Ketika Penggurit Lain Sibuk Menjinakkan Kata

Judul : Layang Seka Paran
Pengarang :Suryanto Sastroatmodjo
Halaman :107, ix (87×81,5 cm)
Penerbit : Cantrik, Malang, 2003
Peresensi : Suwardi Endraswara *
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Ketika Penggurit Lain Sibuk Menjinakkan Kata, Suryanto Sastroatmodjo telah asyik mempermainkannya.

Banyak penikmat sastra Jawa menilai aneh geguritan (puisi) Suryanto Sastroatmodjo, selanjutnya disingkat SSA. Puiisi yang susah dipahami seperti ini biasa disebut orang sebagai black poetry. Tapi, bagi yang telah lama malang-melintang di dunia kejawen, bagi mereka yang akrap dengan dunia batin orang Jawa, guritan-guritan SSA yang terkumpul dalam antologi Layang Pangentasan (LP) ini justru akan mengasyikkan.

Rama Sudiyatmana menulis antologi Layang Saka Suwarga dan Widodo Basuki memilih Layang Saka Paran untuk buku kumpulan geguritannya. Balai Bahasa Yogyakarta pun menerbitkan antologi bersama dengan judul Layang Saka Gunung Kidul. Dan masih setumpuk lagi kumpulan guritan yang diberi judul dengan idiom “layang” (surat), yang, tampaknya memang amat digemari sastrawan Jawa. Meskipun ikut-ikutan menggunakan “layang”, orisinalitas geguritan SSA tak bisa diragukan. Banyak renungan zaman, psikologi waktu, kondite kejawen, dan sejenisnya selalu bertebaran. Mungkin, penggurit ingin “mengentaskan” kemiskinan humaniora kita lewat suratnya. Inilah kepedulian sejati.

LP memuat 85 buah guritan warna-warni. Ibarat orang berlaga, cukup menebarkan keringat mistis. Di tengah rimbunan daun mistik, SSA menorehkan gagasannya dengan sematan rasa. Ini sebuah pioner dalam geguritan. Yang unik, dia selalu mengukuhkan ungkapan khusus. Sebuah ungkapan njawani, yang kaya makna, misalnya di dalam geguritan Tarupala, Wantilan, Lambangsari, Kapangsari, Galuga dan lain-lain – rasa Jawa selalu dipurba. Di situ tanaman kejawen amat subur makmur. Penuh dengan catatan zaman yang disandikan menggunakan estetika Jawa asli (deles).

Perkara yang sesungguhnya romantik, yang di tangan penyair lain dengan gampang “terjerumus” ke dalam permainan erotika – diekspresikan SSA dengan langsung menyentuh falsafah hidup Jawa. Itulah daya estetika SSA yang penuh simbol. Coba saja tengok geguritan berjudul Lelangen ini:

Angin sore aleledhang ndumuk ron-ron mlinjo
Uga nyenggol sinoman
Angin lirih lan lilih, ning tabete isih cumithak walaka
Terang gumilang lamun aku isih kelepetan pamrih
Ngayunake manuk podhang
Selagine kayungyung mring kedasih

Terjemahannya:

Anngin yang bertiup sore hari berhembus menyerempet daun-daun mlinjo/Juga menyenggol daun muda/Angin bergerak lembut dan pelan, tapi masih tetap terasa/Terang sekali jika aku masih masih ada pamrih/Menginginkan burung kepodang/Yang sedang tergiur pada burung kedasih

Dari kutipan geguritan itu, tampak peristiwa besar permainan asmara digarap manis. Penggurit dengan piawainya bermain metafora, dengan memilih kata burung kepodang dan kedasih. Idiom burung ini amat njawani. Warna kepodang dan nama kedasih, amat romantis dalam kehidupan orang Jawa. Namun oleh penggurit diekspresikan secara impresif, tidak vulgar. Kata-kata yang cukup menembus rasa, diuntai secara tersamar. Dan, inilah hakikat sebuah geguritan yang layak dinikmati sebagai sebuah guratan nyali yang benar-benar menantang, terutama di hadapan para intelektual muda Jawa yang ingin menakar seberapa kokoh ia masih berakar pada kultur Jawa.

