagainya. Hal itu tak sebanding dengan apresiasi beberapa bukunya di dalam negeri, yang berulang kali mengalami pembredelan.

Patutkah bila kita tenggelam dalam kesenangan dan romantisme semu atas apa yang telah dicapai pendahulu kita itu. Kita seharusnya tak melupakan ketajaman berfikir dan kepiawaian mereka. Kita tidak boleh lumpuh dan bebal untuk meniru gaya hidup mereka yang tiap jamnya berkawan dengan buku dan bercanda tawa dengan tulisan. Karena kita masih belum terlambat untuk menapaki jejak mereka.

Untuk memompa gairah dan semangat membaca, sepertinya kita layak menengok teori Barthesian mengenai teks (bacaan) dan bagaimana membaca. Teks yang selama ini sering diasumsikan sebagai tulisan/ barang yang telah jadi, ternyata tidak dikonstruk demikian dalam pandangan Barthes. Kalau melihat arti kata teks, texere, yang dalam bahasa Yunani diartikan sebagai sebuah rajutan, dimana fenomena teks ternyata dianggap sebagai barang setengah jadi. Walaupun dalam pandangan kita hal tersebut telah selesai dikerjakan; dalam arti, telah selesai penulisannya.

Dalam buku, The Pleasure of The Text, Barthes mengatakan, bahwa tulisan yang kamu tulis harus membuktikan bahwa teks tersebut memancarkan gairah atas saya (ST. Sunardi, 2004). Maksudnya adalah semangat untuk mengintimi (membaca) teks. Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang dilakukan Barthes. Pertama, Barthes mendekati teks sebagai sebuah desire, kedua, ia membedakan antara bacaan dan tulisan, dan ia menganggap bahwa tulisan adalah kamasutranya bahasa. Dimana teks yang menggairahkan pembaca tersebut, ia sebut sebagai tulisan.

Mengapa kita tidak mencoba membangun sebuah hubungan yang intim dengan teks (bacaan). Mengapa hal ini sempat terlupakan. Padahal, sebuah keintiman tidak harus selalu dibangun atas materi yang bernyawa, tetapi juga dengan yang tak bernyawa (buku). Dalam teori kamasutra bahasa, Barthes membicarakan bagaimana kenikmatan membaca dan mengintimi sebuah teks.

Dalam berbagai ranah kenikmatan adalah puncak segala aktivitas. Begitu pula dalam teori teks, kenikmatan secara epistemologis menduduki tempat sentral. Sebuah kenikmatan di samping kadang bertentangan dengan produksi pengetahuan pada zaman klasik, juga menjadi jalan utama menuju pengetahuan pada zaman modern.

Teks merupakan sebuah jalan untuk mengalami desire. Kegiatan menulis (E’criture) merupakan jalan memproduksi teks. E’criture menjadi titik temu antara pembaca dan teks. Di sinilah kenikmatan cita rasa teks benar-benar dapat dirasakan pembaca. Karena hubungan dialektis antara pembaca dan teks ditempatkan dalam hubungan desire (saling mengingini dan saling menggairahkan). Bukan berarti menancapkan nuansa desire pada teks, dikarenakan teks tersebut berbicara tentang desire dengan kapasitasnya yang bernuansa cabul, melainkan bagaimana keberadaan suatu teks hanya bisa dirumuskan dalam kategori kenikmatan (desire) semata.

Setiap pembaca pasti pernah merasakan bagaimana kenikmatan sensasi membaca. Bagi yang punya peran besar dalam kegiatan membaca, tak jarang kita mendengar kata-kata seperti, ”Saya tidak faham dengan karya ini” atau ”Karya ini begitu berat” ataupun ”Karya ini sangat menguras pikiran saya”.

Membaca sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan makna (the meaning). Dengan begitu kegiatan membaca terasa kurang bermakna bila tak dapat menemukan makna. Walau begitu, kita harus tetap membaca, karena makna pun kadang tidak langsung kita temukan seketika itu juga. Sebab, ketika membaca, kita kurang punya sense of curiosity, yaitu sifat keingintahuan yang mendalam. Untuk itu, sense of curiosity seharusnya selalu dibangun tiap kali kita melakukan kegiatan membaca. Walhasil, kegiatan membaca akan selalu terasa menyenangkan & tak pernah mengalami rasa puas.

Jika konsep teks masih merupakan sebuah rajutan yang belum selesai, maka kegiatan membaca yang kita lakukan bukan lagi sekadar membaca dalam arti mengonsumsi teks. Tetapi juga memproduksi teks baru dari sumber bacaan yang telah lewat. Jadi, beberapa ungkapan ”absurd” di atas, hanyalah alasan bagi orang yang tidak dapat menemukan makna pada sebuah opus (karya) di hadapannya. Karena ketika kita telah dapat menemukan makna, sebenarnya baru terasa bila desire itu benar-benar ada. Sebuah buku pun akhirnya mendadak bisa menjadi kamasutra.

Kita juga harus selalu percaya bahwa tulisan yang kita baca tidak hanya menyimpan rentetan kata-kata kosong belaka. Lebih dari sekadar itu, ia memberikan sebuah kenikmatan jiwa, membangun keindahan hidup dan yang pasti selalu memberikan porsi yang bergizi untuk kecerdasan otak kita.

*) Pustakawan tinggal di Malang.

Komentar