Puisi-Puisi Tosa Poetra

http://sastra-indonesia.com/
Tulisan Yang Belum Selesei

Pada ujung matahari kupungut selembar kartu yang telah lama dipenjarakan waktu pada debu debu
kutemukan sebaris huruf yang telah dipudarkan waktu
di bawah kucuran bulan kueja walau jua tak terbaca
hujan rintik mulai berbisik
tiap titiknya yang berdetik mengajak kembali mengeja
Namamu tak jua terbaca
mungkin butuh seribu tanda tanya agar kutemukan namamu siapa
mungkin juga butuh sekian tanda baca
agar bintang bintang tak lagi malas berpijar
agar bibirku dapat berujar
keujung mimpipun namamu kukejar

20 September 2010



Setimba Air mata

Kubawa berlari,ke gunung,sungai dan samudera
namun tak tau hendak kutumpahkan di mana
sebab hanya ingin kutumpahkan di hati-Mu

sebiru langit yang kini masih biru walau terkadang awan menghadang
sebiru itu rindu yang tiada berbatas waktu

seperti air yang mengalir tiada henti
seperti kesetiaan bulan mengitari bumi
seperti itulah cintaku padamu

kupandang fotomu sekali lagi
kuadukan semua deritaku walau kau tiada tau
kuyakin kau tau walau kau tiada peduli curahan hatiku
yang ingin kucurahkan seperti hujan yang mengguyur bumi
menenggelamkan kota-kota
mengenang dan membajir di tiap ruas ibu kota
dan aku tenggelam dalam kata kata tanpa makna
yang aku tau tak mampu mewakili tiap luka

padamu aku bersujud
kusandarkan segala derita
merapi telah meletus
merenggut sehelai nafas yang kau titipkan pada jazatku
lahar lahar mengguyur tubuh
membekukanku bersama magma cinta yang beku di ujung mata

30 Oktober 2010



Kepada Para Penyair

Aku
Kau
dia
pun mereka
kita juga ada
pada jalan
menemu siang malam
gelap terang berliku
kadang buntu
pada jurang dan karang
siang
malam
adakah beda
jika gelap terang
adalah sama

kita menjadi buta
malu
mau
tau
tapi tak mau tau malu
sebab telah bersekutu dengan nafsu
sementara cacing menunggu

kapan kembali pada diksi
bercinta dalam puisi dan sair suci
menata mimpi
menemu pagi

23 November 2010



Dendam

Api berkobar atas yang terbakar
jadi arang pun bara tiada hilang
sampai jadi abu
lenyap diterbang angin
tenggelam dalam debu
masih menderu

16 Oktober 2010



Di Tepi Pantai

Di bawah bintang, di atas pasir dan batu-batu
diiring debur ombak,tuntun jemariku melukis wajahmu pada tiap dinding sepiku.
Ajari aku menulis puisi,tuk untai rasaku padamu yang tak cukup kuwakilkan pada kata.
Biar debur ombak,pasir dan batu-batu jadi saksi,gemintang bintang sebagai wali dan alam satukan kita.
Kan kusetubuhi kau dalam sair suci,kucumbung,kunikmati tiap leku tubuhmu di sela desah nafas yang menderu bak riak ombak.

Di bawah bintang,di atas pasir dan batu batu,diiring deru ombak.
Ku mau puisiku tak cuma kata,lukisanku tak gambar saja dan cinta kita adalah nyata

02 desember2010



Ketikan Sepi

Ketika sendiri
Entah kemana melabuh sepi
mungkin puisi dapat jadi pedang tuk menusuk jantung rindu
dan menyayat urat air mata

satu satu huruf kueja
tak jua kutemu puisi pada rindu
sepi dan air mata yang kupintal

entah puisi mana
cuma huruf kutata menjadi kata,
kurangkai menjadi kalimat tanpa makna dan kususun seperti piramida agar nampak tipografi seperti puisi
sebab ku tak dapat bikin puisi dari air mata pada sepi yang terkoyak rindu dan luka yang tertimbun debu

05 Desember 2010

Komentar