Langsung ke konten utama

ZIARAH KUBUR

Ahmad Zaini
http://sastra-indonesia.com/

Sore itu suasana di kampung halaman ramai oleh lalu lalang orang yang pergi ke makam. Mereka membawa karangan bunga untuk berziarah, mendoakan para leluhur dan orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Di kampung halamanku memang ada tradisi setiap menjelang bulan puasa masyarakat pergi ke makam untuk mendoakan para arwah anggota keluarganya agar mendapatkan rahmat dan ampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Di pinggir jalan aku menunggu paman yang akan berangkat ziarah. Dia pulang sebentar untuk mengambil karangan bunga yang akan ditaburkan di atas makam. Menurut cerita para orang tua bahwa bunga yang masih segar kemudian ditaburkan di atas makam itu akan bisa meringankan siksa si mayit. Makanya setiap paman hendak berziarah tak pernah lupa membawa karangan bunga.

“Ayo berangkat!” ajak paman. Kemudian aku disuruh membawa sekarangan bunga yang beraneka macam dengan menyebarkan aroma yang wangi menusuk hidung. “Nanti karangan bunga yang kamu bawa, taburkan di atas kuburan ayahmu!” kata paman. Aku mengiyakan semua yang dia perintahkan. Aku sendiri masih belum paham betul dengan tradisi ziarah seperti itu.

Maklumlah semenjak ayahku meninggal dunia, aku sudah ikut pakde di kota. Sedangkan di kota, apalagi di lingkungan pakde tradisi berziarah sudah mulai sirna. Hanya orang-orang tertentu yang melakukan itu.

Di makam puluhan orang antri masuk ke lokasi makam. Aku melihat sebagian dari mereka melepas sandal. Dalam hatiku bertanya-tanya kenapa mereka melepas sandal? Padahal tanah di pekuburan itu banyak semak belukar dan duri yang membahayakan kakinya. Paman kemudian menggandengku.

Rupanya ia bisa membaca pikiranku. Paman mengatakan bahwa itu dilakukan sebagai tata krama orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia. Menurut paman orang yang meninggal dunia itu masih bisa melihat tingkah polah orang yang masih hidup.

Aku melangkah dengan hati-hati takut terkena duri. Setiap batu nisan yang tertulis nama selalu kubaca. Paman serta merta memperingatkan diriku.

“Jangan membaca tulisan yang ada di batu nisan, nanti kamu jadi pelupa, lho!” kata paman memperingatkan diriku. Aku sejenak tertegun memikirkan apa hubungannya membaca tulisan di batu nisan dengan lupa. Namun itu tak kutanyakan kepada paman. Aku diam dan mengiyakan semua kata paman.

“Nah, itu kuburan ayahmu,” kata paman sambil menunjuk ke arah gundukan tanah. Aku melihat batu nisan yang bertuliskan “Rahmat bin Ahmad, Wafat Rabu Legi, 17 Agustus 1990”. Namun aku tak berani membaca tulisan itu. Aku hanya melihatnya karena takut aku nanti jadi pelupa.

Sekarangan bunga yang kubawa kemudian kutaburkan di atas makam ayah. Setelah selesai kemudian paman mengajakku mendoakan arwah ayahku dengan membaca doa-doa. Mulai dari surat Al Ikhlas, An naas, Al falaq, hingga ayat kursi. Setelah itu paman memimpin berdoa dan aku hanya mengamini saja.

Menurut paman bahwa orang yang meninggal dunia itu juga butuh makan. Jika manusia yang masih hidup makannya dengan nasi maka orang yang sudah mati makannya dengan doa. Maka orang yang masih hidup terutama keluarga harus selalu mengirimkan doa kepada ahlinya yang sudah meninggal dunia. Aku diam memperhatikan apa yang disampaikan paman dengan sungguh-sungguh.

Aku dan paman masih berdoa dengan khusu’ di depan makam ayah. Aku teringat semasa ayah masih hidup. Ia begitu tegas dalam membimbing anak-anaknya. Termasuk membimbing aku. Pernah pada suatu hari ketika aku bermain kelereng dengan temanku hingga menjelang maghrib, ayah tiba-tiba datang kemudian menjewer telingaku hingga terasa panas. Itu dilakukan karena saya belum shalat ashar. Waktu itu usiaku delapan tahun. Usia yang wajib bagi orang tua untuk mengajari anaknya shalat. Jika hingga sepuluh tahun kemudian anak tidak mau melaksanakan shalat wajib bagi orang tua untuk menakut-nakuti atau memberi sangksi misalnya dupukul. Tapi memukulnya tidak dengan emosi atau dengan pukulan yang membahayakan.

Tujuannya hanya agar anaknya jera dan mau menjalankan shalat tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, saya sangat bangga dengan ayah karena ketegasannya dalam mendidik anak-anaknya.

Tanpa terasa aku sudah duduk di depan makam ayahku selama setengah jam. Matahari sudah hampir tenggelam. Orang-orang yang berziarah juga sudah mulai pulang. Paman kemudian menepuk pundakku mengajakku berdiri dan pulang ke rumahnya. Angin senja berhembus pelan membelai daun-daun kamboja di pekuburan. Bunga kamboja yang putih berseri luruh di atas makam ayah. “Mudah-mudahan dapat meringankan siksa dan dapat mendoakan ayahku agar dosa yang selama ia lakukan semasa hidupanya diampuni oleh Tuhan,” doaku dalam hati saat melihat makam ayahku dipenuhi bunga-bunga yang kutaburkan dan bunga kamboja yang baru jatuh di atasnya.

Sesampai di rumah, aku kemudian menghela napas dengan bersandar di sebuah kursi. Tiba-tiba bibiku berseru dari dalam kamar memerintahkan agar aku mencuci kaki dulu sebelum masuk rumah. Menurut bibi orang yang baru datang dari kuburan itu harus cuci kaki agar tidak ketiban sial dalam hidupnya.

Atau paling tidak kaki kita tidak kotor terkena tanah makam. Karena tanah di makam itu tidak terjamin kesuciannya. Makanya kita juga tidak diperbolehkan melaksanakan shalat di tanah makam. “Iya, Bi,” jawabku kemudian aku menuju ke tempat mandi di depan rumahk. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang dari mushalla yang berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah paman.

Langit semakin kelam kemudian fajar di ufuk barat menjadi hitam. Orang-orang yang usai melaksanakan shalat maghrib kemudian berkerumun di depan rumahnya untuk mencari udara. Padahal menurut ilmu kesehatan angin malam itu tidak baik bagi kesehatan. Tapi apa boleh buat malam itu udara sangat gerah hingga mereka nekat keluar rumah.

“Paman, besok aku kembali ke kota. Besok lusa sudah mulai masuk kerja. Di samping itu mungkin pakde sudah cemas menungguku. Terima kasih atas bimbingan paman yang telah memperkenalkan dan mengajariku berziarah kubur!” kataku kepada paman. “Ya, sama-sama. Itu sudah kewajibanku membimbing dirimu sebagai wakil dari ayahmu yang telah meninggalkan kita lebih dulu. Semoga di dalam kubur ia selalu mendapatkan kebahagiaan dan pertolongan dari Tuhan. Apalagi anak bungsunya mau berziarah mendoakannya,” tutur paman. “Dan jangan lupa menjelang lebaran kamu harus datang lagi ke kampung untuk berziarah ke makam ayahmu. Doakan arwah ayahmu usai melaksanakan shalat lima waktu. Jadilah anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal,” timpalnya.

Waktu sudah semakin larut. Aku harus segera istirahat untuk menghemat tenaga karena besok pagi aku harus menempuh perjalanan jauh. Aku sudah tak tahan menahan rasa kantuk kemudian aku masuk ke kamar dan dalam sekejap aku terlelap dalam tidur.

Kicau burung dengan udara segar pagi hari sangat enak aku rasakan. Sebantar di halaman rumah paman aku melemaskan otot-otot yang masih kaku. Dari dalam rumah bibi sudah berteriak-teriak memanggilku untuk segera makan pagi. Aku bergegas masuk dan di meja makan sudah siap menu makanan kesukaanku. Aku makan dengan lahap hingga habis lalapnya. Setelah sarapan aku segera mengemasi pakaianku kemudian aku berpamitan kepada bibi dan pamanku.

“Salam kepada pakdemu. Ingatkan jangan lupa kampung halaman,” pesan paman. “Insya Allah akan saya sampaikan. Assalamualaikum!” pamitku seraya melangkah meninggalkan rumah sederhana tapi penuh dengan kedamaian.

Matahari pagi bersinar terang menciptakan bayang-bayang diriku di tengan perjalanan. Kupanggul tas yang berisi pakaian yang kupakai selama di rumah paman. Dalam perjalanan pulang aku berkali-kali berpapasan dengan muda-mudi yang usai jalan-jalan. Mereka menjaga kebugaran tubuhnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyelimuti dirinya. Padahal banyak di antara mereka masih mendengkur dalam tidur. Maklumlah mereka sudah bangun sejak pukul 3 untuk makan sahur.

Sesampai di tujuan, pakde dan bude sudah menunggu di depan pintu. Mereka mencemaskan diriku yang selama seminggu berpisah dengan mereka. Mereka merangkulku sebagai ungkapan rasa kangen. Aku membiarkan mereka merngkulku karena sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri.

“Pakde mencemaskan dirimu. Alhamdulillah kau saat ini sudah di rumah. Bagaimana kabar pamanmu di kampung?” tanya pakde. “Syukur, baik-baik saja. Mereka sehat semuanya,” jawabku. “Oh, iya, Ada pesan buat pakde. Kata paman, pakde tidak boleh melupakan kampung halaman,” ceritaku. “Ya, jelas tidak lupa. Masak pakde bisa melupakan mereka. Pakde, kan orang baik, ya,kan?” kata pakde melucu yang disambut tawa oleh bude.

Menurut pakde menjelang lebaran kami serumah akan pulang kampung. Di samping untuk berziarah kubur ke makam orang tua juga untuk bersilaturrahim kepada sanak famili dan juga para tetangga yang sudah ditinggalkan sejak puluhan tahun yang lalu.

1 September 2008
______________________________
*) Ahmad Zaini, Penulis beralamat di Wanar Pucuk Lamongan, beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Radar Bojonegoro, Majalah MPA (Depag Jatim), Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (Dewan Kesenian Lamongan,2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Kidung Rumeksa Praja (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2010). Pembina SMA Raudlatul Muta’allimin Babat, Lamongan.
Dijumput dari: http://ahmadzaini7576.blogspot.com/2010/09/ziarah-kubur.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo