Langsung ke konten utama

Balada Seorang Rendra

W.S. Rendra telah tiada. Adakah saya bisa berpaling?
Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Suatu hari saya dengar pidatonya. Suaranya menggelegar. Tangannya bagaikan kaki burung merak, tajam, menukik-menghantam.

Siang itu di salah satu galeri di Jakarta ia berpakaian serba-putih hingga tampak gagah dan berwibawa. Itulah busana yang selalu mengingatkan saya kepada sosok Bung Karno. Dan foto Rendra memang sering disandingkan dengan foto Bung Karno. Keduanya sama-sama gagah. Necis. Dan tampak plamboyan. Bahkan pidato-pidato keduanya sama-sama memukau.

Tapi Rendra seorang penyair, bukan politikus. Kalau pun sajak-sajaknya sangat politis, sosialis, namun ia tak pernah mencatatkan dirinya sebagai salah satu anggota atau pimpinan sebuah partai politik.

Cita-rasanya adalah cita-rasa seorang penyair. Sebagai seorang penyair, hidupnya selalu gelisah, cemas, tapi sekaligus pemberontak yang meradang-nerjang hingga nyaris tak bisa dikekang oleh kekuasaan otoritarian sekalipun.

Sajak-sajak pamfletnya terasa garing, kering, tapi menyayat. Membahana tapi sekaligus kritis. Suaranya menggelegar, tubuhnya tinggi-besar bagaikan raja segala raja. Ya, Rendra memang penyair yang jadi sosok Agung dalam penguasaan panggung dan menyedot perhatian orang ramai.

Mula-mula saya mengenal puisinya dalam bentuk balada dengan menggemamakan gita-gita alam raya. Buku puisi Ballada orang-orang tercinta sungguh fenomenal dan layak diparesiasi. Perasaan luka dan binasa berjuta rakyat Indonesia hadir dengan menawan. Persoalan-persoalan besar menjiwai sebagian besar sajak-sajak balada Rendra.

Setelah Ballada orang-orang tercinta, Rendra kembali menghasilkan sajak dengan gaya dan model pengucapan yang berbeda. Kali ini ia gemar menyanyikan suara alam. Menakik jeritan alam, sehingga gemanya terasa sampai jauh.

Empat kumpulan sajak baru Rendra sangat sadar bunyi, yaitu Kakawin-kawin, Malam stanza, Nyanyian dari jalanan, dan Sajak-sajak dua belas perak. Irama sangat terjaga dengan baik. Pilihan kata begitu diperhitungkan.

Rendra ternyata penyair yang bisa menghadirkan kata-kata yang jernih, piawai melukiskan percintaannya dengan kekasihnya, Narti. Sebagian besar sajaknya melantunkan suara lirih seorang pejaka yang jatuh cinta pada wanita hingga keduanya dengan bahagia menju ranjang pengantin.

Saya pun merasakan jatuh cinta pada sajak-sajak Rendra tentang cinta. Suaranya tenang dan tidak bermaksud untuk berteriak seperti para demonstran dalam sajak-sajak pembangunan. Gemuruh dan membahana sehingga nyaris kehilangan daya pukau literer. Sajak Surat cinta berkata, dan aduhai indahnya:

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan menangis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!

……………

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan.

Entah mengapa saya enggan melepaskan bahasa puisi Rendra yang puitis itu. Mungkin saya rindu karena selama ini saya lebih banyak membaca puisi protes melulu. Hampir tak ada ruang untuk cinta yang personal sebagaimana sajak di atas. Dan hampir tak ada semangat religiusitas yang intim sebagaimana dulu Rendra menulis sajak Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang (1960):

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Sejarah hidup Rendra penuh warna. Ibarat sumur yang tak pernah kering walau ditimba setiap hari. Di dalam negeri banyak orang yang telah memberikan perhatian pada sepak terjangnya di lapangan puisi dan teater. Rendra tak cuma meninggalkan sesobekan riwayat rusuh dari catatan seorang seniman Indonesia, tapi juga mewariskan sejumlah buku dengan goresan tinta yang tak jarang paling pribadi, karena itu menghasilkan tulisan yang sunyi dan bunyi.

Kita bangga pernah punya seorang presiden cerdas seperti Bung Karno. Tapi penghormatan terhadap orang besar seperti Bung Karno tak cukup hanya memperingati dirinya. Selama ini banyak peringatan diselenggarakan untuk mengenang kiprah dan jasanya. Kita bisa mengikuti sejumlah pembicaraan tentang si Bung lewat liputan sejumlah media nasional dan majalah dalam dan luar negeri. Tapi buku Di Bawah Bendera Revolusi tetap masih mempesona saya yang pertama, sama seperti ketika pertama kali saya membacanya. Buku itu memberikan sebuah ketakjuban dan kebanggan dalam diri saya; bahwa presiden Indonesia yang pertama seorang pemikir yang serius, di samping sebagai tokoh pergerakan terkemuka, tentunya.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).