Langsung ke konten utama

FESTIVAL SENI SURABAYA; Gaungnya Nyaris Tak Terdengar

Abdul Lathief
http://cetak.kompas.com/

Hari Sabtu (13/11) malam berbarengan dengan pentas ”Rumah Pasir” oleh Teater Koma Jakarta dalam rangkaian Festival Seni Surabaya 2010 bertajuk ”Surabaya Experience” di Gedung Cak Durasim, di Gedung Utama Balai Pemuda Surabaya yang semula dipakai untuk aktivitas FSS justru menjadi tempat penyelenggaraan acara perkawinan.

Panggung FSS dengan segala perlengkapan pendukung seni pertunjukan sudah disiapkan di dalam gedung utama. Namun, sejak Jumat (12/11) sudah mulai dibersihkan karena hendak dipakai untuk hajatan dan pesta perkawinan yang sudah mengikat kontrak dengan pengelola Balai Pemuda Surabaya.

Ironis, itulah yang terjadi sepanjang sejarah Festival Seni Surabaya. Sebab, selama ini tatkala perhelatan berlabel FSS, kompleks Balai Pemuda nyaris berubah wajah menjadi oase sekaligus etalase seni dan budaya selama aktivitas festival berlangsung.

Realitas itu setidaknya mengindikasikan persiapan panitia FSS tidak terprogram dengan baik. Adapun pihak panitia mengaku sudah berupaya maksimal bisa memanfaatkan Gedung Utama Balai Pemuda selama ajang tahunan ini berlangsung.

”Soal tempat, murni soal teknis. Awalnya mau pakai gedung Mitra baru. Tapi tidak bisa karena belum selesai direnovasi dan memang sudah terikat kontrak. Jadi tidak bisa dipaksakan,” kata Ketua Umum FSS ”Surabaya Experience” Basuki Babussalam.

Fakta lain yang amat mengganggu eksistensi FSS yang sudah berjalan lebih dari satu dasawarsa, sejak tahun 1996, adalah tampilnya Teater Koma dengan lakon ”Rumah Pasir”.

Penampilan teater dari Jakarta itu oleh sebagian seniman dianggap kesalahan panitia yang wajib dipertanggungjawabkan ke pada khalayak.

”Event seni FSS kacau, rusak, dan amburadul. Teater Koma ditanggap gede-gedean, sementara seniman lokal tidak diberi kesempatan seperti Teater Koma. Semakin runyam pentas Teater Koma tidak lebih dari garapan proyekan (HIV-AIDS),” kata Saiful Hadjar, seniman penggerak Kelompok Seni Bermain Surabaya.

Kelompok seni ini pernah menggegerkan jagat kesenian di Surabaya bersama seniman Mulyono asal Tulungagung dengan aksi seni rupa Marsinah, aktivis buruh yang ditemukan meninggal di kawasan hutan di Jatim pada 1990-an.

Penghormatan atas Teater Koma pun terkesan overdosis. Semua orang pasti mafhum dengan eksistensial, kebesaran, kepopuleran, dan keprofesionalan Teater Koma yang tanpa harus bersikap berlebihan tentu akan menyedot perhatian khalayak.

Kenyataan itu tersirat saat Teater Koma hendak geladi bersih dan pentas, Jumat dan Sabtu (12-13/11), panitia pun tampak antusias menghubungi media massa. Sebaliknya, tatkala kelompok-kelompok lain taraf lokal hendak tampil, nyaris panitia bungkam.

Bahkan, tatkala Kompas diundang meliput geladi bersih pentas tari pada Minggu (7/11), tak banyak panitia yang hadir hingga akhirnya geladi bersih pun molor tanpa kejelasan. Hal itu pun kembali terulang manakala geladi bersih pentas kolaborasi musik-puisi pada hari berikutnya.

Kacau sejak awal

Dari balik keruwetan, kekacauan, dan perlakuan yang overdosis yang mewarnai FSS tahun 2010, tebersit sebuah upaya yang layak mendapat apresiasi saat giliran pentas teater lakon ”Rembulan di Atas Kremil” oleh Bengkel Muda Surabaya bekerja sama dengan teater Berdaya, Bangunsari (Kremil), Surabaya.

