Surat buat Sahabat

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Sahabat yang baik,
Sudah lama kita tak jumpa, pertukar-pikiran dalam diam, seperti dulu ketika kita masih tinggal serumah di bilangan Billy Moon H1/7 itu. Dengan menanyakan kabarmu, saya mengingatkan suatu masa ketika kita asyik berdiskusi tentang ruang dan rumah. Mula-mula kau menyinggung ruang jalan; ruang dinamis, yang begitu cepat mempengaruhi relasi antarmanusia. Dinamika menjadi hal nyata. Di jalanan orang hidup seperti sopir yang awanama dan tak pernah bertanya apa kabar. Mungkin saja para sopir membentuk jaringan, kelompok atau organisasi persaudaraan, tapi dengan orang lain yang juga hidup di jalan, seperti pedagang kaki lima, becak, pejalan kaki, sering sendiri-sendiri: tak ada relasi antarmereka.

Kau mungkin belum lupa ketika kita sampai larut malam bercakap-cakap tentang mimpi Descartes yang melihat kamus dan puisi tergolek di atas meja, yang kelak dianggap sebagai nujuman kelahiran geometri ruang imajiner. Descartes menolak analogi sahidiah Aristotelan sekaligus menampik cinta Platonik. Tapi Francis Bacon, kita tahu, ternyata sangat mengagumi gagasan Descartes. Di penghujung tahun 1950, seorang filsuf muda Prancis, Gaston Bachelard, juga menulis buku tentang puisi ruang.

Gagasan Bachelard yang amat terkenal pada dekade itu, tertuang dalam sebuah semboyan yang tegas: apa pun pengetahuan dapat diekspresikan ke dalam geometri. Descartes dan Bachelard tak menampik gagasan Khawarizmi, ahli matematika dan asronomi Arab itu, ketika menyandangkan geometri dengan astronomi dan geometri dengan puisi.

pandangan Khawarizmi tentang algoritme dan geometri, kita tahu, betapa dahsyat hasilnya di tangan Omar Khayyam yang meletakkan batu sendi pertemuan ghazal Persia dengan geometri Arab. Di awal 1970, Ali Syariati bahkan menawarkan kembali ke geometri ruang dalam pemikiran Islam. Sementara kau, juga tak malu-malu untuk kembali ke struktur ruang dan bentuk-bentuk geometri. Meski sering dicemooh sekadar berkutat pada liang lahat yang sempit dan meniscayakan keterbatasan, kau terus mendaki puisi-puisimu dengan permainan geometris.

Saya memang merasa kesulitan ketika harus memahami kata-katamu yang aneh ini: ”aku adalah akar-akar persamaan x1 dan x2, engkaulah persamaan dengan akar-akar 2×1 dan 2×2. Aku ini binatang jalang dari himpunan yang kosong”.

Bagiku, kalimat semacam itu menarik dibandingkan dengan kalimat John Forbes Nash tatkala mengalahkan argumen Neumann: variietas aljabar berdimensi 6 sama dengan ruang berdimensi tujuh adalah singular, dengan sebuah titik singularitas di pusat koordinat: 0 0 0 0 0 0 0. Seberapa singularkah varietas berdimensi 6? Bagaimana derajat komparasi singularitasnya, di banding singularitas lain yang sejenis agar mendapatkan pembandingan yang baku?

Saya tak akan menemukan jawaban tanpa saya mencari jawaban di tempat lain. Matematika tingkat tinggi mungkin bisa memberikan isyarat atau bocoran terhadap singularitas dan enigmatis model puisi ruang imajiner. Saya terpaksa menghidupkan kembali Khawarizmi dan Omar Khayyam di sini, terutama tentang gagasan matematika dan astronomi dalam bentuk kaedah kos, sin, tan dalam trigonometri dengan menekankan sisi persamaan dalam puisi.

Sahabat yang baik,

Kalau di awal surat ini saya mencoba mengingatkan kembali rumah asri di Billy Moon itu, tentu ada alasan tersendiri. Rumah itu adalah pusat kembali. Pusat dari kehidupan bekas penghuninya; pusat eksistensi. Ruang dan tempat kita pulang dari persiran atau tualang. Pulang ke mahia dan cenayang untuk kemudian kembali sebagai yang dialami, sebagai milik kita sendiri. “Milik ialah tempat-diam: tempat di mana kita berakar”, kata seorang filsuf yang aku lua namanya.

Di rumah kita merasakan kenyamanan. Sebab di rumah kita merasakan adanya perlindungan dan keamanan. Tetapi, seperti nanti akan kau lihat, saya telah mengubah cara memandang puisi-puisimu; saya tidak lagi menekankan paham filsafat, entah bernama fenomenologi atau eksistensialisme, melainkan wawasan geometri ruang imajiner dengan kembali ke bentuk dan geometri. Goenawan Mohamad mungkin akan meyebutnya sebagi bahasa ruang yang meniscayakan keterbatasan dan sebuah ilusi geometris.

Apa boleh buat, daripada memburu dunia jauh nun di eropa dan barat sana tapi dengan hasil yang tak jauh beda dengan masuk ke ranah kepulauan Nusantara, lebih baik kembali menakik kedalaman di pedalaman sendiri. Dengan ini kita bisa mengekspresikan permainan geometri dan kebuncahan puisi, dengan tidak melupakan realitas sosial yang sedang menggejala.

Saya mengagumi setiap senti langkahmu di rumah yang penuh ukiran kayu dan pahatan orang-orang itu. Pernah suatu hari kamu mengajakku mendiskusikan film dokumenter garapanmu. Kalau tak salah judulnya “Tomato”. Saya lebih suka menyebutnya sebagai video puisi, bukan video dokumenter. Karena gambar-gambar dalam video itu selalu mengingatkan saya pada puisimu. Tak ada yang membuat saya seperti hidup dalam ketakutan yang sangat kecuali suatu hari ketika kamu memujiku sebagai kritikus film. Sejak itu kamu sering mengajakku menonton film-film baru.

Setiap kali kamu mengajak berdiskusi malam hari, aku rasakan sekujur tubuhku menggigil; tubuh yang dicekam ketakutan yang tak terkalahkan. Tanganku bergetar kuat seperti getaran tangan petinju yang siap melayangkan pukulan. Apalagi waktu itu saya mengidap penyakit gondok beracun. Badan semakin semoyongan, kian hari kian terlihat ringkih. Kaki seperti tak mampu menyangga tubuh. Saya menyadari bahwa matamu selalu awas terhadap perubahan di tubuhku.

Masihkah kau ingat saat kita mendiskusikan film yang dibintangi Russel Crowe, yang memerankan John Forbes Nash? Kau sengaja mengajakku untuk menonton film biografi tokoh eksenstrik yang mengidap skizoprenik yang ganasa itu. Lalu berpindah menonton film biografi Picasso yang dikerumuni perempuan. Aku menangkap igauan dan cerocosan yang menginginkan agar aku mengenal pribadimu sebagaimana aku mengenal John Nash—matematikawan yang hidup dalam api delusi yang mengambil alih setiap gagasan yang keluar dari akal budi tubuhnya itu.

Waktu itu aku tahu kau menyukai permainan geometris. Puisi-puisimu berhasrat ingin memasukkan sejumlah angka dan bilangan. Kamu bermimpi menghadirkan puisi ruang sebagai “1 sentimeter dari halaman rumah”. Dalam setiap kesempatan pertukar-pikiran, kamu sering melontarkan masalah ruang. Puisi ruang. Teater ruang.

Sebuah ruang, kataku suatu kali: seperti sebuah rumah di Billy Moon itu, yang menghadirkan suasana keakraban, penuh kerahasiaan dan kesunyian yang mencari tapi belum menjadi. Sudut-sudutnya, kamar-kamarnya, lotengngya, halamannya, begitu nyeni, begitu puitis.

Maafkan saya, teman. Saya tak ingin membiarkan komunikasi dalam diam berlangsung terus-menerus hingga semuanya jadi senyap. Saya harus memeras biografimu yang sangat pribadi demi surat upaya-kerinduan ini. Saya harus membeberkan cerita-cerita kita tapi tidak semuanya di sini, tidak juga tentang karya senimu yang dibalut oleh hutan rimbun imaji, permajasan yang berasal dari flora dan fauna.

Saya ingin memeras biografimu yang orang lain mungkin sudah tak menganggap penting lagi. Tapi saya ingin. Saya melakukannya karena dengan memeras biografi keenyairanmu, kamu tidak bisa lagi terus-terusan menjajah isi hati dan kepalaku. Sudah cukup aku terkurung dalam labirin orang lain. Saya sudah muak dengan keterasingan di tengah keramaiaan. Kini izinkan aku menumpahkan gebalau yang nonsens, keresahan yang terpendam bertahun-tahun dalam laci kenangan bersamamu.

