Langsung ke konten utama

Filsafat untuk Calon Intelektual

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

SANGAT PENTING filsafat dikenalkan kepada calon intelektual. Filsafat adalah jendela pengetahuan, sekaligus kebudayaan yang mengusung nilai-nilai dan kebiasaan kritis dalam membaca kehidupan. Karena itu, tidak heran jika prinsip-prinsip fundamental kehidupan seperti kebersamaan, keadilan, dan hubungan sosial yang baik, berangkat dari pendalaman filsafat yang serius (prihatin).

Filsafat juga bermakna memanusiakan manusia. Intelektualitas manusia menjadi tanda bahwa ia berbeda dengan selainnya (the other). Menimbang hal ini, Pythagoras menyindir bahwa, “Jika manusia ingin hidup senang, maka hendaklah rela dianggap sebagai yang tidak berakal.” (Mulyadi Kartanegara, the Best Chicken Soup of the Philosophers, 2005: 29). Sindiran ini berlaku bagi mereka yang tidak prihatin dengan kehidupan atau bagi mereka yang tidak berfilsafat, karena bukan berarti bahwa “hidup senang” adalah kehidupan yang terbaik.

Kehidupan itu, kesenangan dan kesedihan. Namun, bagaimana jika kehidupan melulu kesedihan? Kehidupan, apapun bentuknya harus diapresiasi dengan baik. Sama halnya dengan Nietzsche yang menganggap bahwa kehidupan bagi intelektual hanyalah tragis belaka. Namun, segala pengalaman hidup yang menyakitkan hendaknya dihadapi dengan lapang dada dan hati yang riang (Nietzsche, the Birth of Tragedy, 1967: 133). Jadi, seandainya kita adalah manusia yang masih merasa sebagai manusia, maka harus menyadari dengan sungguh bahwa dirinya adalah intelektual atau manusia yang prihatin atas fenomena kehidupan yang sulit dan kompleks ini.

Agar lebih kontekstual, marilah kita mencoba menyelami pelbagai problem kebangsaan yang sesungguhnya. Beberapa hari menjelang pidato presiden di depan DPRD, The New York Times (5/8/2010) menurunkan berita impresif tentang Indonesia. Harian internasional ini menyebut perekonomian Indonesia adalah perekonomian terbesar kawasan Asia Tenggara yang layak dijadikan model bagi negara-negara sekitarnya. Inilah gegap gempita perekonomian bangsa menurut “orang lain” yang menggarisbawahi pertumbuhan ekonomi makro sebesar 6,2 persen pada semester II 2010.

Membaca hal ini, tentu saja rakyat Indonesia memungkiri bahwa kesejahteraan dapat dinikmati. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi makro berbanding terbalik dengan kesejahteraan rakyat secara nyata. Moeslim Abdurrahman menanggapi, “Menurut sudut pandang orang miskin, bahwa mereka tidak makan pertumbuhan ekonomi yang 6,2 persen ini. Inilah di mana kritik dan protes harus diajukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.” (Moeslim Abdurrahman, 2010).

Menurut hemat Prasetyantoko (Kompas, 18/8/2010), kesenjangan ini terjadi karena Indonesia adalah negeri yang lupa dengan investasi sosial. Pada 2009, Human Development Index mencatat bahwa Indonesia memiliki peringkat pada level 111, suatu tempat yang jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina.

Apa pasal Indonesia begitu miskin? Jeffrey D. Sachs menilai bahwa penetrasi asing dalam investasi kapital dan pengelolaan pasar telah menjadikan negara miskin terperangkap dalam jebakan kemiskinan. Dalam konteks Indonesia, Amien Rais secara geram menyebut bahwa ada penjajahan agung, korupsi yang paling berbahaya sedang menyandera Indonesia. Inilah yang disebut dengan state capture corruption atau state hijacked corruption. Tanpa disadari, inilah yang menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang sulit berkompetisi dalam percaturan global dan kesulitan ini bersifat kronis, karena melahirkan sistem kenegaraan yang parasitik, korup dan manusia-manusia bangsa bermental kuli (Jeffrey D. Sachs, The End of Poverty, How We Can Make It Happen in Our Lifetime, 2005: 256-257).

Berhadapan dengan fakta silang sengkarut ketimpangan sosial, yang menjadi pertanyaan mendesak adalah, di mana peran intelektual untuk menjawab tantangan zaman yang sedemikian kompleks?

Peran penting intelektual adalah soal-soal tentang pelaku sejarah yang berperan dalam agenda pemerdekaan sosial. Sudah barang tentu hal ini tentang siapa yang bisa diandalkan untuk menggawangi pengejawantahan kritisisme dalam rangka perubahan sosial di Indonesia: menciptakan keadilan dan menghapus kesenjangan sosial.

Mansour Fakih menyebut masyarakat sipil (civil society) yang mampu melakukan transformasi sosial, gerakan penyadaran dan advokasi terhadap masyarakat. Mereka merupakan aktor sejarah yang mampu melakukan perlawanan terhadap hegemoni sosial (Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Pergoalan Ideologi LSM Indonesia, 2008: 180-181).

Namun untuk melakukan perubahan yang strategis, meneguhkan perubahan sosial hanya mengandalkan upaya gerakan civil society yang non-parlementer adalah terlalu sulit. Terlebih dominasi dan hegemoni struktural tidak melulu persoalan politik, tetapi juga kapital atau pasar dan peradaban (pengetahuan, sains dan teknologi).

Inilah tantangan bagi kelas menengah, baik itu secara ekonomi, karena penguasaan kapital yang kuat, maupun kelas menengah intelektual. Keduanya inilah yang memiliki kekuatan untuk melakukan mobilitas sosial. Fenomena lainnya adalah bahwa kelas menengah yang pertama lebih peka terhadap etika konsumtif dan tidak terlalu peduli terhadap advokasi politik (Moeslim Abdurrahman, On Hajj Tourism: In Search on Piety and Identity in the New Order Indonesia, 2000: hal. 1-20). Demikianlah, hal ini semakin menguatkan bahwa yang paling berperan dalam kerja penyadaran adalah kelas menengah intelektual. Kelas menengah intelektual adalah para sarjana, cendekiawan, agamawan dan termasuk juga mahasiswa.

Kembali kepada persoalan intelektual dan memanusiakan manusia. Sebenarnya kebutuhan yang mendasar adalah membangun dan mengembangkan intelektual itu sendiri. Karena itu, kegiatan pengenalan filsafat sebagai ruh kritisisme (peka rasa dan pikir untuk prihatin) sangat penting dilakukan. Inilah tugas utama pelbagai lembaga kebangsaan, lembaga studi, maupun forum-forum kultural non-kelembagaan untuk menyelenggarakan suatu acara yang berorientasi pada cipta intelektual, yang nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi perubahan sosial.

*) Hasnan Bachtiar, peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat PSIF UMM. Sehari-harinya bergelut di dunia penelitian dan aktivisme. Selain di PSIF, juga aktif di Center for Religious and Social Studies (RESIST) Malang sebagai peneliti dan koordinator studi, Komite Advokasi dan Informasi Rakyat Malang sebagai peneliti, ketua Lembaga Studi Terranova Malang di bidang kajian posmodernisme, anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).