Langsung ke konten utama

Antara Sastra dan Teknologisasi

Marjohan
http://www.harianhaluan.com/

Prof Dr Mukti Ali (man­tan Menteri Agama RI) pernah menggelindingkan satu adagium seputar seni: “Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan agama hidup jadi terarah, dan dengan seni hidup jadi indah”. Falsafah ini kemudian jadi populer, karena sering dikutip Buya Hamka dalam banyak tulisannya, dan acap-kali pula disetir KH. Zainuddin MZ dalam pelbagai pertemuan akbarnya dengan umat Islam. Atau bisa didengar lewat kasetnya yang bejibun di ko­munitas umat—di kota dan di desa.

Masih dalam konteks seni! Pujangga baru Indonesia pada paruh 1933, mendifinisikan seni sebagai “gerakan sukma”. Sedang sastra sebagai bagian yang senyawa dengan seni adalah gejala sipritual, dan bahkan transendental. Ia tum­buh dan menyelinap dari dalam jiwa, dan dalam referensi pisikologi disebut dengan motifasi intrinsik. Sedang Islam mengistilahkan dengan nawaitu atau niat—yang bersemayam di lubuk hati paling dalam. Harap dimafhumi! Perkara niat-meniat, pada hakekatnya tidak hanya untuk ibadah mahdhah—seperti shalat, pua­sa, hajji dan lain sebagainya. Tapi, niat juga bersentuhan dengan ibadah ghairu mahdhah antara lain berupa menanam bibit ihsan pada sesama manusia.

Sebuah kesadaran, keya­kinan, imajinasi, kognisi, persepsi, dan perasaan (bahagia, sedih, cinta, harapan, kecewa, resah dan gelisah)—semuanya adalah gejala yang menyemburat dari dalam jiwa. Secoretan puisi atau sepenggal sya’ir adalah ungkapan kejiwaan. Kadang ungkapan itu dirangsang karena stimulan dari dalam qalbu, dan kadang dirangssang oleh realitas hidup yang berdenyut dalam keseharian anak manusia.

Berbeda dengan seni lukis yang dihalalkan membangun realitasnya sendiri, seni sastra justru berorientasi edukatif-persuasif. Sastra mengajar orang mengkritisi realitas, dan men­cuatkan realitas sosial secara transparan atau apa adanya (polos/u’ryan). Dengan kata lain, dunia sastra adalah dunia yang setia pada nilai dan realitas. Rentang talinya men­jamah masa: dulu, kini dan nanti!

Dengan begitu, sastra bukan semata-mata simbol budaya. Lebih dari itu, ia berkutat dan berkelabat dengan permasa­lahan-permasalahan sosial, dan permasalahan-permasalahan control sosial (nahi mungkar). Makanya jangan kaget, kalau kaum sastrawan edukatif-persuasif tadi, sangat gigih mengembang-biakkan etos kerja, etika kerja, dan estetika kerja. Jangan pula tagalenjek, kalau makhluk yang bernama sastrawan punya nyali menyi­kapi lantang pelbagai kejahatan yang semakin meruyak-ber­nanah di negeri ini. Sebut saja kejahatan ekonomi, kejahatan politik, kejahatan hukum, kejahatan budaya (politisasi & dehumanisasi)—dan kejahatan-kejahatan lain yang berhadapan dengan konsep amar ma’ruf nahi mungkar dalam artian makro dan kontekstual (baca: Al Quran surat Ali Imran ayat 104 dan 110).

Lalu, apa pula pertalian semua itu dengan teknologi atau teknologisasi? Empat belas tahun lalu, tepatnya, pada 10 Agustus 1996—bersamaan dengan Hari Teknologi Na­sional, Pemerintah RI menye­rahkan penghargaan “Kalyane­kretya” buat beberapa orang yang dianggap berjasa dalam menggulirkan program pem­bangunan nasional di negeri ini. Salah seorang penerima penghargaan itu adalah Prof Dr Sapardi Djoko Damono untuk bidang “Teknologi Sas­tra”. Penghargaan yang kata sebagian orang amat bergengsi itu, disuguhkan pada sang profesor karena karya nyatanya yang teruji, dan terbukti faedah­nya di bidang penerapan tekno­logi bagi pembangunan nasio­nal.

Usai penyerahan penghar­gaan—tentunya di sebuah tempat yang sangat berharga, segelintir pengamat sastra ber-plat merah (minjam istilah Budayawan Darman Moenir) bersorak-bergegap-gempita-ria. Bahkan tidak tanggung-tang­gung! Melayang pula ucapan terimakasih yang “sedalam-dalamnya” atas budi baik pemerintah, yang disertai berkat “Petunjuk dari-pada Bapak” seperlunya itu.

Luapan kegembiraan ini bukannya tidak beralasan. Bayangkan! Sastra diakui eksistensinya dalam masyarakat teknologis yang kian meroket. Padahal, “salaruik salamo nangko” untuk meraup penga­kuan adanya sastra di tengah ahli teknologi saja –sulitnya seperti mencari umbut/umbi dalam batu. Atau nyaris sesulit mencari tanduk di kandang kuda— termasuk kuda piaraan pejabat dan teknokrat sekalipun. Lebih dari itu, sastra dianggap karya nyata yang bermamfaat seperti teknologi. Dan argu­men­tasi yang tidak kalah pentingnya, jarang-jarang sastra mendapat penghargaan setinggi langit ke tujuh itu.

Namun, dalam kaca-mata pengamat, budayawan, dan sastrawan berpalat hitam semisal Kuntowijoyo, Taufik Ismail dll, paling tidak ada tiga hal yang membuat fikiran jadi galau dan gundah atas penghar­gaan itu. Pertama, menganggap sastra sebagai teknologi adalah sebuah contradictio interminis. Kedua, menganggap sastra sebagai “karya nyata” adalah juga sebuah kekeliruan amat besar. Tapi, kalau karya nyata sama dengan phenomental— tentu budayawan dan sastrawan independen sangat oke, dan sangat setuju. Ketiga, dan ini yang amat penting, pada zaman mendiang orde baru lalu, memang banyak terjadi tekno­logisasi—hampir dalam semua sisi, dan kisi kehidupan.

Di era reformasi, demok­ratisasi, dan juga era otonomi kini, pikiran serba teknologis dan praktis itu tentu tidak boleh terjadi lagi. Sebab, semua itu hanya bakal menghasilkan manusia-manusia mesin, dan manusia-manusia robot! Pada­hal tujuan esensial-konsep­sional ketika membidani era refor­masi, pada Mei 1998 lalu, kita justru punya obsesi besar: melahirkan manusia berbu­daya, manusia ber-humaniora, dan manusia berkeseimbangan: “Addaral akhirah wa latansa nashibaka mina addunya”. Menganyam peradaban dunia, melempangkan jalan ke akhirat (QS. Al Qa-shash ayat 77).

Bersangkut-paut dengan itu, pemberian Award 2010 oleh Federasi Teater Indonesia (FTI) kepada budayawan/sastrawan Wisran Hadi—seperti diberita­kan mass media cetak daearah ini, agaknya perlu kita apresiasi bersama—karena cukup mela­pangkan rongga dada banyak orang. Dan, penghargaan ber­gengsi dan berorientasi mem­bangun manusia-manusia ber­bu­daya serta berhumaniora tersebut, juga pernah diterima WS Rendra, Nano Riantiarno, dan budayawan Putu Wijaya.

Akhirul kalam! Seputar merajut dan menyulam negeri ini ke depan, baik sastra maupun teknologi punya klaim yang sama, dan seba­ngun—itu amat sangat benar. Yang tidak betul, dan tidak benar: pem­bangunan seolah hanya memer­lukan karya nyata (tangible asset). Karya nyata hanya berorientasi materi—dan tidak spirit. Kalau mau berjujur-jujur, yang diperlukan dalam dunia bergalau, dan tak tentu “ojok” ini, justru manusia utuh itu tadi. Utuh sipritual, utuh kultural, utuh transen­dental, dan utuh fisik-material. Wal­lahu a’lam bish shawab*.

24 April 2011

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com