Kalau boleh saya menyinggung ambisi di balik kulit luar puisi-puisimu, saya menangkap gelagat seorang seniman eksperimental, yang melukis dengan kata-kata di atas kertas, yang terang-terangan ingin meng-angka-kan kata-kata melalui perjumpaan puisi dan pemikiran. Kamu banyak bicara tentang ruang angka-angka dan waktu sebagai dimensi dasar eksistensi manusia. Sebuah ide yang agak konyol, bukan karena ambisi menjadi nihilistik, karena masih ada Tuhan yang disanjung dalam gelora cinta Platonik, melainkan hasrat terpendam untuk meng-geometrikan puisi tanpa mendalami matematika; gelora yang menggebu ingin menjadikan teater ke dalam bentuk geometri ruang tanpa mempelajari berbagai aliran geometri dan fisika—sekalipun tentang fisika kuantum.

Kata-kata pada sajak-sajakmu yang mengalir secara naratif dan terkadang melompat-lompat tanpa saling kait-merakit dengan kata sebelum maupun sesudahnya itu, muncul ke permukaan sebagai permainan ruang dan waktu geometris. Seperti Khawarizmi, Omar Khayyam, John Nash, atau seperti Gaston Bachelard, saya melihat hasratmu untuk menemukan bahasa pengucapan yang khas Malna—sebuah ruang dari dalam sebuah rumah dan “waktu adalah air”. Puisi dan naskah teatermu banyak menampilkan kata metrik atau gejala metrum.

Sahabat yang baik,

Saya baru menemukan dua penyair di negeri ini yang ambisinya nyaris mengalahkan dirinya sendiri: kau dan Tardji. Kalian berdua seperti berusaha kembali ke bahasa ruang yang meniscayakan keterbatasan. Tapi justru dengan masuk ke dalam bahasa ruang itu, kalian berdua saya anggap sebagai penyair yang penuh dengan kerendahanhati sekaligus penuh kewaspadaan.

Begitulah aku membayangkan. Aku kira Goenawan Mohamad salah sangka karena terlampau percaya pada puisi dan pencitraan ruang model Aristoteles. Dengan keras Goenawan mencemooh angka satu sebagai yang menipu, tapi yang banyak dan yang berbeda tak kalah menipu dirinya sendiri dengan diam-diam masih mempercayai argumentasi.

Sajak-sajakmu bukan hanya mengawang-awang dalam janji yang tak pernah ditepati. Saya menemukan sebuah permainan bahasa yang paling berlogika guna mengekspresikan hal ihwal serta berani mempertanggungjawabkan yang terbaik bahwa puisimu pada akhirnya bukan hanya mengandung filsafat dan teologi yang mesti bergelut dengan cari, dengan diskusi, argumentasi, dan sofistri (seperti Aristoteles).

Sementara puisi Tardji, kerapkali menampilkan jenis puisi yang paling gigih memperjuangkan kebenaran sastra dalam arti resistensi dengan cara berbeda denganmu. Kalian berdua memunculkan puisi sebagai pemberontakan terhadap tirani kitab suci. Puisi Tardji kini memang tak lagi mengungkai keliaran diksi dengan harkat yang meledakkan senyawa keluar ( eksplosion); melainkan masuk dalam kontemplasi yang hening dan bening, dan secara kuat menampilkan puisi sebagai alusi kitab suci. Tardji menjadi ikon puisi nenek moyang Melayu dan sudah dimitoskan oleh sesama penyair dan seniman. Penyair tanpa pengikut ini melakukan perlawanan terhadap para pendahulunya langsung ke dalam puisi. Dan puisi-puisinya bukan sekadar memperkaya kritik sastra, tapi juga memperkaya lema, logat, diksi dan parafrase.

Mereka yang masih menganggap pada mulanya adalah kata, dikritiknya dalam puisi ”Gempa Kata”. Mereka yang memandang sebelah mata pada pantun, ia mengayunkan kapak dengan mempermainkan sampiran dalam larik pantun, lalu mengubahnya, menjadikannya sesuatu yang lain sama sekali untuk dimiliki sendiri. Mereka yang masih percaya pada kekuatan semantik, kode leksikal, dihajarnya melalui—mengutip frasa yang sering kau gunakan— ”perang kode” sekaligus ”memerangi kode” untuk melintasi ”lorong gelap dalam bahasa”.

