Langsung ke konten utama

Mudik Melampaui Fenomena Sosial

Ismatillah A. Nu’ad
http://www.jurnalnasional.com/

Sudah lazim dan menjadi tradisi masyarakat Islam di Indonesia, di hari-hari mendekati lebaran, masyarakat muslim melakukan mudik pulang ke kampung halaman masing-masing. Mudik ternyata bukan saja fenomena fisik, dimana banyak orang melakukan perjalanan pulang ke kampung.

Tradisi itu juga menyimbolkan fenomena “metafisik”, dalam arti sejauh-jauhnya orang melakukan pengembaraan, pada akhirnya akan kembali ke habitatnya sebagai manusia makhluk ciptaan Tuhan.

Mudik bukan sekadar fenomena sosiologis biasa, sebab jika hanya fenomena sosiologis, pertanyaannya mengapa orang harus pulang kampung di hari-hari menjelang lebaran? Belum lagi ada pelbagai risiko, di mana pada saat itu bukan hanya segelintir orang, melainkan jutaan orang yang pulang kampung.

Itu menandakan bahwa mudik bukan sekadar fenomena sosiologis. Ada spirit religiositas di mana orang berkeinginan keras untuk pulang kampung, dan ada satu titik perasaan di mana tak menghendaki penjelasan rasional ketika banyak orang melakukan mudik untuk berlebaran, melakukan maaf-maafan di kampung halaman mereka.

Bagaimana mungkin orang yang tak punya salah lalu meminta maaf? Bagaimana untuk menjelaskan orang yang tak pernah bertemu dengan kerabatnya dalam satu tahun, misalnya, lalu kemudian dianggap satu dan lainnya memiliki kesalahan sehingga harus bermaaf-maafan?

Ada wilayah yang diistilahkan Mircea Eliade (1999) sebagai teritori sakral dalam suatu tradisi keagamaan. Serasional apapun seorang muslim, ketika pada hari-hari menjelang lebaran kemudian tak pulang mudik, maka akan bersedih hatinya. Atau paling tidak, ada suatu perasaan mengganjal di mana dirinya ingin pulang kampung menemui keluarga.

Ada satu cerita, ketika seorang karyawan buruh yang pada malam takbiran terkena shift kerja malam, terpaksa ia tak pulang mudik karena bosnya juga tak meliburkannya. Tanpa terasa linangan air mata menetes dan membasahi pipinya. Padahal sebelumnya ia masih dapat menahan dan mencoba mengabaikan detik-detik terakhir meninggalkan Ramadan.

Namun apa daya tangan tak sampai, dorongan religi ternyata lebih kuat, menyiratkan bahwa dalam diri manusia terdapat fitrah dimana ketika lebaran berharap bisa pulang kampung.

Ranah Sosiologis
Dalam ranah sosiologis, fenomena seperti mudik dan bermaaf-maafan, dapat juga dijadikan sebagai satu variabel untuk mengukur tingkat religiusitas seseorang. Sebab salah satu konsep religiositas dalam metodologi penelitian, misalnya, model Glock dan Stark (1989) adalah mempertanyakan apa yang diistilahkan sebagai keterlibatan ritual (ritual involvement), yaitu tingkat sejauh mana seseorang terlibat mengerjakan ritual-ritual tradisi keagamaan mereka, dan juga keterlibatan secara konsekuen (consequential involvement), yaitu tingkatan sejauh mana perilaku seseorang konsekuen dengan tradisi ajaran agamanya.

Mudik sebagai tradisi generik masyarakat Indonesia, ternyata tak hanya dilakukan kaum muslim, entah apakah ini bersifat kasuistik atau tidak. Yang jelas, ada seorang tetangga yang beragama Katolik, seminggu sebelum lebaran ia sudah memesan tiket kereta api untuk pulang mudik di Jawa.

