Perjalanan Sastra Anak di Indonesia

Fadmin Prihatin Malau
http://www.analisadaily.com/

Teringat dua puluh tujuh tahun lalu, ketika penulis masih aktif menulis cerita anak di halaman Taman Riang Analisa Minggu Medan, ada sesuatu yang tidak bisa dilupakan. Menulis cerita anak, tidak semudah yang diperkirakan banyak orang.

Ada beban ketika menulis cerita anak. Bukan sekadar menulis cerita, bagaimana agar anak-anak yang membaca cerita itu senang, juga mampu memberikan edukasi (pendidikan) kepada anak-anak yang membaca cerita itu. Abangda (alm) Bouy Hardjo selaku redaktur halaman Taman Riang Analisa Minggu Medan selalu mengingatkan, mengajari penulis agar menulis cerita anak, utamakan unsur mendidik ada di dalam cerita.

Banyak hal yang diberikan alm. Bouy Hardjo kala itu dan memang diakui tidak mudah menulis cerita anak, meskipun dirasakan menjadi penulis cerita anak kurang diperhitungkan sebagai penulis oleh para sastrawan kala itu, boleh jadi sampai kini.

Menjadi penulis cerita anak harus dapat menghayati sebagai seorang ayah (orang tua) yang bertanggungjawab penuh pada masa depan anaknya. Suasana bathin, harus total tampil sebagai orang tua yang mendidik anaknya, menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan Negara.

Tegasnya menulis cerita anak harus mampu menghasil satu cerita yang menarik. Enak dibaca anak-anak, mudah dipahami anak, ada dalam kehidupan anak sehari-hari. Anak yang membaca cerita, mendapat pencerahan serta bertambah wawasannya secara alam anak-anak. Menjadi memori dalam kehidupannya sampai dewasa.

Jujur sebenarnya, sejatinya sastra anak memiliki peran yang cukup penting dalam membentuk watak, karakter anak yang memengaruhi cara berpikir anak pada masa anak-anak sampai kepada dalam kehidupan si anak sampai menjadi dewasa. Fenomena ini jarang diperhatikan banyak orang, termasuk para sastrawan dan juga pemerintah Indonesia belum sepenuhnya melihat sastra anak bagian penting dalam mempersiapkan generasi mendatang sejak dini.

Perjalanan sastra anak di Indonesia dapat dikatakan kurang baik karena dari dahulu sampai kini, sastra anak hadir begitu saja. Anak-anak belum menemukan, merasakan adanya bacaan cerita anak yang menjadi pujaan para anak. Hal ini didukung pula dengan masih minimnya jumlah majalah, surat kabar dan kumpulan cerita anak, novel untuk anak yang beredar di Indonesia.

Peluang bisnis untuk cerita anak, cukup bagus. Hal itu terlihat dari animo anak-anak dalam menyari bacaan cerita anak yang ada di surat kabar pada setiap hari minggu. Begitu juga dengan majalah anak-anak, majalah keluarga dan wanita, selalu menyajikan cerita anak serta novel, kumpulan cerita anak yang dijual di took-toko buku.

Bila dilihat animo atau keinginan anak-anak untuk mendapatkan cerita anak yang baik kurang seimbang dengan hadirnya cerita-cerita anak yang berkualitas, sehingga apa yang diinginkan, yang dibutuhkan anak untuk mendapatkan bahan bacaan cerita anak yang baik dan berkualitas belum dirasakan anak-anak.

Belum Menjadi Perhatian

Sastra anak belum menjadi perhatian yang serius untuk tampil prima, meyakinkan tetapi masih memprihatinkan. Kurang diketahui secara pasti, argumentasi apa yang membuat banyak orang belum (tidak) memerhatikan sastra anak, termasuk juga pemerintah yang belum (tidak) menilai sastra anak bagian penting dari sebuah kebudayaan di negeri ini. Belum (tidak) melihat cerita anak dari dunia pendidikan anak, dari seni budaya bangsa, dari segi politik, ekonomi dan sosial bangsa.

Kurangnya perhatian kepada sastra anak dari berbagai kalangan, ada dugaan hasil warisan dari pemerintah kolonial Belanda yang pada zaman penjajahan, tidak menginginkan sastra berkembang leluasa, terutama sastra anak. Warisan penjajahan Belanda ini terus berlanjut ketika Indonesia sudah merdeka. Ada penilaian yang diwariskan Belanda kepada anak jajahannya, dunia anak bukan bagian penting dari peradaban budaya yang ada di masyarakat.

Warisan Belanda itu sangat melekat, meskipun Indonesia sudah merdeka, zaman sudah berubah, tetapi pola pikir belum juga berubah. Indonesia merdeka, masuk era orde lama (orla), berganti dengan orde baru (orba) dan kini era reformasi, sastra anak masih kurang mendapat perhatian serius.

Menurut Riris K Sarumpaet dalam bukunya “Bacaan Anak-Anak” (1976) menilai sastra anak di Indonesia masih memprihatinkan, belum diperhitungkan dalam dunia sastra, sehingga tidak hadir cemerlang para penulis cerita anak. Menurutnya sederetan nama penulis cerita anak, kurang berkibar dibandingkan dengan penulis yang bukan menulis sastra anak. Nama-nama penulis cerita anak seperti Toha Mohtar, Dwianto Setyawan, Julius Sijaranamual, F.X. Soesilo Moerti dan lainnya kalah pamor dengan penulis non sastra anak.

Fakta yang ada memang demikian, dapat dilihat para penulis cerita anak di media cetak (surat kabar, majalah) hampir luput dari para pengamat, kritikus sastra. Cerita anak yang hadir di media cetak berlalu begitu saja, apresiasi terhadap karya-karya sastra anak yang ada di media cetak jarang dibicarakan, seakan-akan tidak dinilai sebagai karya sastra pada hal kontribusinya sangat besar. Sastra anak memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan peradapan umat manusia pada masa kini, terutama pada masa mendatang.

Hal itu karena sastra anak memberikan kontribusi pada perkembangan emosional anak, intelektual, imajinasi, rasa sosial, membentuk kepribadian luhur, membangun kreatifitas anak, sehingga sastra anak yang baik, berkualitas berdampak multidemensi dalam kehidupan anak sekarang ini dan berlanjut pada masa mendatang. Sastra anak berperan penting membangun sumber daya manusia sejak dini, sehingga kehadiran sastra anak sejatinya tidak hanya sekadar hadir tetapi eksistensi sastra anak luar biasa dampak yang dihasilkannya.

Hal ini harus disadari semua pihak, dari orang tua, pendidik, pemerintah dan juga para sastrawan Indonesia bagaimana melahirkan sumber daya manusia masa depan yang kualitasnya lebih baik dari sumber daya manusia yang ada sekarang ini. Tidak hanya hadrnya sastra anak yang baik, berkualitas akan melairkan para sastrawan yang baik, berkualitas pada masa mendatang sebagai regenerasi sastrawan.

Perjalanan sastra anak Indonesia yang sejak zaman kolonial Belanda sampai kini sudah ada, tetapi hanya sekadar ada. Masa mendatang, kehadiran sastra anak tida lagi sekadar ada. Bagaimana caranya agar sastra anak tidak hanya sekadar ada, tetapi turut mewarnai khasanah sastra di Indonesia dan member kontribusi yang positif buat masa depan bangsa Indonesia maka sejak dini semua pihak peduli akan sastra anak.

Kepedulian terhadap sastra anak, sejatinya dimulai dari para sastrawan Indonesia untuk mau menulis cerita anak yang berkualitas, mengapresiasi setiap karya-karya sastra anak yang ada. Tidak menilai kehadiran sastra anak sebagai sesuatu yang kurang punya nilai. Hal ini tugas dan tanggungjawab semua sastrawan di Indonesia, termasuk yang ada di Sumatera utara. Mari menulis karya sastra anak yang dahulu sejumlah penulis pernah hadir di media cetak meramaikan khasanah karya sastra anak bersama dengan para penulis karya sastra anak yang ada sekarang ini.

sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=85801:perjalanan-sastra-anak-di-indonesia&catid=127:artikel&Itemid=150

Komentar