Langsung ke konten utama

Menyongsong `Era Baru` Balai Pustaka

Leon Agusta*
Republika, 23 Sep 2007

Penerbit Balai Pustaka (BP), 22 September 2007, genap berusia 90 tahun. Bagi sebuah penerbit penghasil buku sastra, usia 90 tahun boleh dibilang hebat. Tapi, kalau dari 90 tahun itu yang melahirkan kebanggaan dan kenangan hanya 30 tahun pertama, tentu menimbulkan tanda tanya besar. Ada mata rantai yang hilang dari 60 tahun keberadaannya.

Di bawah kewenangan Deputi Bidang Agro Industri, Kehutanan, Kertas dan Penerbitan BUMN, Dr Agus Pakpahan, seorang cultured scholar/ yang juga dikenal sebagai penyair, beberapa waktu yang lalu sudah diambil tindakan penting, antara lain membentuk armada managemen baru, yang terdiri dari kaum muda yang lebih energik. Zaim Uchrowi ditunjuk sebagai Direktur Utama. Beban berat menghimpit pundak mereka.

Meskipun begitu, masa suram BP belum akan segera berlalu. Masa lalu menyisakan bertumpuk-tumpuk persoalan yang harus dibenahi. Jaringan kerja dengan kantor-kantor distributor, komunikasi baru dengan para kontributor naskah perlu diciptakan; di samping masalah internal organisasi kerja yang memang perlu ditata ulang dan diharapkan dapat diandalkan, agar siap menghadapi tantangan masa depan.

Diperkirakan, diperlukan masa sekitar lima tahun untuk bisa memantapkan jalan dan berputarnya roda perusahaan, sebelum bisa bicara soal ‘panen’ atau berkompetisi dengan penerbit lain yang sudah lebih dulu mapan. BP harus punya daya saing sekarang juga atau secepat mungkin. Tetapi, itu takkan mungkin. Kalau dipaksakan, hasilnya sudah dapat diramal: sejarah BP akan tamat secara menyedihkan.

Yang diharapkan, pemerintah bisa sabar dan ikhlas memikul beban tersebut dan menunggu sampai saatnya tiba untuk menarik nafas lega. Sementara, saat ini BP harus segera dibebaskan dari belenggu-belenggu masa silam yang mengikat langkahnya menuju kemajuan seperti yang dimimpikan para pecintanya.

Bila angka rupiah yang harus dihitung, mungkin ada yang bilang berat. Tak perlu berbantah soal itu. Karena, yang harus dipertimbangkan adalah nilainya bagi peradaban dan kebudayaan bangsa kita yang sudah sekian lama selalau terbaikan. Sekarang sudah saatnya untuk bicara bukan hanya soal harga (price) tetapi juga soal nilai (value). Karena, dalam membangun semangat kebangsaan, peradaban dan kebudayaan, kita tak mungkin selalu mengelak. Tantangan dan tanggung jawab untuk memanusiakan manusia, tak boleh ditawar.

Dengan alasan itu BP harus bangkit kembali. Semua institusi terkait harus bersinergi bersama mendukungnya. Agar lebih konkrit sinergi bersama itu perlu dikukuhkan dalam suatu kesepakatan baru. Dengan manajemen yang baru diharapkan BP dapat diandalkan sebagai satu institusi pembawa ilham untuk meniupkan semangat Indonesia Baru, sebagai satu institusi pembawa obor peradaban dan kebudayaan yang bersinar terang di seantero tanah air. Juga, perlu terus berupaya membuka ruang-ruang baru bagi langkah-langkah pencerahan. Dengan demikian BP bisa mulai menciptakan citra sambil membangun wibawanya.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pastilah sangat menyadari krisis nilai-nilai yang sedang melanda masyarakat negeri tercinta ini. Depdiknas yang paling bertanggung jawab dalam membendung krisis tersebut. Dalam hal ini tepat sekali bila BP manajemen baru dijadikan mitra utama Depdiknas. Dengan etika kerja berupa kesungguhan dan kejujuran, diyakini BP akan bangkit dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Kehidupan masyarakat dan bangsa kita tidak mungkin harmonis bila kesungguhan hanya ada dalam batas-batas “ruang transaksional” dimana segala kebijakan ditentukan berdasarkan pehitungan angka-angka sementara ruang untuk membangun semangat kebangsaan, peradaban dan kebudayaan, disepelekan. Bila demikian halnya, artinya masalah semangat kebangsaan dianggap sudah tidak relevan. Penulis yakin, sesungguhnya tidaklah demikian.

