Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Pemburu yang Diburu

kulihat diri asyik memandang langit
dan sesiapa saja ; termasuk aku
di punggung-punggung keadaan
pemburu bisa serupa yang diburu
yang diburu bisa serupa pemburu

saat memandang awan, pagi
perlu keyakinan memanah matahari
yang sinarnya memancar itu
jadikan benih kuasa
menetak penggal kecamuk amuk ,hati!
matahari-ku-mu-lah pemburu
berdiri tegak menatap dunia

saat malam, mata jasmani kugantung
untuk langit
mata hati menetak bulan
yang sinarnya memancar itu
aku
pemburu
diburu

duhai,o,duhai pemilik cahaya
di punggung-punggung keniscayaan
bila aku serupa duri
biar aku menjadi duri yang
menyelimuti tubuh kaktus

25 Maret 2010/rev/22 Juni 2011

Catatan: Pada kaktus dan beberapa tumbuhan daerah kering lainnya (xerofit), duri merupakan modifikasi dari daun. Fungsi metabolism daun sepenuhnya dilakukan pada epidermis batang dan daun berubah menjadi duri untuk mengurangi transpirasi (Bahasa Inggris: transpiration; hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan). Sumber dari Wikipedia bahasa Indonesia.



Bulan Tersungkur Dalam Sangkar

Maka, nafsu itu adalah hidup
Pikiran tumbuh di hutan api
Dan engkau, yang karenanya jiwa terbakar
tak akan mendengar
nyanyian indera menuju ke Surga

Dan lalu, mesti dibagaimanakan kebahagiaan itu?

O, alangkah luas rahasia Kekasih,
saat engkau dilahirkan, saat itu pula
udara yang engkau hisap menjadi tangga
dan engkau mesti mendaki takdirmu
setapak demi setapak.

Duhai wahai diri yang kini tengah dijerat cinta
di mana hati merah
yang mengalir wangi sungai asmara?

19 June 2011



Badut-badut Politik

Jam berdetak jantung meretak
Lalu lalang pengab-kan otak
Hilir mudik koar birokrat,
Cari simpati buahnya laknat

Bagi uang katanya amal
Retorika di sana sini
Dapat tahta lupa janji
Mikirin modal cepat kembali

Ini salah bener siapa
Tak tahu awal siapa mula
Tapi nyata ini terjadi
Seakan terpatri jadi tradisi

Ini sajak bukannya mortir
Jangan marah mawaslah diri
Bila rasa diri tersindir
Sucikan hati taubat Illahi

24108.rev.300511



Uban

Di depan cermin, mata lelaki itu tak berkedip
Tangannya menyibak rambut di kepala
Tapi kenapa lalu ketakutan berloncatan?

Dalam bayangan cermin
Maka ianya, rambut putih itu berseakan berkata
: untuk apa engkau akan cabut aku

aku itu cinta yang mengingatkanmu arah
menuju pintu wangi senja

25 Mei 2011



Kidung Pelangi

Di pinggir telaga
lama kita duduk berdua
awan pun cerah berseri
tapi tidak dengan lengkung pelangi

Kamu bilang
warna-warni itu telah menghilang

Ah, kamu salah mengerti, jelita
lihat di atas sana…
seperti kala kita lihat semasa kecil dulu
biar tanpa lengkung pelangi, langit tetap biru
burung-burung kecil juga
terlihat terbang, berkejaran
berlatar putih mega beriring

Duh jelita
tidak semua alam dengan kidung sama
kemarikan tanganmu
dalam gengam
masih kujaga indah
pelangi, di pucuk-pucuk rindu

5.1.09/7.3.09



Sajak yang Kutulis Untukmu Mungkin Akan Kuberi Judul Piano

Kursi yang menatapku itu
biasanya ada engkau
Dan jari jemari nan syahdu
menabur benih rindu

O, pemilik lentik jemari
berlaksa ilusi terpahat di mimpi
Tanpa bunyi apa ini diri
tut-tut nada sebisu sunyi

Pertalian hati
iakah serupa hening yang nyanyi?

19 Mei 2011

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo