Langsung ke konten utama

Haji Mabrur

Akhmad Muhaimin Azzet *
http://www.kompasiana.com/akhmad_muhaimin_azzet

Hati Hasan berbunga-bunga. Lembaran uang sejumlah dua juta rupiah kini dalam genggamannya. Berarti, pikir Hasan, bila ditambah dengan tabungannya di bank yang sudah berjumlah dua puluh lima juta, genap sudah untuk ongkos naik haji. Sungguh, malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan bagi Hasan.

Meski malam telah larut, Hasan tak juga beranjak tidur. Saking bahagianya, Hasan belum ingin memejamkan mata. Sedangkan istrinya, tampak telah tertidur pulas. Tak ingin mengusik istirahat istri tercintanya, Hasan berjalan pelan ke ruang tamu dengan masih menggenggam uang dua jutanya. Ia ingin menikmati malam ini dengan banyak bersyukur.

“Melaksanakan ibadah haji ke tanah suci adalah kewajiban bagi setiap muslim yang telah mampu. Bagi yang belum mampu, yang penting ada niat untuk melaksanakannya. Kalau sudah niat, percayalah, Allah akan memberi banyak kemudahan,” demikian dikatakan Kiai Zaenal dalam sebuah pengajian pamitan haji di rumah Mbah Kamdi lima belas tahun yang lalu.

Ya, persis lima belas tahun yang lalu. Hasan masih ingat betul. Sebab, Hasan teringat terus kata-kata itu nyaris dalam setiap langkahnya. Maka, semenjak itu Hasan rajin menyisihkan uangnya untuk ditabung. Sebagai seorang petani di kampung yang hanya mempunyai sebidang sawah, sepertinya hanya mimpi bagi Hasan untuk dapat melaksanakan ibadah haji. Tapi, kata-kata Kiai Zaenal terus menyalakan semangat Hasan. Kalau kita sudah berniat dan berusaha, Allah tidak pernah tidur, Allah Mahakaya, pasti nanti ada saja jalannya, demikian tutur Kiai Zaenal yang kini telah benar-benar menyuburkan keyakinan Hasan.

Ternyata betul. Semenjak niat telah dipancangkan dan menggelora di hati Hasan, panen padinya berhasil dengan baik. Hasan langsung menabungkan sebagian hasil panennya untuk ongkos naik haji. Hasan masih ingat betul, waktu itu ia menabung sebanyak tiga ratus ribu rupiah untuk membuka rekening di sebuah bank pemerintah.

Selanjutnya, Hasan semakin rajin menabung. Setiap ada kelebihan dari kebutuhan pokok dalam kehidupannya sehari-hari, pastilah disisihkan Hasan untuk ditabung. Istri Hasan juga sangat mendukung suaminya untuk diajak hidup sederhana. Tidak ingin membeli yang macam-macam. Makan juga seadanya. Hidup berhemat demi sebuah cita-cita mulia. Ibadah haji.

Hasan tak peduli sampai kapan uangnya akan cukup untuk ongkos naik haji. Bagi Hasan, yang penting adalah menabung. Untungnya Hasan dan istrinya juga tidak banyak menghadapi tuntutan biaya hidup. Anak perempuan satu-satunya, Hasnah, juga telah menikah lima tahun yang lalu dan ikut suaminya ke kota yang bekerja sebagai pegawai negeri. Kini Hasnah telah mempunyai dua anak. Keduanya laki-laki.

Ternyata betul kata Kiai Zaenal. Kalau kita bersungguh-sungguh, pastilah Allah akan memberi banyak kemudahan. Kini setelah lima belas tahun menabung, uang Hasan telah cukup untuk ongkos naik haji.

Sebenarnya, Hasan ingin naik haji berdua dengan istrinya, sehingga Hasan akan terus menabung lagi. Tapi, istrinya selalu mendesak agar suaminya dulu yang naik haji. Mumpung uangnya telah cukup. Takut nanti habis untuk kebutuhan yang mendesak, malah keduanya tidak bisa naik haji, demikian alasan istrinya. Setelah suaminya naik haji, nanti menabung lagi gantian untuk istrinya, demikian rencananya.

Maka, malam ini Hasan menggenggam uang dua juta itu dengan hati yang penuh rasa syukur kepada-Nya. Tak terasa, air mata tiba-tiba telah membasahi pipinya.

* * *

Setelah shalat subuh, Hasan mengambil uangnya yang tadi malam ia simpan di lemari. Hasan menghitung lagi untuk memastikan jumlahnya masih genap dua juta. Rencananya, setelah sarapan pagi ini Hasan tidak berangkat ke sawah seperti biasanya, tapi berangkat ke bank untuk menabung.

Pada saat sarapan pagi bersama istrinya di dapur, pintu depan terdengar ada yang mengetuk lantas terdengar suara seorang perempuan mengucapkan salam. Hasan dan istrinya menjawab dan bergegas ke ruang tamu. Ternyata yang datang adalah Maryam, tetangganya sebelah, sambil menggendong anaknya.

“Pak Hasan, Bu Hasan, bagaimana ini?” Maryam langsung menangis setelah dipersilakan duduk di ruang tamu.

“Apanya yang bagaimana, tenang dulu, jelaskan apa yang telah terjadi?” Hasan menenangkan Maryam.

“Suami saya, Pak Hasan, suami saya….”

“Ya, kenapa suamimu?”

“Baru saja muntah darah dan langsung pingsan.”

“Hah?!”

Hasan dan istrinya spontan kaget. Sebab, kemarin sore Marwoto, suami Maryam, masih tampak sehat-sehat saja. Bahkan, siangnya masih bekerja sebagai buruh tani di sawahnya Pak Rahim. Sekarang, meski sarapannya belum selesai, Hasan dan istrinya langsung berlari ke rumah tetangganya tersebut.

Setelah sampai, ternyata benar, lelaki kurus tersebut tergeletak pingsan di balai tengah rumahnya. Melihat kondisinya yang sepertinya parah, darah masih segar membasahi leher dan kaus Marwoto, Hasan langsung berlari ke jalan depan yang berjarak sekitar seratus meter untuk mencegat mobil angkudes yang lewat. Tak lama setelah itu, Marwoto diangkat beberapa tetangganya yang lain yang sudah datang untuk dibawa ke dalam mobil dan secepatnya menuju rumah sakit di kota.

Beruntung. Nyawa Marwoto masih dapat diselamatkan. Setelah menjalani perawatan dokter, Marwoto siuman. Tapi, hanya untuk sekitar sepuluh menit. Setelah itu, tak sadar kembali. Maryam masih saja sesenggukan menangis. Ketiga anaknya, yang kesemuanya masih kecil-kecil, kontan saja ikut menangis melihat ibunya yang menangis. Suasana menjadi semakin menyedihkan di ruang tunggu rumah sakit tersebut.

Apalagi, setelah diputuskan Marwoto harus opname. Maryam semakin sedih sebab tidak mempunyai biaya untuk pengobatan suaminya. Hasan, setelah berembuk dengan istrinya, bersedia menanggung biaya pengobatan tetangganya tersebut.

* * *

Hasan duduk termangu di ruang tamu. Istrinya menghampiri dengan membawa sepiring pisang goreng yang masih panas. Tampaknya ia baru saja menggorengnya di dapur.

“Bapak sedih tidak jadi naik haji tahun ini?” istrinya tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

“Mengapa kamu bertanya seperti itu?” Hasan balik bertanya kepada istrinya.

“Lha, tadi kok sepertinya melamun sendiri.”

“Tidak, istriku, bukankah kita telah melakukannya dengan ikhlas. Ya, kan?! Aku justru bahagia telah menolong tetangga. Kini Marwoto sudah dapat bekerja kembali untuk menghidupi keluarganya. Terutama tiga anaknya yang masih kecil-kecil itu.”

Memang, kalau dipikir sungguh berat pengorbanan yang dilakukan oleh Hasan. Setelah lima belas tahun menabung untuk ongkos naik haji, ia harus rela tidak jadi berangkat naik haji karena uangnya yang enam belas juta digunakan untuk biaya pengobatan tetangganya.

Ya, sebesar itu. Sebelumnya juga tidak ada yang menyangka kalau ongkosnya sebesar itu. Setelah dua hari Marwoto opname di rumah sakit dan belum juga sadar, setelah dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, akhirnya dokter memutuskan Marwoto harus dioperasi. Ada kanker ganas sekaligus penggumpalan darah, katanya. Bila tidak, dokter angkat tangan.

Maka, selanjutnya Hasan yang menandatangani surat perjanjian, terutama kesanggupan biaya, sebelum Marwoto dioperasi. Hasan melakukan itu dengan hati yang tulus, karena ia tidak tega dapat berangkat haji tetapi tetangganya terancam nyawanya. Mengenai biaya nanti dapat dicari dan dikumpulkan lagi, tapi kalau nyawa, ke mana harus mencari ganti, demikian pikir Hasan.

“Lho, itu melamun lagi?!” istrinya lagi-lagi membuyarkan keterpanaan Hasan.

“Hei, itu sepertinya Kiai Zaenal mau ke sini. Ada apa ya, tumben,” Hasan tidak menjawab ungkapan istrinya sebab ia melihat kiai yang kharismatik itu telah memasuki pekarangan rumahnya.

“Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumussalam…, silakan masuk Pak Kiai, aduuh… silakan duduk.” Hasan tampak gugup didatangi Kiai Zaenal mendadak begini. Istrinya bergegas ke belakang untuk membuatkan minuman.

“Bu, tidak usah dibikinkan minum. Saya langsung saja ya…,” Kiai Zaenal tidak berbasa-basi setelah ia duduk di kursi.

Hasan dan istrinya langsung duduk di ruang tamu mendengarkan perihal apa yang akan disampaikan Kiai Zaenal.

“Begini, sudah tiga hari ini aku bermimpi hal yang sama,” Kiai Zaenal tampak serius mengucapkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

“Mimpi apa itu, Pak Kiai?” Hasan tidak bisa menyembunyikan penasarannya.

“Aku melihat serombongan jamaah haji. Tidak ada yang aku kenal dalam rombongan tersebut, kecuali satu orang, yaitu engkau, Hasan. Dalam mimpiku tersebut tiba-tiba ada seorang lelaki berjubah putih yang sangat tampan di sampingku dan berkata bahwa hanya satu orang yang hajinya mabrur dalam rombongan tersebut. Lelaki berbau wangi yang mengaku sebagai malaikat tersebut menunjukmu, Hasan. Mimpi ini berulang sampai tiga malam dan sama.”

Hasan tercekat. Tidak dapat berkata-kata. Demikian pula istrinya.

“Aku menemuimu hari ini sesungguhnya aku ingin tahu sebenarnya kebaikan apa yang telah engkau lakukan sehingga aku bermimpi seperti itu?”

Hasan tidak bisa menjawab. Ada perasaan bangga, terharu, dan bahagia menjadi satu. Air matanya tiba-tiba bercucuran membasahi pipinya.

*) Suka membaca dan menulis. Di antara tulisannya pernah dimuat di Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Suara Karya, Elka Sabili, Ummi, Annida, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Bernas, Solo Pos, Suara Merdeka, Wawasan, Surabaya Post, Lampung Post, Analisa, Medan Pos, Waspada, Pedoman Rakyat, dan beberapa media kalangan terbatas. Menulis juga buku (nonfiksi) yang sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit. Suka pula bersepeda dan aktif di Lereng Merapi Onthel Community, Yogyakarta ---[twitter: @kangazzet]

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo