Langsung ke konten utama

Malam Nyadar1

Salamet Wahedi *
Jurnal Nasional,29 Agu 2010)

Thuuoong...! thooung...! thooung...!

SIRINE kapal merapat memulai debar dada. Selamat datang di Pulau Madura, sebentang spanduk merah menyala menarik perhatianku. Dan patung karapan sapi, merupakan nilai lebih yang mengakrabkan pulau ini dalam benakku. Seperti tempat-tempat yang aku singgahi, Dermaga Kamal, dan mungkin seluruh petak kenangan yang akan kulalui di Pulau Madura ini, adalah kesederhanaan yang mulai mengelupas. Seperti kegersangan yang pelan-pelan beringsut di beranda hatiku.

Mendekati terminal, ibu tua dan seorang anak merengek, merenyuh desir darahku. Di telinga, di antara lagu Iwan Fals, Siang di Seberang Istana, keluh Rafa mendengung. Seperti sebuah isyarat. Keluh pada malam dia berhasil mencopoti celana kelelakianku.

"Apa yang kau inginkan dariku, lelaki? Sekadar wawancara?" kata Rafa yang malam itu begitu anggun. Tatapannya penuh gairah. Seulas senyumnya menghentak nalarku. Tak bisa ditahan lagi, rona mukaku berubah. Cepat-cepat kutepis dengan anggukan satu kali. Pelan. Penuh kesungguhan.

"Tidakkah kau akan menikmati ‘jajanan yang tidak berbungkus daun' malam ini?"

Jajanan tak berbungkus daun? Ah Rafa termasuk perempuan penuh imaji. Tidak adakah jalan lain Rafa?, aku membatin. Rafa begitu memikat, setiap pertanyaan yang kucoba sodorkan, disimpannya dalam simpul senyum manisnya. Lama-lama tak dapat kuhindari tatapannya yang teduh tapi runcing. Apalagi aroma tubuhnya, desah napasnya. Aku tak lagi dapat mengelak. Ia tak hanya memikatku. Tapi, ia membuatku kagum dan bangga padanya. Ia tangguh dan penuh imajinasi. Kata-katanya meluncur ritmis. Apalagi ditambah cahaya matanya yang berkaca-kaca.

"Rafa!" lenguhku meregang ngilu. Lagi-lagi Rafa melempar senyum melihat tubuhku mengejang. Tangannya membelai kepalaku yang rebah dekat ketiaknya. Rafa seperti guru geografiku. Ia begitu lugas mengajariku tentang ilmu bumi. Ia pemandu wisata yang lihai. Diperkenalkannya aku pada gunung yang selalu berdegup. Diajaknya aku menyelam, merasakan kehangatan sungai. Juga ditunjukkannya padaku bagaimana cicak lekat di dinding.

***

"Sumenep! Sumenep!"

SUARA seorang kondektur melintas di ujung retina. Memancingku mempercepat langkah. Sampai dekat loket karcis ibu tua itu terus mengejarku, manatapku penuh asa. Tangannya tiada pegal-pegalnya menadah. Dan anaknya bergelantungan di tanganku. "Om minta uang, Om. Aku belum makan," kata anak itu, kedua matanya begitu sayu. Tapi, begitu jernih. Mata yang runcing. Sedang si ibu, tampak mengiba. Ibu yang lusuh. Pakaiannya terkesan tak dicuci. Bibirnya pecah-pecah kering. Dan garis wajahnya penuh debu. Aku pun merogoh uang kecil di kantong celana.

Mungkin inilah yang diceritakan Rafa sebagai pemanggul sejarah buta. Sosok yang tak pernah dilihat dan disaksikan dengan saksama. Ya, kata Rafa, iklan dan orasi politik elite kita menggembar-gemborkan kesejahteraan kita semakin meningkat. Bahkan dengan bangganya mereka memamerkan bisnis ekspor kantong pengusaha mereka. Tanpa mau menengok bagaimana nasib orang tua dan generasi bangsa ini masih tercecer di pinggir-pinggi jalan.

Meski sebagai wanita tuna susila, Rafa selalu mengesaniku dengan kata-kata yang meluap ‘pedas'. Kata-kata yang meluncur sederas desahnya merengkuh tubuhku.

"Apa yang dapat kita dapatkan di negeri ini. Hanya dongeng dan janji. Para pejabat kita tak ubahnya para penyair yang tiada henti merangkai kata."

"Dan pilihanmu?" tanyaku dengan wajah melucu. Menggodanya untuk melempar cubitannya ke perutku waktu itu.

"Kupilih jalanku. Seperti angin memilih ruang di mana ia akan bersemayam," sungging Rafa mencibir.

"Puitis banget," sontak kata-kataku membuat mata Rafa ngacir ke langit luas.

Ah Rafa, kau mengingatkanku pada kisah Perempuan di Titik Nol!

***

"Tanah merah! Partelon pasar! Rombongan!"

MATAHARI telah beranjak melewati garis puncak. Dengan sebersit cahaya banal yang meredup, ia menyapa ladang-ladang menghijau tua di kanan-kiriku. Bus melaju 50 km per jam. Di kejauhan, pohonan, orang-orangan timbul tenggelam. Seperti ingatan yang nanar. Dan senja lamat-lamat seperti tangan seorang ibu mengusap kepala anaknya. Semburat jingganya seperti gincu perawan membias di kaca bus.

Dan burung-burung? Ah, perjalanan yang begitu eksotis. Setiap jengkal jalan yang kulalui, bak menyimpan serpih kerinduan. Berulang kuarahkan tele kameraku ke obyek yang melintas bak seliweran perempuan di senja Dolly, tempatku nongkrong dan menikmati panorama tubuh. Menikmati pemandangan sepanjang jalan yang senyap, kadang menderu, tambah asyik saja dengan iringan celoteh lagu-lagu jalanan pengamen.

Di sini aku kembali teringat wajah beku Rafa. Wajah yang menuturkan nasib orang-orang di sekitarnya. Dengan aksen Sumenepnya, pada malam ke-59 pertemuan kami, di Taman Bungkul, ia bercerita tentang seorang Rawit. Seorang anak berusia 15 tahun. Usia yang segar untuk menimba ilmu. Tapi sayang, pada usia yang masih belia ini, Rawit memilih belajar di kolong langit lepas. Ia begitu lihai mengamen. Memainkan gitar. Malam-malamnya dihabiskan di jalanan. Bermacam lagu telah menjadi menu pelajaran terbaiknya. Rafa begitu antusias setiap bercerita fragmen suram orang-orang di sekitarnya. Penghayatannya sungguh menakjubkan. Mimik wajahnya, intonasi suaranya, serta gerak bibirnya bak perpaduan busur dan anak panah menembus dadaku. Buru-buru aku memalingkan wajah, saban Rafa mengerling manis.

"Kau lelaki yang kuterima dengan ketelanjanganku. Kuraup seluruh telanjangmu. Kau tuntaskan birahi tanpa lendir kondom."

"Aaaa...." mulutku tercekat diteror tatapan dingin Rafa. Senyumnya menyeringai. Gemulai tangannya menepuk pundakku. Lalu kepalaku....

Laju bus semakin menderu. Keramaian mulai menepi di jalanan. Semburat senja seperti kibasan rambut pirang perempuan muda yang memilih duduk di dekatku. Ia melempar senyum. Tebal bibirnya membuatku berdegup. Oval matanya seperti lorong masa silam. Suram dan penuh hantu tanda tanya. Dan lentik tangannya? Ah....

"Mas turun mana?" kerling mata perempuan di sampingku bak lampu yang membuat mataku bergeragap. Mataku bergegas menangkap raut wajahnya. Lalu aku menjawab sekadarnya, "Sumenep"

"Sumenep? Di mana?"

"Mau ke Nyadar"

"Oh! mas wartawan ya? Sama saya juga mau ke sana. Mas asli mana?"

Seperti pertanyaan sebelumnya, aku hanya menjawab sekadarnya. Aku jelaskan, aku memang seorang wartawan. aku lahir dan besar di Lidah Wetan. Ayahku berasal dari Sukabumi. Ibuku asli Bangkalan.

"Berarti indo dong?" senyumnya seperti sebilah jeruk. Lalu ia memerkenalkan namanya: Asfi, asli Sumenep.

"Saniman," aku balik memperkenalkan diri, ketika kehangatan jabatan tangannya meminta kepastian.

Sepanjang perjalanan, aku mengesani Asfi sebagai sosok perempuan yang bijak. Sosok perempuan yang suka warna kuning. Kata-katanya, seperti awal perjumpaan, seperti sebaris pasukan yang dengan sigap dan penuh perhatian menunggu instruksi. Ceritanya tentang Nyadar yang akan kuliput, membawa sekelebat bayangan gamang: kecemasan, suasana mistis, dan kenangan yang tiba-tiba begitu sentimental menggodaku.

"Nyadar itu semacam ritual syukuran. Ia lahir atas niatan mensyukuri tumbuhnya garam di Girpapas," Asfi begitu lihai menceritakan nyadar. Sekali-kali dialihkannya pandangannya ke tempat kosong. Mengingat-ngingat secuil kenangan yang tercecer, atau menghadirkan suasana yang sungguh menyentuh jiwa.

"Kadang aku bergidik membayangkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan nyadar ladar di luar nalar," tandas Asfi. "Bayangkan saja, bagaimana nasinya panjang3 itu awet. Tidak cepat basi. Bedaknya dapat menyembuhkan penyakit. Yang paling aneh, mungkin bagi orang-orang luar Gir Papas, nyadar bagi masyarakat Gir papas seperti ritual menunaikan haji"

Berulang Asfi menandaskan hal-hal mistis. Mimiknya, setiap ia menguraikan selalu diliputi eksotisme. Semacam gelora jiwa kerinduan. Raut mukanya memancar aura alam lain. Sisi lain orang Madura yang selama ini hanya kukenal dari desas-desus dan secuil sosok Rafa.

"Oh, Hajjah Murdiah," tandas Asfi ketika kutanya tentang Rafa. Asfi lalu menjelaskan panjang lebar tentang sosok dan sepak terjang Rafa, sampai akhirnya ia menunaikan ibadah haji.

Ah Rafa, sosokmu kini tak lagi banal, tapi kau begitu sakral menghentak ilusi dan imajinasiku....

***

MALAM berkelebat riuh. Hembusan debu memenuhi rongga tanah Kebun Dadap. Tanah berlangsungnya ritual agung nyadar, begitu orang-orang Gir Papas menyebutnya. Di tanah Kebun Dadap ini pun, beberapa gambar dalam momen yang eksotis dan penuh romantika sudah memenuhi memori digitalku. Tak ketinggalan arakan bengatowa4 dengan kemeja racok saebu5. Sampan-sampan yang hilir mudik menelan dan memuntahkan penumpang yang berjibun.

Berdesak-desakan di atas sampan kecil kadang aku ngeri. Apalagi ketika sedikit oleng. Sontak mulutku juga berteriak-teriak seperti ibu-ibu. Dua hari di tanah Muaragaram ini, aku seperti melihat denyut nadi gelisahku: antusiasme masyarakat terhadap ritual adat-istiadat, muda-mudi mulai tampil punk dan glamour ke perayaan budaya, pasar malam digelar demi memeriahkan, dan turis-turis yang datang sekadar nampang. Ah, rasa gelisah itu tidak hanya bergolak di setiap titik nadir darahku, tapi mulai meruncing menusuk mata setiap kuarahakan tele kamera untuk mengambil gambar. Gambar-gambar itu seolah hendak berbicara. Tapi sayang gemerlap lampu Phillips yang mengganti lampu talpe, membuatnya ngungu terpaku bisu. Ah inikah nyadar yang eksotis itu, Rafa!

Menjelang tengah malam, Asfi mengajakku ziarah.