Hari ulang tahun ke-90 seyogianya dimanfaatkan untuk menciptakan momentum bagi kebangkitan kembali BP. Citra baru, visi, dan misi baru diperkenalkan ke tengah masyarakat luas. Diselenggarakan secara meriah selama beberapa hari, siang dan malam, dengan semangat artistik yang kreatif. Bukan secara serba formal dan konvensional. Karena, momentum ini harus ditangkap terutama oleh generasi masa depan atau generasi muda.

BP tak punya banyak pilihan, kecuali orientasi yang secara luas membuka ruang bagi generasi muda hingga mereka merasa menjadi bagian dari BP yang baru, yang sedang membangun masa depannya. Rasa memiliki harus ditanamkan. Dan mereka, generasi muda, harus dapat merasakannya. Manajemen BP perlu berupaya menangkap semangat dan kecenderungan generasi muda dengan penuh pengertian dan kepercayaan bahwa masa depan BP akan sangat tergantung kepada cinta dan apresiasi mereka terhadap BP. Setiap kecenderungan negasi dalam memandang keberadaan generasi muda justru kontraproduktif.

Pelajaran bahasa dan sastra di sekolah yang kurang menarik, banyaknya corak ragam bacaan yang beredar secara bebas, membuat perkenalan generasi muda kita dengan sastra tidak melalui cara-cara yang lumrah. Keakraban mereka dengan dunia audio visual adakalanya seperti mengabaikan toko buku. Buku skenario film Syuman Djaya mengenai Chairil Anwar yang berjudul Aku tiba-tiba dicari karena Nicholas Saputra memegang buku tersebut dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Begitu juga dengan Buku Harian Seorang Demonstran Soe Hok Gie. Banyak buku puisi terjual ketika ada pementasan puisi. Di seluruh tanah air sekarang bertebaran kelompok-kelompok musikalisasi puisi. Ada juga yang menyajikan novel dalam bentuk dramatic reading. Pada gilirannya novel pun mengundang peminat untuk membacanya.

Apa yang diungkapkan di atas memperlihatkan beberapa isyarat. Untuk masa depan, BP perlu secara lebih sungguh-sungguh belajar memafaatkan berbagai kecenderungan yang berkembang di kalangan generasi muda. Dengan kata lain, kiprah BP kepada aspirasi dan kreativitas generasi muda haruslah didukung dengan kearifan dan kesungguhan.

Sangat banyak agenda menarik yang dapat digelar oleh generasi muda Jakarta dan sekitarnya. Juga dari daerah-daerah lain di negeri yang memiliki kreativitas melimpah ini. Peringatan ulang tahun ke-90 BP harus mampu menciptakan bukan hanya suasana meriah dan gembira, tetapi juga kenang-kenangan yang akan tersimpan dalam hati.

Selanjutnya adalah rancangan besar (grand design) BP, terutama mengenai produk menjelang tahun 2017 atau seabad BP. Peringatan 90 tahun BP dapat ditegaskan sebagai satu langkah awal menuju 2017. Sebuah ruang waktu yang menantikan lahirnya berbagai gagasan yang unggul dan kalau bisa juga yang cemerlang. Ruang bagi visioner yang mampu membaca tanda-tanda zaman.

BP tak boleh diterlantarkan, merana, apalagi mati. BP harus dijelmakan menjadi sebuah oase di tengah gurun pasir Indonesia yang sudah lama haus terhadap cinta.

* Leon Agusta, Penyair dan pengamat sastra
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/09/wacana-menyongsong-era-baru-balai.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).