Tim produksi teater lakon ”Rembulan di Atas Kremil” mengambil cara efisien, efektif, dan komunikatif dengan menerbitkan dan membagikan buku kecil naskah seputar pementasan.

Sekalipun tanpa mendapat perlakuan yang berlebihan dari panitia, media pun meresponsnya dengan antusias.

Ritus tahunan FSS yang telah menjadi ikon Surabaya kini telah usai berbarengan dengan pentas kesenian ludruk ”Karya Budaya” Mojokerto, Minggu (14/11) di Pelataran Balai Pemuda, Surabaya.

Kehadiran kesenian tradisional dalam ajang FSS kali ini sesungguhnya mencederai eksistensi festival. Prosesnya telah menasbihkan sebagai ruang kekaryaan seni kontemporer, futuristik dan eksperimental, entah seni tari, seni musik, seni rupa dan sastra.

Berdasarkan catatan Kompas, dalam perhelatan FSS tahun 2003, Sekretaris Panitia Henry Nurcahyo secara tegas menyatakan, Festival Seni Surabaya berbeda dengan Festival Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, yang lebih kepada kesenian tradisi. ”Framenya FSS adalah kontemporer, futuristik, dan eksperimental,” katanya kala itu.

Menilik waktu penyelenggaraannya pun, tahun ini berbeda dengan kesejarahan FSS yang momentumnya bersamaan dengan peringatan hari jadi Kota Surabaya pada Mei-Juni.

Alasan panitia menghelat FSS tahun ini dalam bulan November karena persoalan teknis setelah FSS vakum tahun 2009 dengan adanya pemilihan presiden.

”Setelah vakum di tahun 2009 karena pilpres, perlu persiapan yang cukup dan pilihan jatuh di November. Namun, tahun depan direncanakan kembali ke bulan Juni,” kata Basuki.

Adapun soal penampilan tampilnya kesenian ludruk, panitia FSS berargumen, hendak menyatukan budaya modern dan tradisi. ”Karena FSS punya semangat budaya itu, selain tampil karya mutakhir, kita juga ajak menikmati ludruk. Apalagi tema tahun ini adalah ”Surabaya Experience” dan ludruk menjadi bagian perjalanan panjang kota ini,” katanya.

Saiful Hadjar menyatakan, sampai sekarang manajemen FSS tidak pernah lahir. Walaupun mereka yang menangani kepanitiaannya sudah berulang kali terlibat, terkesan masih berjalan sendiri-sendiri. Panitia tampak sekadar menjalankan kerja, tidak berinisiatif dalam berpikir dan bersama-sama membangun strategi kesenian sehingga penyaji yang diundang pun tidak selektif.

”Sudah seharusnya yang terlibat FSS paham kesenian. Kesenian itu ideologi dan dialogis. Mereka katanya tahu manajemen kesenian, tapi tidak menerapkan sehingga aplikasinya nol,” ujarnya.

Mencermati perjalanan FSS dari tahun ke tahun, tidak semakin berkarakter yang membuat khalayak merindukan kehadirannya kembali.

Konsistensi pencapaian sebuah festival amat menentukan jati diri, bahkan menjadi sebuah peristiwa fenomenal yang akan terus ditunggu masyarakat seni pertunjukan.

Apa yang pernah dilontarkan oleh komponis kesohor arek Surabaya Slamet Abdul Sjukur, tampaknya masih relevan untuk direnungkan. ”Indonesia memang hebat dalam konsep, namun amat lemah dalam pengejawantahannya. Hal itu tercermin di negeri ini yang tidak pernah bagus,” katanya.

Festival Seni Surabaya tahun ini terkesan sekadar ada, setidaknya tercermin dari kurang matangnya panitia mengelola event besar itu, seperti tanpa baliho dan poster di sudut kota.

Dari awal penyelenggaraan hingga berakhir, tak ada kesan yang mendalam dalam FSS 2010, kecuali sebuah kekecewaan.

FSS tak dikelola secara profesional sehingga insan media pun nyaris luput dari kegiatan seni itu. Malang FSS 2010 yang nyaris tak terdengar gaungnya.

15 November 2010
Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2010/11/festival-seni-surabaya-gaungnya-nyaris.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).