Juga dalam segi kebahasaan, SSA bisa disejajarkan dengan Sutardji, misalnya, yang sama-sama sebegitu kuat ikatan mereka dengan bahasa ibu; Sutardji dengan bahasa Melayu-Riau, akar bahasa Indonesia, sedangkan SSA dengan bahasa Jawa. Maka, tidak sepertihalnya penggurit muda lainnya yang menulis puisi berbahasa Jawa, yang tampak masih sering disibukkan urusan menemukan dan menjinakkan kata, SSA sudah berada pada tahap mempermainkannya, menyulam kata-kata lama dengan kata-kata baru, mengawinkannya. Ketika penggurit lain masih sibuk “mencari” SSA sudah asyik bermain-main dengan stilisasi.

LP sarat dengan gurit-gurit kebatinan. Doa-doa spiritual Jawa yang penuh greget kearifan, sangat kuat menggema melalui guritan-guritan di dalam LP ini. Bangunan-bangunan rasa yang sanggup melewati batas-batas kemanusiaan, cukup mengalir. Ini tak juga jauh dari sosok SSA sendiri sebagai “pujangga muda” dalam sastra Jawa modern. Dia, hampir tak mengubah wacana rasa yang penuh makna. Aspek-aspek bawarasa, selalu dia gelar dengan bahasa yang spesifik, cukup menyentuh nurani.

Dari geguritan biasa, balada, sampai prosa liris (gatra ginupita), tampak tak pernah bergeser seujung rambutpun – bahwa SSA tetaplah SSA. Kreativitas yang matang inilah yang mungkin jarang dimiliki oleh penggurit lain. Jiwa yang betul-betul sepuh (tua) selalu menyembul langsung dalam jantung geguritannya. Itulah sebenarnya masalah gaib dan ngelmu karang di era R. Ng. Ranggawarsita, yang selalu dia taati dan kemudian tumbuh dalam karyanya.

Hanya saja, memang ada kesan mitologis-pragmatis yang belum tertangkap – ketika dia melukiskan sebuah balada. Tak semua balada yang dia sampaikan harus bernuansa sedih. Bukan pula sebuah catatan yang cukup menggores dunia Jawa, tapi disebutnya balada. Tampaknya SSA memaknai balada hanya sebagai goresan peristiwa besar dalam hidup. Sebut saja Balada Galih Remujung, Balada Segara Wedang, Balada Tanpa Nama, dan sebagainya.

Geguritan SSA dengan warna apapun diekspresikan tetap sarat dengan religiusitas Jawa. Itulah agama Jawa. Itulah agama ageming aji, yang banyak didengungkan lewat babad-babad. Terlebih, kalau pembaca berkenalan dengan prosa lirik berjudul Kekeran Wingit. Gaya pengucapan semacam itu tampaknya belum banyak diminanti oleh penggurit lain. Ungkapan yang dialogis dan estetis khas SSA, cukup menawarkan hal-hal yang adiluhung. Lagi-lagi peristiwa mistis, harus menyelimuti dunia geguritannya. Dan, itulah pencarian (dan sekaligus penemuan?) SSA atas makna hidup bagi orang Jawa. Falsafah yang meloncat-loncat ini, diserbu, ditelanjangi, dan diliris-prosakan, dan semakin enak. Maka, bersiaplah untuk lega sehabis menikmati sebuah santapan LP ini. Paling tidak, batin kita akan terbuka, bahwa ada batas surga-neraka, bapa akasa-ibu pertiwi, dan seluruhnya terbentang di hadapan manusia. Di hadapan kita.

*) Suwardi Endraswara, penggurit/pengarang sastra Jawa/Indonesia, Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa UNY.

Komentar