Langsung ke konten utama

Peristiwa G30S dalam Fiksi Indonesia

Sunaryono Basuki Ks*
Republika, 30 Sep 2007

SETIAP peristiwa penting dalam sejarah Indonesia menghasilkan karya sastra yang mencoba memberi gambaran tentang peristiwa itu. Perang Kemerdekaan menghasilkan sejumlah novel dan cerpen, yang ditulis oleh pelaku sejarah ataupun oleh generasi yang lebih muda yang ikut mengalamai sebagian kecil peristiwa tersebut.

Peristiwa G30S yang menggoncangkan negeri ini juga telah ditulis oleh sejumlah perngarang kita, baik dalam bentuk puisi, drama, cerpen, maupun novel. Karya-karya itu ditulis saat peristiwa itu baru terjadi (misalnya sajak-sajak karya Taufiq Ismail), tetapi juga beberapa tahun kemudian, bahkan beberapa puluh tahun kemudian.

Dalam novel kita dapat membacanya pada Ronggeng Dukuh Paruk versi aslinya yang terbit tahun 2003, padahal versi yang “disensor” terbit tahun 1981. Dalam versi aslinya ternyata Ahmad Tohari bercerita tentang malapetaka politik tahun 1965 yang membuat dukuh Paruk hancur secara fisik dan mental.

Putu Wijaya dalam drama Aib (1988) juga menyinggung soal peristiwa itu dengan cara mengalihkan setting kisah ke suatu tempat yang lain: sebuah kerajaan. Upaya itu perlu untuk melindungi Putu dari sensor pemerintah saat itu. Dalam novel Kremil, Suparto Brata (Pustaka Pelajar, 2002) juga menyinggung soal disembunyikannnya sejumlah granat di kompleka Kremil oleh orang-orang yang disangka terlibat dalam peristiwa G30S. Novel ini ditulis tahun 1994/1995.

Tahun 1995 Sunaryono Basuki Ks menulis Budiman Benggol (terbit sebagai buku berjudul Maling Republik, Mizan, 2005) yang menceritakan sejumlah orang yang dapat disangka sebagai tokoh-tokoh yang menggerakkan G30S. Suparto Brata (1991) menulis novel panjang Mencari Sarang Angin yang dimuat sebagai cerber di Jawa Pos (1991-1992) dan dibukukan oleh Grasindo tahun 2005. Novel itu menceritakan tokoh perjuangan yang berseberangan dengan Rochim yang akhirnya terlibat pemberontakan PKI, naum tidak sampai ke Peristiwa G30S.

Tahun 2001 Shoim Anwar mengedit sejumlah cerpen dan menerbitkannya di bawah judul Soeharto dalam Cerpen Indonesia, yakni sejumlah cerpen yang ditulis setelah Soeharto lengser, kecuali satu cerpen Menembak Banteng (F Rahardi, 1993). Ketika Soeharto jatuh, muncullah novel karya Putu Oka Sukanta, Merajut Harkat (Pustaka Pelajar, 1999). Novel ini menjadi menarik, sebab ditulis oleh seorang aktifis Lekra yang selamat dari siksaan penguasa.

Tahun lalu kita disuguhi novel September (Tiga Serangkai, Solo, 2006) karya Noorca M Massardi. Kisahnya dimulai dengan Darius, karyawan pabrik kecap yang kena PHK pada suatu masa kini, bukan pada sekitar tahun 1965 atau 1998. Percuma mencari kaitan dengan tahun dalam kelender historis sebab kisahnya memang tak terikat pada fakta sejarah.

Paling tidak, pengarangnya menempatkannya sebagai fiksi yang tak ada hubungannya dengan peristiwa G30S atau pun gerakan reformasi, walaupun, proses politik di bawah pimpinan Presiden Soekresno, Pemimpin Besar Reformasi, bukan Revolusi. Bukankah ini fiksi, begitu jalan pikiran Noorca yang wartawan dengan latar belakang pendidikan jurnalisme di Prancis, yang karenanya leluasa memakai bahasa Prancis untuk berbagai keperluan!

Walaupun dianggap fiksi, Noorca tak mau lepas dari nama-nama tokoh historis dan tak sempat mengubahnya menjadi tokoh fiksi, hanya dengan membolak-balik nama mereka semua. Yang paling jelas tentu Presiden Soekresno, dan ajudannya, Kolonel Djiwakarno. Dalam sejarah kita kenal Presiden Soekarno dan Kolonel Bambang Wijanarko.

Pasti pembaca yang biasa dengan teka-teki silang dengan mudah menebak siapa-siapa mereka ini, sebab nama-nama mereka memang nama historis, ada dalam fakta sejarah. Tapi, jangan bangga dulu, sebab menurut penulisnya, novel ini semata-mata fiksi, jangan mencari kaitan dengan fakta historis, apalagi menimpakan kesalahan sejarah pada mereka.

Bukan hanya nama tokoh historis yang diplesetkan, tetapi juga nama kota, lembaga, nama Universitas, nama koran. Semua harus tak berbau fakta historis karena hanya fiksi! Ada Jalan Rawatidur, Pelabuhan Tanjung Belanga, Kota Talas, Kota Bunga, Universitas Gunung Merbabu (disingkat UGM), Institut Teknologi Babakan (ITB), Universitas Independen (UI), Partai Kiri (Paki), Warta Yudha, Suluh Nasional, Koran Rakyat.

Yang punya ambisi untuk menyudutkan mantan Presiden Soeharto pasti senang membaca kisah yang akhirnya menyodok Mayjen Theo Rosa, sosok penggerak Gerakan 10 September. Yang aneh, ini satu-satunya nama yang plesetannya paling cermat. Tak gampang ditebak tetapi ternyata kalau diurai perhuruf klop. Coba kita bolak-balik sampai ke huruf: bisa jadi soehaRTo.

Sebuah kisah selalu dikisahkan melalui sudut pandang tertentu, bisa sudut pandang orang pertama, kedua, ketiga, omniscience atau mata kamera. Dengan sudut pandang ini pengarang mengikat diri, tunduk pada sudut pandang pilihannya dan tak boleh sembarangan menyimpang dari sudut pandang pilihannya. Sebuah cerpen biasanya punya hanya satu macam sudut pandang agar tak membingungkan pembaca. Tetapi, sebuah novel boleh memakai bebagai macam sudut pandang sesuai dengan keperluan.

Kalau pengarang sudah menetapkan bahwa dia akan mengikuti salah seorang tokoh, maka jalan pikirannya, pengalamannya, tingkat intelektualismenya, semuanya disesuaikan dengan apa yang dipunyai oleh tokoh yang dipilihnya. Dia tak bebas menjadi dirinya sendiri, misalnya seorang profesor doktor yang menguasai berbagai bahasa dan berpengetahuan luas.

Menurut Prof Dr Budi Darma, novelis tak boleh mengobral kepintarannya bilamana dia mau bicara melalui mulut seorang tokoh yang kebetulan mahasiswa nyentrik di sebuah universitas. Dia harus mampu menjadi corong tokohnya, bukan corong pengarangnya.

* Sunaryono Basuki Ks, Novelis dan dosen sastra
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/09/wacana-peristiwa-g30s-dalam-fiksi.html

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com