Sebagai penyair yang kritis, kalian berdua masuk ke dalam sabda Tuhan yang tertulis dalam kitab suci melalui tafsir puisi dalam permainan, yang mempersoalkan kebenaran kitab suci yang selama ini dianggap mapan atau sengaja dimapankan untuk kepentingan kekuasaan. Dalam melakukan perlawanan terhadap klaim kebenaran kitab suci, Tardji dalam esai ”Puisi dan Pertanggungjawaban Penyair” membalikkan secara total kesan negatif penyair dalam Qur’an dengan menghadirkan sejarah positif. Gaya over-reading ini menampilkan perlawanan yang paling berani dan sering ditabukan oleh mayoritas umat yang mempercayai kesucian sabda Tuhan dalam Qur’an. Dari kebenaran sabda menemukan dirinya dalam kebenaran tafsir untuk menampik takwil yang dijaga oleh register kitab suci.

Bila puisi diibaratkan sebuah wisma yang pintunya terbuka leluasa ke dalam maupun ke luar, maka puisimu menjelma sebagai suatu pangkalan, suatu titik-tolak, dari mana pengembaraan dapat dilakukan dan kembali hanya untuk mencari kunci pembuka terhadap Tuhan yang satu. Bahwa kamu punya memori, yang mirip sebuah kelambu yang tutung, tak bisa dipungkiri. Tapi kelebihanmu justru akan terlihat ketika kamu datang untuk menyelamatkan orang di dalamnya.

Apa yang kamu lakukan dalam puisi, kalau boleh aku menebaknya di sini: menemu kunci untuk menafsirkan kembali apa yang telah dikukuhkan sebagai satu adalah satu. Jika ada kerinduan terhadap hal-ihwal yang mengandung puspa pertanyaan yang mencemaskan, yang mencoba ”melakukan perlawanan sendirian terhadap makhluk kebiasaan yang bergerombol” itu, maka puisimu telah menjelmakan apa yang dulu kamu sebut sebagai ”waktu adalah air”. Dan juga: ”waktu adalah ladangku”, bukan ”ladangku adalah waktu” (Goethe).

Kau meneriakkan frasa: “panjanglah usia kematian” untuk menangkis “aku ingin hidup seribu tahun lagi” (Chairil). Dalam puisimu, selain pandai memparafrasekan perlawanan dalam diam, juga saya menemukan aneka warna diksi yang cantik seperti ini: ”hiduplah orang-orang lain bersama kita”, ”beri aku kekuasaan”, ”abad yang berlari”, ”hantu sensual”, ”takhta di usat bahasa”, ”lubang dari separuh langit”, ”lorong gelap dalam bahasa”, ”tubuh yang menolak dikekang oleh lemari pakaian orang lain”, dan puluhan diksi lain yang menohok kekuasaan—baik kekuasaan dalam arti ekonomi-sosial-politik maupun kekuasaan budaya dan sastra.

Saya tahu kamu hidup dalam kesendirian dan kesunyian di tengah-tengah histeria kaum miskin kota. Tapi karena itu kamu meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke berbagai pelosok dan pedalaman. Kamu telah mengukuhkan diri sendiri sebagai manusia avonturir yang selalu berada dalam tegangan dua badan. Kalau boleh saya mengandaikan kamu sebagai sosok Li’L Zê dalam cerita kota tuhannya GM—maka maaf kan sebelumnya jika pertanyaan ini tak berkenan: ”bagaimana kamu akan keluar dari labirin orang miskin kota yang telah berjalan dengan narkotik, kekerasan, tanpa memberinya kekuasaan dan kebebasan?”

Justru karena kamu tak ingin menjawab itu, saya ingin mengatakan: di perkampungan kumuh di kota Rio Jeneiro bukan hanya ada seorang bos lorong hitam bernama Li’L Zê, tapi juga seorang Chico Mendez. Di sekitar permukiman kumuh rakyat miskin kota Jakarta tak hanya ada orang-orang Tomy Winata, Tomy Maut, tapi juga seorang Wardah Hafidz.

Sahabat yang baik,

Pertemuan dengan sejumlah karyamu telah mengantarkan aku masuk ke dalam dunia yang keras dan nyaris menghabiskan individuku. Tanpa perjumpaan denganmu, saya mungkin tak pernah bisa mencecap pengalaman hidupmu. Saya bisa mengenal secara dekat karya senimu yang melintasi ruang dan waktu yang selama ini membelenggumu. Dengan menghadirkan kedalaman puisi ruang, teater ruang, seni instalasi yang tak menahan diri, dan video puisi yang menampilkan pikiran gambar, justru mengantarkan kamu mendekati ke jarak 1 sentimeter di bawah pohon lotus pada batas terjauh.

Mungkin ini kedengaran berlebihan. Lebai. Atau memuja ria, atau memitoskan kamu seperti para kritisi memitoskan Tardji. Tapi bukan semua itu maksudku. Aku justru ingin memeras karyamu tapi nyaris hanya menemukan cangkang yang isinya telah diperas habis oleh dirimu sendiri.

Aku bukannya tak membaca dan menonton karyamu. Di bagian lain aku menuliskan hasil pertemuan dengan puisi dan pemikiranmu. Apa yang telah aku peroleh dari perjumpaan yang melalahkan itu? Kedalaman kemaknaan? Hidup yang lebih menggairahkan?

Tidak, kawan. Aku tak memperoleh apa-apa kecuali menambah kebingungan dan makin menegaskan betapa cerobohnya untuk menyimpulkan karya senimu sebagai ini dan itu. Terima kasih wahai si pemuja “menara epistemologi tanpa telinga”, kamu yang menyukai kata sambung ”dan” serta perbandingan seperti, telah memberikan buku-bukumu kepadaku dan menyuruhku untuk terus membaca. Walau sesungguhnya aku tahu bahwa kamu masih kekurangan buku—di lemari kamarmu kulihat tak sampai lima puluh buku tergeletak berdebu, sementara koleksi buku yang aku miliki hampir mendekati seribu buku.

Karyamu telah mempesonaku karena karya-karya itu menghadirkan pikiran dalam sosok gambar-gambar yang bergerak. Beberapa kali aku memergoki gagasanmu dalam puisi-prosa-dan naskah teater yang sangat dekat dengan motif mitos yang pernah diangkat Levi Straus, perang kode dan memerangi kode, foto-fotografi-visualisasi, yang sangat dicintai Barthes di penghujung hayatnya itu. Begitu juga soal fusi dan difusi serta simulasi, sangat dekat dengan gagasan Baudrilard. Aku tahu kamu tak pernah membaca karya-karya mereka dan kalau pun sempat membaca kamu hanya membaca tanggung dan itu layak disyukuri karena kamu telah mensejajarkan diri dengan para empu itu.

Apakah karyamu sebuah pastiche? Dipengaruhi? Mungkin ya. Tapi para kritisi justru tak melihat wawasan geometrik dan gagasan yang muncul secara visual sebagai bakat paling menonjol dalam dirimu. Apalagi menangkap puisi sebagai sebuah gambar dalam pikiran atau pikiran gambar. Puisimu muncul dari ilham dan mengilhami setiap langkahmu. Ilham yang datang dalam bentuk benang-benang intuitif yang kusut dan mesti ditenun menjadi satu. Impianmu yang “ingin menemui jejak waktu di dalam teater” dan “waktu adalah air, seperti sungai mengalir”, justru tak membuatmu terbelenggu oleh ruang dan waktu.

Saya mengagumi sebuah ceritamu tentang Asia: “Asia membaca, Asia yang mulai mewarnai dinding kapal dengan cerita masa kanak-kanak, pulang ke kampung halaman, memasuki pemakaman dengan semangat untuk hidup dengan siapapun, lalu berteriak di tengah pemakaman: ‘Hai, bangkitlah mayat-mayat. Keluarlah dari perut bumi’. Lalu tiba-tiba matahari menjadi dua. Satu di Barat satu lagi di Timur. Asia mau menangis menceritakannya. Kepala dan bibirnya mulai goyang. Orang harus keluar dari mekanisme rutin untuk menemui dunia pagi ketika fajar baru merekah dan dunia senja ketika matahari akan tenggelam, yang berlangsung pada saat bersamaan …”

Dengan membabarkan kembali esai “Teater Dan Keluarlah Dari Lemari Pakaian Orang Lain” itu, saya mesti menutup surat upaya ini sampai di sini.

Tanjungkarang, 2010

Komentar