"Kalau tengah malam begini sudah sepi. Kita akan sedikit tenang memanjatkan doa. Abang nanti bisa merasakan sendiri bagaimana hawa mistis yang sering aku rasakan dan aku ceritakan," wajah Asfi yang tampak lebih segar dan berbinar. Senyumnya yang berulang di lemparkannya membuatku berdegup. Setiap kali kutepis gemuruh yang menjalari pori-pori darah, setiap itu pula ada hawa aneh yang menghentak alam bawah sadar. Hawa yang menyelusup seperti gulungan asap. Hawa yang lewat rongga dadaku seiring udara yang berlari-lari kecil. Dan lamat-lamat, di ujung gulungan asap, aku melihat wajah lain di wajah Asfi....

Duduk depan pasarean Mbah Anggasuto, aku hanya tertunduk sendu. Suasana yang hening dan senyap, menghapus tumpukan debu di jantungku, di otakku, di kelenjar darahku. Sesekali percakapan pelan dan penuh intonasi bengatowa, menyentuh gendang telinga. Seperti kuku angin mengelus kulit ariku.

Tak ada doa yang bisa kurapal. Hanya kelebat udara dingin dan penuh sentuhan, terus kurasakan. Kutangkap. Kupasang segenap panca indera dalam posisi on. Semakin lama kelebat yang membuat bulu roma berdiri, semakin pekat dan menyedot jiwaku dalam pusara sunyinya. Apalagi Asfi dengan telaten menuntunku dari pasarean5 satu ke pasarean lainnya. Seperti burung, aku seperti berkelana di cakrawala mistis tanpa batas. Dan setiap kali kumasuki pintu kecil pasarean, aku merasakan getar rindu yang dalam dan berat.

Cahaya bulan yang menyelinap di antara daun-daun pohon asam tak ubahnya kerling berpuluh pasang lancheng-paraben6. Berpuluh pasang yang mengendap di tempat-tempat gelap seperti burung-burung membagi kehangatan. Dan esoknya, mereka akan bercerita dengan malu-malu akan sejarah yang diukirnya di antara gelap kubangan sampan yang belum selesai. Di antara nisan-nisan yang setiap menangguk sepi.

Melewati titik puncak malam, para pedagang mulai memberesi barang-barangnya, dan keramaian pun menepi. Di beberapa celah jalan, hanya kelengangan yang bertahan. Kepul debu tidak sekelabu maghrib. Melintas di area pasar malam nyadar, dengan sesekali mencari obyek yang eksotis, aku merasa diradar sepasang mata gaib. Bahkan beberapa kali aku canggung. Orang-orang menyapa, menawarkan sisa dagangannya seperti datang dari masa lalu. Dan lamat-lamat wajah Rafa, membercak di setiap sudut malam. Ah, Hajjah Murdiah!

" Apa yang kau lamunkan Saniman?

Sebilah tangan menepuk bahuku. Terawangku mengawang. Dan alam bawah sadarku, seperti dikena reruntuh kota sehabis perang. Inikah luka kenangan dan rindu? Mataku semakin berkunang-kunang menyirap gulusan debu dan rasa. Rafa, ah Hajjah Murdiah balutan tubuhmu menebar embun cahaya, seruku dalam hati melihat sosok yang menepukku.

Dan yang paling membuatku membatu dan tidak mampu sekadar menggerakkan tele kameraku, seorang bocah yang menggelayut di sisi kiri Rafa, ah! Hajjah Murdiah. Bocah bermata jernih. Senyumnya menyimpan kilat tajam. Dan sepotong belati mainan diacung-acungkannya ke dadaku.

Sumenep-Surabaya, April 2009

Catatan:
1. Nyadar: ritual syukuran yang dilakukan masyarakat Pinggir Papas. Ritual ini dilakukan setiap tahun. Ritual ini merupakan adat-istiadat yang terus berlangsung sampai sekarang. Nyadar dilaksanakan tiga tahap. Nyadar pertama dan kedua dilaksanakan di Desa Kebun Dadap. Dan nyadar ketiga dilaksanakan di Desa Pinggir Papas.
2. Perempuan di Titik Nol: novel karya Nawal El-Saadawi, pengarang perempuan Mesir.
3.Panjang: piring besar yang digunakan dalam ritual nyadar.
4. Bengatowa: sesepuh/pemangku adat.
5. Pasarean: kuburan
6. Lancheng-paraben: perjaka-perawan.

*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=465257722274

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com