Sastrawan Kudus Bangkit Lagi

Zakki Amali
http://suaramerdeka.com/

KABUPATEN Kudus pernah dikenal sebagai ladang sastra. Pada dekade 1990 karya sastra dari penulis Kudus bermunculan saban minggu di berbagai koran harian.

Bentuknya bisa cerpen, puisi, atau geguritan. Banyak juga kelompok sastra menerbitkan antologi puisi.

Salah satu kelompok yang menjadi penanda masa subur tersebut adalah Keluarga Penulis Kudus (KPK). KPK terbentuk pada 3 Februari 1991 di rumah penyair Yudhi MS. Mukti Sutarman Espe ikut membidani komunitas penulis pertama di Kudus. Jejaring KPK sampai Semarang melalui komunitas Keluarga Penulis Semarang yang sekarang telah bubar. ”Ide muncul dari pergaulan dengan anggota KPS untuk membuat komunitas serupa di Kudus sebagai jejaring sesama penulis,” kata Mukti, Kamis (23/6).

Pembentukan pengurus KPK tanpa dihadiri Yudhi, karena berada di rumah sakit bersama istrinya yang akan melahirkan. Akan tetapi penulis dan penyair yang datang menghendaki Yudi sebagai ketua. Diputuskan Yudhi menjadi ketua KPK. ”Ketika saya datang, yang hadir sudah sepakat saya menjadi ketua. Saya mengiyakan saja. Ternyata anak saya lahir bertepatan lahirnya KPK, jadi saya selalu ingat tanggal berdirinya.”

Produktivitas KPK terbukti dengan karya sastra (cerpen dan puisi) yang sempat merajai harian Suara Pembaharuan. Hampir setiap penerbitan halaman sastra memuat karya anggota KPK. Karya-karya mereka juga tersebar di berbagai media massa, seperti Harian Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Wawasan, Republika, Kartika, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, bahkan Bahana (Brunei Darussalam).

Cara Yudi menggairahkan anggota KPK adalah dengan membuat ”arisan sastra”. Bentuknya membedah karya anggota yang telah dimuat di koran secara bergiliran. Tempatnya bisa di ruang terbuka atau di rumah anggota bergantian. Menurut Yudi, forum pembahasan karya mendorong kawan-kawannya produktif berkarya, karena selalu ada pemantik dan sumber inspirasi.

Antologi puisi yang dibuat oleh KPK era Yudhi antara lain Menara (1994), Menara 2 (1996), Menara 3 (1999), Matabunga(1999), dan Masih Ada Menara (2004). Saat ini KPK diketuai oleh Adithia Armitrianto yang telah menerbitkan antologi cerpen Bom di Ruang Keluarga (2011) yang ditulis oleh anggota KPK, Jimat Kalimasada. Sebelum ada KPK, di Kudus telah ada sastrawan. Sebut saja Zuli Dahlan.

Naskah Teater

Menurut Yudhi, Zuli merupakan sastrawan Kudus Angkatan ‘66. Satu angkatan dengan WS Rendra. Ia fokus menulis puisi, cerpen, dan naskah teater. Teater Zuli bernama Himpunan Seniman Budayawan Islam (HSBI) merupakan kelompok teater pertama di Jawa Tengah yang berhasil tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Teater tersebut membawakan lakon Iblis karya Muhammad Diponegoro. Salah satu cerpennya juga masuk dalam buku Angkatan 66 yang sunting HB Jassin.

Setalah masa Zuli, kepenulisan kreatif di Kudus diramaikan oleh sastrawan dan penulis yang berkarya pada tahun 1980-an. Antara lain Sulistiyanto Sw, Alex Achlish, A Munif Hamid, Toto Yuliadi, dan L Yona Aruna Ch, Amir Yahya Pati, Yudi MS, Aryono KD, MM Bhoernomo, Mukti Sutarman Espe, dan Darmanto Nugroho. Sampai sekarang yang masih memproduksi karya sastra di antaranya MM Bhoernomo, Mukti Sutarman, Yudhi, dan Thomas Budi Santoso. Rata-rata mereka berusia di atas 40 tahun.

Radio turut memeriahkan sastra dengan memberi ruang siaran para sastrawan. Di Radio Swara Manggala Sakti memunculkan program siaran ”Sastra dan Budaya” yang diasuh oleh Faried Tommy, diteruskan Dahrul Susanto. Mereka membina komunitas pengirim karya sastra ke media massa. Dari dialog dengan pendengar bahkan rubrik ini mampu menerbitkan antologi puisi Titian.

Lain lagi di Radio Muria Kudus dengan rubrik ”Ladang Sastra” yang mengudara sejak 1983-2000. Yudhi mengasuh sampai kira-kira 1999, kemudian diteruskan Mukti Sutarman hanya beberapa bulan, karena stasiun radio akan dijual.

26 Juni 2011

Komentar