Setelah ditanyakan mengapa ikut-ikutan mudik? ia hanya mengatakan bahwa dalam tradisi keluarganya, setiap lebaran mesti pulang kampung, sama-sama merayakan seperti keluarga muslim umumnya. Untuk memohon maaf pada ibu dan bapaknya, berkumpul bersama keluarga, dan bertemu karib-kerabat di kampung halaman.

Jadi ada spirit religiositas di mana mudik kemudian menjadi simbol keagamaan universal, yang ternyata tak dilakukan dan dirasakan kaum muslim semata. Mungkin tak secara terang-terangan, ketika ada umat agama lain pada momen-momen seperti mudik dan lebaran, dijadikan tradisi secara rutin tiap tahun. Sebagaimana mungkin ada kaum muslim yang tak secara terang-terangan merasakan kegembiraan ketika Natal dan Tahun Baru masehi tiba.

Mudik tak selalu melakukan perjalanan pulang kampung. Sebab ia bisa berarti bentuk simbolik di mana manusia ingin kembali. Dalam kasus tertentu, ada keluarga-keluarga yang tak punya sanak-keluarga diluar wilayahnya. Atau mungkin juga antarkeluarganya sudah menetap di satu wilayah tertentu, seperti di Jakarta semua, misalnya.

Ketika datang fenomena lebaran, mereka saling berkumpul. Di situ secara fisik, mereka tak melakukan mudik dalam arti pulang kampung. Namun di situ mudik berarti saling menemui sanak-keluarga satu dengan lainnya.

Kekayaan Budaya
Kejadian-kejadian seperti bahwa ada umat nonmuslim yang juga turut merayakan mudik dan lebaran, bukanlah apologi semata. Atau ingin menunjukan superioritas tradisi Islam diatas tradisi keagamaan lainnya.

Hal itu ingin menggambarkan bahwa tradisi mudik, lebaran dan maaf-maafan, sudah merupakan tradisi universal umat beragama di Indonesia. Itu merupakan suatu kelangkaan dan kekayaan budaya tersendiri, karena pada saat yang sama, belum tentu, atau tak mungkin di negara-negara lainnya fenomena seperti itu bisa terjadi.

Mungkin jika direlevansikan, fenomena mudik yang dilakukan tak hanya oleh kaum muslim, sedikit memberi gambaran bagaimana teori-teori perubahan sosial teraktualisasi secara nyata. Peter L. Berger (2001) misalnya, memberi sinyalemen bahwa yang dimaksud perubahan sosial adalah bagaimana interaksi sosiologis bersirkulasi secara tak lazim.

Jika selama ini, misalnya, yang dianggap memberi investasi itu orang-orang kaya. Maka dalam teori perubahan sosial justru yang memberi investasi juga adalah orang-orang miskin: orang kaya tak akan ada tanpa orang miskin. Di situ, bagaimana pola sirkulasi sosiologis diputarbalikan secara dialektik. Seperti dalam fenomena mudik, bagaimana kemudian mudik tak hanya dilakukan kaum muslim untuk merayakan lebaran dan maaf-maafan, namun juga dilakukan kaum Nonmuslim.

Bagaimana dari tradisi mudik, dimana ada penghormatan antarsesama umat beragama kemudian diaktualisasikan lagi ke bentuk-bentuk tradisi lainnya, sehingga kerukunan antarumat beragama terasa lebih berarti. Di situ teori perubahan sosial memasuki ranah-ranah tradisi keagamaan yang sensitif sekalipun, seperti soal pluralisme-agama, misalnya, pluralisme justru berarti saling menghormati, mengakui, dan menghargai perbedaan agama.

Dalam gejala dimana situasi kerukunan antarumat beragama merenggang, maka pluralisme sebagai suatu nilai fundamental pegangan bagi pemeluk agama, bukan malah diharamkan. Peran negara justru diuntungkan dengan pluralisme, karena sistem tatanan kenegaraan dan kebangsaan akan berjalan dinamis manakala kerukunan antarumat beragama terjadi secara konkret dan faktual.

*) Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan, Universitas Paramadina, Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).