Langsung ke konten utama

Kebohongan di Dalam Buku

Djoko Pitono
http://www.jawapos.com/

Sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir Herman dan Roma Radzicky Rosenblat hidup bak selebriti. Entah berapa puluh wartawan media cetak dan elektronik mewawancarai pasangan Yahudi lanjut usia itu dan menayangkan hasil wawancaranya. Semua orang terpesona pada kisah cinta mereka yang digambarkan tumbuh saat keduanya hidup di kamp konsentrasi Nazi, Buchenwald, Jerman.

Bagaimana tidak? Dalam kata-kata Herman Rosenblat, dirinya bertemu Roma saat gadis itu sering melemparkan apel dan roti kepada dirinya di bangunan kamp di sebelahnya yang dipisahkan pagar kawat berduri. Setelah perang usai, keduanya terpisah lama hingga bertemu kembali secara tak sengaja di New York, lalu berpacaran, dan menikah pada 1958.

Begitu menariknya kisah berlatar Holocaust (pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman) itu hingga pasangan tersebut bisa tampil sampai dua kali dalam acara televisi tersohor Oprah Show yang dipandu Oprah Winfrey. Tak kurang, Oprah pun memuji kisah pasangan itu sebagai ”salah satu di antara kisah cinta nyata paling dramatis yang pernah diungkapkan”.

Kisah Herman dan Roma juga telah diabadikan dalam bentuk buku bergambar untuk anak-anak. Buku berjudul Angel at The Fence (Malaikat di Balik Pagar) tersebut telah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan dicetak jutaan kopi. Buku memoar mereka juga telah dicetak oleh Penerbit Berkley, anak perusahaan Penguin Group (USA), dan siap beredar Februari 2009. Sebuah film juga sedang digarap oleh Harris Salomon dan diperkirakan siap tayang tahun ini.

Tapi, sebenarnya, sejak awal ada sejumlah kalangan, termasuk ilmuwan, yang meragukan kisah Herman-Roma itu. Ada yang menyatakan, secara teknis, si gadis (Roma) tidak mungkin bisa melemparkan makanan seperti apel dan roti ke bangunan kamp sebelahnya yang dipisahkan pagar kawat berduri.

Beberapa ilmuwan yang menyiapkan tulisan untuk jurnal The New Republic akhirnya berhasil mewawancarai Herman, 79, dan Roma beberapa waktu lalu. Mereka meminta keduanya menjelaskan secara rinci bagaimana Roma bisa melemparkan apel dan roti di kamp tersebut.

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang serius, pasangan itu akhirnya mengaku bahwa pelemparan apel dan roti tersebut memang tidak pernah terjadi. Bahkan, mereka tidak pernah bertemu selama menjadi tahanan di kamp konsentrasi. Maka, gegerlah Amerika begitu kebohongan Herman itu beredar luas di media pada 30 Desember 2008.

Apa dampak kebohongan Herman dan Roma tersebut? Surat kabar International Herald Tribune melaporkan, dampak buruknya sangat besar. Penerbit Berkley langsung membatalkan peredaran buku Herman. Berkley juga menuntut Herman mengembalikan uang muka penerbitan bukunya itu.

Yang paling terpukul adalah para ilmuwan dan lembaga pendukung Herman sebelumnya, termasuk para tokoh Yahudi. Mereka mengkhawatirkan, kebohongan Herman Rosenblat itu akan meningkatkan ketidakpercayaan orang terhadap cerita-cerita terkait dengan Holocaust.

Sekarang saja telah banyak orang yang tidak percaya pada Holocaust. Sebagian menyebutkan, Holocaust sudah menjadi industri, dibesar-besarkan, dan didramatisasi untuk kepentingan finansial serta politik lembaga-lembaga Yahudi. Juga negara Israel.

”Saya sangat khawatir karena banyak di antara kita berbicara pada ribuan pelajar dan mahasiswa setiap tahun,” kata Sidney Finkel, teman lama Rosenblat sejak sama-sama menjadi tahanan di kamp konsentrasi. ”Kami biasa berbicara di depan forum. Kami menceritakan kisah kami dan sekarang sebagian orang akan meragukannya.”

”Sungguh menyedihkan karena dia (Herman) telah menyusahkan korban Holocaust yang masih hidup, juga merusak keluarga sendiri setelah menikah setengah abad,” kata ilmuwan Holocaust Michael Berenbaum.

Skandal kebohongan dalam perbukuan itu kiranya juga menjadi ”pukulan ekstra” bagi komunitas Yahudi, khususnya di Amerika, yang bangkrut karena ditipu Bernard (Bernie) Madoff, seorang Yahudi pengelola bisnis ”skema Ponzi” alias bisnis piramida.

Tak kurang dari USD 50 miliar (sekitar Rp 600 triliun) uang mereka ”amblas” tak berbekas akibat ulah kotor Madoff yang menggunakan perusahaan berlabel Madoff Investment Securities LLC untuk mengeruk uang korbannya. Sumpah serapah mereka, bahkan para rabi, terhadap Madoff hari-hari ini masih terdengar nyaring.

”Herman Rosenblat maupun Bernie Madoff sama saja pembohong. Masing-masing semestinya hanya pantas mendapat satu dolar saja,” begitu komentar di sebuah situs berita internet.

Tapi, seperti pembohong di mana pun, Herman juga tetap membela diri sebisanya. Dia mengaitkan perbuatannya tersebut dengan pertemuannya dengan ibundanya dalam mimpi. Dalam pernyataan tertulisnya, Herman menyatakan bahwa suatu ketika dirinya tertembak dalam insiden perampokan. Saat berada di rumah sakit, ibundanya datang dalam mimpi dan mendorong dirinya untuk menceritakan kisahnya, sehingga cucu-cucunya bisa mengetahui bagaimana mereka bisa selamat dari Holocaust.

”Setelah insiden itu, saya ingin memberikan kebahagiaan kepada masyarakat, mengingatkan mereka untuk tidak saling membenci, tapi saling mencintai dan bersikap toleran kepada semua orang. Motivasi saya adalah menciptakan kebaikan di dunia ini. Dalam mimpi saya, Roma akan selalu melempari saya sebuah apel. Tapi, saya kini tahu itu hanya mimpi,” ujar Herman.

Apakah Herman memang mimpi bertemu ibunya? Repotnya, kini orang sulit memercayai kata-katanya.

*) Jurnalis dan editor buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).