Ahmad Tohari: Srintil-Srintil Masih Dialami Perempuan

Rofiuddin
http://www.tempointeraktif.com/

Keberadaan ronggeng di Dukuh Paruk pada masa 1960-an menjadi fenomena sosial. Ronggeng dipuja-puja dan diinginkan, namun di satu sisi harus mengalami malam buka kelambu saat calon ronggeng mempertaruhkan keperawanannya.

Demikian disampaikan sastrawan Ahmad Tohari, penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, dalam diskusi "Di Balik Ronggeng Dukuh Paruk" di Pondok Maos Guyub Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah, Minggu, 22 Mei 2011. Tohari, yang malam itu mengenakan baju batik bermotif cokelat, menegaskan, "Dengan menulis ronggeng, saya ingin membela perempuan. Perempuan masih tertindas dari dulu hingga sekarang," ujar lelaki yang akrab dipanggil Kang Tohari ini.

Dalam acara "Parade Obrolan Sastra IV" oleh Komunitas Lerengmedini dan milis Apresiasi Sastra ini, suami dari Hj. Syamsiyah ini bercerita seputar proses kreatif di balik novelnya. Tokoh ronggeng dipilih, menurutnya, karena kondisi negara saat itu masih belum berpihak pada sosok perempuan. Model tokohnya, Srintil, bersumber dari kehidupan ronggeng di daerah Ciparuk, Banyumas.

Tohari, yang saat itu masih remaja, mengaku tak bisa membayangkan bagaimana keperawanan seorang perempuan harus dipertaruhkan demi menjadi seorang ronggeng, yang katanya direstui oleh arwah Ki Secamenggala, tokoh yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. "Ini menusuk rasa kemanusiaan terutama pada sosok perempuan," katanya.

Menurut Tohari, kondisi semacam Srintil sampai saat ini masih dialami oleh sebagian perempuan di Indonesia. "Ini menunjukkan bahwa di kebudayaan kita ada masalah seperti ini. Masih ada srintil-srintil lagi," ujar pengarang yang mengaku menulis novel ini karena terinspirasi dari Fortilla Flatt karya John Steinbeck.

Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri atas Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Terbit kali pertama pada tahun 1980 oleh Penerbit Gramedia Pustaka setelah 15 tahun mengendap di benak Tohari sejak duduk di bangku SMA. Pada saat di bangku SMA itu, ia merasa apa yang dipikirkannya akan bisa ditulis oleh sastrawan yang lebih senior saat itu, seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, dan W.S. Rendra. "Tetapi, ternyata tidak. Bahkan, sampai saya menunggu 15 tahun sejak tahun 1965," ujar penulis novel Bekisar Merah itu.

Dalam acara yang dipandu Esther Mahanani, pegiat kelompok baca sastra Lerengmedini, itu Tohari bertutur bahwa saat itu dirinya merasakan kepedihan akan rasa kemanusiaan yang mendalam. Peristiwa setelah upaya pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1965 itu benar-benar membuatnya kaget. "Bagaimana tidak, sebagian peristiwa pembantaian manusia terjadi di depan mata saya," ujar pengarang kelahiran Banyumas ini.

Hal itu membuatnya gelisah dan bertekad untuk merekam dan mencatatnya. "Celakanya, tak ada wartawan pada waktu itu yang berani menulis soal eksekusi orang-orang itu. Sebab, jika berani akan beradapan dengan militer," tuturnya.

Ronggeng Dukuh Paruk saat ini sudah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Cina, dan sedang dalam proses penerjemahan ke bahasa Prancis.

Dalam acara itu juga disuguhkan demonstrasi kelompok baca Ronggeng Dukuh Paruk dengan pemandu demonstrasi, Nurdin, Kepala Sekolah SMK PGRI 03 Boja. Tujuh peserta kelompok itu membaca novel tersebut secara bergiliran.

Koordinator Komunitas Lerengmedini, Heri CS, menyatakan Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu sastra klasik yang dimiliki oleh kesusastraan Indonesia. Dengan mengundang penulisnya langsung, masyarakat akan lebih tahu secara mendalam bagaimana sebuah karya klasik dihasilkan. "Semoga pengalaman penulis mampu menginspirasi," katanya.

Komentar